Born Hater (pt.1)

fire-mad-clown-jinsil-hani-eyes

a Greek mythology fanfiction

Aphrodite/Ares, Aphrodite/Hephaestus

Romance, Marriage Life, Angst, Mature for some implied sexual contents

.

Ruang hampa yang kautinggalkan, rasa sakit yang kautinggalkan…. Dari awal, kita adalah pasangan yang salah, meski kita dulunya begitu bergairah. (Gilme ft. Outsider – Love is War)

***

Istana Olympus tengah diliputi kemeriahan yang luar biasa sebab pesta yang diselenggarakan di sana kali ini bukan sembarang pesta. Upacara pemberkatan pernikahan sepasang dewa-dewi baru saja dilangsungkan; sebuah hal yang jarang terjadi, apalagi kedua mempelai sama-sama punya tempat di ruang takhta utama. Bisa dibilang, ini adalah perayaan besar kedua setelah pernikahan raja dan ratu para dewa, Zeus dan Hera, beberapa tahun silam. Hera, sang dewi pernikahan, dengan sepenuh jiwa memberkati pasangan suami-istri baru di hadapannya, kendati prosesi ini sebetulnya memuat unsur hukuman bagi salah satu pihak yang terlibat.

Tak ada yang perlu kukhawatirkan. Aku ini ‘kan penguasa cinta. Aku bisa menciptakan cinta dalam keluargaku kelak, biarpun sekarang aku belum menaruh perasaan apapun padanya. Aku akan baik-baik saja. Aku akan baik-baik.

Si mempelai wanita yang jelita berbisik pada diri sendiri. Ia tak ingin merasa ‘terhukum’; bukankah kebanyakan manusia yang sedang kasmaran selalu memohon padanya untuk disatukan dalam ikatan semacam ini? Artinya, sebuah pernikahan bermakna tinggi dalam kisah kasih seseorang—ya, termasuk dewi juga—terlepas dari adanya kekangan. Memang kenapa kalau setelah menikah, seseorang tidak boleh membagi cintanya? Bukan berarti cinta itu akan menyusut dan kering jika tidak dibagi-bagi lagi, ‘kan?

Sayang, Aphrodite tidak tahu bagaimana cara merawat cinta (yang bahkan belum tumbuh ini) tanpa membaginya. Begitulah lumrahnya sang dewi bekerja: menjadikan pesonanya sebagai umpan, menarik dewa dan manusia, lalu menebar jaring hasrat demi menahan mereka cukup lama dalam kenikmatan pelepas dahaga. Ah. Kalau dipikirkan, perasaan ciptaan Aphrodite itu suci: tidak ada motif untuk meraih kekuasaan atau balas dendam atau yang lain di balik semua hubungan asmaranya. Bagaimana mungkin kemurnian itu menimbulkan masalah besar di dunia manusia, sampai-sampai Hera dan Zeus memutuskan untuk menikahkannya agar Aphrodite tidak menyemai cinta sebebas dahulu? Sedikit tidak masuk akal jika dirunut demikian, tetapi di bawah hukum langit Zeus, bisa apa dia?

“Maaf, Aphrodite, bolehkah aku membenahi letak hiasan rambutmu?”

Suara lirih ini… aih. Sesungguhnya, Aphrodite agak enggan menoleh pada si empunya suara, tetapi pasti aneh jika ia bersikap sedingin itu pada suaminya, jadi ia berpaling dan tersenyum tipis. Nyaris saja embusan napas yang mengandung keluh meninggalkan bibir Aphrodite ketika manik sewarna lembayungnya bersitatap dengan manik kejinggaan pasangannya. Iya, mata itu indah, sayangnya tak cukup indah bagi Aphrodite. Cahaya remang yang hangat dari sana tertutup oleh terlalu banyak kekurangan ragawi, sesuatu yang kurang Aphrodite sukai.

“Tentu, Hephaestus. Terima kasih.”

