EXO-N #32: Parental Mission

jessica-love-me-the-same-mv

a KPop-CPop fanfiction by Liana D. S.

Jessica Jung x Kris Wu

Fantasy, Friendship, Angel!AU, Oneshot, Teen and Up

.

Sebuah X untuk ciuman lembut. Sebuah O untuk lingkaran peluk. (EXO – XOXO)

***

Seminggu lalu, Jessica dinyatakan lulus dari Pusat Pelatihan Arwah di Komunitas Langit. Segera setelah wisudanya, arwah wanita yang baru diresmikan menjadi malaikat itu memasukkan lamaran kerja ke Badan Pengawas Kematian dan Registrasi Arwah, tepatnya di Divisi Pencabut Nyawa yang sudah ia incar sejak pertama mendaftar di pusat pelatihan. Walaupun curicullum vitaenya tidak panjang, untungnya divisi eksklusif tersebut menerima Jessica, maka bisa dibayangkan betapa girangnya Jessica begitu surat penerimaannya sampai di rumah. Hari ini, Jessica akan melakukan briefing perdana dengan Ketua Divisi, bersama-sama dengan pegawai junior lainnya.

Namun, debar antusias di hari pertama bekerja kontan terganti rasa cemas bercampur kesal ketika Jessica memasuki ruang briefing. Tidak, ini bukan soal blazer merah super bergaya milik Lina Lee, Ketua Divisi Pencabut Nyawa, yang membuat Jessica dengan blazer putihnya kalah stylish. Bukan pula mengenai kekecewaannya pada Subdivisi Kematian Anak di mana ia ditempatkan, yang berlawanan dengan isian formulirnya di kolom ‘minat’ (yaitu Subdivisi Kematian Pendosa dan Penghukuman sebagai prioritas pertama dan Subdivisi Kematian Akibat Perang sebagai prioritas kedua), walaupun benar bahwa andai penempatan pegawai diumumkan lebih awal, dirinya tidak akan sekecewa ini. Menjadi satu-satunya pegawai junior di Subdivisi Kematian Anak juga bukan masalah besar; Jessica toh tidak terlalu suka bekerja dalam tim, jadi ini malah dianggapnya menguntungkan.

Tapi, apa yang lebih mengecewakannya adalah …

“Baik, yang terakhir, Subdivisi Kematian Anak, Malaikat Pencabut Nyawa Jessica Jung, pengawasmu adalah Kris Wu, yang tinggi, duduk paling kanan. Silakan berdiri, Kris.”

… ini.

Dari saat ia masuk dan menemukan sosok jangkung Kris Wu semeja dengan Lina Lee, Jessica sudah keki. Kejengkelannya pada Kris Wu memang agak ganjil karena sebetulnya, Kris tidak benar-benar mengesalkan, terlepas dari tingkahnya yang kadang sok keren semasa di pusat pelatihan. Omong-omong, Kris kakak kelas Jessica jarak setahun—dan kalimat pertama yang Kris lontarkan pada Jessica secara acak (siapa saja bisa jadi target tempaan senior, bukan?) di hari pertama orientasi menanamkan kebencian menahun di hati Jessica.

“Kau masuk ke sini berlumur dosa, maka bersihkanlah dosa itu dengan bekerja keras!”

Iya, iya, Jessica juga tahu kalau kebanyakan arwah masuk Komunitas dalam keadaan masih kotor, tetapi mereka sudah disucikan sedemikian rupa sebelum datang ke sini, termasuk dirinya. Dosa itu tak bersisa lagi—mereka telah menjadi jiwa yang bersih. Mengapa Kris menyinggung-nyinggung dosa ketika itu semua mestinya merupakan bagian masa lalu menyakitkan para arwah? Kan tidak sopan! Lagipula, gara-gara itu, Jessica jadi mengingat dosanya yang lumayan besar di kehidupan sebelumnya dan hingga hari orientasi berikut, ia tak bisa tidur karena terus dihantui dosa tersebut. Bayangkan.

“Masih kesal padaku?”

Dalam perjalanan menuju dunia manusia, tahu-tahu Kris mengajukan pertanyaan ini. Jessica mulanya bengong.

“Maksud Anda?”

“Tentang apa yang kukatakan di masa orientasimu. Kau Jessica Jung yang dulu kubentak di hadapan 186 peserta pelatihan tingkat pertama, benar?”

