EXO-N #35: The Chaser

a KPop fanfiction by Liana D. S.

EXO Chanyeol, f(x) Luna (Park Sunyoung), Super Junior Leeteuk (Park Jungsoo), Apink Chorong & JYJ Yoochun

Action, Family, StreetRacing!AU, Oneshot, Teen and Up

.

“Tak ada waktu untuk bersantai-santai!” (EXO – Drop That)

***

Deru Mitsubishi merah yang Chanyeol kendarai mengiringi detak jantungnya tiap kali memutar kemudi. Hari ini harusnya adalah kali terakhir ia berlatih di sirkuit kecil ini, maka ia harus membuat aksinya tampak sempurna karena ia tak sabar ngebut betulan dalam situasi yang lebih nyata. Sejauh ini kerjanya bagus, terbukti dari diamnya montir merangkap pelatihnya, Park Chorong, yang duduk di sebelah sembari bersilang lengan. Namun, tantangan sebetulnya adalah tikungan tajam di depan, di mana Chanyeol berulang-ulang gagal melakukan triknya.

Brak!

“Sial!”

Tumbukan antara mobil dengan pembatas sirkuit sekali lagi meloloskan umpatan Chanyeol. Chorong di sebelahnya mendesis, lalu memekik frustrasi. “Nyaris, nyaris! Kau kurang cepat berpindah gear! Ulangi!”

“Baik!”

Entah apa yang Chorong perbuat pada Mitsubishi itu, yang jelas mobil itu sangat kuat karena dapat melalui tabrakan keras berkali-kali tanpa kurang suatu apa. Dihelanya napas panjang saat mengemudikan mobil itu perlahan ke garis start, siap mengulang. Sungguh luar biasa ‘ujian kelulusan’ Chorong ini. Hairpin bend yang ada di sirkuit itu hampir mustahil dilalui dalam kecepatan tinggi, tetapi memang jika Chanyeol sanggup melakukan drift di sana, maka ia telah mencapai kecepatan, kekuatan, dan pengendalian diri yang maksimal, esensi dari latihan selama ini.

Kali ini harus berhasil!

Chanyeol memacu mobilnya. Akselerasi tidak mengganggu fokusnya. Ia kesampingkan bayang-bayang seseorang itu yang terasa makin dekat. Ia abaikan pula raut cemas Sunyoung, adiknya yang menyaksikan sesi latihan intens ini dari balik pembatas kawat. Ia sisihkan sementara pikiran tentang pembalap-pembalap gila yang nyaris membunuhnya dan Sunyoung tempo hari sebab tujuannya hanya satu: drift.

“Tikungannya! Ayo, Yeol!” teriak Chorong, dan Chanyeol berdecak. “Aku tahu, Noona.

Tekanan kaki Chanyeol pada pedal gas berkurang. Dengan cekatan, ia berpindah gear seiring turunnya kecepatan.

Kemudian … srak!

Oversteer.

Mobil berputar mendekati 180 derajat. Chanyeol mengerang; driftnya berhasil, tetapi itu sedikit memusingkan. Sayangnya, ia tak boleh lepas kendali. Tidak sekarang. Ia bergegas mengatur posisi tubuhnya yang semula berubah, terpengaruh kelembaman, lalu memutar kemudi ke arah berlawanan untuk mengembalikan posisi mobil dalam lintasan lurus. Setelah tubuhnya mulai terbiasa, Chanyeol meningkatkan kecepatannya lagi, terkekeh bangga.

“Itu tadi baru drift yang berhasil!”

“Fokus! Lintasan ini belum berakhir!”

Bukannya dipuji malah dibentak, dasar garang, gerutu Chanyeol dalam hati. Melaju di lintasan lurus bukan tantangan baginya, jadi ia bisa santai, tetapi menurut Chorong, mestinya Chanyeol tidak sedemikian mudahnya teralih. Masalahnya, Radiant masih terus memburu Chanyeol, jadi mempertimbangkan mepetnya waktu ini,  Chorong akan membiarkan Chanyeol lolos saja setelah finish, terlepas dari belum terpenuhinya beberapa kualifikasi lanjutan dari sepupunya itu.

Mobil berhenti. Chanyeol langsung melangkah keluar mobil dengan tangan terbentang ke atas.

“Whooo!!! Noona, bagaimana yang tadi? Aku berhasil, kan?”

“Bagaimana, ya? Sebenarnya, bagiku itu tadi kurang sempurna, tapi yah … selamat. Latihan selesai.” Chorong memiringkan kepalanya cuek, lalu mengulurkan tangan pada Chanyeol. Seperti yang Chorong bayangkan, mata Chanyeol terbuka lebar, lubang hidungnya juga, dan telinganya makin mencuat setelah mendengar pernyataan kelulusan ini. Tawanya begitu lepas kala menjabat tangan Chorong. “Terima kasih, Noona!!! Yeah!!! Akhirnya, pelatihan ini selesai! Sunyoungie, Harabeoji, aku berha—auw! Chorong-noona, berhentilah memukul kepalaku!”