Namun, tak ada penolakan terlontar. Setengah mati Aphrodite menahan gidikan jijik tatkala jemari kasar si dewa pandai besi—Hephaestus—membetulkan letak jepit berlian yang dihubungkan dengan dua jepit lain oleh jalinan rantai berlapis perak, megah nan anggun. Kadang, Aphrodite heran, mengapa Hephaestus mampu membuat beragam mahakarya mengagumkan, sementara sosoknya sendiri … yah … masih begitu? Hephaestus kreatif, tidakkah ia menemukan cara untuk memperbaiki penampilannya?

Di situ, Aphrodite mulai terdengar jahat. Buru-buru sang dewi mengalihkan pandang, mulai ragu tentang statusnya sebagai sang maha cinta. Jika ia memang jagonya memadu kasih, maka mengapa ia masih tak tergerak, tak sanggup, tak ingin mencintai Hephaestus? Kebiasaannya diam-diam mencela Hephaestus belum berubah, padahal ia tahu itu bukan bagian dari perilaku pengasih.

Dan, omong-omong soal kekasih, pemilik sepasang manik merah darah di seberang ruang langsung mencuri napas Aphrodite saat tatapan keduanya tak sengaja bersirobok. Getar lembut dalam hati sang dewi kembali hadir, mengabaikan betapa salah tempat dan waktu kemunculannya. Sosok yang keras, kuat, dan amat menarik itu—oh, tidak. Aphrodite memaksa diri memalingkan muka, berpura-pura si dewa perang tidak sedang memandanginya dari jauh.

Tidak ada Ares di sana. Tidak ada lagi Ares dalam hidupku.

Ironis, semakin kalimat-kalimat ini didengungkan, jiwa Aphrodite semakin lantang menyatakan bahwa itu bohong.

***

Lembut pasir pantai menyapa tiap kuncup peraba pada punggung mulus Aphrodite, lembab tapi nyaman. Dirinya dan pasangannya tengah saling mengurung: pada punggung si pria melingkar sepasang lengan ramping Aphrodite, sementara kepala Aphrodite berada di antara siku pria itu. Angin berhembus dari arah laut, memainkan helai-helai rambut sang dewi yang kini tengah menelusuri wajah kekasihnya. Aphrodite tak tahu siapa pria ini sebab sinar surya tidak membiarkannya mengenali si pria, tetapi itu tidak masalah. Tak penting mengetahui siapa yang menyentuh tubuhnya. Terlalu banyak manusia dan dewa yang menghendakinya, saban hari silih berganti. Bercinta, setelah sekian lama, tidak lagi menjadi istimewa. Mungkin tepatnya bukan hal ‘bercinta’ itu sendiri yang berubah membosankan, melainkan dengan siapa Aphrodite melakukannya.

Sama. Mereka semua sama. Bak buih di lautan luas. Muncul sejenak, lalu musnah dari benak.

“Aphrodite ….”

Namun ganjil. Bisikan pria ini ganjil—karena terlampau halus, sedikit gemetar, amat sarat rasa tanpa beriring berahi. Si pria perlahan mengguncang sisi tubuh Aphrodite, meminggirkan seikal rambut dari telinga sang dewi, dan mengulang panggilannya.

“Aphrodite … bangunlah.”

Bangun?

Oh, rupanya Aphrodite tidak sedang berada di pesisir. Matahari terbenam, bentangan pasir putih, dan kehangatan yang mirip cinta itu merupakan bagian dari lanskap mimpinya saja. Ia masih  dalam posisi menggulung di antara ranjang pengantin dan lipatan kusut selimutnya ketika membuka mata. Setengah duduk di sebelah Aphrodite adalah si jenius berkaki satu yang barusan membangunkannya. Hephaestus lekas menarik diri begitu istrinya terbangun dan panas tubuhnya yang dipersepsi Aphrodite sebagai hangat senja dalam mimpi tadi kontan menghilang.

