EXO-N #27: “Halo, Ini Kim Jongdae.”

20120713_seoulbeats_zhang_li_yin_phone

by Liana D. S.

with soloist Zhang Li Yin and EXO Chen (Kim Jongdae)

Friendship-ish Romance, Hurt/Comfort, Sad, Canonical!AU (jadi bukan canon sepenuhnya), Oneshot (3,4 K+ words), General

.

.

[2nd entry for ‘Mekanisme Pertahanan Ego’, prompt: Acceptance karena yang pertama kurasa nggak begitu memuaskan T.T yang punya hajat kuharap nggak keberatan]

.

.

“Halo, ini Kim Jongdae. Sekarang aku sedang tidak di rumah, tolong tinggalkan pesan.”

Suara ini memang bukan milik Jongdae, Li Yin tahu. Jika Jongdae betulan yang mengangkat telepon, maka suaranya pasti tidak akan terganggu oleh kemerosok macam rekaman mesin penjawab ini. Walaupun demikian, entah bagaimana mendengar suara Jongdae dari mesin penjawab itu menenangkan Li Yin sedikit.

Li Yin memencet tombol merah pada ponsel.

Akan tetapi, sebagaimana orang kecanduan, jemari Li Yin tak tenang di pangkuan. Ingin wanita itu menekan redial dan mendengar suara Jongdae yang ajaibnya masih menawan kendati dihias bunyi-bunyi mekanik pembuat gatal telinga. Bahkan Li Yin sempat berpikir untuk benar-benar meninggalkan pesan—dan dia terkekeh getir, sendiri.

Aku sudah gila.

Berusaha mengabaikan godaan suara Jongdae di mesin penjawab, Li Yin bangkit dari kasur, mengikat rambutnya, dan mulai membereskan kamar sesuai rencananya hari itu. Sialnya, tanpa disadari, bayangan-bayangan Jongdae, dari masa lampau yang telah ditutup maupun dari masa depan yang tak pernah terjadi, menghujaninya begitu deras selagi ia berkemas.

“Salam kenal, Senior. Aku Kim Jongdae. Mohon kerja sama dan bimbingannya!”

Lima tahun lalu, Jongdae diperkenalkan pada Li Yin sebagai penyanyi pendatang baru sekaligus partner duetnya di album teranyar. Benar bahwa banyak penyanyi junior kenalan Li Yin yang lebih tampan dari Jongdae, tetapi luar biasa, justru Jongdae-lah yang berhasil mempesona Li Yin pada pandangan pertama. ‘Bocah’ ini—Jongdae tiga tahun lebih muda dan debut enam tahun setelah Li Yin—dikelilingi aura secerah mentari meski hanya mengulas senyum tipis, sebuah daya tarik fisik yang jarang disadari orang namun susah ditolak.

Kekaguman yang Li Yin kira lumrah berubah tak lumrah seiring berjalannya waktu.

Bukan cuma teknik vokal dan chemistry yang dibangun saat duet saja yang membuat Li Yin jatuh sangat cepat pada Jongdae; semua hal tentang Jongdae seolah menerangi segala sudut hidup Li Yin selama mereka bekerja berdua. Beberapa di antara semua hal itu antara lain humor Jongdae yang kadang kelewat bodoh tapi selalu menghibur. Sikap sopannya pada Li Yin sebagai junior dan pria yang lebih muda juga cukup menyentuh, mengingat Li Yin adalah orang asing di Korea Selatan dan bukan sekali-dua kali mendapat perlakuan tidak hormat. Antusiasme Jongdae belajar Bahasa Mandarin pada Li Yin pun manis; dia menyerupai anak-anak yang senantiasa bersemangat mempelajari hal baru. Jarang sekali Jongdae bad mood atau lelah; jika terjadi, ia tidak menunjukkannya secara gamblang, tetapi dia akan lebih banyak diam di sudut studio atau backstage, lalu tiba-tiba (mungkin ia sendiri tidak merasa) bibirnya manyun, persis bebek kecil yang dilarang berenang. Kadang dia tertidur. Wajah tidurnya bukan yang terbaik yang bisa disuguhkan seorang lelaki, tetapi mampu menggerakkan Li Yin untuk membetulkan posisi bantal lehernya atau membenahi selimutnya yang tersibak selama penerbangan bolak-balik Cina-Korea Selatan.

“Senior, menurutmu… aku ini orangnya bagaimana? Menyebalkan, tidak?”