“Jangan senang dulu, Peri Rumah! Jalanmu masih panjang! Kau harus terus memperbaiki performamu jika ingin bertemu Yoochun-ahjussi, paham?”

Yang ditegur tertegun.

Yoochun.

Ya, semua kerja keras Chanyeol selama ini sesungguhnya cuma untuk menyusul pria yang (katanya) ayahnya itu, seseorang yang hanya bisa ia lihat pada foto di liontin kalung adiknya, yang kata kakeknya tengah dikepung orang-orang jahat hingga tak bisa menemuinya. Sekali lagi Chanyeol menghela napas dalam sembari memegangi kepalanya yang berdenyut, suaranya melirih.

“Aku mengerti.”

Oppa!”

Langkah kaki Sunyoung yang terburu-buru mengalihkan perhatian Chanyeol. Si gadis, dengan raut khawatir, menyodorkan handuk dan sebotol air minum dingin, tak lupa mengamati sang kakak dari ujung kepala sampai kaki.

“Kau tidak terluka, kan? Kau berkali-kali menabrak pembatas tadi ….”

Chanyeol memandangi Sunyoung beberapa lama, lalu menerima air dan handuknya. Dalam beberapa teguk saja, air di botol berkurang separuh. “Aku tidak apa-apa, cuma sedikit pusing dan kepanasan,” katanya seraya menyeka peluh, “Terima kasih sudah bertanya.”

Eh?

“A-aku melakukan ini karena disuruh Harabeoji!” ucap Sunyoung gugup, “Jangan salah sangka, aku sama sekali tidak memperhatikanmu!”

Jungsoo, laki-laki tinggi berwajah teduh yang Sunyoung panggil ‘Kakek’ itu, tertawa kecil.

“Kapan aku memintamu, Sunyoungie?”

Pipi Sunyoung merah padam. Ia menunduk dalam-dalam, berharap Chanyeol tidak menyadari rona wajahnya, dan beruntung, Chanyeol melewatkan raut malu Sunyoung ini begitu saja.

“Aaah, aku lapaaar! Aku ingin makan yang banyak setelah ini!”

“Maksudmu pesta? Kau mau mentraktir kami?” goda Jungsoo, yang tentu saja diprotes Chanyeol.

“Masa aku harus mentraktir di hari kelulusanku? Jangan pelit, dong. Sesekali Harabeoji yang traktir!”

Jungsoo menekankan tongkat jalannya ke dahi Chanyeol, iseng. “Aku sudah sering mentraktir kalian, tau!”

Sunyoung mendekap ranselnya, memainkan ujung kaki dengan gugup. Berkaitan dengan keinginan Chanyeol, sebenarnya Sunyoung telah menyiapkan tiga porsi makan malam di dapur Chorong sebelum ini dan ingin mengajak keluarganya makan malam bersama dengan masakan yang dibawanya dalam ransel tadi. Tapi namanya gengsi, tentu saja Sunyoung tidak mau kelihatan peduli pada si ‘raksasa ceroboh mengesalkan tukang ngupil’ yang baru saja lulus pelatihan itu.

“Panggil mereka. Nasinya tak akan terasa enak kalau tidak segera dimakan,” Chorong, dengan senyum jahil di wajah, mendorong Sunyoung ke arah Chanyeol dan Jungsoo tanpa peringatan, “Sudah sana, ajak kakak dan kakekmu makan malam!”

Hampir saja Sunyoung terjungkal karena dorongan Chorong. Ya, hampir, karena Chanyeol mendengar sesuatu tentang makan malam, berbalik, dan tepat saat itu, Sunyoung jatuh ke arahnya. Sebagai refleks, Chanyeol kontan menangkap tubuh Sunyoung dan membuat adiknya lebih gugup.

“Ah!” Cepat Sunyoung melepaskan diri dari Chanyeol, “Anu … aku …”

“Ada apa, sih? Tadi kau dan Chorong-noona membicarakan makan malam, ya? Oooh,” Chanyeol menjentikkan jarinya senang, “Jangan-jangan, kalian memasak bersama? Asyik!”

“Tidak! Untuk apa kami memasak buatmu?”

“Yaah, pelit amat, sih …. Di rumah, kau juga biasanya masak, kan?”

‘Suara sedih’ Chanyeol yang berat terdengar aneh, tetapi tidak bagi Sunyoung. Menurut gadis itu, sang kakak benar-benar memelas dan kelaparan, karenanya ketika si peri jangkung berjalan menjauh, Sunyoung menarik sikunya pelan.

“Aku memasak, kok…”

“Benarkah?” Senyum mercusuar Chanyeol menerangi seluruh arena latihan, “Kalau begitu, ayo kita makan!”

Tanpa basa-basi, Chanyeol menarik Sunyoung ke tepi arena latihan hingga Sunyoung tersandung lagi, untung tidak jatuh. Si gadis tersenyum tipis menyaksikan semangat Chanyeol dan berbalik ke belakang.

Harabeoji, ayo makan bersama!”