Oh. Mengejutkan mengetahui peristiwa itu masih membekas di ingatan Kris sebab rasanya mustahil ekspresi kesal Jessica menonjol dari 185 ekspresi kesal lainnya. Plus, Kris senior waktu itu; ia membentaki junior lain juga, jadi kejadian yang menimpa Jessica bukanlah sesuatu yang istimewa untuk dikenang.

“Benar, tapi saya tidak … terlalu kesal,” Jessica tertawa rikuh, “Sebagai junior yang kebanyakan dapat tugas dan kena marah senior, wajar bila saya terlihat marah, tetapi setelah itu ya selesai. Saya tidak akan menyimpan dendam kekanakan, kok.”

“Begitu,” –Pantovel Kris mengawali pendaratan mulusnya di dunia manusia— “Sayangnya, kata-katamu tadi mengesankan kau masih ingat apa yang kukatakan waktu itu dengan jelas.”

Ups, Jessica salah ucap; mestinya kan dia bilang sesuatu seperti ‘kapan Anda membentak saya?’ biar dia kelihatan betul-betul cuek mengenai peristiwa orientasi itu. Habis refleks, Kris juga sih tiba-tiba menanyakan sesuatu sesensitif itu. Daripada salah ucap lagi, si malaikat wanita memilih bungkam. Kepalanya tertunduk, sedikit dipalingkan ke arah lain …

“Aku mohon maaf yang sebesar-besarnya.”

… dan tiba-tiba (lagi), Kris mengatakan ini. Jessica kontan menghentikan langkahnya dan menengadah. Didapatinya sesal pada wajah Kris yang lumayan kentara, serta cukup mengherankan. Benarkah ini Kris, salah satu dari ‘Yang Tak Terjamah’ kalau kata anak-anak di pusat pelatihan dulu?

“Memang tidak sepantasnya aku membicarakan soal dosa, tidak hanya padamu, melainkan pada seluruh arwah. Kehidupan ini adalah awal baru, tidak seharusnya dinodai dengan kisah lama, bukan? Jadi, tolong maafkan aku. Setelah itu, barulah aku bisa menjalankan tugas sebagai pengawasmu dengan baik.”

“Oh … um,” Jessica yang salah tingkah hanya bisa mengangguk, menerka-nerka mengapa Kris bisa berubah sedemikian drastis di hadapannya … anehnya, kekesalan yang beberapa menit lalu masih bercokol lenyap begitu saja, “Sebenarnya, Anda tidak perlu minta maaf karena ‘kesalahan’ yang Anda sebut ini sama sekali bukan kesalahan.”

Hei! Padahal selama sekian tahun belakangan, Jessica sering teringat kembali akan ‘dendam kekanakannya’ waktu pikirannya sedang kosong dan berkali-kali berjanji pada diri sendiri untuk melampiaskan itu suatu hari. Mengapa justru ketika ada kesempatan, Jessica membatalkan janji begitu gampangnya? Sambil membalas senyum si Kris itu, pula; buat apa?

“Nah, kalau begini, bukankah kita berdua sama-sama cukup lega untuk memulai pekerjaan?”

Tidak buat apa-apa, mungkin. Senyum Kris hanya terlalu hangat untuk tidak dibalas.

Ehem. Baik, kembali ke tugas. Jessica dan Kris, yang saat itu berada di sebuah kamar kosong dalam salah satu rumah kawasan suburban, mengedarkan pandang ke sekeliling kamar, mencari klien baru. Menurut catatan Kris, penghuni rumah ini yang bernama Amy Brown, usia 8 tahun, akan mati pukul 08.37 dan sekarang pukul 08.28. Pencabutan nyawa biasanya membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh menit—bisa lebih lama—dan mereka sudah kehilangan satu menit yang berharga.

“Di sini tidak ada orang.” ujar Jessica usai melongok ke bawah kolong tempat tidur buat menemukan si anak, tetapi Kris tanpa suara melangkah ke lemari pakaian. Sebelah telapaknya mengisyaratkan Jessica untuk mendekat. Kris lantas meletakkan telapaknya di depan pintu lemari dan lemari itu—entah bagaimana—menggembung beberapa kali lipat luasnya.

