Acknowledgement (pt. 2)

10

a Greek Mythology fanfiction

Dionysus & Hephaestus

Friendship, Fantasy, Teen and Up

.

“Hestia, kau baik-baik saja?” –Mulai lagi sikap berlebihannya, Zeus mendesah keras begitu Hera mencondongkan tubuh pada kakak tertua mereka— “Zeus, anakmu meracuni Hestia!”

Merasa terancam, Dionysus menengadah dan hampir buka suara jika saja Zeus tidak mendahuluinya.

“Tidak ada racun, Hera. Ini memang salah satu efek dari anggur Dionysus. Hestia tidak apa-apa, ia justru akan merasa tenang dan bebas setelahnya,” Sang raja langit lalu berpaling pada putranya, “Dionysus akan menjelaskan hal ini padamu.”

Memenuhi perintah Zeus, Dionysus memberikan pembelaan seraya menjaga senyumnya supaya tetap (tampak) tulus.

“Yang Mulia Hestia mungkin merasakan panas dan tubuh yang mendadak jadi ringan, tetapi itu bukan tanda bahaya, Yang Mulia Hera.  Beberapa orang yang memasuki tahap ‘melepas beban’ dengan bantuan minuman ini akan mengalami apa yang dialami Yang Mulia Hestia. Saya tidak menghidangkannya dalam jumlah berlebihan; anggur yang saya suguhkan ini semata adalah persembahan suci untuk Anda bertiga.”

Tapi, sejujur apapun Dionysus menerangkan, Hera terlanjur berburuk sangka.

“Omong kosong!”

Crash! Klang! Hera melemparkan piala emasnya. Benda itu menumbuk kening Dionysus sebelum jatuh dengan berisik ke lantai. Isi piala tumpah membasahi rambut dan sisi wajah Dionysus yang—terpaksa—masih tersenyum.

“HERA!!!” –Menyaksikan anaknya direndahkan, Zeus kontan memenuhi ruang tahta dengan amarahnya yang sedari tadi tertahan— “Cukup sudah!!! Pertimbanganmu tidak lagi penting buatku! Dionysus akan langsung menyusul Apollo dan Hermes sebagai dewa utama Olympus!”

“Apa?! Bisa-bisanya kau mengesampingkan ratumu dalam pengambilan keputusan sepenting ini?!” Hera bangkit, iris keunguannya menentang netra suaminya yang sewarna langit. Alih-alih mundur, Zeus malah kian meradang.

“Dionysus memiliki kemampuan yang cukup dan pengaruh besar pada manusia! Tidak ada alasan untuk tidak mengangkatnya sebagai pemegang tahta utama!”

“Kau memasukkannya ke istana hanya karena dia putramu!”

“Teruslah seperti itu, perempuan,” –Di tangan Zeus, kilat-kilat kecil berangsur meletup dan membesar— “dan kau tahu apa yang akan kulakukan!”

“Hentikan,” Hestia yang cemas segera berdiri dan menahan adik perempuannya dari menantang Zeus lebih jauh, “Layakkah dewa-dewi yang menempati singgasana tertinggi Olympus bersikap seperti ini? Di depan dewa yang bahkan belum resmi menduduki satu dari dua belas takhta utama Olympus?”

Diperingatkan demikian oleh kakak sulung mereka, Zeus dan Hera duduk kembali di kursi mereka, tatapan tajam masih ditukar sesekali.

“Aku tidak akan membiarkan takhta yang tersisa ditempati anak manusia macam dia, Hestia. Sepuluh dari dua belas takhta utama Olympus memang sudah terisi, tetapi hanya satu takhta yang tersisa sebab takhta yang satunya,” Hera menyentuh perut bawahnya, “harus dimiliki oleh pangeranku, putra pertamaku dengan Zeus.

Oh.

Dionysus mendapati raut ayahnya sedikit berubah begitu kalimat Hera berjeda.

“Lagipula, temuannya tidak akan berarti dibanding ciptaan kandidat yang kupilih untuk takhta terakhir!”

Kandidat?” Kening Zeus berkerut, sebuah senyum meremehkan tersungging kemudian, “Bawa dia masuk, kalau begitu. Dionysus, menepilah dan saksikan aksi lawanmu yang berikutnya.”

“Baik, Yang Mulia.”

Para pelayan membersihkan Dionysus dan lantai yang basah sebelum sang dewa anggur menyingkir dari ‘panggung’, tepat ketika pintu ruang takhta terbuka. Bunyi langkah sang calon dewa utama terdengar aneh. Dua kaki harusnya menapak bergantian dan konstan, tetapi bunyi kaki yang satu kadang menyerupai decit logam yang diseret di permukaan kasar. Mengapa begitu? Seperti apa kira-kira calon dewa yang digadang-gadang Hera lebih hebat dari Dionysus ini?