“Sudah pagi,” ujar Hephaestus seraya tersenyum kikuk, “Mm … maaf jika ini terlalu dini, tetapi … uh, bukankah kau biasanya mandi agak lama? Aku hanya tidak mau kau terlambat menghadiri pertemuan nanti.”

Benar. Ada pertemuan 12 pemegang takhta utama yang harus mereka hadiri—lagi, padahal mereka baru saja menikah. Bibir Aphrodite melekuk tipis saat ia berangsur bangkit.

“Aku akan segera mandi. Terima kasih sudah membangunkanku, Hephaestus.”

Malam sebelumnya terasa sangat panjang. Ah, bukan, bukan karena malam pengantin yang seru, melainkan karena tumpukan pekerjaan Aphrodite yang mendadak meningkat drastis. Entah ini pengaruh kegembiraan Hera atau bukan, doa-doa yang dipanjatkan pasangan suami-istri baru maupun lama di dunia manusia pada dua pemberkat utama pernikahan—yaitu Hera dan Aphrodite—jadi lebih banyak malam lalu. Tak sempat Aphrodite menikmati pernikahannya; setiba di kamar, tanpa banyak bicara ia langsung berbaring di sebelah Hephaestus. Sang kreator yang pemalu itu gugup pada mulanya, tetapi memahami kelelahan Aphrodite, ia berbalik dan ragu-ragu menawarkan pijatan. Mengabaikan sensasi permukaan kapalan tangan Hephaestus, Aphrodite menerima tawaran tersebut dan tahu-tahu saja, pagi datang.

Miris memang. Justru pada malam pernikahannya, Aphrodite tidak memperoleh kenikmatan yang sepatutnya. Apa boleh buat? Hephaestus bukan sosok yang menggairahkan, meski tak dapat dipungkiri, lelaki pincang itu amat perhatian pada Aphrodite. Selama sejarah percintaannya yang panjang, mana ada pria yang repot-repot memikirkan lelahnya dan membangunkannya dengan cara yang demikian halus? Semalam bersama Hephaestus memperbaiki pandangan Aphrodite sedikit tentang satu-satunya dewa pemilik takhta utama Olympus yang tak pernah ia rayu itu, tetapi bukan berarti ia lantas jatuh hati.

Baru kali ini dingin menyerang Aphrodite kala sang dewi menanggalkan pakaiannya untuk membersihkan diri. Jika ia diumpamakan sebagai api perapian yang tersulut malam-malam mesra, api itu kini telah padam, menyisakan abu.

Sehari.

Dan, aku sudah lelah, desah Aphrodite, Andai Hephaestus menginginkanku sebesar kebanyakan dewa dan manusia, itu akan lebih baik untukku, tetapi apa-apaan dia? Ia terlalu sering meragu! Dia ‘kan bisa menjamahiku lebih dari itu semalam; ia punya wewenang, demi kepala Zeus! Atau jangan-jangan, ia memang tidak memiliki keinginan apapun di luar bengkel pandai besinya? Gila!

Aphrodite menutup mukanya frustrasi; air terpercik dari telapaknya yang menumbuk pipi.

Tidak, tidak, tidak! Ingat siapa dirimu! Kau adalah pecinta, pecinta! Siapa saja bisa kau cintai, termasuk dia yang paling susah dicintai! Lagipula, Hephaestus baik; setidaknya, ia tidak ‘sekasar’ dewa lain saat memperlakukanmu. Kau harus timbulkan perasaan itu untuknya sebab kau sudah diikatkan Hera dan Zeus pada si pincang itu sekarang.

Usai menurunkan tangan, Aphrodite disambut pantulan paras ayunya pada kolam beriak tempatnya berendam. Pada wajah itu, ia temukan keyakinan yang agak melegakan. Tentunya, di sana masih tersirat sejumlah kebimbangan yang signifikan.

Aku bisa.

