Acknowledgement (pt. 5/END)

10

a Greek Mythology fanfiction

Dionysus & Hephaestus

Friendship, Fantasy, Teen and Up

.

Begitu Hephaestus berbalik, sosok sempurna bermahkota jalinan sulur anggur yang baru saja disinggung dalam monolog batinnya muncul dari balik rak senjata.

Wangi Dionysus membaur dengan bau besi dan arang bahan bakar tungku, sesuatu yang benar-benar baru buat Hephaestus. Bukan berarti Hephaestus tak senang pengar bengkelnya ‘dikacaukan’; ia malah cukup menyukai keharuman asing Dionysus, tetapi bukankah mereka masih menjadi musuh, dua kandidat berbeda pengusung untuk takhta kedua belas Olympus? Bersikap ramah sekarang Hephaestus rasa terlalu cepat, walaupun senyum bersahabat yang konyol dari Dionysus memang lumayan menggoda buat dibalas.

“Mau apa kau?”

Ujungnya, Hephaestus bertanya dingin pada sang tamu, yang kemudian ia sesali. Ia sungguh tidak ingin menyinggung siapapun, termasuk Dionysus, tetapi bagusnya, Dionysus tidak mudah terusik. Tahu-tahu saja, ia duduk tanpa izin dari Hephaestus seolah-olah berada di rumah sendiri, kaki panjangnya diselonjorkan menjauhi tungku pembakar.

“Aslinya, aku ke sini membawa perintah dari Ayahanda untuk membujukmu kembali ke istana. Yang Mulia Hera sedang terjebak di takhtanya, seperti yang kau tahu,” Tidak basa-basi, Dionysus mengutarakan maksudnya, “tetapi bukan cuma karena itu aku datang. Aku ingin lebih mengenal dirimu dulu, sehingga aku bisa memahami alasanmu menjebak Yang Mulia Hera.”

“Apa pentingnya bagimu?” Hephaestus menyeret langkah demi meraih logam pada penjepit yang tadi hampir selesai ia panaskan, “Kau mengetahui kisahku pun, hasilnya akan sama: aku tetap di sini dan kau jadi pemegang takhta kedua belas. Sebagai tambahan, Hera tidak akan lepas dari singgasana itu.

Meski samar, Hephaestus mampu mendengar dengusan kesal Dionysus yang beriring senyuman.

“Tapi, Yang Mulia Hera adalah ibumu, bukan?”

Ibu?” sahut Hephaestus, palunya menempa logam lunak di atas peron, “Menurutmu, mengapa aku tinggal di Lemnos hingga dewasa seandainya dia betul-betul ibuku? Kalau aku putranya, aku akan disayangnya sebesar dia menyayangi calon putranya dari Zeus yang Agung, bukan?”

Kening Dionysus berkerut, berpikir, dan Hephaestus masih tak acuh hingga Dionysus bertanya lagi dengan ragu-ragu.

“Kesetiaan Yang Mulia Hera pada Ayahanda tidak diragukan lagi, tetapi apa mungkin… kau ini bukan putra Yang Mulia Hera dari Ayahanda?”

Klang! Pukulan palu Hephaestus di bagian akhir kalimat Dionysus terdengar lebih keras.

“Rasa sakit hati Hera pada ayahmu, Dionysus, ia jadikan benih untuk menciptakanku.”

Sejenak sang dewa anggur tertegun. Rasa sakit hati menjadi benih untuk mencipta… berarti….

“Kau tak memiliki ayah? Seperti Athena tidak memiliki ibu?”

Satu-satunya bunyi yang menjawab Dionysus adalah pukulan palu Hephaestus, disusul gesekan mata tombak dengan peron. Dionysus tidak butuh penjelasan lebih lanjut dari si pandai besi sebab ia sekarang sudah sedikit mengerti asal kemarahan dalam manik merah kejinggaan Hephaestus di ruangan Hera tadi. Apapun yang dicipta dengan kebencian tidak akan pernah sempurna, sebagaimana Hephaestus yang cacat, dan masuk akal seandainya Hera tidak menyukai putranya sendiri karena kecacatan ini, lalu membuangnya ke Pulau Lemnos. Tidak mendapatkan cinta yang seharusnya memupuk dendam Hephaestus, menumbuhkannya kian subur, dan perebutan takhta kedua belas ini adalah puncaknya.

“Apa kau tidak melihat bagaimana Yang Mulia Hera memohon padamu dalam deraan rasa sakit dan malu tadi? Aku tak tahu seburuk apa dia memperlakukanmu di masa lalu, tetapi dia ‘kan tetap ibumu. Masa kau tidak merasakan apa-apa menyaksikan ibumu menderita?”