“Kita perlu ruang yang agak lebar untuk melakukan proses pemutusan tali arwah,” jelas Kris, “Apa yang kulakukan ini adalah ilusi yang semata tergambar di pikiran para malaikat serta kandidat pemutusan tali arwah, jadi tenang, kita tidak merusak perabot. Dengan adanya ilusi ini, kita dan kandidat sama-sama akan merasa leluasa.

“Nah, itu dia anaknya. Ayo.”

Amy Brown, gadis kurus bersurai cokelat kemerahan itu, tengah meringkuk di salah satu sudut lemari. Napas Jessica tertahan; kondisi anak itu begitu memprihatinkan, dengan luka lama dan baru yang mengering di sekujur tubuh. Jessica paham kondisi macam ini sangat mungkin ia temukan pada anak yang dikurung dalam lemari, tetapi … ya Tuhan, orang tua macam apa—

“Hai, Gadis Kecil, bukalah matamu.”

Sapaan lembut Kris ini membuyarkan lamunan Jessica. Ini kali kedua dia dibuat heran; pengawasnya ini sungguhan Kris? Maksud Jessica, perawakan Kris saja lebih cocok untuk Subdivisi Kematian Pendosa dan Penghukuman yang membutuhkan kekuatan besar buat mengoyak arwah, tetapi mengapa ia bisa ‘terjebak’ di subdivisi di mana proses pemutusan tali arwah harus dilaksanakan sehalus-halusnya? Apalagi ketika gadis itu mengangkat wajah dan menemukan senyum Kris, gadis itu tersenyum pula meski lemah (dan ouch, retakan kecil di tepi bibir itu pasti terasa sakit), damai sekali.

“Apakah kalian malaikat?”

“Benar, aku Kris Wu dan ini temanku, Jessica Jung,” –lalu Jessica melambai bersahabat sebelum berlutut di samping supervisornya, sementara Kris bertanya lagi sebagai formalitas—“Kalau kamu siapa?”

“Amy,” jawab si gadis cilik seraya menjabat telapak besar Kris dengan dua tangan, “Senang berkenalan.”

“Kamu manis sekali.” puji Jessica tulus (mengabaikan seluruh memarnya, Amy Brown memang sangat cantik), memerahkan pipi si anak, tetapi selanjutnya si anak berucap takut-takut.

“Anu … Nona Jung, apakah … apakah setelah ini aku akan mati? Apakah mati itu sakit?”

Uh, pertanyaan yang sulit. Masih segar dalam ingatan Jessica, sesakit apa rasanya ketika malaikat pencabut nyawa berusaha memutus tali arwah di tubuhnya dahulu. Secara teori, tali arwah mengikat arwah dengan raga dan akan makin liat jika si manusia terikat kuat dengan dunia. Melihat keadaan Amy yang sepertinya merupakan korban penyiksaan dan penelantaran, kemungkinan tali arwahnya akan mudah dipotong. Itu bukan kepastian juga, maka Jessica menjawab:

“Sakit sedikit saja, kok. Biasanya, apa yang kamu lakukan supaya rasa sakit mau pergi?”

Kris bergeser sedikit ke belakang si anak; ia mengangguk pada Jessica sebagai tanda bahwa sang junior bisa meneruskan. Amy, dengan sungkan, mengulurkan dua tangan ke arah malaikat wanitanya—dan Jessica menangkap makna dari isyarat itu. Dibawanya Amy dalam satu dekapan lembut, puncak kepala si gadis dibelainya sayang.

“Ya sudah, ayo sini. Mau dengar cerita Bocah Payung Pasir?”

“Manusia Pasir?” tanya Amy, salah mengerti, “Yang menarik manusia dalam mimpi buruk biar tidak bisa bangun? T-tidak mau, aku takut!”

“Bukan, bukan yang itu. Ini tentang anak lelaki gendut yang membawa payung, tetapi di dalam payungnya ada pasir, pernah dengar? O-oh, jangan lihat ke belakang. Nah, ceritanya …” Sembari bertutur, Jessica memperhatikan Kris menarik belati kecil dari ikat pinggangnya—pemutus tali arwah khusus untuk pegawai Subdivisi Kematian Anak. Senjata pemutus tali arwah memang berbeda untuk tiap subdivisi, tergantung kebutuhan. Untuk kematian halus, misalnya yang ditangani Subdivisi Kematian Anak dan Kematian Akibat Usia Lanjut, digunakan senjata kecil macam belati ini atau kadang malah tanpa senjata, tetapi untuk kematian kasar macam yang diurus Subdivisi Kematian Pendosa dan Penghukuman, senjata yang digunakan bisa sebesar pedang.