“Ya, nanti aku menyusul,” ucap Jungsoo kalem, lalu berkata pada mekanik cantik di sebelahnya, “Cucu-cucuku yang manis, senang melihat mereka tidak terbebani suatu apa di situasi sesulit sekarang.”

Chorong nyaris mengiyakan andai saja ponsel di sakunya tidak bergetar, mengindikasikan adanya panggilan masuk. Segera Chorong memencet tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. Suara yang masuk di ponsel Chorong tidak bersih. Si penelepon sepertinya berada di keramaian—tunggu. Ada letusan pistol?

“Park Chorong-ssi, bengkel diserbu sekelompok orang asing! Mereka mencari Angel, juga Park Chanyeol dan Park Sunyoung!” Terdengar bunyi tembakan lagi. Chorong mengatupkan rahang, tak menyangka akan menghadapi situasi serius secepat ini.

“Bagaimana Sanghyun dan Sandara?”

Jungsoo menatap Chorong serius begitu nama dua bersaudara yang mematikan itu disebut. Chorong membalas tatapan bertanya Jungsoo dengan anggukan dan dari isyarat itu, Jungsoo tahu bahwa balapan mematikan akan segera dimulai.

Chanyeol harus bersiap-siap.

“Park Sanghyun dan Park Sandara … argh … berhasil lolos dari bengkel! Mereka mungkin menuju ke tempat Anda!”

“Cih. Habisi yang ada di situ, aku akan beritahu Angel di sini,” Chorong menutup telepon dan memandang Jungsoo sedih, “Orang-orangku tidak bisa menahan Sanghyun dan Sandara, Harabeoji.

“Tidak perlu merasa bersalah begitu. Agaknya terlalu cepat bagi kita untuk bersantai sekarang, bukan?” Jungsoo lantas memanggil dua bersaudara Park yang sudah siap bersantap, “Yeol, Sunyoungie, makannya nanti saja! Pengejar kita kembali!”

“Lagi? Ah, sialan! Mengganggu acara makanku saja!” umpat Chanyeol, sementara Sunyoung tertunduk. Kotak makan yang sudah ia buka terpaksa ditutup lagi. Gadis berambut panjang itu mengikuti kakaknya setelah mengemasi kotak makan ke dalam ransel.

“Jangan pakai itu,” cegah Chorong ketika Chanyeol hendak memasuki mobil latihannya, “Pakai Ford di sebelah sana; anggaplah hadiah kelulusan dariku. Nih, kuncinya.”

Chanyeol menangkap kunci dari Chorong, dengan mantap menuju Ford Mustang ’67 yang terparkir di luar arena. Berbeda dengan kali pertama diberitahu akan diajari mengemudikan mobil, raut Chanyeol kini kaku, tegang, dan sebelum membuka pintu kendaraan barunya, ia menengok pada Chorong sekilas. “Terima kasih, Noona. Doakan aku.”

Eoh. Pasti.”

Pintu mobil tertutup. Chanyeol membawa Ford-nya keluar arena latihan dalam kecepatan sedang.

Ini ujianku yang sesungguhnya. Kali ini, Sunyoungie dan Harabeoji juga bersamaku; aku harus ekstra hati-hati.

Usai melaju beberapa jauh dari lokasi awal, spion Chanyeol memantulkan bayangan Chevrolet Chevelle dengan dua orang di kursi depan. Ia menduga itulah pengejarnya—dan Jungsoo memastikannya. Ada lambang matahari pada Chevrolet itu yang Jungsoo kenali sebagai …

“… musuh.”

Bunyi ‘cklek’ yang tertangkap rungunya membuat Sunyoung beralih ke sisi dan terkejut. Bagaimana bisa Jungsoo tiba-tiba memegang sebuah pistol ketika sekian detik lalu ia masih menggenggam tongkat jalan? Selain itu, ke mana tongkat jalan itu menghilang?

Harabeoji, a—“

“Nanti penjelasannya, Sunyoungie,” potong Jungsoo, beralih pada cucunya yang lebih tua, “Yeol, berkonsentrasilah menghindari Chevrolet itu.”

Jadi benar mereka pengejarnya?, batin Chanyeol. Ia mempercepat mobilnya.

Dor!

Pintu Ford tergores akibat diarahkan menghindari satu tembakan di saat yang tepat. Jungsoo merangkul Sunyoung dari samping, merendahkan kepala gadis itu agar tak terlihat oleh dua pembunuh mengerikan di belakang. Selanjutnya, ia membuka jendela dan menembaki wanita muda yang duduk di samping pengemudi Chevrolet. Beberapa pelurunya beradu dengan peluru lawan, beberapa lainnya mengenai badan mobil musuh. Baku tembak berhenti setelah jarak Chanyeol dan pengejarnya cukup lebar.

“Sekarang, kau dan pengejarmu akan murni beradu kecepatan, Yeol,” ucap Jungsoo, “Manfaatkan kepadatan lalu lintas di depan.”

“Baik.”

