A Disturbing Story

jbeuyrlYX8kLu1

by Liana D. S.

casts EXO Chen x f(x) Luna genre Surrealism, Dark, Psychology length Vignette (1K+ words) rating PG-13 (for violence)

entry for Town of Stories: Mekanisme Pertahanan Ego, prompt: Displacement (Salah Pindah)

.

.

Sst… aku punya cerita rahasia. Ayo, ikuti aku dan dengarkan kisah ini baik-baik.

***

Aku memiliki sebuah ruangan gelap.

Ruang bersudut empat itu tak berjendela. Jika seseorang masuk ke sana, ia tak akan sanggup bedakan siang dan malam lantaran mentari tidak menemukan celah untuk menyisipkan cahaya. Siapapun yang terkurung dalam ruangan itu sangat tidak beruntung sebab harapannya lama-lama terkikis, kering, lalu mati. Cuma pemegang kunci ruangan yang berhak membebaskan tawanannya dari siksa kesepian dan putus asa.

Nah, kunci yang kupegang ini—iya, yang kugoyangkan di depanmu ini—adalah kunci untuk membuka ruangan pengap tersebut.

Aku memang sedang mengurung seseorang, hahaha, aku sampai lupa bilang saking serunya bercerita padamu. Mau lihat?

Ey, sebentar, jangan pergi dulu, lah. Ayo, ayo, tidak apa-apa. Aku sudah memastikan  orang ini terikat erat di kursinya, jadi dia tidak akan bisa menyakitimu. Jangan khawatir.

Pria kurus berpakaian lusuh dan bersimbah luka di tengah ruangan ini adalah orang yang kukatakan padamu. Tampan, ya? Akan lebih tampan lagi kalau tanpa lecet, sesungguhnya, namun sayang seribu sayang, moodku sekarang jelek sekali, Kawan. Hariku rusak, jadi aku butuh pelampiasan. Sansak tinju. Barang rapuh untuk diremukkan. Boneka kapuk untuk dirobek-robek. Aku tidak punya itu semua, tetapi aku punya…

“Selamat siang, Chen.”

dia.

Ah, akhirnya ia mau tengadah. Dagunya harus didongakkan dulu pakai kakiku, repot juga. Walaupun begitu, senang rasanya menikmati setiap inci paras rupawan berhias lebam ini setelah menjalani satu hari yang amat terkutuk menyenangkan. Aku menyeringai dan ia meringis perih. Pandangnya semula terkunci padaku, tetapi kehadiranmu (plus sepasang manikmu yang membulat cantik sarat kengerian) mengejutkannya. Lirih tanyanya meluncur kemudian.

“S-siapa…i—”

“Siapa suruh kau bertanya?”

Duak! Wow, ya, duak, sekeras itu kutendang wajahnya. Kau memicing, dua telapak tangan menutup mulut, takut menyaksikan jalur merah yang mulai menuruni sudut bibir Chen. Sebegitu mengganggukah pemandangan ini buatmu? Well, maaf. Aku dan dia sudah terbiasa begini, sih. Aku paham posisiku, begitu pun dia, dan memang beginilah hubungan kami semestinya.

Sekali lagi, Chen menatap mataku, hening, pasrah. Ubin putih di dekatnya ternodai beberapa titik anyir. Buru-buru kuletakkan selembar kertas di tempat jatuhnya darah Chen—dan kau terbelalak ketika tetes-tetes merah itu meresap pada serat-serat kertasku, membentuk pola-pola teratur…

…sebuah kalimat.

Tidak, dua.

“Aku memiliki sebuah ruangan gelap. Ruang bersudut empat itu tak—“

Warna merah mendadak berhenti merambati kertasku. Tinta tulisanku pasti sudah habis, maka kutendang Chen lagi agar tulisan tadi berlanjut. Chen terbatuk-batuk, darahnya kembali mewarnai polos kertasku,  dan aku terkekeh pelan sementara kamu menggigil. Aih, ada apa? Kelewat sadiskah aku bagimu? Ini wajar, kok, sebab hari ini memuakkan. Para bully membuang isi kotak makan siangku sebelum aku sempat bersantap, guruku memberi nilai D untuk tugasku (yang terlambat kukerjakan karena aku masih harus mengerjakan tugas manusia-manusia sampah itu), dan pamungkasnya, anak lelaki yang kusukai mendorongku sampai membentur loker, mengataiku ‘culun’, selanjutnya tertawa-tawa tanpa peduli betapa malu diriku. Aku jengkel. Jengkel hingga ingin membunuh seseorang, tetapi siapa aku? Cuma cewek culun pengkhayal yang lemah. Siapa yang bisa kubunuh? Tidak ada. Tidak ada. Dan aku tidak berani juga. Aku masih SMA, hidup yang harus kutempuh masih panjang, tak maulah aku menghabiskan hidup di balik jeruji besi.

