EXO-N #31: When God Made You, He Was Showing Off

Luhan_1460742922_luhan1

an EXO-M scenario

Lu Han, Chen, Lay, Kris, Tao, and Xiumin

Romance, General, Acute Fangirlism Syndrome, plotless!

.

“Cahayamu tidak akan pernah tenggelam.” (EXO – Beautiful)

***

Terkadang, keindahan malah menjadi kekurangan terbesar seseorang.

Berkebalikan denganmu, Han justru tidak menyukai fitur-fitur menawan pada dirinya yang biasa menjadi magnet bagi para wanita. Terlalu lembut, kurang tegas!, ia mengeluh lantaran tak jarang orang salah mengiranya sebagai wanita, saking halusnya garis-garis wajahnya. Cuma orang-orang dekatnya—apalagi kau yang sudah memahaminya luar-dalam—yang dengan tegas memuji ketampanannya tanpa embel-embel ‘imut’ (atau, lebih parah lagi, ‘cantik’) sebab ia benci itu. Betapapun kekanakannya ia terlihat, ia masih seorang pria yang punya harga diri juga. Kau menggarisbawahi bagian ‘pria’-nya itu sebab kini, kau tengah duduk di halaman belakang rumah masa kecilmu, mengagumi sisi jantan dari priamu.

Di bawah terik matahari Juli, dengan hanya mengenakan kaus putih polos dan celana cargo lusuh, Han rela berpeluh-peluh demi memperbaiki kamar mandi mertuanya. Dua lengan bekerja selaras ketika ia menggergaji batang-batang panjang yang sebelumnya ditandai dengan spidol. Ibumu belakangan sering pusing dan kesemutan hingga nyaris jatuh setelah duduk lama di kloset, jadi dia berinisiatif untuk membuatkan pegangan antilicin demi memudahkan ibumu berdiri. Walaupun bukan ahli tukang-menukang, setidaknya ia cukup terampil mengerjakan alat-alat rumah tangga; meja gambar putramu merupakan salah satu buktinya.

“Oke, sudah selesai, nih. Tinggal dipaku!”

Nah, ‘cowok imut’ mana yang mau pegal dan berkotor-kotor di antara bubuk serutan kayu? Hanya pria yang melakukannya, bukan?

Satu sisi dirimu enggan berpindah karena sudut dari mana kau memandang Han sekarang sangat tepat. Kau tak butuh tonjolan otot bak binaragawan untuk membuktikan kekuatannya. Lihat saja, tanpa kesusahan, ia membawa kayu-kayu sebanyak itu buat dipasang di kamar mandi ibumu; jelas ia memiliki tenaga besar seperti seharusnya seorang pria dan kau makin tak berdaya melawan pesonanya. Namun, sebagai seorang istri, kau merasa wajib beranjak dan membawakan apa yang mampu kau bawa: palu dan sekotak paku.

“Kau lupa ini,” ucapmu saat meletakkan peralatannya di depan pintu kamar mandi, “Terima kasih banyak, Han. Teh gandum dingin di dapur menunggumu, tuh.”

Manik cokelat Han yang terbingkai jalur keringat berbinar gembira. “Jangan godai aku pakai minuman, dong. ‘Kan jadi haus,” guraunya, “Baiknya aku kerjakan ini cepat-cepat.”

Kau tersenyum. Ya, baiknya Han bergegas karena kau juga ingin segera berduaan dengannya.


0rduAv3

Kau menunggunya terbangun setiap pagi.

Pada helai-helai hitam rambut Jongdae yang mencuat tak teratur, cetakan kemerahan lipatan sarung bantal di wajah berminyaknya, dan kedipan lambatnya saat kau membukakan tirai untuk sang mentari, ada kelegaan kau temukan. Suara merdu yang biasa ia suguhkan di atas panggung tidak pernah menyambutmu di awal hari, tentu saja, tetapi mengapa kau tak pernah merasa kecewa? Justru dalam kata-kata serak dari tenggorokannya yang belum sempat ‘pemanasan’, kau peroleh ketenangan.