Amy meringis tatkala Kris menggetarkan tali arwahnya, mengetes kerapatan seratnya. Jessica terus melanjutkan cerita sebagai pengalihan, tetapi tajamnya belati Kris yang menyentuh tali arwah Amy meloloskan teriakan ngilu dari si anak. Buru-buru si malaikat junior membelai punggung arwah Amy—sebab punggung di raga Amy tengah disangga Kris untuk memudahkannya memotong tali. Si anak menangis, Kris terus berusaha memotong, dan Jessica sungguh ingin menyemburnya (‘kau tidak lihat, anak ini kesakitan sekali!’).

Tepat ketika Jessica mengecup jejak tangis pada pipi Amy, tali arwah terputus.

“Jessica, buka segelnya.”

Mematuhi komando sang pengawas, Jessica mengaktifkan sebuah segel pengirim arwah di bawah tubuh Amy. Kebingungan, Amy memegang erat lengan Jessica, mungkin takut hilang ke tempat yang tidak diketahuinya—dan hati Jessica mencelus merasakan tangan mungil itu amat bergantung padanya.

Andai dulu ada tangan mungil yang serupa ketika dia masih hidup …

Tidak, tidak. Jessica sedang bekerja, tidak boleh gegabah!

“Sayang, jangan takut. Segelku akan mengantarmu langsung ke tempat di mana kamu akan bertemu banyak teman. Aku dan Kris janji akan menemuimu di sana, oke?”

“Janji?” Amy kecil yang tubuhnya mulai memudar mengacungkan kelingking, serta-merta Jessica menautkan kelingking itu dengan jarinya sendiri.

“Janji.”

Arwah Amy sepenuhnya lesap, laporan ‘sukses terkirim’ tertulis di atas segel yang kemudian tertutup, dan badan Amy terkulai kaku di atas setumpuk pakaian, tepat pukul 08.37. Jessica menghela napas dalam. Bukankah jahat sekali manusia itu, membunuh jiwa yang belum benar-benar hidup dengan cara demikian biadab?

“Saat bekerja, jangan terpaku pada satu kematian atau jam kerjamu akan terbuang sia-sia,” Kris memperingatkan sebelum membalikkan tubuh; kontras sekali sosoknya dengan yang barusan menenangkan si anak, “Kuakui kerjamu bagus sebagai pengalih perhatian anak, tetapi tugasmu bukan sebatas itu saja. Kau harus bisa mengalihkan perhatian sekaligus memotong tali arwah, maka itu pelatihanmu masih sangat panjang.”

***

Permulaan yang baik bukan berarti sepanjang hari itu baik. Kematian-kematian yang Jessica saksikan semakin lama semakin menyayat kalbunya. Amy Brown bukan satu-satunya kisah di Subdivisi Kematian Anak: masih ada kekerasan antarteman, penculikan yang berakhir tragis, penderita keganasan berumur sangat belia, dan banyak lainnya. Ia jadi paham mengapa Pusat Pelatihan Arwah punya program yang sangat ketat, terutama mengenai pengendalian perasaan, sebab malaikat tidak boleh menolak tugas dari Tuhan, betapapun menyakitkannya tugas tersebut. Di penghujung hari, Kris mengungkapkan kekagumannya atas kecepatan Jessica menguasai pekerjaan, tetapi selalu saja ada ‘tapi’ di balik pujian tersebut.

“’Anonim, usia 20 jam’?” Kalau kematian untuk kali kedua bisa terjadi, Jessica pasti sudah mengalaminya akibat serangan jantung sehabis membaca catatan Kris, “Firasat saya buruk sekali tentang ini.”

“Begitu pula aku,” –Bahkan Kris kelihatan tak nyaman dengan entri tugas dalam bukunya— “Kau boleh kembali lebih dulu ke kantor. Ini biar aku yang me—“

“Tidak,” tukas Jessica dengan napas memburu, “Jangan. Saya harus bisa menangani segala bentuk kematian di kemudian hari. Tak ada bagusnya bagi saya menunda-nunda pelatihan hanya karena emosi, Pengawas Wu.”

