EXO-N #36: The Most Embarassing Sprint in Ahn Heeyoon’s Life

hani (2)

a KPop fanfiction by Liana D. S.

EXID Hani (Ahn Heeyoon) x EXO Xiumin (Kim Minseok)

College Life, Comedy, Fluff, Vignette, Teen and Up

“Berlarilah untuk cintamu!” (EXO – Run)

***

Iya, dari judulnya sudah kelihatan, kok. Heeyoon tahu kencannya bergelimang hal memalukan—sok mentraktir di kencan pertama padahal dompet kosong, makan taco sampai belepotan saus di kencan kedua, pakai kaus terbalik di kencan ketiga, dan daftar ini sebetulnya masih panjang jika tidak dipotong untuk keperluan penerbitan—tetapi episode kencannya yang ke-57, ia pikir, merupakan yang paling parah. Pada episode ini, Heeyoon berlari gila-gilaan di Fakultas MIPA sembari memeluk salinan lembar bukti penyerahan tugas akhir kekasihnya, Minseok. Pakaian yang digunakannya saat berlari adalah kemeja flanel biru dan rok panjang hitam yang sangat tidak dia sekali. Ups, jangan lupa juga, sepatu larinya adalah flat shoes dengan ujung tertutup yang tidak menampakkan jemari kaki bercat merahnya. Sebagai informasi, Heeyoon dalam mode normal akan mengenakan celana panjang yang agak ketat serta wedges dengan ujung terbuka ke kampus.

Sebenarnya, apa yang terjadi?

“Pakai tanya lagi! Jelas-jelas aku sedang berlari buat menyelamatkan Minseok begini! Jangan ganggu, deh, dan jangan tertawakan penampilanku!”

Ups, maaf. Rupanya, suara kita terdengar oleh Heeyoon. Baiklah, biar dia konsentrasi berlari—

“Konsentrasi kepalamu, kau ngomong pakai mikrofon, ya masih kedengaran lah! Matikan! Berisik amat!”

Dimarahi lagi. Mohon maklum, pembaca sekalian, Heeyoon ini memang agak kasar. Sebentar, akan kumatikan mikrofonku, lalu kita kembali ke pembahasan.

Nah, mikrofon sudah tewas sekarang.

Jadi, aslinya Heeyoon masih mengenakan celana panjang ketat dan wedges saat kuliah tadi pagi. Sekitar pukul sepuluh, sesuai janji yang mereka buat beberapa hari lalu, ia menemui Minseok—yang hari itu mau mendaftar wisuda—di perpustakaan. Janji tadi dibuat dengan asumsi tetek-bengek pendaftaran sudah beres hari sebelumnya dan Minseok punya slot lowong setelah itu. Heeyoon berniat membatalkan janji waktu dia tahu pasfoto yang merupakan salah satu syarat pendaftaran Minseok ternyata baru bisa diambil mepet-mepet dengan deadline pendaftaran—dan Minseok bukan orang yang suka diganggu ketika tugas utamanya belum tuntas. Namun, sebagai pacar yang bertanggung jawab, Minseok bersikeras tidak membatalkan janji untuk mengajari kekasih merangkap junior dua tahun di bawahnya itu tentang metodologi riset, maka jadilah, Minseok membantu Heeyoon mengerjakan tugas mata kuliah tersebut dan baru berangkat mengambil pasfoto setelahnya.

Itulah penyebab dari terjatuhnya salah satu salinan bukti penyerahan tugas akhir Minseok di bawah meja tempat Heeyoon mengerjakan tugas. Gadis itu baru sadar dirinya menginjak berkas penting tersebut saat akan beranjak dari perpustakaan—dan paniklah ia. Mau mengantarkan dokumen Minseok langsung ke fakultas tidak mungkin; ada peraturan ketat soal pakaian di Fakultas MIPA. Terpaksa ia pulang dulu ke asrama, membongkar lemarinya demi rok era orientasi yang belum pernah dipakainya lagi, dan mencuri flat shoes teman sekamarnya. Kemudian, cepat ia menekan nomor Minseok, mengarahkan ponsel ke telinga, dan …

“Pulsa Anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini.”