24 jam lagi telah terlewati dengan Jongdae masih di sisimu, kau masih di sisinya.

“Jam berapa ini?” –adalah pertanyaan rutin yang Jongdae ajukan padamu. Artinya bermacam-macam: ia mungkin takut terlambat memenuhi jadwal penting rekaman, atau khawatir kesiangan mengantar anakmu, atau sekadar memastikan waktu berliburnya tidak terpotong sia-sia akibat kelamaan tidur. Jika bangun tepat waktu, kau akan cukup kalem untuk menjawab tanyanya dan menambahkan informasi lain sesuai kebutuhan, misalnya jam masuk kelas si sulung. Acapkali kau sertakan juga menu sarapan kalian biar dia semangat.

“Cepat mandi, badanmu nanti kalah wangi sama Nana.”

Dan, ya, perintah ini termasuk salah satu yang kausempilkan. Putri pertama kalian memang lebih rajin dari sang ayah, kadang.

Ada masa di mana Jongdae malas bangkit dari tempat tidur. Bisa karena kecapekan, pertengkaran denganmu malam sebelumnya, maupun nada-nada yang tak kunjung menghampiri pikiran kreatifnya, tetapi di sebagian besar waktu, ia akan duduk perlahan, merenggangkan tubuh, dan tersenyum. Tipis bermakna. Kau mengira ia punya filosofi tersendiri tentang senyum pagi itu: bahwa hari yang dimulai dengan kebahagiaan, biasanya akan ditutup dengan kebahagiaan juga. Tidak sepenuhnya salah. Sesungguhnya, Jongdae ingin menunjukkan betapa ia menikmati satu malam lagi bersamamu dengan menyuguhkanmu penampilan berantakannya. Beruntung, kau bisa mengapresiasi suguhan ini: apa adanya, tanpa selubung tipu, tulus dan bahagia. Mana sanggup kau mengatai kepolosannya ketika sekujur tubuhnya seolah meneriakkan terima kasih padamu karena sudah meringankan bebannya?

“Iya, aku mandi, nih.”

Setelah Jongdae berlalu, kau terheran sendiri. Mengapa, tanyamu, tawa ringannya yang sumbang masih sanggup memetik dawai-dawai jiwamu pagi ini pula?


005vpiovgw1f35vhcx42rj30kv0rstd2

Setiap kali melihatnya, obsesimu untuk memasukkannya ke salah satu keajaiban dunia senantiasa menyeruak ke permukaan.

Bukan, ini bukan soal senyum segibanyak Yixing yang sanggup melumerkan tulang-tulang (dan mengapa disebut ‘segibanyak’, itu karena ia bisa berubah jadi apa saja—mulai dari lelaki manis calon menantu ideal hingga pria flamboyan yang menaklukkan sederetan panjang perempuan semudah menjatuhkan sebaris domino—semata dengan mengubah sedikit sudut senyumnya). Bukan juga soal lesung pipinya yang lebih dalam dari Palung Mariana. Bohong, sih; mana ada lesung pipi sedalam itu? Tapi, dengan lesung pipi itulah, ia menggapai bagian terdalam hati wanita dan membuat mereka bersedia jatuh-bangun deminya. Batang tubuhnya yang sempurna pun tidak menjadi sorot utamamu… aih, kau malah kerap dibikin cemburu oleh aksi awurannya di depan ribuan penggemar. Pakaiannya tiba-tiba terbang entah ke mana, lalu ia memancing histeria massal dengan menggerakkan otot-otot lenturnya, beriring irama memabukkan, lupa daratan. Bahaya jika sudah begitu; istirahatmu terancam terganggu sebab ia akan pulang dalam keadaan masuk angin dan kaulah yang mesti merawatnya. Padahal siapa yang menikmati performanya, aku saja yang kena getahnya, omelmu dan dia nyengir bersalah.

