Acknowledgement (pt. 1)

10

a Greek Mythology fanfiction

Dionysus & Hephaestus

Friendship, Fantasy, Teen and Up

.

“Karena Ibu berkata aku akan melampaui batasku. Tak perlu takut, bahkan saat kau terpojok. Berdirilah yang tegak dan berjuanglah untuk jalanmu.” (f(x) Amber – Borders)

***

Klang! Klang! Sebuah palu usang dipukulkan berulang-ulang ke permukaan logam keras, memaksa si logam melekuk sesuai keinginan penempanya. Sebaris ceruk kecil yang baru terbentuk di permukaan logam tersebut dipasangi batu-batu rubi, merah semerah mata orang yang memasangnya. Sederet lagi ceruk kecil dibuat. Selanjutnya, ceruk-ceruk itu diisi dengan batu-batu safir biru berkilau. Sebagai sentuhan akhir, si pencipta memoles mahakaryanya agar mulus saat dipersembahkan nanti. Dirapikannya pula bulu-bulu burung merak di beberapa sisi ‘hadiahnya’ untuk Ratu Langit.

Selesai.

Lelaki muda yang berlumur peluh itu berjalan terpincang-pincang, mundur sekian langkah demi mengamati ciptaannya yang sempurna. Satu sudut bibirnya terangkat bangga, matanya berkilatan menyimpan rasa puas sekaligus dendam terpendam.

“Wahai Hera yang Tercantik, bersiaplah menerima persembahanku yang luar biasa ini.”

“Anak manusia tidak patut duduk dekat dengan singgasana kita, Zeus! Bagaimana pun, aku menolak kehadirannya di lingkaran penguasa Olympus yang terhormat!”

Lengking protes Hera, ratu langit sekaligus dewinya para wanita, memenuhi ruang takhta utama. Biarpun telinganya jadi berdenging gara-gara itu, Dionysus tetap tersenyum; kelayakannya untuk menjadi dewa baru yang menempati ruang takhta utama Istana Olympus sedang diuji oleh tiga dari enam pendiri rezim Olympian, mana bisa ia bertingkah sembarangan? Hera termasuk salah seorang penilai, maka tentu saja, Dionysus melarang diri menampakkan ekspresi jengkel atas segala ucapan sang ratu.

Beruntung, Raja Zeus yang Agung berada di pihak Dionysus.

“Dia memang tidak terlahir dari seorang dewi, tetapi dia tetap putraku. Keabadian dan kekuatanku mengalir dalam nadinya, lalu apa yang membuatnya tak pantas mendapatkan kursi sendiri di istana ini? Selain itu, ritusnya mulai tersebar di kalangan manusia dan sebuah ritus tidak akan terbangun jika Dionysus tidak cukup istimewa untuk dipuja,” Zeus kemudian berpaling pada Dionysus, “Tunjukkanlah pada kami apa yang kaumiliki, Nak.”

“Baik, Yang Mulia. Terima kasih atas kesempatannya,” Dionysus maju selangkah dan membungkuk hormat di depan tiga dewa-dewi ‘pengujinya’, “Di depan Anda, masing-masing terdapat satu piala kosong, bukan? Setelah ini, saya akan mengisi piala-piala tersebut dengan ciptaan saya, sebuah temuan yang berhasil membebaskan para manusia dari tekanan-tekanan kehidupan mereka.”

Tiga pasang mata tertuju ke dasar piala mereka yang lambat-laun mulai digenangi cairan merah-ungu gelap. Cairan itu terus naik hingga piala menjadi penuh.

“Apa ini?” Hestia, dewi perapian yang diminta hadir oleh Zeus karena kebijaksanaannya dalam menilai para dewa, mendekatkan pialanya ke hidung untuk mencium bau dari minuman yang tak pernah ia kenal itu, “Harum. Ada sedikit aroma anggur di dalamnya, tetapi wanginya agak berubah…. Tak ada anggur masak yang baunya sekuat ini.”

“Minuman yang saya suguhkan kepada Anda memang berasal dari anggur, Yang Mulia Hestia,” jelas Dionysus, “tetapi setelah ditumbuk, anggur itu dicampur dengan madu dan disimpan beberapa lama, menimbulkan cita rasa kuat dan efek menggembirakan bagi para penikmatnya. Berkat minuman ini, sudah banyak manusia terbebas dari tekanan kehidupan yang tidak bisa dienyahkan oleh Morpheus, sang pencipta mimpi, pemberi kebahagiaan andalan manusia sebelum saya.”