Ford melintasi mobil-mobil lambat dengan mudah. Chanyeol memanfaatkan ‘celah-celah’ antara barisan mobil yang rapat untuk menyulitkan Sanghyun menyusulnya.

Tapi kemudian, ada dua truk menghadang di depan, padahal Chevrolet pengejar makin dekat dengan Chanyeol. Gadis di samping pengemudi—Sandara—mulai menembak lagi.

“Di jalan umum, dia juga berani, heh?” Jungsoo mengisi kembali pistolnya dan membalas serangan Sandara. Terdengar bunyi pecahan kaca; peluru Sandara melubangi jendela belakang. Sunyoung menutupi kepalanya dengan kedua tangan, melindungi diri dari pecahan kaca, dan terbelalak ketika peluru Sandara yang masih panas bergulir ke sisinya.

Untung peluru itu tidak menyerempet siapa-siapa …. Chanyeol-oppa, lakukan sesuatu ….

Melihat Sunyoung mengerut ketakutan dengan peluru berasap di sampingnya, juga keadaan kaca belakang yang dihiasi retakan radier, Chanyeol berdecih.

Kalau seperti ini terus, bisa-bisa Sunyoungie dan Harabeoji terluka …. Mau tak mau, aku harus menerobos celah di antara dua truk itu dalam sekejap.

Dan, demi menyelamatkan adik dan kakeknya, Chanyeol akan mengambil resiko.

Harus berhasil; waktunya sangat sempit!

Chanyeol menginjak pedal gas—

—dan menerobos di antara dua truk besar itu dengan sangat tiba-tiba.

Jarak dua truk sempat melebar akibat kemunculan Chanyeol dan—entah disebabkan ketidaksiapan supirnya atau bagaimana—menyempit lagi ketika Chanyeol hampir keluar dari ‘celah’. Bagian belakang Ford yang belum lolos terkena tumbukan kecil yang sedikit mengganggu keseimbangan, jadi Chanyeol buru-buru melepaskan diri dari dua truk itu dan menghembuskan napas lega ketika dua truk itu berdekatan kembali, menutup jalan.

Tunggu.

Ada kemungkinan Sanghyun dan Sandara akan menyusul, tidak boleh lengah! Benar kata Chorong-noona; aku harus fokus!

Harabeoji, tolong beritahu aku kalau Chevrolet itu muncul lagi!”

“Tentu.” Jungsoo mengangguk, mempersiapkan senjatanya kalau-kalau ada serangan lagi.

“Sunyoungie!”

Gadis mungil yang tengah meringkuk dalam lindungan Jungsoo itu mendongak sedikit. Chanyeol membengkokkan cermin di atas kepalanya supaya bisa melihat Sunyoung lebih jelas.

“Kau baik-baik saja?”

“Eum …. k-kurasa begitu ….” Suara gemetar Sunyoung mengungkapkan hal yang berlawanan dengan yang ia katakan. Mungkin Sunyoung tidak terluka secara fisik, tetapi nyaris tertembak pasti tetap terasa mendebarkan.

“Syukurlah. Tak apa-apa, sebentar lagi ini akan berakhir.”

Benar bahwa senyum Chanyeol tak tertangkap mata Sunyoung, tetapi binar mata lebar itu sudah mengantarkan sedikit keberanian pada si gadis.

Sebentar lagi …. Kuharap benar-benar ‘sebentar lagi’ …., doa Sunyoung.

“Yeol, mereka melewati dua truk itu.” Jungsoo memperingatkan. Seketika Chanyeol meningkatkan kecepatan, berpindah jalur berkali-kali. Trik ini gagal memperlebar jarak, sehingga Chanyeol dan Sanghyun, sang pengendara Chevrolet, terlibat duel sesungguhnya setelah memasuki terowongan Namsan. Jalur yang lengang membuat mereka berdua lebih leluasa—dan itu, meski menguntungkan Chanyeol, juga menguntungkan Sanghyun. Beberapa menit berlalu dalam deru mobil yang beradu kecepatan. Tidak ada saling serang dengan peluru kali ini.

Sunyoung menggenggam tangan Jungsoo ketika mobil musuh berhasil menyamai posisi mereka; Chevrolet itu kini berada tepat di kanan Ford. Manik kecoklatan Sunyoung mengerjap panik saat melihat senyum miring Sandara yang mengarahkan senjata pada Chanyeol.

Oppa!”

Entah apa yang merasuki Sunyoung, ia maju dan menarik tubuh Chanyeol, hingga punggung pemuda itu tertanam di sandaran joknya.

Dor! Pyar!

Chanyeol dan Sunyoung bisa merasakan denyut satu sama lain melalui kulit mereka ketika peluru Sandara memecahkan kaca jendela di samping Chanyeol. Tadi itu dekat sekali. Jika Sunyoung tidak menarik Chanyeol, maka kepala Chanyeol-lah yang akan pecah. Jungsoo geram. Tanpa basa-basi, ia menembak tangan Sandara. Terdengar lengking kesakitan dari wanita muda itu, telapaknya melemas dan pistolnya tergelincir dari tangan. Serangan itu balik membuat Sanghyun marah; ia membanting setir ke kiri, dengan sengaja menabrakkan mobilnya dengan Chanyeol berkali-kali, menimbulkan guncangan keras dalam Ford. Tumbukan berulang itu lama-lama menghimpitkan Chanyeol dengan dinding terowongan.