Yang aneh, kau tak pernah berniat meninggalkan Yixing. Alasannya ya itu tadi: keajaibannya. Sama sekali tak ada bangunan—Pisa, Sagrada Familia, maupun Empire State Building—yang begitu indah tampak luarnya, namun amat rapuh dalamnya, yang mampu bertahan sangat lama dari terjangan zaman. Semenakjubkan apapun Yixing, kau lebih mengerti konstruksinya. Titik lemahnya multipel, cedera mendatanginya dari segala arah, fisik dan mental sama-sama aus setelah turun panggung. Kata maafnya meluncur tak henti-henti setiap menumpahkan letihnya di pangkuanmu, menyesal tidak bisa menghadiahkan apapun padamu.

Kau menyangkal Yixing mentah-mentah. Kecupanmu mendarat pada bibirnya, memanjakan dan terasa seperti rumah. Matanya membulat, kau terkekeh jahil, dan Yixing ikut terkekeh, riang. Menyaksikan itu meyakinkanmu bahwa Yixing memang bukan sekadar segumpal kepenatan dalam keluarga kecil kalian. Ia adalah letupan amarah, luka berbalut air mata, api semangat, gelegak hasrat, dan kebaikan bersalut gula. Kau mengizinkannya menjadi yang mana saja, tidak seperti khalayak ramai yang memaksanya terus menjadi sosok terakhir. Toh cinta bukan perkara menolak senyum yang memudar, tetapi melukisnya kembali, dan masing-masing kalian masih memegang kuas bercat.

“Terima kasih. Untuk segalanya.”

Ketika tiba gilirannya melukis senyummu, jemari Yixing bertaut erat dengan milikmu, menjadikanmu lukisan cantik nan istimewa.


CfzpACPUUAA_-6U

Semula, gaya rambutnya yang baru tampak menggelikan bagimu.

Kau ragu menyebut itu ‘gaya rambut’ karena tidak ada rambut yang tertinggal di kepala Yifan, sebetulnya. Memenuhi tuntutan peran dalam filmnya yang teranyar, ia harus memangkas habis ‘rambut labilnya’—alias potongan agak panjang berponi a la ABG idol wannabe—supaya cocok dengan karakter biksu Buddha. Minggu-minggu pertama, kau tak tahan untuk tertawa, bahkan sampai terpingkal di beberapa kesempatan, bila pandanganmu jatuh pada permukaan licin kepalanya. Tanggapan atas reaksimu bervariasi: ia kadang jengkel, bertanya ‘apa lihat-lihat?’, lebih sering ikut tergelak, dan akhir-akhir ini jadi kepedean. Dia tak sungkan-sungkan lagi menyatakan, “Kau tertawa sebenarnya karena aku tampan, ‘kan? Perempuan malu-malu biasa cekikikan buat menutup perasaannya.” –dan kau meninjunya pelan di lengan atas.

Lambat laun, kau menganggap potongan rambut Yifan sebagai bentuk lain dari determinasi.

Entah sejak kapan kebimbangan lenyap dari kehidupan Yifan, yang jelas kau jarang menemukannya, bahkan di pertemuan pertama kalian. Ia tidak butuh banyak waktu memutuskan sesuatu, tetapi bukan berarti visinya tidak jauh. Dalam hal rambut ini contohnya, ia telah ‘mengobrak-abrik’ image idola remaja dari mana dia mengawali karier dan beralih ke sosok yang lebih dewasa, walau tentu saja, dari dulu dia memang seorang yang matang. Hal sepele ini bisa jadi masalah bagi aktor-aktor yang disetir tren dan kemauan penggemar, tetapi Yifan tak semudah itu kehilangan dirinya usai melalui rintangan-rintangan di jalan ketenaran yang ia tempuh.