Kris menatap Jessica lamat-lamat, memeriksa keteguhan juniornya, dan walaupun inginnya menampakkan keyakinan, Jessica malah menampakkan pipi yang tahu-tahu menomat. Oh Tuhan. Untungnya Kris tidak sadar; pria itu langsung mengajak Jessica menuju tempat kejadian perkara begitu Jessica mengiyakan ‘apa kau siap?’ yang ia ajukan.

Jessica dan Kris terbang seperempat jam dari lokasi pencabutan nyawa terakhir, lebih tepatnya hingga Kris mendarat di samping tempat sampah.

Tunggu, di mana?

“Penawaran terakhir,” ucap Kris saat meletakkan tangannya di atas tutup tempat sampah, “Tali arwah pada kasus ini pasti sangat renggang, jadi sebenarnya lebih cepat dipotong tanpa perlu proses perluasan tempat pemutusan tali dan pengalihan perhatian, tetapi pasti ini berat untukmu. Jadi, kembali ke kantor, atau tinggal?”

Jessica menggeleng untuk opsi pertama, namun jawabannya masih terbata.

“T-tinggal.”

“Katakan yang tegas.”

Dahi Jessica mengernyit sedikit. “Saya akan tinggal.”

“Baik. Kalau begitu, aku pegang anaknya, kau potong talinya. Bersiaplah.”

Memastikan tidak ada orang yang lewat di gang sepi itu, Kris mengangkat tutup tempat sampah dan mengambil satu kantung kertas belanjaan yang mencurigakan dari dalamnya. Kantung belanjaan itu bernoda merah di beberapa sisi … seperti darah. Jessica menarik belatinya selagi Kris, dengan sangat hati-hati, menarik sesuatu dari kantung tersebut.

Ralat, seseorang.

“Jangan gemetar. Kau yang meminta ini,” tegur Kris, mengusap-usap pelan punggung bayi merah berlendir tanpa takut tangan dan pakaiannya kotor, “Lakukan.”

Walau badannya diam—mungkin lemas karena dehidrasi—arwah si bayi ternyata menangis kencang. Untuk saat ini, belum mampu Jessica menerjemahkannya, tetapi tangis itu terdengar begitu ngilu hingga Jessica memotong tali arwah si bayi dengan sedikit kasar, ingin segera menyelesaikan tugas. Kecupan Kris di puncak kepala si arwah suci secara menakjubkan meredam tangis si bayi. Manakala Jessica membuka lingkaran segel pengirim, Kris menggelitik arwah bayi itu, memunculkan tawa pertama dan terakhirnya sebelum menyeberang ke dunia sesudah mati.

Sukses terkirim.

Segel tertutup bersamaan dengan Jessica yang membaringkan kembali fisik kosong berselimut kantung kertas ke dalam tempat sampah, tidak menggeser tempat ditemukannya si bayi sedikit pun. Tutup tempat sampah dipasang Kris seperti semula, rompi abu-abunya yang kotor ia tanggalkan.

“Tugas selesai. Kerja bagus hari ini, Jessica.”

***

Kedua pegawai Subdivisi Kematian Anak tiba di kantor menjelang senja. Jessica menyerahkan laporan hariannya ke bagian administrasi dalam format laporan tim lantaran dirinya dan Kris ‘mengerjakan’ setiap jiwa bersama-sama hari ini. Selanjutnya, ia menuju halaman kantor, menunggu Kris yang masih mengurus pencucian rompinya (ini penting: sisa-sisa manusia dalam proses pencabutan nyawa yang tertinggal di seragam harus dihilangkan dengan prosedur khusus, bahkan biar kelihatannya hanya sedikit lendir-darah).

Ada sesuatu yang ingin kubicarakan terkait penempatanmu di Subdivisi Kematian Anak. Erat juga hubungannya denganku dan karier kita ke depannya.

Dalam berkas-berkas lamaran kerja, tentu saja Jessica harus menyertakan CD berisi ringkasan kehidupan sebelumnya yang biasa diberikan oleh Divisi Registrasi Arwah saat pertama arwah datang ke Komunitas Langit. Tim seleksi Divisi Pencabut Nyawa akan memeriksa rekam jejaknya dalam CD tersebut dan sebagai bagian dari Subdivisi Kematian Anak, Kris bisa jadi sudah mengetahui amalan-amalan Jessica di dunia. Bukan mustahil hal itu menyebabkan terusirnya Jessica dari subdivisi meski baru sehari bekerja, walau kemungkinannya memang kecil.