Untung saja Chen ada. Dia sengaja kuciptakan dari segumpal imajinasi. Chen tak berdaya, lembut seperti lempung mainan anak-anak, dan tanganku meremasnya, menariknya, menghempaskannya menjadi bentuk-bentuk favoritku. Kuhilangkan semua kekuatan dirinya, lalu kutanamkan sifat menerima dan pengertian yang jumlahnya tak masuk akal. Sebagai akibatnya, ia tak pernah melawanku, bahkan niat pun enggan melintas. Dia paham bahwa tugasnya, eksistensinya, murni hanya untuk melenyapkan dukaku, jadi dia bungkam bibirnya, relakan tubuhnya buat kuhancurkan. Dalam nadinya, deras mengalir aksara yang menunggu ditumpahkan ke atas kertas. Bagaimana cara menuangkan itu, perlukah kujelaskan?

Lebih baik praktik langsung? Baiklah!

“Aku memiliki sebuah ruangan gelap. Ruang bersudut empat itu tak berjendela. Jika seseorang masuk ke sana, ia tak akan sanggup bedakan siang dan malam lantaran mentari tidak menemukan celah untuk menyisipkan cahaya. Siapapun yang terkurung dalam ruangan itu sangat tidak beruntung sebab harapannya lama-lama terkikis, kering, lalu mati. Cuma pemegang kunci ruangan yang berhak membebaskan tawanannya dari siksa kesepian dan putus asa. Nah, kunci yang kupegang ini—iya, yang kugoyangkan—“

“He-hentikan…”

Paragraf ini sudah panjang, Cintaku, masa kutamatkan begitu saja? Sepatuku baru ujungnya yang merah, lho; permainan ini belum sepatutnya diselesaikan.

Tapi kamu tak acuh. Kamu menghampiri Chen, lantas mendekapnya hati-hati.

“Jangan lagi. Kasihanilah dia.”

Samar kutemukan rona haru pada wajah Chen, bercampur cemas. Ia pasti menduga kau akan terseret dalam masalah kami karena kau berusaha melindunginya. Konsekuensi berurusan denganku tidak ringan, dia tahu itu.

“Nona,” Kumiringkan kepalaku, mengisyaratkanmu minggir, “jika tidak keberatan, sudikah melangkah ke samping agar aku dapat melanjutkan?”

“Tidak.”

Kau keras kepala! Aku mulai kesal jadinya. Sungguhan!

“Nona, menyingkirlah. Kuhitung sampai tiga. Satu.”

“Kau akan menyakiti Chen lagi kalau aku pergi, jadi aku tidak akan meninggalkannya.”

“Dua.”

“Yang kau butuhkan cuma pelarian dari kehidupan nyatamu, bukan? Lemparkan saja semua padaku!”

Kau menantang? Kau berani menantangku?! Keramahanku seketika diuapkan oleh emosi yang susah-payah kutahan. Chen menyadari perubahan diriku dan dengan cerdasnya memperingatkanmu.

“N-nona… Pergi… lah…. Jangan… memancing ama… rah… nya…”

“Tapi bagaimana denganmu? Kau terluka dan sakit… Kamu harus pergi dari sin—“

“Dua setengah!!!” Kukeraskan hitunganku. Chen yang panik mendorongmu dengan tangannya yang gemetar, tampak jelas tidak ingin ditolong. Orang pandai pasti paham perintah ini dan menarik diri, tetapi kau begitu bodoh sampai-sampai tetap memeluk Chen kendati terancam olehku.

“Cepat… keluar dari… sini….”

Bahkan peringatan terakhir Chen gagal menjauhkanmu darinya. Gelenganmu mantap, pendirianmu teguh, maka terang sudah ke mana ini mengarah.

“TIGA!!!”