Genggaman Hephaestus pada gagang palunya mengerat.

“Kau tidak tahu apa-apa tentang kami, jadi diam dan pergilah!”

Api di tungku pembakar tiba-tiba membesar, nyaris memenuhi seluruh ruangan dan menghanguskan Dionysus, tetapi tepat waktu, api itu ditepis sehingga tidak mengenai target utamanya. Baru setelah itu, Dionysus mengetahui bahwa si pandai besi memiliki kekuatan lain yang lumayan berbahaya untuk ukuran dewa. “Oi, baik, baiklah, tak usah marah-marah,” gumamnya kemudian dengan sisa-sisa ketakutan, “Jadi… kau bersikeras tidak mau kembali?”

“Ya.”

Jawaban ini singkat dan tegas pada permukaannya, tetapi terdapat segurat tipis keraguan yang bisa Dionysus manfaatkan. Berpura-pura menyerah, dewa bersurai ikal merah itu menyandarkan punggung ke dinding dan mendesah keras-keras.

“Terus aku mesti bagaimana, nih? Ayahanda tidak mau aku kembali dengan tangan hampa.”

“Itu ‘kan urusanmu.”

“Benar juga. Itu urusanku, tetapi… ah, kau bikin aku pusing,” Dionysus membuka telapak tangan di depan wajah dan secara ajaib, di atas telapak itu muncul piala emas yang terisi penuh anggur, “Aku izin minum, ya. Otakku yang seret ini butuh pelumas biar bisa berpikir lancar.”

Sampai anggur di piala Dionysus tandas setengah, Hephaestus sudah menyelesaikan satu tombak. Ia sama sekali tidak tergoda dengan harum minuman pelepas stres tersebut yang normalnya mampu menarik siapapun dalam sekali cium. Orang yang membosankan, hobinya kerja terus, gerutu Dionysus dalam hati sebelum menghirup anggurnya lagi. Keheningan yang kelewat panjang ini sungguh melelahkan dan akhirnya, Dionysus mulai bicara asal meski belum terlalu mabuk.

“Yang Mulia Hera memang menyebalkan, sih. Aku maklum kok kalau kau tak suka padanya. Sekali-sekali dia perlu dihukum biar kapok.”

Hephaestus melirik sekilas pada tamunya yang lanjut mengoceh.

“Yah, herannya manusia-manusia memujanya sebagai dewi para wanita, terutama istri dan ibu, jadi kusangka awalnya ia adalah istri dan ibu yang baik. Pernikahannya bisa dibilang berantakan, tetapi dia bertahan di dalamnya, maka kusimpulkan ia betul-betul istri yang baik. Kasusmulah yang lumayan mengejutkanku; sebagai dewinya para ibu, dia mestinya merawat putranya dengan penuh cinta sampai dewasa, ‘kan? Nyatanya, dia membuangmu cuma karena kau cacat.”

“Apa otakmu yang seret itu hanya bisa menyusun kalimat-kalimat tak bermakna?” potong Hephaestus yang merasa terganggu oleh ‘gosip-gosip’ Dionysus (dan yang lebih mengganggunya, ibunya yang jadi topik perbincangan di sini!). Yang ditanya membuang bahu cuek. “Sendi-sendi pikiranku masih belum licin, tolong bersabarlah. Lagipula, Ayahanda akan menyambarku dengan petirnya jika aku tidak membawamu—lebih gawat lagi kalau dia pakai petir buatanmu untuk menghanguskanku. Harus ada dalih untuk berkelit dan aku sedang mencarinya.”

“Kalau begitu, carilah dalih itu di tempat lain.”

“Kau ini pelit sekali. Pernah dengar kisah Ayahanda dan Hermes yang turun ke desa manusia dalam penyamaran, tidak? Mereka berdua membunuh nyaris seluruh penduduk desa itu akibat bersikap tidak ramah kepada tamu,” –Tatapan nyalang Hephaestus dengan efektif memaksa Dionysus mengakhiri ucapannya— “Hah, iya, iya. Aku sesungguhnya berharap kita bisa berteman, tetapi karena kau tidak menghendakiku di sini lebih lama, mau temani aku minum sebelum aku pergi?”

“Kau akan angkat kaki setelah aku menghabiskan minumanmu?”

Anggukan pelan diterima Hephaestus, berbonus binar dari mata bulat Dionysus. “Walaupun sebentar, aku akan senang minum denganmu!”

Termakan rasa jengkel, Hephaestus segera menghempaskan tubuh di samping Dionysus dan mengulurkan sebelah tangan.

“Berikan itu.”

“Whoa, aku tahu kau akan jatuh juga pada pesona anggurku!” Piala emas lain berisi anggur Dionysus angsurkan pada Hephaestus, “Silakan, silakan! Dijamin ini bakal menyegarkanmu selepas menempa senjata-senjata itu! Tapi….”