Hidupmu hanya berhak ditentukan oleh dirimu sendiri. Segala aspek dalam hidup Yifan menyerukan itu padamu, kepala botaknya dihitung.

Kau lupa kapan terakhir menertawakan kepala Yifan; seolah tiba-tiba, pemikiranmu tentang potongan itu berubah dan kau jadi menghargainya seperti kau menghargai (dan mendukung) keputusan-keputusannya sebelum ini. Perhatianmu yang dulunya berwujud nasihat-nasihat klise—jangan sering-sering mewarna rambut, jangan kebanyakan ganti gaya!—sekarang bergeser ke tindakan nyata. Kausiapkan topi andai ia tak sengaja melewatkan itu dari daftar barang wajib di kopor bepergiannya. Kaupilihkan baju bertudung jika hari terlalu panas untuknya keluar. Jiwa iseng sesekali menghampirimu, membawa tanganmu ke kepala licinnya, mengusapnya untuk bermain-main. Raut lucumu kala melakukan itu menyenangkannya dan tanpa disadari, ikatan antara kalian menjadi kian intim.

Musim berganti, rambut Yifan mulai menutup sebagian dataran yang sebelumnya bebas kaujamahi, dan dia balik menertawakan kerinduanmu yang konyol pada ‘si botak’.


tumblr_o2o679bPyB1v1815qo1_1280

Kau menjulukinya si maniak bunga yang tidak kreatif. Dia sebal, tetapi tetap mencintaimu. Dan memberimu bunga.

Di era modern, waktu dan uang bagaikan substansi encer yang rawan meluncur lepas dari genggaman. Kau pun sibuk mengejar dua hal ini dengan segenap tenaga dan pikiranmu, patutlah jika romantisme tidak mewarnai benakmu sama sekali. Zitao, di sisi lain, merupakan jiwa bebas yang impulsif, bergerak berdasarkan apa yang nuraninya inginkan. Tindakannya memujamu kaupandang ganjil dan tidak praktis, sama seperti berbuket-buket bunga yang ia hadiahkan di hari-hari spesialmu atau momen-momen berharga kalian. Tak ada bedanya bagimu, mawar yang ia berikan pada kencan pertama kalian, hydrangea yang dikirimkannya ke kantormu saat kau terpilih sebagai karyawan teladan, atau krisan yang bersisian dengan sekotak kue ulang tahunmu. Kau tidak pernah memahami kosakata Zitao yang terungkap dalam tiap karangan bunga—mawar tanda cinta, hydrangea untuk kegigihan, dan krisan perlambang kelahiran kembali—jadi kau tidak pernah cukup tersentuh.

Atau mungkin, kau semata-mata tak punya cukup waktu untuk merenunginya.

Karena ketika kau terbaring tak berdaya di rumah sakit, kau baru merasakan betul betapa kering hidupmu. Tak banyak teman menjengukmu, yang mana kaumaklumi sebab selama ini kau kelewat tertutup. Orang tuamu tinggal di seberang laut, terlalu jauh dari jangkauanmu. Waktu dan uang yang encer tidak lagi kauacuhkan dalam ruangan serbaputih. Tetes-tetes infus berubah berisik dalam kungkungan sepi. Wajah ramah dokter dan perawat pun menjemukanmu. Air mata yang selama ini kaukunci rapat-rapat di balik kelopak jatuh setetes bersamaan dengan langkah pertama Zitao ke dalam kamarmu.

Ia membawa seikat peony, berhias pita ungu, warna favoritmu.

Tangismu pecah. Kau memeluk Zitao erat-erat, merengek minta pulang seperti anak-anak, mengeluhkan kesepian. Zitao yang perasa membelai punggungmu hati-hati dan membisikkan kata-kata penyemangat—makanya kau harus berjuang biar sembuh, jangan bersedih terus, aku di sini, kau mau kubawakan hadiah apa?—yang efeknya sangat besar padamu. Bahkan untuk orang sepertimu, masih ada yang berkenan meluangkan waktu, menyisihkan uang, dan menganggapmu bernilai. Zitao memperhatikanmu sebesar itu hingga kau merasa bodoh baru terharu sekarang.