Pertanyaan unik ini terlontar suatu hari, di akhir masa promosi album Li Yin. Tak akan pernah Li Yin melupakan semburat malu-malu di wajah pemuda blak-blakan itu dan diam-diam, ia berharap rona muka ini ditampakkan di hadapannya seorang… tetapi ia tidak menginginkan lebih, seperti menjadi kekasih Jongdae, misalnya. Sampai hari itu, Li Yin percaya Jongdae menganggapnya sekadar ‘guru informal’ di bidang tarik suara, atau maksimal kakak perempuan yang pengertian.

Dengan ekspresi selembut mungkin, Li Yin menjawab Jongdae jujur.

“Kamu sangat baik, sebagai partner duet maupun sebagai sahabat. Nyaris sempurna, bahkan, kalau saja kamu tidak merokok…”

Raut gembira Jongdae spontan menghilang usai Li Yin bicara. Sejenak Li Yin khawatir ucapannya terlalu menyinggung lantaran pada titik ini, persahabatan mereka membuat Li Yin tak seberhati-hati sebelumnya saat berbincang bersama Jongdae. Beruntung, Jongdae bukan orang yang gampang terusik, jadi ia tersenyum tulus dan mempertimbangkan untuk berhenti merokok, kali ini dengan serius.

“Aku minta maaf karena membuat Senior tidak nyaman.”

Jongdae merujuk pada kebiasaan merokoknya, yang sesungguhnya Li Yin maklumi didasari beberapa alasan. Satu, Jongdae sedang berada di puncak karir, suatu posisi bertekanan tinggi, sementara pembebas stres untuk orang-orang seperti mereka tidak cukup banyak. Menghisap satu-dua batang (atau pak, bergantung situasi) sigaret sehari jadi pelarian yang mudah dan murah. Li Yin tidak tahu dan tidak ingin tahu ketenangan yang ditimbulkan lintingan itu pada Jongdae, pastinya jauh lebih hebat dari yang tiap hari dapat Li Yin berikan. Dua, kebiasaan ini baru Jongdae mulai di akhir tahun pertama debutnya; perburukan kesehatan dan mental yang ditimbulkan mungkin tidak akan semenakutkan dugaan Li Yin. Tiga, Jongdae peduli untuk tidak meracuni orang lain dengan kegiatan ini, maka ia pasti mencari tempat yang terlindung sebelum mulai menyulut batang tembakaunya.

“Andai kamu tidak sanggup berhenti dalam waktu dekat ini, kamu harus rutin cek kesehatan. Mintalah jatah lebih pada manajer. Jadwalmu ‘kan makin padat setelah ini.”

“Akan kucoba. Terima kasih atas perhatian Senior. Semoga tahun depan kita bisa sepanggung lagi walaupun tidak sebagai rekan duet.”

Jongdae tidak suka berbasa-basi, jadi kalimat penutupnya tadi tentu tidak kosong. Pria itu menyuarakan apa yang jadi cita-cita Li Yin dalam masa vakumnya (atau divakumkan oleh agensi tempatnya bernaung?) sebagai penyanyi enam tahun terakhir. Siapa artis yang tidak mau menelurkan karya baru? Siapa bilang Li Yin diam saja selama bertahun-tahun masa ‘inaktif’ itu? Ia menulis lirik. Ia mengaransemen lagu-lagu lama. Ia melatih vokalnya dengan rajin. Ia pun berlatih menari sebagai persiapan membawakan lagu-lagu energik yang dijanjikan agensi… tetapi agensi melupakan keberadaannya dan lebih memilih mengangkat solois-solois baru daripada mempopulerkan solois lama yang kemampuannya sudah paten. Bagusnya, banyak pihak yang menjaga optimisme Li Yin tetap tinggi, salah satunya Jongdae, adik kelasnya yang jauh lebih populer dari agensi yang sama. Biar berasal dari generasi paling gres, bukan berarti Jongdae tidak menghargai senior-senior yang ia saingi prestasinya. Toh mereka sama-sama berjuang dalam kesulitan dan Li Yin termasuk salah satu yang, ia tahu, paling berliku jalannya.

Li Yin mengamini harapan Jongdae. Mereka tak banyak bertemu lagi setelah itu akibat kesibukan masing-masing, kesibukan Jongdae terutama, tetapi masih saling berkontak lewat pesan singkat. Peluang Li Yin naik panggung kian hari kian tergerus dan belakangan, Li Yin telah belajar untuk tidak lagi mengacuhkan hal tersebut. Berapa banyak lagu direkam, sebanyak itu pulalah janji dilanggar. Teman-teman Li Yin di Korea Selatan, sesama orang Cina, menyarankan agar Li Yin balik kanan dan pulang, tetapi Li Yin bersikeras tinggal. Agensi akan menyusahkan aset-aset pentingnya yang melarikan diri, sehingga Li Yin lebih memilih berjamur ketimbang kabur. Konsekuensi keputusan itu lumayan besar dari sisi Li Yin: sesekali, ia menghubungi orang tuanya ketika tidak bisa pulang pada perayaan-perayaan khusus karena ada konser-konser yang harus ia isi (dengan lagu yang itu-itu juga) dan kemudian menumpahkan rindunya di ponsel.

