Acknowledgement (pt. 4)

10

a Greek Mythology fanfiction

Dionysus & Hephaestus

Friendship, Fantasy, Teen and Up

.

“Menangislah sebagaimana aku menangis dulu, Ibunda.”

Bersamaan dengan padamnya api tersebut, Hephaestus lenyap.


‘Ibunda’, katanya?, Dionysus mencengkeram sisi jubahnya kuat-kuat, Hephaestus… ternyata adalah putra Ratu Hera? Kalau begitu, apa dia juga putra Ayahanda? Tapi, mengapa Ayahanda seakan menolak kehadirannya?

“Aku tidak bisa… uh… memotongnya, Zeus,” Hestia berkata, dua tangannya masih berusaha memutus tali istimewa itu, “Hephaestus mungkin saja menciptakan tali khusus yang hanya bisa dipotong olehnya. Kita harus memintanya kembali ke—“

“Athena, Hermes!!!” Mengabaikan saran kakaknya dan menganggap ini masalah sepele, Zeus memanggil putra-putrinya yang tercerdik. Tak lama kemudian, sang dewi kebijaksanaan dan adiknya, dewa pembawa pesan, sudah muncul di hadapan Zeus. Perintah untuk mencari cara melepaskan Hera langsung mereka laksanakan, tetapi rupanya, Zeus terlalu meremehkan kemampuan Hephaestus karena bahkan Athena dan Hermes yang berpengalaman memecahkan masalah pelik tak bisa membebaskan Hera sekarang.

“Yang Mulia Zeus, saya akan mencari Hephaestus!”

Ucapan lantang Dionysus kali ini bukan asal saja terlontar. Masalah ini tidak sederhana dan Hephaestus merupakan satu-satunya jalan, tetapi angkuh sebagaimana mestinya ia, Zeus dengan tenang menanggapi ujaran anaknya, ketenangan yang amat superfisial.

“Tidak perlu. Dia hanya boleh memasuki istana ini untuk menerima hukuman dariku.”

“Tapi, Yang Mulia, Anda sudah melihat keahliannya sendiri tadi di ruang takhta, bukan? Ia menciptakan barang-barang yang mustahil diciptakan dewa lain, maka pasti rahasia tali itu juga ia seorang yang memegang. Tanpa bermaksud meremehkan kebijaksanaan dan kecerdasan putra-putri Anda, mereka tidak mengetahui apa-apa mengenai tali dan singgasana buatan Hephaestus.”

Rahang Zeus terkatup rapat, tak sudi menerima kekalahannya melawan si perajin berkaki satu hingga Hermes menyela.

“Dia benar, Ayahanda. Jalinan serat tali ini terlalu rumit. Bahannya pun tak pernah kami lihat sebelumnya…. Sepertinya ada campuran logam lentur yang membuatnya sulit putus.”

Athena menatap Zeus dengan mata kelabunya yang teduh.

“Selain itu, pada takhta ini terdapat lubang-lubang dari mana tali itu keluar yang kemungkinan besar terhubung dengan semacam tuas, tetapi saya tidak dapat menemukannya. Cuma pembuat takhta ini yang tahu di mana letaknya, jadi jika Anda ingin membebaskan Yang Mulia Hera, Anda harus membawa pembuat takhta ini ke istana.”

Apa yang dikatakan Athena selama ini selalu berujung pada kebaikan dan karenanya menjadi sesuatu yang mutlak bagi Zeus, sehingga ia—yang berkeras menolak Hephaestus—terpaksa harus mengesampingkan egonya sementara. Diliriknya Hera sejenak; lengan sang dewi mulai terluka karena pergesekan dengan serat tali yang ternyata tajam. Herannya, luka Hera itu lama sembuh. Tali itu jelas mengandung sesuatu yang menghambat pemulihan tubuh para dewa dan Athena serta Hermes mungkin akan terpengaruh juga jika Hephaestus tidak segera dipanggil.

“Pergilah,” putus Zeus pada akhirnya, “Aku tidak menoleransi kegagalan, Dionysus.”

Yang diperintah tersenyum cerah. Ia membungkuk dalam-dalam, menjanjikan keberhasilan.

“Saya tak akan mengecewakan Anda!”

Saat memanaskan logam untuk mata tombak baru kreasinya, Hephaestus mencoba mengosongkan pikiran dengan memfokuskan pandang pada jilatan api tungku pembakar. Gagal. Bukan perasaan seperti ini—rasa berdosa, bingung, hampa—yang ia harapkan dari peristiwa balas dendam ‘besar’ terhadap Hera. Ia ingin merasa puas dan tertawa senang di atas penderitaan sang dewi, tetapi setiap mengingat bagaimana Hera menawarinya untuk naik ke Olympus beberapa hari lalu, jiwanya kembali remuk. Bukankah sejak pertama mendengar kisah jatuhnya ia ke Lemnos dari para Nereid—dewi laut—yang merawatnya, Hephaestus telah menetapkan Hera sebagai sasaran kebenciannya? Tapi, mengapa kemudian Hera datang ke Lemnos, mengulurkan tangan padanya seraya mengungkapkan penyesalan? Mengapa pula Hephaestus tetap menjalankan rencana balas dendamnya sekalipun ia menemukan ketulusan pada manik keunguan sang ratu langit?