Bagaimana pun, penempatan Jessica di subdivisinya sekarang tergolong ganjil bagi sang malaikat junior dan itu membutuhkan penjelasan.

Kris keluar tak lama kemudian, lantas keduanya berjalan menuju kafe di seberang kantor. Lelaki jangkung itu memilihkan bangku dekat sudut, menjaga mereka dari telinga-telinga tak diundang.

“Pertama, aku ingin menghilangkan semua kesalahpahaman di antara kita dengan mulai bercerita tentang diri kita masing-masing, sehingga tidak ada rahasia yang nantinya mempengaruhi pekerjaan. Kau dan aku memiliki rekam jejak yang berbeda dari kebanyakan arwah di Komunitas Langit—“

“Tunggu,” Jessica menaruh secangkir lattenya balik ke atas piring kecil, “Anda sudah menyelidiki kehidupan saya sebelumnya … bukan?”

“Ya, dan itu semata karena aku adalah bagian dari tim seleksi. Jujur, itu meninggalkan rasa bersalah yang dalam padaku, apalagi ketika aku sadar bahwa orang yang kehidupan silamnya segelap itu pasti akan terluka jika menerima kata-kata yang asal kulontarkan pada masa orientasi. Aku sangat menyesal.”

Menggunakan sendok gula, Jessica memainkan busa kopi di cangkirnya.

“Saya sudah bilang kan, Anda tidak perlu terlalu memikirkan itu. Kita manusia memang sering bertindak bodoh, bahkan kadang sifat itu terbawa sampai menjadi malaikat. Saya rasa saya bisa mengerti, lagipula kita masih amat muda saat di pusat pelatihan, jadi orang bisa maklum kalau tingkah kita masih sembarangan.”

Hening. Mengira pembicaraan ini sebaiknya diputus saja, Jessica bergeser, hendak beranjak pergi, tetapi Kris buka suara.

“Kurasa, impian yang dulunya tidak bisa kauraih bisa terwujud di Subdivisi Kematian Anak, Jessica,” Kris lantas menghirup kopinya, “Sampai sekarang, apa kau masih ingin memiliki putra?”

Jemari Jessica merapat pada gagang cangkir.

“Tidak.”

“Tidak salah?” –Jessica berpaling ke arah lain justru ketika Kris berpaling padanya—“Sebagai informasi, menurut perundingan hasil wawancara oleh tim seleksi, kepribadianmu itu kurang tepat untuk dua subdivisi yang kauinginkan, malah lebih pas untuk dua subdivisi yang paling kauhindari. Kau secara tersirat mengungkapkannya dalam wawancara: ‘saya kurang baik bekerja dengan arwah anak-anak dan wanita’, padahal ringkasan kehidupan lampau dan pengalamanmu di pusat pelatihan menunjukkan hal sebaliknya. Aku tahu seseorang yang tidak bekerja sesuai minat akan ogah-ogahan, karenanya aku sedang berusaha memperbaiki ini.”

“Anda tidak perlu melakukannya karena saya bisa menangani ini sendiri.”

“Jika begitu, aku hanya akan menguatkan motivasimu,” sahut Kris, dan Jessica tidak berani memotong lagi, “Kau lihat hari ini, betapa banyak anak yang semasa hidupnya kehilangan kebahagiaan. Malaikat yang mencabut nyawa mereka harus terikat kuat dengan anak-anak itu seperti merengkuh anak-anak mereka sendiri; tanpa empati, malaikat tidak lebih dari sekadar penambah siksaan sebelum mati.

“Ketua Subdivisi Kematian Anak dulu menjadi supervisorku. Ia menguatkan motivasiku pula seperti saat ini, mengatakan bahwa aku tidak boleh mengabaikan penderitaan anak lain. Berikan setitik kebahagiaan sebelum mereka mati. Pikirkan apa jadinya jika kau yang berada di posisi mereka dan yah, aku memang pernah berada dalam posisi mereka.”

Tertegun Jessica mendengar pengakuan ini.