Kalimat Dionysus belum mencapai ujung ketika Hephaestus dengan tak sabaran menenggak anggurnya, menunjukkan niatnya mengusir tamu. Dionysus buru-buru menghentikan Hephaestus pada tegukan ketiga dan jadi panik melihat Hephaestus mendadak mematung dengan pandangan kosong. Tangan besarnya melambai-lambai di depan mata si pandai besi, mengetes kesadaran, tetapi tak ada respon berarti.

“Aduh, padahal aku baru mau bilang jangan meminumnya cepat-cepat…. Kau baik-baik saja? Hei….”

“Aku baik,” –Dionysus bernapas lega begitu Hephaestus menyingkirkan telapaknya— “Masih ada sisa di gelasku, maka kau belum akan pergi, eh?”

“Tepat,” Cengiran lebar Dionysus menyadarkan Hephaestus bahwa ia terjebak dalam sebuah ‘permainan kotor’, “Nikmatilah anggurku pelan-pelan, santai…. Lagipula, aku masih ingin cerita banyak padamu.”

“Cih.”

Kena kau, Dionysus tersenyum iseng. Ia menyesap anggurnya penuh kepuasan, diikuti Hephaestus, sebelum membuka kisahnya sendiri.

“Menurutku, sejahat apapun Yang Mulia Hera di masa lalu, dia yang sekarang menganggapmu sangat berharga. Aku ingat jelas tatapan takjubnya saat kau mengangkat petirmu di hadapan Ayahanda. Dan, percaya atau tidak, Ayahanda juga lumayan kagum dengan kemampuanmu sekalipun kau ini bukan putranya. Aku bisa mengerti itu sebab dibandingkan denganku, kreasi-kreasimu lebih penting untuk para dewa dan manusia.

“Namun, biar bagaimana juga, namanya anak pasti akan iri melihat anak lain mendapat kasih dari orang tuanya, bukan? Jujur, aku merasakan itu ketika Ayahanda menampakkan antusiasmenya padamu. Dia… satu-satunya orang tuaku yang tersisa, tetapi kau datang dan merebut perhatiannya dariku.”

Hephaestus meneguk anggurnya lagi. Di setiap tegukan, pandangannya kian kabur dan kesadarannya menipis, tetapi ia berusaha mengabaikan itu dan tetap fokus pada suara Dionysus yang mulai timbul tenggelam.

“’Satu-satunya’? Kau punya ibu, ‘kan? Seorang manusia?”

Lengkungan di bibir Dionysus bertahan lebih lama dari kebanyakan manusia maupun dewa, tetapi makna di baliknya sering berubah-ubah. Seperti saat ini: senyum yang sebelumnya memuat kejahilan kini semata memampang luka. Jemarinya melingkari badan piala lebih erat; mengingat masa kanak-kanak senantiasa menyakitkan dan piala itu menjadi pelampiasan nyerinya.

“Benar. Ia seorang manusia—yang meninggal sebelum aku lahir.”

“Oh,” Dalam keadaan nyaris mabuk, Hephaestus makin menampilkan sisi aslinya yang peka dan mudah sungkan, “maaf. L-lalu, bagaimana kau bertahan jika ibumu lebih dulu mati?”

“Ayahanda mengeluarkanku dari perut Ibunda dan, melalui Hermes, menitipkanku pada para nimfa di Gunung Nysa. Untungnya, aku sudah cukup bulan dan siap dilahirkan; kalau tidak, aku pasti tak akan bertahan,” Dionysus terkekeh pelan, “Kuduga kehadiran Hera saat kematian ibuku tetap memberikan berkah, sehingga ibuku masih bisa bersalin walaupun caranya tak alami.”

“Tunggu. Ibunda… ada di dekat ibumu? Jangan-jangan, Ibunda melakukan… melakukan sesuatu pada ibumu?”

Optimisme Dionysus yang sempat terbenam muncul lagi ke permukaan.

Pasti efek anggurku sudah cukup besar sekarang hingga Hephaestus mau memanggil Ratu Hera dengan ‘Ibunda’. Selanjutnya akan lebih mudah; aku tinggal mendramatisasi ceritaku sedikit agar dia makin terpengaruh.

Padahal, kisah yang akan Dionysus tuturkan ini mempengaruhi dirinya sendiri lumayan besar.