Li Yin kerap menangis, tetapi tidak pernah ketahuan hingga Jongdae muncul tanpa disangka-sangka, satu musim semi di ruang latihan koreografi agensi.

“Senior, benarkah Senior mau memutuskan kontrak?”

Pertanyaan Jongdae lebih mengejutkan dibanding kemunculannya. Li Yin mengusap air matanya dan bilang ‘tidak’, menegaskan bahwa itu cuma gosip yang berseliweran di media Cina.

“Tapi kamu dengar itu da—“

Tak sempat menuntaskan ucapannya, Li Yin lebih dulu didekap oleh Jongdae. Tidak ada kata ditukar, tetapi benak Li Yin jauh lebih ramai dari lingkungan sekitarnya.

Mengapa dia tiba-tiba datang? Mengapa dia kelihatan sangat takut? Mengapa pelukannya erat betul? Mengapa aku berdebar-debar mendengar degup jantungnya yang sama kencang? Mengapa aku panas tersentuh kulitnya yang sama panas?

Jongdae menahan Li Yin dalam posisi seperti itu hingga ia, sekian puluh detik kemudian, melepaskan Li Yin dan meminta maaf, menyesal karena bertindak berlebihan sekaligus lega karena Li Yin tidak jadi pergi.

“Se-sebenarnya, Senior adalah orang yang… orang yang… sangat… sangat… ingin kuajak berduet lagi…”

Kelihatannya bukan itu pamungkas yang ingin Jongdae ungkapkan, tetapi Li Yin terlalu kewalahan menghadapi perasaannya sendiri untuk menebak ada maksud apa di balik kegugupan Jongdae. Li Yin mengiyakan dengan embel-embel ‘kalau agensi memberiku ruang untuk naik panggung lagi’—dan hal ini sukses memekatkan suasana melankolis malam Li Yin. Sebagai catatan, Jongdae tinggal lumayan lama di sisi Li Yin malam itu, menyimak tiap kisah tanpa menyiratkan setitik saja kejenuhan. Jongdae seakan menggarisbawahi keberadaan dirinya jika Li Yin membutuhkan, sebuah kualitas yang normalnya tidak akan ditunjukkan ‘adik laki-laki’ biasa. ‘Sahabat’, masih mungkin.

Atau yang lain.

“Aku kekanakan sekali tadi, meminta Senior tinggal padahal kondisi di sini buruk untukmu… Maaf…”

“Santai saja. Aku pasti terlalu membuat kangen sampai kau menahanku seperti tadi, hahaha…”

“Tentu saja!”

Li Yin seratus persen bergurau, padahal, tetapi melalui tatapan nanar dan tautan jemari Jongdae dengan miliknya, ia tahu Jongdae salah tanggap. Suasana mendadak tegang di antara keduanya, hanya sebentar, dan Jongdae ragu-ragu membebaskannya, sadar bahwa ia mungkin sudah berbuat kelewatan untuk kedua kali.

Sayang sekali, Li Yin ternyata menyukai sensasi aman yang disalurkan tangan Jongdae.

“Tapi… kalau memang Senior mau pulang ke Cina… aku tidak bisa berbuat apa-apa, sih… Kau bisa lebih sukses di sana daripada di sini, jadi kenapa tidak?”

Tepat, senyum Jongdae yang inilah salah satu faktor pencegah Li Yin memutus kontrak. Duet yang entah kapan terwujud itu, bukan cuma Jongdae yang menanti. Keinginan kembali ke kampung halaman jadi muncul sekelebat-sekelebat saja gara-gara Jongdae. Segalanya malam itu seolah-olah cuma latar belakang, yang terang dan tegas presensinya hanya Jongdae.

Tapi bukankah semua wanita bisa dilemahkan oleh secuil perhatian? Li Yin rasa kasusnya saat itu tidak berbeda; di antara ia dan Jongdae, tidak ada perasaan lain yang berkembang selain ikat persahabatan yang makin kuat. Yang ganjil, sejak saat itu pula, Li Yin menjadikan suara Jongdae sebagai candunya. Obatnya. Sejenis guilty pleasure, ia nikmati tanpa diketahui orang-orang. Li Yin merindukan efek rileks dari suara Jongdae seperti yang disuguhkan padanya malam itu, maka ia bergerilya mengikuti penampilan Jongdae, menyusuri laman-laman yang memuat video acara musik, meresapi lantunan balada demi balada ‘adik kelasnya’, kadang bersenandung mengikutinya seraya membayangkan sebuah duet dengan Jongdae.