“Argh! Sial!” teriak Chanyeol, peluh berleleran di dahinya. Ia berpikir keras untuk membebaskan mobilnya dari kerusakan—juga keluarganya dari kematian. Sayangnya, ia hanya menemukan satu cara yang efektif digunakan dalam situasi terjepit.

Apa aku harus menggunakan cara itu … tapi mobil ini akan berada dalam sudut yang tak wajar; itu bisa jadi lebih berbahaya untuk Sunyoungie dan Harabeoji

Beruntung, Jungsoo memberikan ‘restunya’ untuk Chanyeol dengan mengungkapkan ide yang sama.

“Yeol, miringkan mobil ini! Aku akan pegangi Sunyoung!”

Ah, memang tak ada cara lain.

Setiap kali akan menumbukkan mobilnya dengan Chanyeol, Sanghyun pasti melebarkan jarak, meski tidak begitu bermakna, juga hanya sementara. Momen itulah yang Chanyeol tunggu. Ketika Sanghyun membuat jarak, Chanyeol berpindah gear dan memutar kemudi sekuatnya.

Sisi kiri Ford terangkat 45 derajat dari jalan, rodanya menempel di dinding terowongan.

Bila tidak ada ruang yang cukup untuk balapan, para pengemudi harus membuat ruang mereka sendiri, begitu kata Chorong suatu hari. Chanyeol mencoba menerapkan konsep itu. Sanghyun menghimpitnya, sehingga mustahil bagi Chanyeol terus melaju dengan seluruh roda mobil berada di jalan. Ia harus memiringkan mobil itu hingga bisa lolos dari himpitan Sanghyun.

Jangan jatuh! Jangan jatuh!

Selama beberapa detik, Chanyeol menahan napasnya. Secepatnya ia keluarkan mobil itu dari ‘posisi yang kurang menyenangkan’, lalu mendaratkan keempat roda Ford di jalan kembali. Setelahnya, Chanyeol memperbesar jarak dengan cepat.

“Fuh!” Chanyeol tersengal-sengal, “Ford ini hebat!”

“Ber … berhasil … ya?” Terbata Sunyoung berucap. Senyumnya perlahan terkembang, telapak tangannya yang berkeringat dingin menghangat.

“Ya, Sunyoungie, ini akan segera berakhir,” Jungsoo menekan angka lima di ponselnya, speed dial pada seseorang, “Yeol, keluar dari terowongan ini, belok kiri, kemudian lurus saja kecuali aku bilang yang lain, mengerti?”

Chanyeol mengangguk.

Jungsoo menelepon, tetapi ucapannya tidak jelas terdengar oleh Chanyeol. Pemuda itu terlalu berkonsentrasi pada balapannya sekarang ini, juga instruksi sang kakek. Untuk sementara, Chanyeol unggul, tetapi Sanghyun begitu ofensif. Ia menabrakkan bumper depan Chevroletnya dengan bumper Ford Chanyeol.

Duh, dasar pemarah! Permainannya jelek sekali!, batin Chanyeol, menginjak pedal gas hingga kakinya pegal, menjauh sebisa mungkin dari Sanghyun.

“Belok kanan.”

Kemudi berputar sesuai perintah Jungsoo.

“Kanan lagi.”

Dua mobil kini berada di jalan yang amat sepi, layaknya kebanyakan sirkuit balap liar lewat tengah malam. Chanyeol mengerutkan dahi. “Harabeoji, di depan ada tempat penumpukan mobil bekas. Kau yakin kita ke sana?”

“Ya.” Jungsoo melipat lengan, tampak tenang dengan punggung bersandar dan pistol disarungkan di sisi celana.

Kalau Harabeoji kelihatan santai begitu, berarti kemungkinan besar ia punya rencana yang bagus, pikir Chanyeol, Ah, tidak! Rencana baik juga ada resiko gagalnya, ‘kan? Aku harus jaga konsentrasiku!

Chanyeol memasukkan mobilnya ke area penumpukan mobil bekas.

Dan yang mengejutkan, dari bangkai-bangkai mobil itu, ada satu mobil yang ‘hidup’!

Setelah Chanyeol melewati setumpuk bangkai mobil, tiba-tiba muncul Honda Civic Coupe tua dari salah satu tumpukan. Mobil itu awalnya tersamar sempurna dalam ‘kuburan’ mobil-mobil lain, tetapi ternyata, mobil yang penampilannya kurang bagus itu lumayan kuat juga.

Brak!!!

Ya, mobil tua itu cukup kuat untuk mengakselerasi diri sendiri dalam waktu sekian detik—

—dan meringsekkan mobil musuh.