“Zitao,” tanyamu sengau, kali ini sungguh-sungguh penasaran, “bunga itu apa artinya?”

Peony,” –Senyum teduh Zitao akhirnya meninggalkan kesan dalam memorimu—“maknanya ‘aku sangat merindukanmu, jadi cepatlah sehat dan kembalilah padaku’.”


12826255_1685588218379390_1312056686_n

Kehidupan masa remajamu dimulai saat mengidolakan cowok-cowok atletis dan metroseksual menjadi tren. Kau sempat terseret arus ini hingga kau mendapati berlian tersembunyi di sudut perpustakaan.

Dengan kacamata bulat, hidung berbintik, dan setumpuk bacaan menjemukan, Minseok tidak dilirik gadis-gadis pada kala itu, tidak juga kau. Wawasannya, padahal, jauh lebih luas dari sekadar mengaplikasikan jeli rambut atau memilih wewangian pelumpuh indra wanita. Ia membaca sastra-sastra kuno populer, tanpa bosan-bosan menjelajahi tiap rak buku yang isinya menguning, tetapi di tab gadgetnya tertera berita-berita politik dan teknologi paling gres. Ia pun menyusuri lembar-lembar novel, menikmati romansa selama itu bersanding dengan fiksi ilmiah atau sejarah. Tak berhenti, buku petunjuk komputer dan alat-alat listrik lain turut menjadi makanan sehari-harinya. Matanya senantiasa berbinar-binar ingin tahu tatkala menekuni serangkaian huruf-huruf, mencerna isi buku sekalian mengingat esensinya.

Sementara itu, kau baru menjadi penggemar kisah penuh intrik pada era Joseon setelah menonton drama dan terdorong mencari sumber asli dari perpustakaan, berhubung kau lelah membaca artikel-artikel berformat acak-acakan dari sumber tak terpercaya di internet. Buku yang kaucari secara kebetulan sama dengan yang dicari seorang pemuda tak menarik, yang siluetnya lumayan sering kaudapati pada jendela ruang baca, berseberangan dengan lapangan basket tempatmu meneriaki jagoan kerenmu dulu.

Jemari Minseok tak sengaja bertemu denganmu pada punggung buku yang sama. Kau menoleh dan dikejutkan oleh sepasang binar indahnya dalam jarak amat dekat. Dia juga kaget menemukan ‘buku asing’ yang belum pernah terbaca olehnya—dan merdu suaranya membuka lembar baru dalam cerita cintamu.

“Halo.”

Perkenalan yang rikuh ini ternyata berdampak besar. Sebagaimana buku menjadi jendela dunia, mata Minseok sejernih lensa berbingkai yang ia kenakan, memberimu celah untuk melongok ke dalam dan mempelajarinya. Dia, di saat bersamaan, ikut membantumu lebih mengenal dirimu sendiri. Kau lupa jam-jam gosip seru dengan cewek-cewek gaul di pinggir lapangan basket begitu kau menyadari tatapannya yang berbeda. Yang berharga.

Pada satu sore, Minseok memelukmu erat. Seketika itu, kau menukar lensa lama pada netramu dengan yang lain, yang mengizinkanmu memandang Minseok sebagai seseorang yang layak dikagumi, dikasihi, dan dibaca tiada akhir.

TAMAT


.

.

.

niatnya elaborasi diksi. jatuhnya fangirling. let me just party anyway, after a hard day. 