Setengah tahun sebelum kontraknya berakhir, Li Yin akhirnya memperoleh kesempatan untuk berkarya lagi, sayangnya ini adalah karya perpisahan. Setelah masa promosi selesai, Li Yin akan angkat kaki dari Korea Selatan dan pulang ke negerinya, di mana ia bisa menemukan kesempatan-kesempatan lain. Pada album ini, Li Yin diberi kebebasan menentukan rekan duet untuk salah satu lagu, bukan lagu utama yang dipromosikan memang, tetapi tetap saja ini sebuah duet yang diimpi-impikan.

Li Yin memilih Byun Baekhyun, solois yang satu generasi dengan Jongdae.

Dan satu-satunya peluang untuk berduet bersama Jongdae hilang begitu saja.

Li Yin tak sepenuhnya menyesal sebab situasi (atau takdir) tidak mengizinkan. Ketika dulu popularitas meninggalkannya dan mendekati Jongdae, sekarang berbalik. Li Yin bersinar di panggung megahnya sendiri, merebut semua spotlight untuknya seorang, meraih beberapa penghargaan di Korea Selatan dan Cina secara bersamaan…

…sedangkan Jongdae terbaring lemah di rumah sakit.

Sebagai orang yang diam-diam ‘mengikuti’ perkembangan Jongdae, mata dan telinga Li Yin tidak melewatkan sedikit pun hal kecil. Lima atau enam bulan sebelum Li Yin didatangi tawaran merilis album, performa Jongdae mulai menurun sangat cepat. Nada-nadanya tak stabil dan berat badannya terus turun, diduga akibat penyakit—Li Yin tidak ingin menduga yang buruk-buruk, tetapi pikirannya selalu lari ke rokok dan tenggorokan atau paru-paru. Waktu istirahat Jongdae bertambah panjang, show yang mengundangnya makin dikurangi, hingga akhirnya, Jongdae lenyap dari panggung yang sebelumnya ia rajai. Li Yin cuma tahu Jongdae butuh rehat, maka ia membelokkan pilihan rekan duetnya ke Byun Baekhyun, semata karena teknik vokal dan kemampuannya membangun chemistry dalam penampilan berpasangan.

Tepat di hari pertama Li Yin mempromosikan album perpisahannya, berita resmi diterbitkan.

Kim Jongdae, penyanyi berusia 26 tahun, dinyatakan menderita kanker laring dan prosedur trakeostomi dijalankan untuk memudahkannya bernapas.

Alangkah terkejutnya Li Yin begitu menjenguk Jongdae dan menyaksikan, dengan mata kepalanya sendiri, leher Jongdae yang berlubang.

“Senior…”

Dan suara itu—

Astaga.

Suara Jongdaekah itu?

“Bagaimana… panggungmu… hari ini?”

Jongdae menggerakkan bibir. Ada suara yang keluar dari sana, tetapi suara itu tidak terdengar seperti seharusnya. Tidak ada efek rileks yang menyinggahi Li Yin barang sejenak kala suara itu mencapai rungunya, malah rasa iba dan perih yang menghampiri. Bagaimana tidak? Setengah mati Jongdae berupaya mengeluarkan suara itu lantaran pita suaranya yang bermasalah sudah diambil di meja operasi. Jenis suara yang dihasilkan oleh sang penyanyi kini hanya berupa hembusan parau yang patahan-patahannya teratur menyerupai sebuah kalimat, harus didengarkan dengan seksama agar bisa dipahami.

“Hari ini… menyenangkan.”

Bohong. Hati Li Yin hancur dan air matanya sudah mengancam turun.

“Syukurlah. Aku lihat di televisi, Senior cantik sekali… dan aku suka lagumu.”

Hebatnya, senyum itu… ya, senyum itu, cerahnya sama dengan sebelum Jongdae sakit. Andai Li Yin bisa mengalihkan pandang sepenuhnya pada senyum itu dan tidak melihat lubang yang ada di bawah, ia pasti akan gembira sekali.

“Aku senang kalau kau senang.”

Tapi biarpun Li Yin tersenyum, suaranya berkhianat. Ia tak sengaja terisak dan genangan di pelupuknya tumpah ke pipi. Jongdae mengulurkan tangan ke permukaan sembab itu, menghapus tangis Li Yin, dan bertanya santai.

“Yang sakit aku, kenapa Senior yang sedih?”

Selanjutnya, yang mengisi kamar Jongdae hanya sedu-sedan Li Yin.