“Isi CD ringkasan hidupku tidak banyak karena aku tinggal di dunia kurang dari 24 jam,” tawa Kris sepahit kopi yang barusan diisapnya lagi, “Malaikat yang menjemputku tentu saja berasal dari subdivisi ini dan wajahnya terekam oleh ingatan dalam CD-ku. Alangkah teduhnya, si empunya wajah itu bahkan sempat kuanggap ibuku sendiri—dan sayangnya, tak terekam jelas dalam ingatanku, ibuku berwajah bagaimana, barangkali akibat aku sibuk menangis. Atau akibat tindakannya yang langsung membekapku sampai aku tewas, entahlah.”

Jessica kembali bergeser tak enak. Ia sisir permukaan lattenya sebelum memasukkan busa kopi di atas sendoknya ke dalam mulut.

“Malaikat pencabut nyawa Anda menjadi inspirasi buat Anda?”

“Kira-kira begitulah. Makanya aku betah bertahan di subdivisi ini dan aku juga ingin membuatmu betah,” Kris mengaduk minumannya yang tinggal setengah dengan asal, tidak mau tangannya menganggur canggung, “Sebenarnya lebih tepat jika seseorang dari Subdivisi Kematian Wanita yang ngobrol denganmu, tetapi sekarang aku yang bertanggung jawab atasmu, maka aku hanya berharap kau bisa menyayangi anak-anak lain sebesar kau menyayangi calon anakmu di masa lampau.

“Kalau kau sampai minta pindah subdivisi, aku tidak tahu lagi apakah ada malaikat yang bisa memperlakukan anak-anak seperti seorang ibu sungguhan. Sepertimu.

Ibu sungguhan?

Mata Jessica rasanya memanas. Dengan pangkal telapaknya, ia menahan air mata agar cukup menggenang saja di pelupuk. Tidak cukup, ia tepukkan tisu di sana, menyerap bulir bening itu biar riasannya tidak rusak sebelum kembali merenung. Andai dulu ia tidak sembarangan memilih kekasih dan menyerahkan kegadisannya, andai dulu pacarnya tidak sekejam itu hingga tega membunuh darah dagingnya sendiri sebelum cukup bulan, andai dulu malaikat Subdivisi Kematian Wanita tidak menemuinya yang berlumur darah di atas meja bedah darurat …

… andai anak itu sempat bernapas beberapa detik saja …

… Jessica pasti sudah menjadi seorang ibu.

Tapi tak ada gunanya meratapi kehidupan yang tak akan bisa berulang. Seperti yang Kris siratkan dalam penjelasannya, Jessica cuma ingin menghindari menangani kematian yang mirip atau berhubungan dengan kematiannya, meski sebetulnya ia terampil di bidang anak dan wanita. Sudah bagus ia tidak masuk Subdivisi Kematian Wanita, kan? Kasus aborsi ilegal—penyebab kematiannya dulu—jelas akan jadi makanan sehari-harinya jika ia masuk ke sana.

Nah, dengan menjadi bagian Subdivisi Kematian Anak, Jessica bisa menyalurkan kasih yang tertunda pada anak-anak lain. Arwah anak-anak hangat, ramah, dan enak buat dipeluk-cium; dari mana lagi Jessica bisa mendapatkan kesenangan macam itu kalau tidak di subdivisinya kini?

Lampu-lampu di kafe dinyalakan serentak ketika matahari sepenuhnya terbenam. Kopi di dua cangkir telah tandas, hati pun telah terbuka untuk hati yang lain. Tidak butuh indikator khusus untuk mengeceknya: senyum lega yang Kris dan Jessica tukar sebelum membayar pesanan mereka di kasir menjadi penutup hari yang sempurna. Kini, tidak ada lagi rahasia atau masalah tersisa yang bisa mengintervensi tugas keduanya.

***

“Mau menyeberang juga? Kukira kita tidak searah.”

Jalan utama ini ramainya minta ampun selepas jam kerja. Tak jarang Jessica mesti menanti agak lama untuk bisa menyeberang, tetapi kali ini ia beruntung. Ada Kris yang menggamit tangannya dan menuntunnya menyeberang lebih cepat.

Ehm, ya. Omong-omong soal sifat menyenangkan arwah anak-anak …

… apa walaupun arwah sudah bertumbuh beberapa tahun, sifat itu tidak lekang dimakan usia? Sebab kehangatan tangan Kris begitu nyaman, menggandengnya layaknya anak-anak yang hari ini ia cabut nyawanya—dan Jessica langsung merindukan rasa itu begitu Kris meneruskan perjalanan tanpanya.