“Yah, waktu itu, Yang Mulia Hera menyamar menjadi seorang penolong persalinan yang merawat Ibunda menjelang kelahiranku. Ibunda mengatakan anak yang dikandungnya adalah darah daging Zeus yang Agung. Yang Mulia Hera memancing keingintahuan Ibunda dengan berpura-pura tak percaya, mengatakan bahwa ayahku, jangan-jangan, adalah makhluk yang mengerikan. Ibunda  bimbang karena Ayahanda tidak pernah menampakkan wujudnya, jadi Ibunda meminta Ayahanda memperlihatkan diri malam berikutnya. Ayahanda yang sudah bersumpah akan memenuhi segala keinginan Ibunda amat terguncang, tetapi tidak melanggar sumpahnya dan menampakkan diri.”

Dionysus tertawa getir, sementara Hephaestus di sampingnya terbelalak.

“Dan… tebak sendiri bagaimana cerita ini tamat. Semua orang mengerti kok apa dampaknya kalau manusia melihat sosok asli dewa,” –Sial, kenapa kelopak mataku tergenang? Jangan jadi lemah atau misi ini akan gagal!, rutuk Dionysus seraya mendongak, mencegah bulir-bulir bening menuruni pipinya—“Lucu, ya. Aku membenci Yang Mulia Hera, tetapi aku malah berusaha membebaskannya dari siksaanmu. Aku sebelumnya bilang bahwa Yang Mulia Hera menatapmu bangga saat unjuk kebolehan tadi, ‘kan? Kurasa, itulah yang menggerakkanku menujumu.

“Aku… selalu ingin ditatap begitu oleh ibuku sendiri….”

Dengan kekuatannya, Dionysus memenuhi pialanya kembali dan menenggak anggur banyak-banyak supaya tangisnya tertutupi.

“Jadi, aku tidak akan membiarkanmu kehilangan cinta dari ibumu hanya demi alasan sebodoh balas dendam.”

Senyap. Tidak ada lagi kata terungkap dari Dionysus; ia takut getar suaranya akan tertangkap oleh Hephaestus. Selagi berpaling, dihapusnya air mata yang bandel mengaliri sisi wajah. Beberapa kali ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri sebab kesedihan akan menghalanginya bertugas. Cerita itu memang menyakitkan, tetapi itu adalah cerita yang paling tepat untuk mempengaruhi Hephaestus, apa boleh buat?, Anak mata Dionysus bergeser, mencari si pemilik bengkel, Pokoknya, ini harus berhasil atau aku akan malu berat!

Yang pertama tertangkap oleh netra Dionysus adalah Hephaestus yang ikut-ikut menandaskan isi pialanya dengan cepat. Yang kedua ialah jejak basah baru pada pipi si pandai besi yang berawal dari sudut mata. Bibirnya yang dimerahkan tetes anggur terakhir membentuk sebuah patahan sunyi: Ibunda, dan dua telapaknya bertaut mengelilingi piala.

“H-Hephaestus? Ah, maaf, sepertinya aku terlalu banyak bicara, ya, ahaha…. Tidak usah dipikirkan, aku—“

“Diam. Kumohon. Kepalaku terasa penuh dan sakit sekali.”

Ups. Jangan-jangan, Hephaestus seperti Yang Mulia Hestia yang mudah mabuk?

Kecemasan Dionysus ini ternyata tidak diperlukan. Kepala Hephaestus berdenyut bukan semata akibat anggur. Si pandai besi menyisipkan jari di belantara rambut gelapnya, meremas sekepal rambut kuat-kuat. Isaknya yang susah-payah diredam kemudian meluncur lirih beriring kata-kata pahit.

“Aku paham mengapa Ibunda tega membunuh ibumu. Sebagai jiwa yang mendiami rahimnya beberapa lama, aku bisa mendengar laranya yang tak terungkap. Akan tetapi, apa yang dia lakukan padamu begitu kejam dan sulit kuterima…. Apakah kecacatanku ini sesungguhnya merupakan hukuman untuknya atas kejahatannya merenggut nyawa? Meski demikian, aku ternyata… masih sangat merindukan Ibunda…. Aku ingin ia tersenyum padaku seperti hari di mana ia menjemputku dan menjadikanku kandidat untuk takhta kedua belas. Aku tidak mau kehilangan dia lagi. Di saat bersamaan, dia telah melukaimu sejak dulu sekali, apa aku bisa memaafkan wanita semacam itu? Apakah… permintaan maaf sederhana dariku cukup untuk menebus dosanya padamu?

“Apa yang harus kulakukan….”

Baru kali ini Dionysus menyaksikan betapa poten anggurnya melepas beban satu dewa, membongkar rahasia-rahasia terdalam dari sosok sejenis Hephaestus. Dia malah kebingungan sendiri harus melakukan apa pada Hephaestus yang luluh-lantak. Dengan hati-hati, diusapnya pundak Hephaestus yang naik-turun karena tersedu.

