Acknowledgement (pt. 3)

10

a Greek Mythology fanfiction

Dionysus & Hephaestus

Friendship, Fantasy, Teen and Up

.

Hephaestus mengangguk dan berterima kasih lagi, lalu menggelar sutra hitamnya. Tampaklah apa yang disembunyikan Hephaestus di balik kain tersebut. Dionysus tersedak ludahnya sendiri, sementara Zeus dan Hestia membelalak terkejut.

Bagaimana bisa, batin Dionysus, dia membawa petir yang amat persis dengan senjata istimewa Ayahanda?!

Belum usai keterkejutan si dewa anggur, Hephaestus mengangkat satu petir dari atas gelaran sutranya, sesuatu yang mustahil dilakukan andai ia bukan pengguna atau pencipta senjata tersebut.

“Ini saya buat dari letupan-letupan panas yang ditimbulkan pergesekan udara dalam badai-badai terbesar Pulau Lemnos. Kekuatan dari angin yang mengelilingi mata badai saya tanamkan pula ke sini, sehingga jika petir ini dihunjamkan, kerusakan yang ditimbulkan akan berkali-kali lipat lebih berat.”

Zeus menyangga dagu. Dionysus menemukan sekelebat rasa yang susah digambarkan dalam mata sang ayah. Ketidakpedulian yang dihias rasa jijik tidak lagi tampak di sana; justru ada sedikit kebanggaan yang tertutup keangkuhan, sisanya tak terbaca. Oleh karena lapis-lapis emosi Zeus inilah, jemari Dionysus mengetuk-ngetuk sandaran tangan pada kursinya, mulai gelisah.

Ini tidak bagus. Melihat kemampuannya yang sekarang, takhta Olympus yang keduabelas bisa jatuh pada si pincang itu!

“Aku akan menguji kekuatan petir itu nanti. Tunjukkan karyamu yang lain.” titah Zeus, tidak sedikit pun berpaling pada Hera yang balik tersenyum meremehkannya walau samar.

“Baik,” Hephaestus meraih sebuah diadem bertatahkan batu mulia secerah mentari, tetapi dengan tambahan bunga narsis yang entah bagaimana bisa ‘terkurung’ di dalamnya, “Saya memiliki hadiah untuk Yang Mulia Hestia, yaitu sebuah mahkota berukir nukilan himne untuk Dia yang Menjaga Manusia dengan Perapian Kehidupannya. Batu yang saya pasang pada mahkota ini sebenarnya adalah getah pohon yang memerangkap bunga narsis di dalamnya ketika masih cair dan mengawetkan si bunga setelah mengeras. Bolehkah saya menghampiri takhta Anda untuk menyerahkan hadiah ini, Yang Mulia Hestia?”

Tak ada alasan bagi Hestia untuk menolak, maka ia izinkan Hephaestus meletakkan mahkota indah itu di dekat singgasananya, bersisian dengan anggur Dionysus. Hestia cukup bijak untuk tidak langsung mengenakan mahkota tersebut sebagai bentuk keberpihakan pada salah satu kandidat…

…berbeda dengan Hera.

“Bukankah itu cantik, kakakku? ‘Kepada Hestia yang dihormati dewa dan manusia, yang memberkati tempat tinggal dengan ketenteraman abadi’, ia sertakan potongan pujian yang melambungkan itu dalam karyanya yang sudah luar biasa! Tidakkah kau menyukainya?”

Penjilat. Ratu Hera cuma ingin mengukuhkan kekuasaannya atas Ayahanda menggunakan si pincang ini! Aku tahu Hephaestus memang sanggup menciptakan berupa-rupa barang, tetapi bukan berarti ia yang harus memenangi takhta. Dengan tubuhnya yang seperti itu, bukannya disembah, ia malah akan dipermalukan manusia!

Umpatan diam-diam Dionysus disela oleh Hephaestus yang, kelihatannya, mulai percaya diri.

“Dan, untuk Yang Mulia Hera, saya pun membawakan persembahan istimewa. Sesuai permintaan, persembahan itu telah saya letakkan di ruangan Anda.”

‘Persembahan istimewa’? Huh! Kupikir dia orang yang pemalu, ternyata sama saja penjilatnya!, Sekali lagi Dionysus berucap dalam hati. Di sisi lain, Hera spontan bangkit dari singgasananya dengan wajah cerah.

“Benarkah? Aku tidak sabar melihatnya! Zeus, Hestia, ikuti aku! Sebentar lagi, Hephaestus akan membuktikan betapa serbabisanya dia!”