Penyakit Jongdae menahan Li Yin lebih lama di Korea Selatan selepas dari belenggu kontrak. Ia tak bisa menetap di Sichuan, tanah lahirnya, jika di Seoul sini, ada seseorang yang pernah memohon agar tidak ditinggalkan. Jongdae tidak kuat ke mana-mana, maka sudah barang tentu ia tak kuat menyusul Li Yin ke Cina. Ada dua opsi lain yang memungkinkan kebersamaan mereka: Li Yin yang merelakan waktunya pulang ke Cina atau ia harus bersedia bolak-balik Cina-Korea Selatan untuk menjaga Jongdae. Ia ambil opsi kedua, tetapi melaksanakan keputusan itu membuatnya letih sekali, sehingga Jongdae, yang sejak awal memang tidak pernah memaksa Li Yin menjaganya, suatu pagi menyodorkan secarik kertas. Tertera sebaris angka asing di atasnya dan Li Yin bertanya apa itu.

“Senior lebih baik menetap di Cina dan berkarir di sana. Jangan khawatirkan aku. Dan ini nomor telepon, coba saja hubungi nanti setelah pulang.”

“Ini nomor telepon rumahmu?”

“Rahasia.”

Sepertinya Jongdae ingin tertawa, tetapi tenggorokannya tidak memperbolehkan, jadi dia hanya tersenyum riang. Bibir Li Yin berkedut penasaran, hendak bertanya lagi tapi pasti tidak dijawab, maka ia mengurungkan niat itu dan menyimpan rasa ingin tahunya untuk dijawab sendiri.

Setibanya di apartemen (masih di Seoul), saat mencoba menghubungi nomor tersebut, Li Yin mendapat jawaban standar dari mesin.

“Halo, ini Kim Jongdae. Sekarang aku sedang tidak di rumah, tolong tinggalkan pesan.”

Oke, jadi nomor ini adalah nomor telepon apartemen Jongdae. Atau nomor telepon rumah Jongdae. Untung saja bukan nomor telepon rumah orang tuanya; bisa gila nanti Li Yin kalau menelepon untuk alasan tak jelas ke orang tua Jongdae. Semula, Li Yin bingung mengapa Jongdae memberinya nomor telepon yang jelas-jelas tidak akan dijawab bila dihubungi. Diletakkannya gagang telepon ke tempat semula sembari merenung…

…tetapi kemudian, ia menekan redial dan menempelkan lagi gagang telepon ke telinganya. Masih jawaban yang sama yang menyambut pendengarannya, dari orang yang sama pula, dan Li Yin menghela napas panjang.

Jongdae memberikan Li Yin hadiah kecil yang baru ia sadar sangat penting artinya. Sesuatu yang mendampingi Li Yin secara tidak langsung melewati hari-hari sepi, yang membangkitkannya saat sedang terpuruk, yang mengusir kesendirian dan mendatangkan hangat di kota sedingin Seoul.

Biar hanya secuil, Jongdae berhasil menyimpan suaranya dalam mesin penjawab. Bukan yang berlapis akting seperti di lagu-lagunya, melainkan yang tanpa pulasan, yang bersemangat, yang memuat canda dan sapaan bersahabat.

Li Yin menangis lagi.

Pada kunjungan terakhir Li Yin sebelum berangkat ke Sichuan, Jongdae sempat mengeluh agak sesak dan demam. Menghindari kekhawatiran seniornya, pemuda itu membuat lelucon, katanya:

“Pasti ini penyakit kangen. Padahal Noona belum berangkat.”

“Gombal. Kupanggilkan dokter untuk memeriksamu, ya?”

“Jangan dulu, aku sudah bosan ketemu dokter, tetapi kalau ketemu Noona dijamin aku tidak bakal bosan.”

“Kau ini… Sebentar saja, ya, ngobrolnya, setelah itu biarkan dokter memeriksamu.”

“Beres.”

Nyatanya, percakapan perpisahan Li Yin dan Jongdae memanjang jauh dari yang direncanakan. Ada magnet khusus dalam patahan-patahan napas Jongdae yang menahan Li Yin lebih lama di kursinya. Keceriaankah? Kerinduankah? Atau hal sesepele bagaimana Jongdae memanggilnya ‘Noona’ daripada ‘Senior’? (Sebutlah Li Yin aneh, tetapi benar, cara Jongdae memanggilnya ‘Noona’, terlepas dari suara Jongdae yang menyedihkan, begitu menyenangkan dan terasa akrab.)

Pukul sebelas, Li Yin berpamitan pada Jongdae. Ia tidak berjanji akan menghubungi Jongdae sering-sering sebab merintis karir di Cina sama saja memulai lagi dari nol, pasti banyak hal yang harus ia urus. Di tengah kesibukan itu, akan Li Yin usahakan untuk menghubungi Jongdae, bahkan kalau bisa menjenguk Jongdae lagi ke Seoul.