“Oooh! Oooh! D-dia menabrak mobil itu!” kata Chanyeol dengan berbagai perasaan bercampur dalam dadanya: terkejut, senang, lega, dan sedikit ketakutan hingga bulu kuduknya meremang. Sunyoung pun sama. Ia, yang awalnya menyaksikan tabrakan tadi dari spion, langsung menoleh ke belakang. Honda Civic itu, juga ‘korbannya’, rusak parah di bagian yang bertumbukan, tetapi pengemudinya baik-baik saja. Dua orang di dalam Chevrolet masih bergerak—intinya, mereka dapat menahan guncangan super keras tadi.

Pengendara Honda Civic keluar. Pria yang bagian bawah wajahnya tertutup jaket itu bertukar pandang dengan Sunyoung sekilas sebelum memunggunginya dan berjalan pergi. Sunyoung, mengenali siapa sosok itu, menggenggam liontin kalungnya, mendekatkan benda itu ke dada.

Terima kasih, Appa …. Semoga kita cepat bertemu lagi ….

***

Malam ini, Chanyeol, Sunyoung, dan Jungsoo bermalam di sebuah penginapan. Tidak terlalu besar, yang penting nyaman. Chanyeol langsung merebahkan diri di alas tidur yang baru digelarnya. “Ah, capek sekali …. Selamat tidur, semuanya ….”

“Mandi dulu. Badanmu berlumuran keringat dan aku tidak mau kebauan karena tidur di sampingmu. Sana, cepat!” Jungsoo memukul-mukul sang cucu supaya mau bangun. Dengan malas, Chanyeol bangkit dan meregangkan lengannya yang lelah. “Harabeoji, jangan jahat-jahat, dong …. Iya, iya, aku mandi ….”

Sunyoung mematung di depan kamar kakak dan kakeknya. Tangannya mendekap ransel, bingung harus mengatakan apa. Makanan yang dibuatnya harus segera dimakan supaya tidak basi, tetapi ia tak tega menghentikan Chanyeol dari beristirahat jika memang itu yang Chanyeol inginkan. Chanyeol sendiri baru akan masuk kamar mandi ketika pandangnya jatuh pada sosok mungil di depan pintu. Spontan ia menepukkan kedua belah tangannya dan tersenyum lebar.

“Benar juga! Sebelum balapan tadi, aku kan mau makan! Bagaimana, kita makan dulu, deh, Harabeoji…”

Jungsoo tampak berpikir sebentar sebelum menyatakan persetujuannya. “Aku juga lapar. Sunyoungie, kamu bawa makanannya, ‘kan?”

Senang lantaran tidak perlu mengucapkan apapun untuk mengajak keluarganya makan malam, Sunyoung mengangguk. “Ini hanya paduan asal-asalan dari nasi, daging, telur, dan bumbu. Kuharap kalian suka.”

Alas tidur yang semula sudah tergelar digulung lagi supaya tidak terkena makanan. Kotak makan dibuka dan mata Sunyoung hampir meloncat keluar. Isi kotak itu tidak keruan berantakannya. “Ma-maaf …. Sebenarnya, tadi lauknya kupisah, sekarang jadi bercampur dengan nasinya ….” Sunyoung meleletkan lidah, tetapi tampaknya Chanyeol mengabaikan itu. “Yang penting bisa mengisi perut. Nah, selamat makan!”

Tangan Chanyeol meraih sumpit, tetapi sebelum sempat menyuapkan sesuatu ke dalam mulutnya, sumpit itu jatuh ke atas nasi. Diambil lagi, jatuh lagi. Rupanya, tangan Chanyeol gemetar hebat, hingga kesulitan memegang sumpit. Sunyoung ingat nasihat Chorong bahwa tangan sebaiknya diistirahatkan beberapa lama setelah latihan keras supaya tidak gemetaran. Sayangnya, waktu istirahat Chanyeol tersita oleh kejar-kejaran tadi, sehingga tangannya terus-menerus berkontraksi maksimal.

Jungsoo bergeser mendekati Chanyeol. “Biar aku—“

… tetapi sang kakek keduluan cucu kecilnya.

Sunyoung mengambil kotak makan Chanyeol yang belum tersentuh di lantai, meninggalkan kotaknya sendiri. Ia tak benar-benar mengangkat wajah ketika mengarahkan sesuap nasi ke mulut kakaknya.

“Untuk sekali ini saja, aku akan membantumu makan!”

Chanyeol melongo. “Sungguh? Bagaimana dengan makananmu?”

“Nanti saja! Cepat buka mulut!”

Niat baik sang adik menyentuh Chanyeol—dan dia menunjukkan perasaan itu dengan kekehan khasnya. “Terima kasih!”

Jungsoo hanya tertawa kecil menyaksikan satu persatu suapan malu-malu Sunyoung mendarat di mulut Chanyeol yang bahagia.

***

“Dua kali terluka dalam dua hari? Bom, urusi anak-anakmu; jangan sampai mereka terlalu nakal!”