***

Petang. Chen masih terikat ke kursi kayu, kau terkulai di pangkuannya, terpejam, dan kalian merah. Kertasku kini penuh, dilukisi tragedi dua pecinta yang mati dipenjara psikopat sinting. Aku tertawa terbahak-bahak, lega bisa melepaskan perasaanku pada dua objek yang berbeda sekaligus gembira telah menuntaskan pekerjaanku, sementara air mata Chen menghujani helai-helai merah tembagamu, mengiringi aliran darah dari luka-lukanya sendiri.

Untuk pertama kali, dia menatapku benci.

“Aku bisa terima alur ceritamu atas diriku, tetapi tidak dia. Tokoh dari kisah mana dia, mengapa kau paksa masuk dalam kisah ini?”

“Tidak dari mana-mana, Chen,” Aku berbalik sembari memutar-mutar kunci bertali di telunjukku, “Kenalkan, dia Luna. Kucipta dari zat yang sama denganmu, semata-mata agar kisahmu lebih menarik. O, aku sangat baik hati, ya? Tidak mau berterima kasih?”

Tanpa menunggu jawaban Chen, aku mengunci pintu ruangan gelap itu dari luar, tak membiarkan isinya terlihat oleh siapapun.

Cukup selembar—atau beberapa lembar—dokumen amis saja yang kuiizinkan menyaksikan kesuraman ruang kecil di sudut pikiran seorang penulis kejam.

TAMAT


sorry random. and no. tenang, saudara-saudara. mas chen dan mbak luna masih aman dalam pelukan satu sama lain dorm masing-masing. author ini cuman lagi stres aja karena Wbnya ga udah2, padahal pingin selebrasi perombakan blog.

Advertisements

18 thoughts on “A Disturbing Story

      1. Iya, Yue suka gak bisa tidur kalau habis baca psiko.
        Hahaha, tenang aja, Li, Yue cuma suka baca aja kok, soalnya nulis psiko itu susah.

        Makasih ya udah diijin in reblog.
        /padahal reblognya udah kemarin/ xD
        Posternya itu lo, pengen tak pajang selamanya. hahahahahahaha

        Like

  1. Kak Liana, kok setega itu sih bikin Chen begindang surindang…….. errr mengerikan. Mana ditambah mbak Luna buat nemenin Chen lagi wkwkwk. Sadisnyaaa… Aciyeeekan ini bahas ruangan 4walls (berhubungan ama fx yang udah punya nama fan club U Me :p) yang tak bercela, gelap, tersembunyi bersama bau-bau anyir darah. Weheeww zaikonya… Keren kak Li, ku sukak!! 😀

    Like

  2. Lin. Kok aku gagal faham. Mbuh lah, pancen utekku guduk gawe FF seng macem ngene kyok e. Chen cuma imajinasi Luna? Padahal aku sempet mikir kalau ‘aku’ iku reader, teua si cewek luna. Tapi ternyata Luna si ‘aku’ dan yang mati kayaknya reader y. halah, yang tahu hanya dirimu dan beberapa reader yang doyan FF ginian. Wkwkwkw. Btw Poster e menggoda iman.

    Like

      1. Black valentinenya Chenasih tersimpan di angan. Wkwkwk soale ada lagu bagus yg kayaknya pas.
        Berarti dugaan awalku bener donk, si Luna itu aku, meski puneendingnya sempet mikir Luna itu penulis.

        Liked by 1 person

  3. Halo, liana, aku spot dulu, ya. Akan aku usahakan komen lagi begitu selesai baca. Maaf telat sekali karena blogmu sempat diprotect dan aku nggak tahu sudah dibuka lagi. Terima kasih sudah bergabung dalam open prompt di blogku :).

    Like

      1. Hai, liana, aku baru baca. Aku sukaa banget ceritanya, biarpun saiko, tetapi sukses membuat aku meringis karena suasananya detail sekali. Aku sempat agak bingung, sih, tetapi ini surreal kan, ya?

        Terima kasih, liana, sudah berpartisipasi di open prompt-ku 🙂

        Like

  4. aku ngga bisa komen panjang authornim. tulisan ini bikin kutercengang o_O
    walaupun agak kurang paham mau ke mana ini cerita /dasar sayanya yg dyodol/ hehe dan kayaknya baru pertama baca ff sadis gini. jadi butuh waktu lama menelaahnya. maafkeun karena dateng2 malah ngerusuh. hehe

    tp di ending aku paham kalau tokoh aku ternyata penulis 😀

    keep writing, authornim!! ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s