“Selamat jalan, Noona, dan semoga sukses.”

Itu sebuah salam yang wajar… jika saja tidak disertai danau kecil di pelupuk mata Jongdae yang jarang tergenang. Genggaman Jongdae pada lengan Li Yin melemah, rasa sakitnya tersalur sebagian, melekat terus hingga Li Yin duduk di pesawat. Selama penerbangan ke Sichuan, Li Yin masih menyangkal bahwa Jongdae, baginya, bukan lagi seorang ‘junior’, ‘adik laki-laki’, atau ‘sahabat’. Ada yang lain, namun Li Yin teguh mengingkari yang lain itu. Ia cukup dewasa dan tahu diri untuk tidak mencopot label ‘kakak perempuan andalan Jongdae’ di dahi.

Li Yin tidak mengantisipasi kepedihan yang menderanya kemudian.

Belantika musik Cina menerima kepulangan Li Yin dengan sukacita. Di agensi lamanya yang sangat berpengaruh di Korea Selatan saja, Li Yin tak pernah mendapat pengakuan sehebat ini. Ia diterima oleh agensi baru, kecil tapi giat, dan dalam waktu singkat, respons positif dari para kritikus musik berdatangan, gelombang demi gelombang bak air bah. Ia menjadi sibuk, mengingatkan dirinya saat debut di Korea, bedanya masa cemerlangnya di Korea tidak bertahan melewati debut. Li Yin pastikan itu tidak akan terulang di Cina.

Satu hari, Li Yin mengirim pesan pada Jongdae, mengabarkan keadaannya sekaligus menanyakan keadaan sang mantan penyanyi.

Tidak berbalas. Dibaca pun tidak.

Mungkin dia sedang tidur… sebaiknya aku tidak mengganggu.

Hari berikutnya, sebuah stasiun televisi merancang sebuah duet yang agak menyesakkan Li Yin. Pada variety show mereka, seorang penyanyi dari grup idola remaja yang sedang naik daun dipasangkan dengan Li Yin untuk menyanyikan nukilan duetnya bersama Jongdae (lagu itu termasuk satu dari tiga lagu yang paling banyak terlintas di benak orang-orang mengenai Li Yin, menurut survei di show tersebut). Ini menjadi ajang pengenalan bakat si penyanyi muda, layaknya Jongdae yang diperkenalkan sebagai solois baru beberapa tahun silam, dan Li Yin cukup takjub dengan kemampuan rekan duetnya, tetapi tidak setakjub saat berduet dengan Jongdae. Mengenang hal itu membuat Li Yin harus membongkar lagi peti yang ia pendam, menggelar memori yang sebelumnya sudah digulung rapi. Ia mengirim pesan pada Jongdae tentang duet ini, berhati-hati menulis bagaimana senangnya ia berduet dengan Jongdae dulu itu.

Masih tak berbalas dan tak dibaca.

Pekerjaan kembali menyeret Li Yin dari segala perenungan tentang Jongdae, maka bisa dibayangkan betapa syok ia tatkala menemukan puluhan obituari Jongdae di layar ponsel pintarnya, pagi itu saat browsing sambil sarapan. Darah seakan berhenti mengalir dalam pembuluhnya, rasa kantuk dan lapar turut lesap bersama dengan bangkitnya duka, dan jemarinya gemetar menekan nomor seorang teman di Korea, menanyakan kebenaran berita itu. Teman Li Yin mengkonfirmasi bahwa berita itu sungguhan, apalagi yang merilis berita-berita itu bukan media sembarang.

Mimpi burukkah aku?

Tidak, semua ini nyata. Berita di layar, siraman kesedihan yang tajam menusuk beriring sesal, ingatan yang menghujani, dan tangis Li Yin, semua terlalu nyata. Terlalu sulit untuk diterima.

Li Yin beberapa kali meminta manajemen menunda atau membatalkan jadwalnya sekalian agar bisa terbang ke Seoul, tetapi tidak semudah itu ia mengubah susunan kegiatan mingguan yang telah ia setujui sendiri sebelumnya, sehingga akhirnya, ia baru mendapat izin pergi empat hari setelah kabar itu merebak. Pneumonia, keluarga Jongdae mengungkap sebab kematian pangeran panggung kesayangan mereka. Nama lain radang paru-paru, disebabkan masuknya kuman ke lubang di leher Jongdae yang sebenarnya sudah sedemikian terproteksi. Keadaan ini diperparah dengan kekebalan tubuhnya yang merosot drastis akibat obat-obatan dan keganasan, mengantarkan Jongdae pada garis akhir perjuangannya.