Park Bom, perempuan yang tengah mengikir kuku bercatnya sambil menyilangkan kaki di atas kotak suku cadang, menanggapi gelak bosnya dengan ringan saja. “Sandara dan Sanghyun ingin menjelaskan ‘kenakalan’ mereka padamu.” ujarnya, menelengkan kepala dengan tatapan terarah pada putri sulungnya. Sandara berdiri, tangannya masih menyangga tubuh sang adik. “Ada dua orang yang sangat bagus untuk Radiant dan kami terluka karena gagal merekrut mereka.”

“Calon anggota baru? Mengapa kau tidak mengatakannya padaku?” Si pimpinan komplotan menumpukan dagunya pada telapak tangan, “Ceritakan tentang mereka.”

“Laki-laki, tujuh belas tahun. Dia tidak asal mengebut, tetapi juga mampu melakukan berbagai manuver yang menghindarkannya dari musuh. Satunya perempuan, enam belas tahun, aku juga belum tahu apa kemampuannya. Mereka berdua masih hijau, tetapi cukup sulit didekati karena yang laki-laki begitu lihai menghindar.”

Seorang wanita lain di ruangan itu tergelak. “Kelihatannya meragukan. Lagipula, Sandara, kau dan Sanghyun masih terlalu kecil untuk—“

“Diam, Park Jiyoung, dan biarkan Dara-noona selesai bicara.”

Sontak wanita yang ditegur itu terdiam. Sanghyun irit kata-kata, tetapi sekali bicara, semua akan takut padanya.

“Tujuh belas? Enam belas? Muda sekali, tetapi hebat juga bisa menghindar dari kalian berdua. Apa kemampuan yang perempuan benar-benar tak tertebak olehmu?” tanya sang bos. Sandara menggeleng. “Yang perempuan tampak biasa saja. Dua kali pengejaran dan dia selalu meringkuk dilindungi kakaknya. Tanya saja Park Yoochun-ssi; dia yang merekomendasikan orang-orang ini.”

Bom tersenyum samar. Anak-anaknya memang pandai.

“Benar itu, Yoochun?”

“Tidak.” tukas Park Yoochun, pria di sudut ruangan itu yang tak acuh dengan seluruh pembicaraan ini. Ia sedang sibuk dengan senjata api di tangannya. Dengan tangkas, ia membelokkan perhatian kelompok dari dua buronan muda mereka dengan mengajukan satu pertanyaan kepada si pemimpin.

“Kau pasti punya alasan untuk menghubungi kami, bukan? Kami tidak akan menerima panggilan darimu kalau kau hanya ingin menertawaiku seharian.”

“Ah, kau benar. Baiklah, kali ini, aku ingin kau dan Bom merebut sebuah Nissan Silvia dari kelompok jalanan kecil bernama ‘X-Racer’. Informasi lengkap lokasi markas mereka sudah kuberikan sebelumnya melalui Bom. Nissan itu memiliki komponen yang sangat aku inginkan, jadi kau harus mendapatkannya.”

“Ini akan menjadi pertarungan satu lawan satu. Mengapa Bom ikut denganku?”

“Karena aku adalah bahan taruhanmu, juga pelindungmu, Sayang.” Bom maju dan meletakkan jemarinya di bahu Yoochun—yang cepat ditepis pria itu. “Bahan taruhanku hanya mobil; aku tidak mempertaruhkan wanita. Dan aku mampu melindungi diriku sendiri seandainya kalah. Berikan saja info markas mereka padaku.”

Bom memutar bola matanya. Yoochun masih susah dilumpuhkan, jadi ia langsung saja memberikan semua info markas target mereka. Setelah itu, Yoochun bangkit dari duduknya dengan pistol terisi penuh.

“Aku pergi.”

Yoochun berjalan keluar ruangan tanpa menengok lagi. Ia segera memasuki Nissan Skyline-nya yang baru dan melaju di jalanan malam, menuju utara Seoul. Dia sungguh menyukai saat-saat sendiri seperti ini—tanpa Bom tukang rayu atau Jiyoung yang frontal ‘menyerangnya’ dalam mobil. Selain itu, ketika sendirian, dia bebas mencuri pandang ke cermin di atas dasbor.

Di balik cermin itu, tersimpan rapi selembar foto seorang anak laki-laki kurus jangkung dan adik perempuannya yang langsing kecil, tersenyum ceria dengan V-sign di depan mata mereka.

***

Chanyeol-ah, kumohon lari bersama Sunyoung dan jangan mencoba untuk menemuiku walaupun kau mampu. Jika Radiant mendapatkanmu, mereka akan merusak hidupmu selamanya … dan aku pun selamanya akan menyesal tak bisa melindungi kalian.

TAMAT


.

.