Dua kata ini terus menggema dalam pikiran Aphrodite hingga pertemuan rutin 12 pemegang takhta utama Olympus berakhir dan para pesertanya kembali bertugas. Lantaran telah bersuami, kini agenda harian Aphrodite berkurang satu—sayangnya, malah jadwal itulah yang mengisi sebagian besar waktunya dalam sehari. Tak tahu apa yang harus dilakukan, ia termenung di taman mawar seberang koridor istana, sesekali menghirup udara yang diharumkan bebungaan sambil memejam beberapa lama. Dua belah telapak tangannya tertangkup di depan dada yang entah mengapa bergemuruh tak wajar.

“Kau tidak mencintai Hephaestus.”

Kontan Aphrodite meneguk ludahnya sulit, tak berani berbalik. Dengan mengutarakan hal sesensitif ini, si empunya suara tak hanya melukai Aphrodite, melainkan juga mengguyurkan air garam di atas luka tersebut. Pedih. Susah-payah Aphrodite meredam gigilnya, perpaduan ketakutan—wajar memang ditimbulkan oleh suara itu—dan gejolak tak dikenal yang nyaris ia namai cinta.

“Pergilah, Ares. Kata-katamu tidak lagi bermakna bagiku.” Sang dewi beranjak dari sisi air mancur di mana ia semula duduk, masih memunggungi lawan bicaranya. Meski nadanya dingin mengusir, ia sebetulnya khawatir sebab jika menoleh pada sang dewa perang merangkap mantan kekasihnya itu, ia akan kembali jatuh—dan pernikahannya yang belum jalan dua malam akan terguncang. Hera tak akan suka putranya dinistakan, bahkan oleh putranya yang lain.

“Seperti aku akan percaya saja,” ujar Ares angkuh, “Kau lupa, ya? Segala kasih pada hati manusia bersumber dari perasaanmu. Apa yang kaurasakan tergambar jelas di dunia mereka sekarang ini.”

Aphrodite tertegun.

“Kebencian mulai mewabah di Siprus, pusat pemujaanmu, hingga masalah sepele bisa merenggut satu nyawa,” –Bunyi gesekan pedang yang ditarik keluar dari sarungnya selalu menjadi pertanda buruk bagi Aphrodite yang sebisa-bisanya menghindari pertumpahan darah— “Sekarang memang belum terlalu mengganggu, tetapi aku yakin segalanya akan memburuk seiring sikapmu yang terus membohongi diri sendiri. Bukannya aku tidak senang, sih. Ketika mereka melupakan cinta, mereka akan mengingat dendam—mengingatku, maka aku akan sangat diuntungkan.”

Sengaja Ares menyeret ujung pedangnya di atas tanah agar Aphrodite memahami betapa serius perkara pernikahan tanpa jiwa dengan Hephaestus ini. Tindakan Ares lumayan berhasil; pipi Aphrodite yang biasa merona kini pucat. Gumpalan denyut menyakitkan yang sejak tadi ia rasakan sangat mungkin berasal dari kebencian yang mulai menyeruak di dunia manusia, tetapi memangnya kapan dia membenci Hephaestus? Tidak mencintai bukan berarti membenci, ‘kan? Lagipula, bukankah kebencian sehari-hari juga mendampingi manusia?

“Ares!”

Gagal sudah rencana Aphrodite untuk menghindari tatapan merah darah mantan kekasihnya. Yang dipanggil berpaling ke belakang, senyum miring yang disunggingkannya cukup untuk melemahkan Aphrodite sekali lagi. Tawa rendahnya masih terdengar mengancam sebagaimana biasa, nahasnya Aphrodite menemukan dirinya terpaku saking terpesonanya dengan suara itu.

“Ada apa, Cantik?”

Ingin Aphrodite menahan Ares—entah dengan bujukan atau malah perintah yang dilontarkan setegas mungkin—supaya tidak menjawab doa siapapun yang menghendaki pembantaian hari ini. Refleksnya berkhianat. Tubuhnya merespon tak bagus pujian kosong yang Ares layangkan. Sebelum sadar, Aphrodite telah menggenggam pergelangan Ares dengan dua telapak. Betapa liat dan besar lengan itu dibanding dua tangan mungilnya yang sehalus sutra, seakan memang ditakdirkan untuk saling mengisi.