“T-tapi, aku benci Yang Mulia Hera di masa lampau saja, kok. Sekarang, aku tidak kesal lagi. Yang terpenting, kau sudah diterima olehnya di istana dan Ayahanda juga pasti bersedia menerimamu juga! Jadi, ada baiknya kita ke istana, membebaskan Yang Mulia Hera, dan membuang beban masa lampau itu, lalu mengukir kisah baru yang lebih bahagia!”

Hephaestus menatap Dionysus seakan sang dewa anggur adalah pemberi kehidupan baru buatnya, menyebabkan Dionysus sedikit salah tingkah.

“Apa… mereka berdua pasti memaafkanku?”

“Harus! Kalau tidak, aku akan membelamu habis-habisan, jangan khawatir!”

Buru-buru Hephaestus mengeringkan sisa-sisa tangisnya menggunakan lengan. Bersama itu, ia hilangkan pula niat balas dendam, rasa tak percaya, dan keinginan menyendiri selamanya di Lemnos. Ia tidak mau menutup jalan lurus yang terlanjur membentang di hadapannya ini, terlebih Dionysus siap menemaninya melalui jalan tersebut.

Hephaestus akhirnya memutuskan.

“Aku akan kembali denganmu.”

Beberapa hari bergulir damai setelah insiden di hari ‘duel’ Dionysus-Hephaestus. Usai Hera dibebaskan, Zeus menyatakan—dengan sangat mengejutkan—bahwa Dionysus dan Hephaestus sama-sama menjadi pemilik takhta yang baru. Segala ikatan yang retak diperbaiki secara ajaib oleh singgasana horor ciptaan Hephaestus, terutama ikatan Hephaestus dengan Hera. Sang dewi pernikahan mengunjungi bengkel baru Hephaestus di Olympus, dulunya hanya ditempati para monster mata satu Cyclopes, dan dengan tulus mengutarakan penyesalan yang belum sempat ia katakan. Hephaestus tak mampu lagi membendung perasaannya; serta-merta ia bersimpuh, memeluk kaki Hera, dan mengulang kata maaf sebanyak-banyaknya. Ikatan Hera dengan Dionysus pun mengerat lantaran Hera merasa berhutang budi pada si dewa anggur, walaupun tentu saja, kecemburuan Hera pada ibu Dionysus belum sepenuhnya mereda. Setidaknya, Hera menyambut Dionysus di ruang takhta utama, menjamin Dionysus tidak akan kena murkanya. Hephaestus dan Zeus pun membentuk ikatan baru, sejauh ini hanya sebatas ‘pemesan dan pembuat petir’, tetapi Dionysus yakin ikatan mereka sesungguhnya lebih kuat; Athena pernah mengatakan bahwa Zeus dulu mendampingi Hera, yang sedang kacau pasca kelahiran Hephaestus, sepanjang hari. Sang raja bahkan sempat mengungkapkan harapan agar putra Hera itu menjadi dewa yang hebat dan naik ke Olympus di saat yang tepat.

Ikatan Dionysus dan Hephaestus merupakan yang tererat di antara semua ikatan itu.

“Permisi.”

Mendengar suara lembut namun tegas ini, Hephaestus segera berbalik dan menyilakan tamunya masuk.

“Athena! Oh, Dionysus bersamamu juga? Tumben sekali!”

Athena tersenyum. “Iya, tadi aku bertemu dengannya di air terjun dekat tempat berburunya Artemis. Aku datang untuk mengambil tombakku, apa sudah selesai?”

“Sudah. Sebentar, kuambilkan.”

Rahang Dionysus seolah lepas dari sendinya. Ia ternganga lebar sebelum berucap kaget dengan telunjuk terarah pada Athena:

“K-K-K-KAU BISA TERSENYUM?!”

Sayang, senyum Athena yang cantik tidak bertahan lama. Raut seriusnya kembali ketika ia menatap Dionysus tajam. “Lalu?”

“Eh… t-tapi, kau ‘kan selalu galak padaku, Apollo, dan Hermes…. Kau barusan mengemplang kami bertiga dengan topi logamnya Hermes—ah! Kau telah semena-mena menyalahgunakan barang ciptaan Hephaestus, itu adalah kejahatan besar!”

Athena melipat lengan di depan dada. “Aku menggunakan topi logam itu demi kebenaran. Kalian bertiga mengintip para nimfa yang sedang mandi buat bersenang-senang, masa aku akan diam saja? Aku perlu meluruskan jalan pikiran kalian soal wanita; tubuh mereka itu bukan untuk dipermainkan.”

“Aku tidak mempermainkan, aku cuma mengintip—huaaa!!! Baik, baik, ampuni aku, Athena!!!”