.

jika kalian merasa gantung, kalian tidak salah. ini memang bukan ff baru, melainkan nukilan yang diedit sedemikian rupa dari salah satu project chapter unfinished 2014 lalu (around Red Light’s comeback), ketika aku masih sgt kesengsem sekali sama genre family sampe bikin keluarga2an di SM berdasarkan marga. waktu itu Joy aka Park Sungjae*coret*Sooyoung belum debut jadi dia gak aku masukin.  ini dibuang sayang, jadilah kumasukin EXO-N ajah. terdorong ngepost ini setelah kemarin traceback ke jaman2 SJ. hahai.

yang penasaran sama proyek ini bisa cek link Dear My Family. dari sekian banyak cerita itu yg selesai cuman ‘Hesperus’ dan ‘Catching Glow’, punya china-line (iya aku segitu cintanya dulu sama china-line gilak). ini adalah series yg sangat menantang sebnernya krn aku sdh berencana mencoba segala AU (antara lain street racing ini), sayangnya yg tamat cuman dua tadi (astronomy!AU and modeling!AU) hikseu T.T

Advertisements

11 thoughts on “EXO-N #35: The Chaser

  1. Aku deg-deg an gila bacanya ;; awalnya masih agak bingung sih tapi SELANJUTNYA WOW kebingunganku tergantikan oleh keponya wkwkw. Aku suka karakter chorong di sini, mirip2 di drama age nine boys haha.
    Terus pas bagian miringin mobil aku justru teringat dengan film disney cars HAHAHA.
    Keep writing kak! ♡♥

    Like

  2. aku inget2 lupa sama cerita ini. ngerasa pernah baca tp lupa detailnya gmn. ternyata emang bener ini series dear my family yg selalu aku tunggu kelanjutan semua seriesnyaa…hehe

    semangat koasnya biar bisa jd bu dokter yg pinter nulis..hehe

    Like

  3. Suka gatau sebenernya kak liana makan apa, kok semuanya bisa dibikin AU gitu loh. Sampe balapan begini juga ada AU-nya. Huhu gakayak aku miskin genre banget. Slice of life mulu wkwkwkwk.

    Oke jadiiiii ini nggantung parah, since aku gagitu ngerti yha Radiant itu apaan ((geng apa gimana sih? kok sampe kalo masuk gabisa keluar lagi? sampe ninggal anak gitu??))

    daan aku agak ganjil sama hubungan kakak adek chanyeol itu, apa emang sifat adeknya kaya gitu yha? kaya gapernah ngobrol sama chanchan jadi dikit-dikit salting gimanaaa gitu. Uda deh itu aja, keep writing kak li!

    Like

    1. yah
      pernah ngerasain ‘rasa yg tertinggal’ kalo ngerjain ff unfinished? ya itulah yg kurasakan ketika ngelihat project ini. jadinya biar gantung aku tulis aja sbg oneshot :p kalo soal geng ‘radiant’, yups itu adalah geng pembalap liar gitu, aku merencanakannya dulu, dan seperti biasanya geng macam itu kalo ada yg mau keluar mereka malah ditawan. sementara yoochun seperti yg terlihat di sini ga mau anaknya terlibat kyk beginian. *dan itu sbnernya punya backstory yg panjanggg tapi berhubung di oneshot ini pingin nonjolin actionnya ya udah.
      tapi btw niswa kmrn2 kan udah bikin sci-fi dystopian juga tuh, yg tokohnya jia-ris bukan? *moga ga salah* berkecimpung di banyak genre2 aneh di luar romance/marriage/slice of life sbtulnya rada menyusahkan soalnya ga banyak diakrabi pembaca T.T
      hehe makasih udah baca!

      Like

  4. Aaahhhh Apa ini????? *ga nyantei*
    Setelah sekian lama ga buka wp dan disuguhin yg beginian sama Li
    Aku udah baca Parental Mission dan berakhir dulu di fic ini(?) Comment nya ku gabung ya…
    Itu parental mission nya suka bgt, penggambaran soal pencabut nyawa nya ugh! Kenapa Yifan lembut syekali? Kan makin melted sama dia
    Dan ini apalah, bikin aku pengen neror kamu untuk nyelesein Dear My Family series mu yg hiatus itu. Ayolah selesaikan ayolah *maksa*
    Dan seperti biasa cerita surealis nya selalu sukses. Meski yg The Presistence of Memory aku sempet cengo dulu *elunya aja bego Kyo* Tapi suka suka suka. Ugh pria bertudung hihihi

    Like

    1. masih ditodong aja sama seri itu. hahahahaha
      aku juga pingin tapi macet kudu eottoke? *ala anak alay
      dan thanks udah baca ff2 lainnya juga, oh ya dan app yg kupake itu photoscape sama adobe photoshop sih biasanya. buat mixing warnapun aku masih blm pandai ><

      Like

      1. Mhahaha Apa daya, itu series pertama yg buat diriku nyantol di blog mu *apalah*
        Hahaha Paham ko
        Oh adobe toh, tapi kenapa ku merasa app satu itu ribet ya? wkwkwk *dasar oon aja*

        Like

  5. Ah iya makasih yabuat saran di ff terakhir yg ku post
    Btw itu aku suka bingung ngepasin warna sm background nya huhuhu Maklum masih amatir
    Oh iya dirimu biasanya edit foto pake app apa? Aku masih mencari app yg cocok heu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s