“Pasti ini penyakit kangen. Padahal Noona belum berangkat.”

Ah. Li Yin mengutuki alangkah tidak pekanya ia pada derita Jongdae waktu itu.

Dari penuturan orang-orang dekat Jongdae, Li Yin dapat membayangkan tenteramnya wajah pria muda itu saat dibaringkan dalam peti. Jongdae yang biasa menopengi rasa letih dengan raut gembira untuk orang lain kini mulai bisa berbahagia untuk dirinya sendiri dalam satu tidur panjang tak terinterupsi. Tidak perlu lagi ia manyun diam-diam di sudut backstage, atau ketiduran sampai bantal lehernya miring, atau menggigil selagi terpejam karena selimutnya tersibak di penerbangan.

Seikat bunga segar yang terangkai indah Li Yin letakkan di depan nisan Jongdae.

Sampai jumpa.

Tadinya, Li Yin ingin bilang ‘sampai jumpa, Kawan Kecil’, tetapi ngilu yang mengoyak membuat wanita itu tidak lagi bimbang.

Dalam hati, dengan tegas Li Yin menyatakan bahwa Jongdae pria istimewa dalam hidupnya, yang tempatnya tidak akan bisa diganti sekalipun kelak kehadiran sosok-sosok baru mencoba menggesernya.

***

“Halo, ini Kim Jongdae. Sekarang aku sedang tidak di rumah, tolong tinggalkan pesan.”

Li Yin telah selesai berkemas. Kamar hotelnya kembali lowong seperti sebelum ia menginap, tak ada barangnya yang lupa dimasukkan ke kopor. Wanita itu duduk di sisi ranjang sekarang, menunggu untuk meninggalkan pesan.

Bunyi ‘bip’ terdengar satu kali.

Senyum Li Yin terulas samar.

“Aku menyayangimu, Kim Jongdae, meski aku tak dapat mendengarmu dan kau tak dapat mendengarku lagi. Semoga kita bertemu di panggung berikutnya dan hingga saat itu tiba… selamat beristirahat.”

Tombol merah ditekan. Li Yin menghapus kontak Jongdae dan tidak melakukan redial.

Menyatakan perasaan tidak pernah terasa sebegini melegakan.

.

.

“Saat kau terluka, sesekali izinkan aku mendengar napasmu.” (Breath – EXO Chen x Zhang Li Yin)

***

TAMAT


.

.

.

apa yang kulakukan? di mana aku? siapa aku?

ini ditulis semata2 karena aku baru sadar belum masukin diskografi ‘breath’nya chen ke page exo-n. plus, biarpun dulu aku ChenYin shipper (yg sekarang pindah jadi CheNa—NIH BEBEK SATU MEMANG SHIPPABLE SANGAT >.<), aku ga pernah nulis ff utk ‘Breath’-nya mereka. Waktu jaman ‘Breath’ ini, aku masih tergila2 sama 10 china-line SM, jadilah lagu ini sebagai salah satu OST *cieh* ff family teralay LuXingHanYin yg berjudul ‘Hesperus’. *pengikutku dari Archive Of Our Own pasti ngerti ff yg banyak makan korban itu* dulu aku bahkan ngeluh, “coba duetnya ibu liyin sama luhan.” yg langsung mendapat protes dari sepupuku, “suara mas luhan kealusan, mamahnya suaranya strong gitu!”

and yeah, setelah nyebur ke romance aku jadi ngeship ChenYin, habis waktu itu duet Chen yg paling cess yg ini… di sela ngetik ini, aku ngeliatin ulang performnya ‘Breath’, bahkan nyari poll versi ‘Breath’ terfavorit di OneHallyu yang ternyata dimenangkan Chinese Ver T.T not even JongTae’s Korean Ver can beat. karena yah

CHEMISTRYYYYYYYY

aka MAS DAE KALAU LIAT LIYIN NOONA BIASA AJAH!

#myoldship #picspamahead

ByPG3GkCIAAQIKRtumblr_n41zhiq5QS1qeyljno7_250tumblr_nieb6wVyqH1qfixugo1_r1_500

terus aku merasa malu krn kemakan modus ‘mati krn kanker’ di sini, sumpah aku pernah bilang ide mati krn kanker itu big no-no and so outdated LAH KOK YA SENJATA MAKAN TUAN. oh well seenggaknya ini bukan leukemia.

Advertisements

12 thoughts on “EXO-N #27: “Halo, Ini Kim Jongdae.”