Hephaestus, yang baru muncul dengan dua tombak baru, meringis menyaksikan Athena yang memiting Dionysus dari belakang hingga Dionysus meronta-ronta minta dilepaskan. Ia mulai terbiasa dengan kekuatan Athena yang tidak didukung penampilan fisik; Athena berparas ayu, bertubuh ramping, dan tinggi semampai seperti dewi pada umumnya, tetapi kekuatannya sebagai dewi perang tidak main-main. Karenanya, Hephaestus tidak pernah berani berulah atau dia akan bernasib serupa dengan Dionysus saat itu.

“Anu…. Athena, ini tombakmu.”

“Ah, terima kasih banyak. Maaf merepotkanmu, Hephaestus; bocah di sana itu suka bikin aku kesal,” Athena mengambil dua tombak dari Hephaestus, lalu mengangsurkan salah satunya pada dewa yang sedang tersengal-sengal di belakangnya, “Hei, bilang terima kasih.”

“Oh, iya, iya…. Terima kasih, Kawan,” Dionysus menerima tombaknya dan mengamati kreasi sang kawan dengan kagum, “Wah, tak kusangka aku akan mendapat hadiah sebagus ini darimu. Kau selalu mengerjakan segalanya hingga mendetail, hebat sekali. Dan, lihat nukilan himne untukku ini!”

Senyum gembira menghiasi wajah Hephaestus. Ia tahu Dionysus tidak sering berperang, tetapi senjata selalu berguna di tangan para dewa. Ia harap senjata itu akan dipergunakan Dionysus dengan bijak kelak.

“Tapi, desainnya agak terlalu polos, sih. Tak apa, akan kubuat lebih bergaya dengan kekuatanku.”

Sebelum Hephaestus angkat bicara, mata tombak Dionysus telah tertutup oleh buah pinus, sementara batang tombaknya terliliti sulur-sulur hijau. Dari pucuk buah pinus tersebut, menetes cairan keemasan beraroma manis yang ditampung Dionysus dalam dua piala berbeda.

“Ambrosia,” tawar Dionysus, “Ayo, cicipi.”

“Kau mengubahnya jadi tongkat penghasil minuman?” Athena menyesap ambrosia dari pialanya, “Bukan ide yang buruk, tetapi kau tidak betul-betul menghilangkan mata tombaknya, ‘kan?”

“Tidak, lah. Sahabatku ini,” Lengan panjang Dionysus tersampir pada bahu Hephaestus, “sudah susah-susah membuatnya jadi senjata. Masalahnya, aku ini lelaki pecinta damai, jadi senjata ini akan kupakai seperlunya saja. Kau tidak keberatan, Heph?”

“Sama sekali tidak. Andai benda itu tidak sering digunakan—“

“Thyrsus. Sebut ini thrysus.

“Andai thyrsusmu tidak sering digunakan pun, aku sudah senang bisa memberikanmu hadiah untuk membalas kebaikanmu selama ini, Dionysus.”

Binar manik bulat Dionysus menghujani Hephaestus, yang kemudian disusul pelukan erat dan tawa riang sang pencipta anggur.

“JANGAN BILANG BEGITU, KAU BARU SAJA JADI SERIBU KALI LEBIH IMUT, TAU!!!”

Giliran Athena yang ternganga dan Hephaestus yang memohon-mohon untuk dilepaskan.

“Maaf mengganggu waktu bersenang-senang kalian, tetapi Ayahanda meminta kita semua berkumpul di ruang takhta utama segera. Ada masalah penting melanda Kota Suci Argos yang mesti didiskusikan secepatnya.”

Athena mendongak dan mendapati Hermes melayang di atas kepala mereka, membawakan ‘undangan rapat’ dari Zeus.

“Argos? Kita baru menyelesaikan masalah di sana beberapa minggu lalu.”

“Entah apa lagi sekarang, pokoknya kalian cepat berkumpul di ruang takhta utama, ya. Aku tidak mau kena marah Ayahanda kalau kalian terlambat. Sampai jumpa!”

Wush! Angin melenyapkan Hermes yang pasti sudah berpindah ke ruang takhta utama untuk mengikuti rapat. Dionysus mengerjap heran; tidak biasanya rekannya yang paling jahil itu bermuka kaku seperti tadi. Jelas ada masalah besar yang akan dibahas di meja para dewa dan Zeus tidak akan segan menghukum mereka yang meremehkan diskusi penting ini, maka ia bersama Athena dan Hephaestus bergegas menuju ruang takhta utama dengan berbagai spekulasi memenuhi kepala.

Ini adalah rapat pertama Dionysus dan Hephaestus, omong-omong.