Hestia tersenyum tipis dan tanpa ragu menuruti mau adik perempuannya untuk pergi ke ruang pemberkatan, sementara Zeus ogah-ogahan menyusul. “Kalau bukan untuk menilai kelayakan Hephaestus, aku tidak akan mengikuti perintahmu, Hera,” ujarnya, “Dionysus, ikutlah denganku.”

Buat apa aku ikut menyaksikan pertunjukan bakat rivalku, Ayahanda?!

Tapi, lagi-lagi yang bisa Dionysus ucapkan hanya: “Baik, Yang Mulia.”

Hera dan Zeus memimpin jalan menuju istana permaisuri, Hestia berada di belakang mereka, dan Dionysus serta Hephaestus berada di baris paling akhir. Karena berjalan hampir sama cepat, Dionysus jadi bisa menyadari tatapan Hephaestus yang sebentar-sebentar namun intens padanya. Bukannya sombong, tetapi Dionysus yakin Hephaestus beberapa kali memandangnya penuh rasa kagum. Dan, entah bagaimana pula, Dionysus juga yakin bahwa Hephaestus minder berjalan di sisinya; lihat saja, setiap Dionysus melirik sedikit ke samping karena merasa diawasi, Hephaestus pasti langsung menunduk, kontras dengan sikapnya yang cenderung dingin di ruang takhta utama tadi. Mengapa? Padahal, Dionysus pikir ialah yang mestinya minder, berhadapan dengan sesosok dewa yang jago mencipta segala benda berguna.

Tidak. Untuk apa merasa rendah?, Dionysus menyangkal pemikirannya sendiri, Aku ini juga dewa berpengaruh, seperti kata Ayahanda! Temuanku sama berartinya dengan senjata bagi kemanusiaan sebab tanpa kebahagiaan yang dibawa anggurku, manusia bisa terus-terusan sengsara! Tenang, Dionysus, Ayahanda sudah menjaminkan takhta untukmu, tenang….

“Inilah persembahan istimewa saya, Yang Mulia Hera.”

Segera setelah memasuki ruang pemberkatan, rahang Dionysus seolah lepas dari engselnya. Tanpa sadar ia ternganga begitu netranya menangkap bayangan singgasana emas berlapis bulu-bulu burung merak plus sebarisan batu merah-biru yang gemerlapan. Tak pernah Dionysus temukan singgasana semegah itu, bahkan di ruang takhta utama! Wajar mahakarya Hephaestus ini membuat hampir semua yang melihat terkesima, termasuk Zeus.

Apa dia benar-benar pencipta dari singgasana menakjubkan itu?, Dionysus mengerjap-ngerjap, manik merah-ungunya terarah pada sang lawan, Dewa macam apa dia sebetulnya?!

Mendapatkan hadiah semewah ini dari kandidat yang ia pilih sangat menyenangkan bagi Hera. Sang ratu langit menghela napas dalam-dalam; ia yang biasa pelit senyum kini terlihat girang seperti anak-anak. “Ini indah sekali!!! Terima kasih, Hephaestus!!!” pujinya sambil terus melangkah lurus menuju kursi barunya yang tampak sangat agung, lalu mencoba duduk di atas sana, “Astaga, menempati singgasana ini saja terasa hebat! Luar biasa!!!”

Hestia terkikik kecil. Dionysus mampu mendengar bisikannya yang multimakna pada Zeus:

“Kurasa aku sudah memutuskan siapa pemilik takhta baru Olympus.”

Bunyi ludah ditelan kasar oleh Dionysus pasti keras sekali hingga Zeus teralih sejenak dari perenungannya. Beberapa saat, biru angkasa bersirobok dengan merah anggur, ketegasan bertumbukan dengan kebimbangan. Dionysus boleh berharap ayahnya akan memilih meloloskannya daripada dewa yang tak jelas asal-usulnya, tetapi jawaban Zeus yang sama ambigu dengan pernyataan Hestia meruntuhkan harapan itu seketika.

“Mereka berdua sesungguhnya bukan pilihan.”

“AAAH!!!”

Sontak Dionysus, Zeus, dan Hestia menoleh pada sumber jeritan. “Astaga, Hera!” Hestia yang semula terperanjat buru-buru menghampiri adiknya yang terjebak di kursi aneh buatan Hephaestus. Zeus menggeram pada Hephaestus yang—oh—sedang memandang hampa Hera, merambatkan debaran ngeri yang tak diundang dalam dada Dionysus.