Zeus meneguk anggur dalam pialanya dan tanpa ragu mengutarakan kekaguman atas kreasi sang putra.

“Mengesankan. Lidahku saja termanjakan oleh minuman ini, tentu efeknya pada manusia akan lebih hebat. Bagaimana mungkin manusia tidak memujamu jika kau membuat sesuatu sebernilai ini untuk mereka?”

Selama bicara, sesekali Zeus mencuri pandang ke arah Hera yang buru-buru membuang muka tak suka. Sementara itu, Dionysus membalas pujian ayahnya dengan kerendahan hati yang agak dibuat-buat.

“Kebijaksanaan Anda lebih bernilai dibanding penemuan saya ini, Yang Mulia Zeus.”

Penasaran, Hestia mengangkat pialanya ragu, mencium wangi minumannya sebelum meneguknya perlahan. Dalam hati, Dionysus bersorak girang; Hestia pasti tertarik juga dengan temuannya ini. Namun, kegirangan Dionysus padam ketika melihat Hera yang bergeming dengan tangan menyilang di depan dada.

“Hera, minum anggurmu.” perintah Zeus.

“Tidak akan. Minuman itu menjijikkan!” ujar Hera seraya menjauhkan pialanya, hidungnya berkerut dan sebelah telapaknya seakan menghalau bau anggur Dionysus pergi.

“Kau berlebihan. Minuman ini tidak kalah rasanya dengan ambrosia kesukaanmu,” dengus Zeus, lalu berpaling pada kakak sulungnya yang baru meletakkan piala, “Benar, ‘kan, kakakku Hestia?”

Hestia yang Lembut, sayangnya, langsung terpengaruh oleh dampak negatif yang tersembunyi dari anggur racikan Dionysus. Pipinya memerah, tetapi pialanya masih seperempat kosong. Ia baru mencecap sedikit dan menjadi lumayan tak nyaman karenanya, padahal Zeus—yang menyisakan beberapa titik anggur saja dalam pialanya—merasa baik-baik saja.

“Tentu ini lezat, tetapi… mungkin… lebih baik aku tidak minum terlalu banyak.”

“Hestia, kau baik-baik saja?” –Mulai lagi sikap berlebihannya, Zeus mendesah keras begitu Hera mencondongkan tubuh pada kakak tertua mereka— “Zeus, anakmu meracuni Hestia!”

bersambung.


kupikir akan lebih enak upload dalam potongan2 biar yg baca ga capek. kalo bacanya per chapter cuma sepanjang ficlet ga akan pegel kan mata? hehe. dan aku juga ga capek ngedit.

Advertisements

7 thoughts on “Acknowledgement (pt. 1)

  1. Hephaestus Dionysus *emotikon mata berbinar*
    Dua dewa favorit, plus umin badannya lagi hephaestus banget *kemudian mimisan*
    Dionysus-Hestia, agak sedih sih sebenernya, Hestia kan favorit juga
    Yessss Hephaestus, ditunggu banget kisahnya dan hera yang sedikit rumit, pahit diawal tapi makin lama makin manis
    nanti nyambung sama kisah poseidon yang mendamba tahta kan ya? *kalo ga salah sih*

    Like

  2. hahahahah atuhlah hestia terlalu baik dan lembut berarti yha langsung traktrakdungcess mabok minum anggurnya dionysus xD btw pas banget liii chanyeol as dionysus soale pas di deskrip kamu bilang kalo dionysus senyum terus kan hahahaha. langsung lah kebayang chanyeol yang lagi apa apa mesti senyum lebar banget awawaw x)) btw aku kok rada serem ya yang bagian hephaestus. jangan jangan………. asudahlah aku nunggu part berikutnya ajaah ehe. semangat lianaa maafkeun komenku apa banget :”(

    Like

  3. hahaha, anggur emang memabukkan dan dalam beberapa cara memang bisa menciptakan ‘kebahagiaan’ versi ‘mereka’ hihi. what da paradise!! why God-yang -mau-dilantik- malah berani-beraninya ngeracunin dewa-dewi-macam-dosen-penguji omggggg.
    oke, kak aku akan bablas baca potongan2 ficlet ini 🙂 semangat terus untuk Dodekatheon Retold-nya 🙂
    dan yeah, aku suka banget sama header-nya 😀

    Liked by 1 person

  4. Hai kak liana. Iya mata gacapek baca, malah nendang dan bikin kepo hihi. Oke jadi aku seneng tau dionheph chanyeol sama xiumin. Aku mau lanjut baca part 2 sama 3. Keep writing yaa kak! 😄

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s