Kegugupan memicu Hephaestus melangkah lebih cepat ke kursinya, tetapi ia jadi kehilangan keseimbangan dan kaki logamnya sama sekali tak membantu. Kepalanya nyaris membentur sandaran tangan takhta Dionysus andai si empunya takhta tidak segera menolongnya.

“Te-terima kasih….”

“Tidak apa. Jangan tegang, Heph.”

Meski begitu, Dionysus sendiri canggung manakala ia duduk di takhtanya. Tak sanggup ia menahan diri untuk melihat kursi kosong di seberang Hermes. Pemilik lama kursi itulah yang merelakan posisinya diambil calon putra Hera dengan Zeus, sehingga Dionysus dan Hephaestus bisa menempati takhta bersama-sama. Ia jugalah yang memotivasi Dionysus dan Hephaestus untuk senantiasa mencurahkan segala pemikiran terbaik pada rapat-rapat dewan langit mendatang.

Yang Mulia Hestia… aku dan Hephaestus tidak akan menyia-nyiakan kemurahan hati Anda.

“Sebelas kursi sudah terisi,” Suara berat Zeus memecah lamunan Dionysus, “Akan kumulai pembahasan mengenai Argos sekarang.”

Dewa-dewi dalam ruangan memfokuskan perhatian mereka pada sang raja, tak terkecuali Dionysus dan Hephaestus. Saat keduanya mulai berpendapat untuk menyelesaikan masalah di Argos, saat itu pulalah mereka berdua telah memperoleh pengakuan penuh sebagai anggota dewan tinggi, terlepas dari asal-usul mereka yang kelam dan ketidaksempurnaan lain yang mereka miliki.

TAMAT


aku merasa gak maksimal nulis ini T.T fokusku udah mulai pecah krn lama ga update. dan taukah kalian, total words DionHeph ini adalah 6 ribuan kata! gilak, kurasa aku sering pake kata yg ga perlu tapi aku ga tau lagi gimana cara nggambarin perasaan dan adegan, juga menyambung kalimat2 langsung. dan kosakataku sangat minim buat ngisi karya 6000-an kata ini. terlalu repetitif. gosh. 

hopefully episode depan lebih baik! i start to ship this two btw hahaha. shy magnae!xiumin is cute (di Dodekatheon Retold, hephaestus itu magnae lho, dan aku selalu bayangin dia malu2 krn ia masih lumayan rendah diri soal kakinya, apalagi di depan athena.)

oh ya, besok kyknya Chen-Heize collab di SM Station bakal rilis ya? aih teaser fotonya aja udh ga nguatin bgt gitu. tapi sesungguhnya aku berharap dia kolaborasi buat lagu ‘Up Rising’ hehe. maksudku, mbak Heize kan rapper, tapi kenapa teasernya sepertinya unyu sangat?

/stop ranting/

terima kasih utk yg sudah mengikuti Dodekatheon Retold sampai episode ini!

jikai, Dodekatheon Retold #11: Born Hater! Stay tune ^^ 

Advertisements

8 thoughts on “Acknowledgement (pt. 5/END)

  1. FIX AKU NGEFANS SAMA PERSAHABATAN MEREKA FIIIIIX HEUUU :” sumpah deh scene favorit aku tuh yang dion sama heph duduk bareng-bareng di ruang kerjanya heph sambil minum anggur dan berbagi cerita kelam (wetsah bahasa fika) hahahaha xD dion adorable banget di situ pas dia ngegangguin heph yang: kalo lu gak minum, yaudah gue bakal di sini terus xD terus ternyata heph barbar juga yaaaaa kalo minum hahahaha! ya ampun mas umiiiin. tapi aku suka sih scene yang pas mereka mulai mabuk dan akhirnya masing-masing saling cerita tentang masa lalu. dan bagian heph minta maaf ke hera and the way hera akhirnya sayang sama heph awwwwww :3 TERUS YANG PAS ATHENA SAMA DION NGAMBIL TOMBAAAK xD ih seru deh yaaa kayaknya sodara-sodara ituu hehe. dion ih ngintip-ngintip, dijambak ariadne tau rasa kamuh! terus terus yang pas dion bantuin heph waktu rapat pertama merekaaaaa x) ih aku suka bangettt. sumpah kalo kamu ga nulis di notes kalo heph itu maknae aku palingan gatau hahahaha xD anw yeeeeey congrats buat part ini liiii hihihi. akhirnya 5 part kelaaaar. semangat lii buat part selanjutnyaa! ehe. keep writing!