Dari sisi kanan ruang takhta, yang pertama Dionysus lihat dari sang calon dewa adalah sebatang logam…

…yang ternyata adalah separuh bawah kaki kanan seseorang. Dengan kaki kirinya menjadi alat gerak yang dominan, si empunya kaki logam berjalan tertatih ke tengah-tengah ruang takhta. Ia memanggul sesuatu yang terselimuti sutra hitam di punggung, tampak sangat lemah dan terbebani, membuat Dionysus setengah mati berjuang menahan kikikan.

Dia betul-betul dewa yang akan berebut takhta terakhir denganku? Yang Mulia Hera pasti bercanda!

Rival Dionysus membungkuk dalam-dalam, sehingga bentuk punggungnya yang sudah ganjil menjadi lebih ganjil lagi. Tatapan meremehkan Zeus kini beralih pada si kandidat kedua, sedangkan Hestia memandang iba dewa yang sangat mirip manusia karena ketidaksempurnaannya itu. Hanya Hera yang tampak takjub pada kandidatnya; ia pasti tahu rahasia di balik sutra hitam yang dibawa si dewa pincang.

“Tak cukup saya ucapkan terima kasih kepada Yang Mulia Hera yang telah memberikan saya kesempatan memasuki istana tertinggi ini,” Calon Hera memulai, “Saya Hephaestus, pandai besi dari Pulau Lemnos. Jika diizinkan, saya akan menunjukkan beberapa kreasi saya sebagai bahan pertimbangan Anda memilih pemilik takhta Olympus terakhir.”

“Tentu, tentu,” –Ada ketidakpedulian yang amat kentara dalam ucapan Zeus—“Aku sangat ingin tahu.”

Hephaestus mengangguk dan berterima kasih lagi, lalu menggelar sutra hitamnya. Tampaklah apa yang disembunyikan Hephaestus di balik kain tersebut. Dionysus tersedak ludahnya sendiri, sementara Zeus dan Hestia membelalak terkejut.

bersambung.


kira-kira aku bisa update tiap hari gak ya? pingin sih. mauku, aku nulis beberapa paragraf tiap hari biar bisa latihan, tapi ternyata sehari minimal 700 kata itu susah juga T.T plus, karena ini bakal diupdate dlm part2 kecil gini, aku gak mengharapkan komen yg banyak, ngomen di akhir juga gapapa kok. XD

Advertisements

7 thoughts on “Acknowledgement (pt. 2)

  1. LIANAAAAAA x)))) ternyata o ternyata. ya allah li jujur pas liat judulnya aku tuh aku kira hephestus ama dionysus bakal jadi temenan kaya apollo hermes ngunu eh taunya belom kenal belom apa udah disuruh tanding cobaa heu. mana yang satu tuh keahliannya anggur, satunya pandai besi :”(( terus terus aku asli lah ngefans ama dionysus yang forever senyum walopun udah dilempar gelas xD hahahaha.
    anw lii mau nanya. jadi entar ke depannya kamu bakal mecah tiap cerita jadi beberapa part yha? heu makin deg degan aja inimah aku nungguinnya :”) semoga lancar liiu buat part selanjutnyaa x)))

    Like

  2. Lahhhh, ini dionysus vs hephaestus toh *brotp patah*
    Kalo 11 dari 12 sudah terisi, hades berarti udah turun dong ya jatohnya?
    Atau dewi cinta belum muncul? Aresnya juga belum lahir kan ya di AU ini? Haha, agak bingung, soalnya agak beda sama versi asli, tapi tetep keren

    Like

    1. iya jadi kan 12, hades udah turun, hestia masih jadi salah satu dari 12. intinya singgasana sisa 2, tapi ares blm lahir dan dionheph ngrebutin satu singgasana yg tersisa, hehe maap kalo agak bingung…

      Like

  3. pas di bagian kak liana mendeskripsikan hephaestus, aku kok jd gak tega gitu ya. soalnya aku ngebayangin hephaestus itu xiumin:”)

    Like

  4. Kalo bisa update tiap hari. Aku bahagia kak hihi. Aku usahakan komen tiap habis baca kok kak. Dan kenapa dua anak unyu itu harus tanding sih? Huhu. Dan kenapa itu juga xiumin pincang-pincang, kasiannn. Aku lanjut baca part 3 ya kak. Keep writing kak liana! 😄

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s