Saling memuaskan.

Melawan kehendak pemiliknya, sepasang kaki jenjang Aphrodite memangkas jarak antara dirinya dan Ares. Bibirnya yang lembab meluncurkan sebaris undangan tak sabar ke telinga sang dewa selagi berusaha mengamankan pedang Ares yang kelaparan.

“Tak perlu turun ke Bumi. Hephaestus akan pulang larut, jadi kita berdua masih punya banyak waktu.”

***

Adalah keliru bila Aphrodite menyangka rayuannya pada Ares pagi itu telah menyelamatkan para manusia; langkah kecil inilah gerbang Aphrodite menuju kehancuran ritusnya.

bersambung.


.

.

mulai hari ini, aku membuat tag baru utk greek mythology! walaupun masih bakal pake muka2 cast dodekatheon retold sebagai cover, tapi tag cast akan kubuat asli nama dewa-dewi yunani ini.  rombak habis2an dari awal memang tapi tak apalah, sebab sebenernya rasa dari dodekatheon retold itu memang greek myth bukan kpop.

yg artinya aku melompat ke genre non mainstream.

tenang, aku masih nulis exo kpop kok.

anw, aku terombang-ambing cukup lama antara ini, poseidon-amphitrite, in the heights!aunya chen, sama oneshot krissica yg jadi shinigami. makanya lamaaaaa bgt ga posting apa2. ini juga blm selesai sebenernya tapi mgkin ngepost part satunya akan membantu menjaga semangatku. enjoy anyway ^^

Advertisements

7 thoughts on “Born Hater (pt.1)

  1. WAAAA liana kum balik-kamu bali. pagi-pagi gini aku udah baca greek mythologi romance lagi. anyway karena aku juga suka dengan greek mungkin ini bisalah jadi pelepas rindu sesaat di tengah sibuknya kuliah/lah/.
    pas yang bagian tatapan ares dan aphrodite bertemu di pesta pernikahan aku yang udah notice kalau ini bakal seru kalau jadi cerita cinta segitiga terlebih mereka yang punya kekuatan yang dimana saling bertolak belakang gitu. aku masih mikir gimana nasib hephaestus next chapter. ^^
    ditunggu lanjutannya, lianaa. keep writing ya, kamu :))

    Like

    1. aduuh maafkeun kak lianaaa, aku yang lupa (mungkin karena masih pagi baru bangun) jadinya kurang fokus gitu. maafkeun aku jadi koerangajar gini, kak. heuheuhhu. maaf kak lianaa. semangat yaaa, kak lianaaa ❤ ❤

      Like

  2. waduuuuu. jadi sebenernya itu aphrodite nikah sama hephaestus atas perintahnya zeus hera yha? wah wah :” btw aku gabisa bayangin kalo misal keadaan di bumi itu connect sama perasaan aphrodite waaaaah. kebayang kan gimana berantakannya. udah forced marriage, terus pake ada ares muncul pula ._. ditunggu li, chapter selanjutnya hehe 😀 semangaatttt

    Like

  3. Bingung mau di tim siapa *meski tau sih versi retold Aphrodite bakal sama siapa akhirnya*
    Setengah bimbang soalnya Ares-Aphrodite itu kan simbolisasi laki-laki/perempuan aka Mars-Venus versi romannya
    Dan Hephaestus memang lebih cinta bengkelnya dibanding sang istri *kemudian menggelinding ke istana Poseidon*
    HAYOLAH APHRODITE
    Artemis yang bersumpah jadi perawan aja bisa jatuh cinta sama Orion
    Masa dewi cinta ga bisa jatuh cinta sih sama suami sendiri
    Kisah Ares-Aphrodite-Hephaestus memang rumit ya, bahkan Zeus-Poseidon *yang sama-sama kecantol tiga dewi yang sama* ga serumit itu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s