Advertisements

22 thoughts on “EXO-N #31: When God Made You, He Was Showing Off

    1. yaampun kak lianaa, waktu nulis ini kakak lagi mikirin apa, kak? kok bisa manis kaya gula-gula yang dijual di kantin sekolahku dulu. hahaha. aku yang sampai kekeh bagian yifan yang botak bisa dijadiin fic, kak li. tapi tetap aja jongdae jadi fokusku pas baca ini. bangun pagi terus liat muka jongdae ((apalagi kalau rambutnya hitam)) engga peduli kalau dianya yang ileran dan semcamnya tetap aja engga bisa menghapus makna keindahan pagi yang sesungguhnya.

      semangat nulisnya, kak li. keep writing, kak 🙂

      Like

      1. bhaks jgn dibayangin jongdaenya ntar kamu pindah bias *pdhal biasmu siapa aku juga gatau :p
        iya kan menurutku mas wu ttp keren biarpun botak, saya mah rela tapi kok byk yg ga suka mas wu botak… ah entahlah
        makasih udah baca ya, keep writing too!

        Like

  1. OH MY GOD KAK LIIIII, AKU SENYUM SENYUM TERUS BACANYA. INI MANIS BANGET, KELEBIHAN GULA, HUHUHU.
    Keren banget kak, Kangen EXO M komplit jadinya *loh

    Thank kak buat hiburannya, wkwkwk. Bye ~

    Like

  2. LAH KAK NAPA AKU MALAH FOKUS KE JONGDAE YIXING AJA KAK KENAPA KAK KENAPAAAAAAAA /plak/edisi nyampah kak maafkan airly/nyebur/
    Tapi semuanya huhuhu bikin melting udah deh kak bhay ini kak bhay /plak/

    Like

    1. bhay airly aku juga bhay
      bawaan bias kali, atau mungkin airly ga biasa mengapresiasi kegantengan member exo-m yg lainnya, apalagi yg botak ahahaha. btw aku baru sadar kalo kamu ngebias yixing juga uhuy, yihwa kapan nih? keep writing juga ya ^.^

      Like

  3. kak li, atulah di tiga pertama aku udah fangirling e e e muncul foto mas wufan botak. ga jadi fangirling. yagusti mana tulisan di bawahnya tuh lyk “mau nyebut gaya rambut tapi ga ada rambut gimana dong” dan yang bagian “apa liat-liat?” fikseu lah pecah. iya sereceh itu selera humor aisya, maafkeun.

    terus scroll scroll, dan WAAW GEEKY MINSEOK. cowok kayak begini nih yang ideal banget ketimbang yang cuma bisa main pomade ((uhuk)) ((related to daily life sih)).

    dan diksi yang kak li pakai di sini! SUKAAA mau aku baca berkali-kali ah, walaupun kak li bilang jatohnya malah fangirling. yosh as expected from kak li, well written banget x)) keep writing yo ❤

    Like

    1. ai yg botak pokoknya jgn sampe lolos lah. botak seksi ga masalah kok buat saya *apa Li
      sesungguhnya aku juga punya obsesi ga wajar/? sama cowok kacamataan sih, mereka tuh pesonanya kyk yg bertambah beberapa kali lipat dibanding tanpa kacamata :3
      keep writing too aisya XD

      Like

  4. aku mah suka kalo ada cowok kutu buku, APALAGI KALO ITU MAS UMIN, ga cuma mau, tapi MAU BANGET.

    okeh, karena udh bnyk yg bilang manis, aq juga mau ikutan, en nambahin klo ngasih mas umin di ending jadi tmbah manis *ini mah akunya aja yg fangirling sm mas xiuxiu*