Mengapa mendadak Hephaestus ingin membatalkan semua tindakan kasarnya pada Hera di ruang pemberkatan?

“Aku tidak akan kembali.”

Ya, buat apa Hephaestus kembali? Kehadirannya di Olympus semata-mata memenuhi skenario penjebakan Hera. Tirai panggung tempatnya memamerkan keahlian sudah diturunkan dan ia pun turun pula dari istana besar tersebut. Ia sadar betul bahwa pemuda cacat dan buruk rupa, kendati hidup kekal dan sangat berbakat, tak pantas berada di ruang takhta utama bersama Zeus yang Agung. Di samping itu, ritusnya tidak seluas ritus rivalnya, si dewa anggur: manusia jelas lebih menyukai kegembiraan daripada bekerja keras. Sedikit sekali manusia yang mau repot memecahkan masalah dengan merancang temuan-temuan hebat layaknya para pandai besi yang memujanya, tetapi berpesta sepanjang malam sambil minum minuman bercita rasa nektar? Siapa tidak ingin? Belum lagi, Dionysus memiliki fisik sempurna yang membuat Hephaestus merasa inferior… heh, memang begitu seharusnya dewa, ‘kan?

Kaki logam ini, Hephaestus menunduk, dibandingkan kesempurnaan mereka semua…. Ah, memang sebaiknya aku tidak usah memasuki ruang takhta utama lagi.

“Halo? Aish, demi Styx, di sini sempit sekali! Apa ada orang? Maaf aku masuk sembarangan—aduh, jempol kakiku, dasar palu sialan!”

Spontan Hephaestus mengangkat logam yang sedang ia panaskan, menghentikan pekerjaannya. Ia gapai tongkat yang tersandar ke sisi tungku untuk membantunya berdiri, tetapi ia masih belum berani beranjak.

Apa itu Dionysus?!

“Oh, Hephaestus! Yaaah, lega sekali bisa ketemu!”

Begitu Hephaestus berbalik, sosok sempurna bermahkota jalinan sulur anggur yang baru saja disinggung dalam monolog batinnya muncul dari balik rak senjata.

bersambung.


walaupun aku ngebias chen, tapi aku baru sadar kalo yg sangat shippable itu xiumin huahua. kalau ada yg tahu fanartist indonesia duckhymne *sumpah gambarnya dia bagus bgt*, dia tuh ngebias xiuchen kyknya dan cara dia nggambar xiumin itu munyaaaaa sekali *apasih

jgn2 dia punya wp juga dan lagi baca ffku *ngarang aja Li.

bonus! heph lagi capek kerja dan dion yg paling tau cara bersenang2 XD

Advertisements

4 thoughts on “Acknowledgement (pt. 4)

  1. HAHAHAHAHA LIIII ITU YANG TERAKHIR TUH BENERAN DIONYSUS KAAAN xD astagaaaa kenapa dia ngomongnya gitu banget sih ah gemeeeeeeees :”)) orang heph lagi galau eeeeh malah dibecandain cobaaa wkwkwk. btw whoa. aku suka yang bagian zeus teriak manggil athena sama hermes deeh. dan kebayang banget athena pas ngomong tuuh waaa bijaksana deh pastiii heu :”) terus suka sama pergolakan batinnya hephaestus deh liii. antara dia mau ngerasa puas soale udah bisa balas dendam sama merasa bersalaaah heu :” lianaa keep writing semoga part depan lancarjayaaa hehehe.

    Like

    1. hephaestus itu terlalu kawaii kak, baru2 ini aku baca komik MYth yg edisi hephaestus, di situ dia manis bgt, baik bgt, pendiem bgt, terus dijailin hermes melulu… tapi di depan hera nangis2 kangen huhuuuuu bang umin
      makasih ya kak udah komen ^^

      Like

  2. Waaaahhh, ternyata begitu, pantesan beberapa susunan urutan kelahiran dewanya diubah, dan kenapa dionysus vs hephaestus
    Soalnya agak bingung sih kalo versi asli
    Hephaestus <3<3<3
    Meski membenci ibunda, tapi tetep ga tegaan
    Dan setelah dipikir-pikir minseok itu hephaestus banget *minus kaki pincang dan hephaestus versi kece*
    semoga bersemi persahabatan dionysus-hephaestus
    Ayyeyyy cameo athena-hermes

    Like

    1. hehe maap ya kalo mereka jadi belibet gitu urutannya. soalnya kadang ga jelas juga siapa duluan yg dapet tahta, terlalu byk versi. aha iyaaaaa di episode berikutnya athenarmes jadi cameo lagi ehe selamat menyaksikan ya ^^

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s