    Liked by 1 person

    1. huuu untunglah kemunculan athena di sini ga jadi kutiadakan habisnya ya athena tuh lumayan jarang muncul, tapi aku bingung mau masukin dia dimana. hehe utg athena-insertnya ga mengganggu ^^
      dan ya kak sperti yg kubilang hephdion itu lucuuuu barangkali krn perbedaan tinggi badan ya jadi ga jelas siapa kakak siapa adik XD trs aku insertin mas umin yg menderita gitu soalnya cowok yg lagi lemah itu tamba imut :p
      makasih kak udh mampir!

      Like

  2. Aku sih bisa apa kalo hephaestus-athena disodorin bersama-sama *maafkan otp, cuma hephthena, umin hanya untuk jimin dan hani seul hanya untuk moonkyu :p*
    KAN FEELING BROKEN OTP JADI KEMANA-MANA *cemplungin dionysus ke laut gara-gara athena senyumnya cuma sebentar*
    Setahuku sih, dari sebelum hephaestus naik sampai beberapa tahun (?) menjabat hera masih ga suka sama hephaestus, sebelum pembangkangan posherathenapollo, yang kena banget romance zeus-hera sama hephera
    Tapi yah tetep paling ga kuat sama cerita ibu-anak, HEPHAESTUS!!!
    Eh kalo 11 dewa-dewi, kan ares belum lahir, aphrodite udah naik dong? Padahal kan kemunculannya paling heboh seantero olympus, hingga akhirnya ibunda pecinta kesempurnaan dan sang dewi kebijakan turun tangan
    Dan kenapa demeter poseidon ga ikut menyeleksi, laut dan ladang gandum lebih menantang kah?
    Jadi di retold ini hephaestus paling muda *kemudian guling-guling*
    Tapi sesuai sih, minggu kemaren minseok ngetroll jadi maknae EXO

    Like

    1. iya di AU ini sih, biar lebih gampang, aku buat ares belum lahir tapi aphrodite udah naik tapi blm bikin ‘kerusuhan’ yg parah. kisah2 affairnya baru ‘mengacaukan’ olympus setelah ares dewasa, dan baru deh dia disuruh nikah sama heph.
      kok berasa spoiler ya
      hehe iya aslinya aku mau libatkan demeter poseidon, tapi ga jadi soalnya 1. kepanjangan, 2. demeter kurasa sdh mulai diasingkan di masa2 ini gara2 tercium tanda2 pengkhianatan aka hamil persephone 3. poseidon ga bakal mau sering2 duduk di sblh zeus, mending dia di istananya sendiri drpd dinomorduain di olympus :p
      eh aku gatau mas umin ngetroll cobak unyu banget XD
      makasih udah mampir!

      Like

  3. Kak Li comment Dionysus-Hephaestus nya aku gabret(?) disini ya
    GILAAAAAAA keren bgt bgt bgt ka
    Aku suka bgt sm persahabatan mereka. Dan masa lalu mereka yg UKH T_T kenapa diceritakan dgn apik bgt si huwaaaaaaaa
    Kenapa juga Yeol & Minseokie nya jd sekeren ini si huhuhu *guling” ga nyantei*
    Udah aja deh comment nya, speechless, maaf nyamoah
    Keep writing ka ^_^

    Liked by 1 person

  4. KAK LIANA! OMG! :””) akhirnya aku sudah rampung baca kisah Dionysus-Hephaestus yang ini! /brb melipir ingus dulu/ /dikeplak/ Aku sekarang sudah faham sama ceritanya YAY! karena emang udah ngikutin sejak awal-awal Kak Li buat Dodekatheon Retold, aku juga tau yang kisah Hera hamil si Hephaestus lalu dibuang ke pulau Lemnos di cerita Dodetold Kak Liana yang sebelum-sebelumnya bhak XD. DAN INI SERU BANGET! Penjabaran Kak Liana mantap! Friendshipnya ngena banget, XiuCan :’) KEREN POKOKNYA, alurnya, karakternya (karakter Dyonisus kok bener cocok kayak muka Chanyeol banget ya? ehe.) , penjabarannya jelas! Belum ada bayangan kalau misal Ber buat fic semacem fantasy myth beginian, blong, padahal pengen :’) tapi otakku belum nyampe kesitu kayaknya bhak XD. YOKSI KAK LIANA, KEEP WRITING POKOKNYA! SUKSES! Kucinta padamu! Ini favorite sekali! ^__^ ber mau nyebur jurang dulu setelah ini *Bhak* gegara banyak project yang numpuk /plak/ /lalu ngacir/

    Like

    1. IYA KAN soalnya dionysus itu rada2 bodoh dan carefree gitu jadi kupikir ya chanyeol yg paling pantes. project numpuk gapapa bisa dituntasin kalo ada ide, yg bingung kalo rasa yg tertinggal sama mantan yg numpuk *tendanged *lempared
      semangat juga ya your comment made my day, makasih sdh baca!

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s