  1. Biasanya akan mikir2 dulu buat baca oneshoot yang panjang banget,
    tapi, ini mah langsung cus. hahahahahaha.
    Aduh, aku bingung mau komen apa.
    Gimana sih caranya nulis oneshoot yang enggak bikin bosen kayak gini?
    Soalnya, /mulai curhat/, aku juga punya Fic nya Bang Jongdae sama Mbak Li Yin yang sampai sekarang belum selesai karena drama sekali dan Yue udah keburu bosan buat nglanjutinnya.
    Dan setelah baca FF ini, maka fix Yue akan mengubur FF Yue secepatnya, wkwkwkwkwkwwk.

    Oh ya, Dapat ide darimana sih kalau Bang Jongdae itu ngerokok.
    Sumpah, aku gak pernah kepikiran lo. Semacam OOC tapi kalau mengingat badan Jongdae yang kurus banget kayak HVS 10 g itu, kayaknya oke2 aja.

    Satu lagi yang bikin aku bingung, apa karena Jongdae gak tahu kalo Li Yin suka sama dia, jadinya ini dikasih genre Friendship-ish Romance gitu?
    Hehehe, maaf baru pertama kali denger genre itu.

    Komenku kepanjangan, hahahhaha, maaf ya, Li. 😀
    Keep writing, tulisanmu selalu daebak. 🙂

    Liked by 1 person

    1. jgn dikubur itu ffnyaaa aku kan penasaran DX gapapa lagi, ini kan juga drama banget :p
      ide jongdae ngerokok? dulu pernah baca cerita di mana jongdae ngerokok, kalo ga salah chenluna apa ya, tapi ga terlalu berkesan sih…
      tapi mas jong itu ga slim lho *tunjuk bisepnya yg ga nyante itu* apa dia body building ya aku juga gak tau hahai
      friendship-ish romance itu krn ya… aku ga yakin romancenya dapet :p kan soalnya hubungan jongdae-liyin di sini itu agak-agak kyk noona-dongsaeng daripada romantis. mereka saling support, saling suka juga, tapi ga tau kalau saling suka, dan akhirnya juga saling gak mengungkapkan perasaan. biasanya endpoint romance kan confession ^^
      makasih udah mampir kakak!

      Liked by 1 person

  2. Mungkin karena imagenya Jongdae yang kurang bad boy kali ya, dia cenderung ke cengengesan boy. wkwkwkwkwkwkwkwk.

    Eh, beneran kamu pengen baca?????

    Iya deh, Yue usahin selesai sebelum Yue nikah, wahahahahahahaha. /ngambang banget deadline nya/ 😀

    makasih balik Liana. 🙂

    Like

  3. Iya aq juga ngerasa klo chen ini shippable banget

    Dan sumpah aku mupeng ama duet mereka, pdahal biasku changmin jg nyanyi breath yg versi jepang ama krystal tp chemistrynya masih jauh kalah ama chenlin

    Trus kemaren2 jg aq liat chen duet ama wendy aq jg suka

    Pokonya klo liat chen duet ama cewe selalu pengen di shipperin,hahahahha

    Sama exo aja semua member mau aq shipperin am chen entah itu brothership ato apa,hehehhe

    Tapi sedih banget ini chennya mati,hiks
    Aq jd kepikiran gimana klo dia emang bener2 ngeroko dan jd khawatir sendiri

    Like

      1. Iya sih suaranya masih keren gt
        Cuman kepikiran aja,hahahhaha

        Apalagi itu nyinggung2 masalah stress gt chen gapernah liatin badmood ato sedihnya dikamera jg bsa bikin khawatir jg sih makanya pikirannya jd aneh2,hehehehe

        Sama2

        Like

  4. Duh, liana, aku musti belajar banyak darimu sepertinya. Apa ya, buatku cerita ini kereen banget, nggak klise, nggak cheesy. Aku juga suka suara Liyin, biarpun cuma pernah dengar Timeless sama lagu apa itu satulagi, aku lupa. You broke my heart, li.. huhu. Aku sedih Chen meninggal tapi lega sama endingnya. Kamu bisa menghadirkan cerita yang kental sekali dengan prompt-nya.

    Makasih ya, sudah ikutan untuk yang kedua kalinya 🙂

    Like

  5. Biarpun endingnya udah bisa tertebak dari awal, tapi kak Li selalu punya cara tersendiri biar aku baca pelan-pelan, menikmati tiap katanya, sampe 3K pun nggak kerasa. Aku suka canon yang nggak sepenuhnya canon kayak gini, coba aja di kenyataan chen-nya sifatnya kayak gitu, cem artis yang agak tertekan trus pelariannya ke rokok XD *ngomongapa* maapkan ngomongku ngelindur ini kak XD
    Nice shoot! Keep writing ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s