“Ah, besok aku juga akan ketemu lebih banyak yang sehangat tangannya.” Jessica yang tiba-tiba kegerahan bermonolog sebelum mengunci pintu. Tak sabar ia menyambut pagi berikut untuk kembali bekerja, menolong anak-anak yang membutuhkan peluk-ciumnya.

TAMAT

i finally post something! oh my, aku bener2 ga produktif dua minggu ini padahal liburan sebentar lagi selesai T.T dan aku baru sadar aku banyak banget pasang adegan nangis di FF. haih.

Advertisements

17 thoughts on “EXO-N #32: Parental Mission

  1. cerita ini lain drpd yg lain. di luar moment2 kris-sica.. divisi pencabut nyawa itu amazing dan biasanya malaikat pencabut nyawa itu imejnya seram ini malah ky ibu sama bapaknya anak2…

    udah lama bgt ga baca dan ga komen. maafkan saya li..

    pas tau umur kris di dunia nyata ga sampe 24jam sempet terpikir jgn2 jessica itu ibunya yg ngebunuh kris coz sempet diceritain juga kan jessica kehilangan putranya.. tp ternyata hanya imajinasi saya semata..hehe

    good story

    Like

    1. hehe gapapa kok, yg penting mampir lagi, iya udh lama gak liat di kolom komen :p dari semua otpku yg paling pantes jadi ibu-anak ya dua org ini deh kurasa, baru surene (soalnya surene itu mukanya bayi :3), makanya aku pilih mereka deh di subdivisi kematian anak.
      makasih byk udh baca dan ninggalin jejak! XD

      Like

  2. Kak Liiii, kereeeen. Jadi inget Kuroshistuji, si Shinigami di sana ganteng-ganteng beuh, wkwkwk. *OOT
    Aku ga tau kenapa pengen nagis pas baca, huhu.
    As always kak Lii, nice dan semangat terus ^^

    Like

  3. Ih ini uts ruiner banget 😦 aku gatahan ah buat komen jikalau story line yang selalu mbeda dari yg lain gubahan kak liana ini syuksyes buat aku meyeh2 ga jelas mengabaikan kertas fotokopian materi di Minggu yg mendung ini. Padahal di descr udah ditaro ya ini genrenya Friendship but ada satu dua moment yang buat hati adek bertanya jika tak adakah perasaan spesial di antara keduanya? Eyaaaa. Hahaha. Duh SM tuh emang gudang pairing ya kak. Setuju bgt sama feel ibu anak anara Krissica, Surene (terkadang merela suka kukorbankan menjadi tragic couple, awww) dan VictTao<3

    Divisi Arwah dan segala isi-isinya terbaik kak li!!! Keep writing EXO-N-nnya kak! Projectlainnya ditunggu juga 🙂

    Like

  4. Kak liana~~ Masih inget aku nggak? Hihihi aku baru mampir lagi dan langsung nyangkut di ff ini begitu liat cast-nya. Kakaaaaak!!! Aku harus ngomong apa… speechless aku bacanya kak. Kenapa sedih ya… FF-mu ini sukses jadi pengalih perhatian aku dari materi try out huhuhu~ tapi nggak nyesel baca sampe akhir.
    Uwa~~~! Kak liana daebak–as always! Hohohoho~

    Like

    1. materi tryout. aku bacanya rada2 nostalgik ya apa gitu… *lu aja ketuaan Li
      maap2 mengalihkanmu, buruan balik sonoh ke materi TO-nya, ehe.
      but anyways, makasih udah mampir ya! aslinya ga sedih lho padahal ini, cuman ya berhubung tugasnya krissica gitu ada bumbu2nya pait dikit…

      Like

  5. Kak liii aku barusan marathon baca fanfik2 kakak, komen2nya aku rangkum di sini aja ya kak hehehe
    – Fanfik2 surrealism kak liana manteppp bisa2nya kepikiran tuh loh dibikin jadi begitu :”)
    – AU-nya juga parah sih bisa2nya kepikiran tuh loh dibikin jadi begitu :”) (2) suka banget sama yang ini, biarpun pas awal sempet mikir keras pas segala macem divisi itu dijelasin hahahaha
    – Look forward to having more time buat baca fanfik kak liana yang lain :3 keep up the good work kak!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s