“Kau merencanakan semua ini?!” Suara hati Dionysus sejalan dengan gelegar bentakan Zeus, “Beraninya kau melecehkan kami, para penguasa Olympus!”

“Wahai Zeus yang Perkasa, saya hanya melecehkan istri Anda,” Hephaestus mundur selangkah, raut datarnya seolah milik jiwa yang berbeda, “bukan seluruh penguasa Olympus. Selain itu, saya tak tertarik dengan perkara takhta keduabelas ini; silakan Anda berikan takhta itu pada dewa yang Anda calonkan.”

“HEPHAESTUS!!! TIDAK!!! LEPASKAN AKU!!!”

Permohonan Hera—yang tengah dibelit puluhan utas tali dari lubang-lubang tersembunyi pada singgasananya—ditanggapi dengan gelengan lemah oleh Hephaestus. Zeus melancarkan serangannya pada si pandai besi, tetapi sayangnya Hephaestus telah memperkirakan ini dan menyiapkan diri dengan baik. Leher Dionysus tercekat manakala api melahap tubuh Hephaestus dari ujung kaki sampai kepala, peletik-peletik api menenggelamkan kalimatnya yang dibubuhi kebencian.

“Menangislah sebagaimana aku menangis dulu, Ibunda.”

Bersamaan dengan padamnya api tersebut, Hephaestus lenyap.

bersambung.


hephaestus: i’m sexy and i know it *GAK

tapi aku suka bgt scene ngilangnya heph di sini :p

btw aku baru nonton anime lawas Noragami, dikasih adikku. hubungan master-servant itu ternyata lumayan menarik ya! *terus gatau kenapa malah mbayangin zeus-hermes haha* yah abis di Noragami itu Yato-nya baka, terus Yukine-nya rada2 tsundere imut gitu kan uuuuuh ucuuuuuu *udah biarin Liana ngerandom rant sendiri ya pembaca tersayang, after-effect anime itu terlalu kuat.

Advertisements

7 thoughts on “Acknowledgement (pt. 3)

  1. sek… jadi… (wah li kayaknya aku tau ini bakal ke mana tapi entar aja dulu deh takutnya salah hahahaha). anw aku suka bangetttt sama hephaestus. and ye’s he’s sexy and he knows it HAHAHAHAHA. terus aku tuh yang aaah, oooh pas hera mulai tereak-tereak. ternyata itu toh hadiah hephaestus buar hera (manggut manggut mengerti). duh li aku nunggu part selanjutnya yaaah x)) semangaaaaat! ❤

    Liked by 1 person

  2. aku baru sadar ternyata yang aku baca ini chapter 3 yalord untung sedikit banyak udah tau aja ceritanya dr mitologi

    ih ini sesuai dugaanku ya pasti ini nyeritain pas si hephaestus menjebak hera krn balas dendam. kata leo di blood of olympus apa demigod diaries kalo ga salah “Ayahku sangat ahli dalam menjerat dewi” btw leo anaknya hephaestus

    NORAGAMI YA NORAGAMI duuuh aku fans berat bishamon ((iya dia agak jahat tapi she’s cool)) duhuhuhuhu yato – yukine ya :”) pengen ngerant tentang mereka tp takut spoiler :”))

    huhu kenapa hari ini banyak banget euforianya aku ya mulai dari pengumuman libur panjang terus tadi kaistal katanya confirmed dating kak :”)

    keep writing kak liana ❤

    Like

    1. WHAT?! CONFIRMED DATING?! *hebohnya kaistal duluan pdhal yg dibahas apa :p
      oke. oke rumor itu sdh berseliweran bbrp hari ke belakang tapi itu kupikir cuman rumor bikinan shipper. lah beneran? mbak jess adikmu pacaran tuh!
      siap2 nih timeline wp dipenuhi ff selebrasi kaistal :p
      anyway, makasih udah mampir ya! XD

      Like

  3. Oke umin memang seksi ihhh. Dan itu pas di akhir menghilang emang keren banget kak. Jadi bayangin voldemort yang tiba-tiba hilang hihi. Aku kira itu umin beneran takhta keduabelas, eh ternyata… Okelah aku emang gatau mitologi yunani, tapi aku bener-bener enjoy baca ini. Dan jadi pengen tau mitologi yunani hihi. Semangat nulisnya ya kak, keep writing kak! 😄

    Like

    1. iya jadi di sini si umin ga mau menempati tahta kedua belas biarpun dicalonin sama emaknya, dia cuman mau balas dendam doang trs kabur. makasih banyak ya udah mampir, semoga AUnya tidak memusingkanmu ^^

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s