    Like

  5. SEMUANYA FAVORIT. DEMN….
    plis, kak liana fict ini tuh lebih dari sekedar elaborasi diksi. Pilihan kata yang kakak pakai itu ibarat satu kesatuan yang kami rasakan sebagaii fangirl akut. Bisa pas banget. Tiap paragraf beserta isiisiny itu bener2 mmewakili keinginan terliar para fangirl di luar sana. Ah plis. Personifikasi Jongdar dengan berbagai rasa kehidupan itu one of my favoritish ❤ ahhhh. (Oke maafkan komen trashy ini kak li)
    So buat kak liana, dan rekan2 fangirl seperjuangan lainnya, yuk mari kita bergerak diri agar tulisan ini tidak sekedar masuk kr kolom ilusi kita sendiri. Hahaha.
    Anyway, keep writing Kak Li! 🙂

    Liked by 1 person

  6. YA AMPUN! Aku sampe nggak sadar udah nyampe tamat. Perasaan ada enam butir tapi kok cepet banget. Bahkan sampe kuhitung lagi, takut ada yang kelewatan. XD
    Baca ini itu, berasa disiram banyu kembang sebelum perang sama materi ekonomi HAHA. Kalo suruh milih satu, mungkin aku milik punya Tao. Selama ini dia sering jadi tokoh yang ‘dikuatkan’ di suatu fiksi, tapi ini dia nguatin orang lain dan itu nyesss banget kak. Pake filosofi bunga segala. Duh adek Tao sudah sedewasa inikah? *tolong abaikan*
    Tapi aku nggak bisa mengabaikan paman biksu. Bayangin Kris kesel sambil bilang ‘apa liat-liat’ itu nyata banget XD Senyum-senyum sendiri mikirinnya. 🙂
    Tapi semuanya juga punya kesan tersendiri kok kak~ Uhh, keep writing senpai! ❤
    nb: kenapa aku ngebayangin kak Li nari ala spongebob di gif itu ya? (emang bisa dibayangin, ketemu aja gapernah?)

    Like

    1. banyu kembang. tujuh rupa gak pat? *a.pa.Li.
      adek tao sudah bukan adek paaaat kita aja manggilnya harus kak gitu kan mestinya *salah sendiri bikin image magnae semasa di exo* skrg dia swag :p *dari dulu mah
      TENTU SAJA YANG PALING BOTAK TIDAK BOLEH LOLOS aku juga suka bgt nulis itu, enjoy bgt! rasanya kyk lebih deket ke real life and karakter dia huhuhu
      hahaha iya sebenernya habis nulis ini aku gak nari gitu, malah tepar habis nyiapin berkas2 yudisium S1 yg buanyaaak bgt :p
      keep writing toooo aku nungguin karyamu pat!

      Liked by 1 person

  7. kak li maaf aku ubek2 kak li lagi, jangan bosen ya kak liat aku di kolom komentar :’)
    DUH KOK BISA KELEWAT BACA YANG INI YA? Hufttt padahal ini ntap ngets baik diksi maupun plotnya :”)) jujur aja kalo aku ngurutin biasku di exo, member2 yg dijadiin cast di sini mungkin bakal nempatin urutan terbawah karena aku ga begitu tertarik (misalnya chen, xiumin, tao hahaha ampun kak li, bias semua umat macam baekhyun dan chanyeol lebih menarik buatku), tapi ini manis banget paraahhhh ngalahin martabak nutella di deket kampus, ga ngerti lagi. anyway favoritku adalah pas bagian luhan dan tao duh pengen dibungkus terus dibawa pulang rasanya :”)
    maaf ya kak li aku nyampah (lagi), keep up the good work kak! ❤ ❤

    Like

    1. halo nadya ^^ buset ya emang jajaran biasku itu selalu jadi yg terbawah kalo di bias list orang ahahaha. gapapa. aku melestarikan ff xiuchentaolay soalnya ^^
      jgn bahas martabak nutella ya aku laper *terus gegulingan inget harga nutella yg selangit
      thankies udah mampir dan menikmati ini XD

      Like

      1. kakkk maaf banget nih sebelumnya, but did you unfollow me? 😦 bukannya minta difollow apa gimana sih tapi kaget aja pas iseng ngecek ternyata ngga ada kak liana hehehehe

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s