“Sialan!” Spontan Heeyoon mengumpat. Bakal lebih lama lagi waktu yang dibutuhkannya ke Fakultas MIPA kalau mesti beli pulsa dulu, jadi mengambil segala risiko, Heeyoon melakukan sprint 239 meter dari asramanya menuju kampus Minseok, bertekad mencari senior tercintanya dengan bertanya pada siapa pun yang terlihat seperti mahasiswa jurusan fisika semester delapan di depan kantor akademik fakultas. Fuh, setidaknya ia tahu di mana kantor akademik Fakultas MIPA berada.

Baru kali ini Heeyoon tidak repot mengambil tisu dan cermin ketika sedang bercucuran keringat. Alih-alih mencari dua barang yang jadi senjatanya melawan riasan rusak di bawah terik matahari itu, ia malah bolak-balik mengecek arloji. Pukul dua belas kurang tiga, ‘benar-benar sialan’, umpatnya lagi. Deadline pendaftaran wisuda adalah pukul dua belas tepat dan sekarang ia masih menyusuri kelas-kelas jurusan matematika. Setelah ini, Heeyoon masih harus menyeberangi taman depan laboratorium pusat ilmu hayati dan terus melewati jurusan fisika untuk sampai di kantor akademik fakultas; apa mungkin menempuh jarak itu kurang dari tiga menit?

Macam Cinderella kesiangan, aku ini, keluh Heeyoon, Semoga Minseok tidak ketinggalan wisuda nantinya …. Andai empat tahunnya di kampus sia-sia gara-gara les metodologi riset tadi …. Duh, Minseok, aku benar-benar minta maaf!

“Heeyoon!”

Siapa pula panggil-panggil, tidak bisa lihat orang sedang sibuk, ya?

“Heeyoon-ah!”

Dasar kepala batu! Seriusan nih, aku lagi sibuk! Iya, aku tahu aku ini terkenal di seantero kampus, tetapi bukan berarti—

Greb!

“Huwaaa!!!”

“Astaga, Ahn Heeyoon, dari tadi dipanggil!”

Nyaris saja Heeyoon terjerembab; ia kehilangan kendali diri lantaran seseorang memegang tangannya dari belakang. Segera ia berbalik buat menghadapi (kalau perlu menghajar) si pemanggil yang gigih ini, tetapi kontan pemikiran itu hilang tatkala mengetahui siapa si pengganggu sebenarnya.

“Minseok?! T-tapi kamu mestinya ada di kantor akademik fakultas!”

***

Di salah satu meja bundar taman depan laboratorium pusat ilmu hayati, duduk tiga pemuda dan satu gadis, selembar salinan lembar bukti penyerahan tugas akhir terletak di antara mereka. Si gadis—Heeyoon—menelungkupkan kepalanya ke atas meja, mengabaikan tatanan rambutnya yang jadi rusak, sementara dua pemuda di hadapannya tidak henti-hentinya tergelak. Pemuda yang satu lagi, yang berada di sebelah Heeyoon, cuma tersenyum simpul.

“Kukira kau kerasukan apa sampai mau pakai rok yang modelnya seformal itu, Heeyoon, ternyata kau menyangka Minseok meninggalkan berkas wisudanya? Hahahahaha!!!” Lu Han menertawakan pacar sang kawan yang sudah ia anggap sebagai temannya sendiri, “Memangnya dia itu kamu, yang waktu mau konsultasi paper malah ribut bawa make-up hingga meninggalkan draf tulisan?”

“Ya bukannya begitu!” Heeyoon serta-merta mengangkat wajahnya, lalu mengangkat lembaran yang menghebohkan tadi, “Habis ini kelihatan seperti dokumen penting; lihat saja, ada stempelnya! Kalau cuma salinan biasa kan tidak mungkin distempel segala!”

“Aku memang sengaja menyediakan kopian resmi yang banyak untuk jaga-jaga, toh petugasnya mau menstempel lebih dari tiga lembar,” Minseok beralasan, “Yah … butuhnya memang cuma tiga kopi, tetapi daripada minta stempel dua kali semisal ada yang hilang satu, lebih baik minta banyak sekalian, kan?”

“Tuh, dengar!” Kris, sahabat Minseok lainnya yang sama-sama baru mendaftar wisuda mendekati deadline, menimpali, “Kamu pacarnya, harusnya tahu Minseok itu secermat apa!”

“Kalian jahat! Aku cemasnya setengah mati gara-gara terbayang Minseok yang tidak bisa wisuda, tahu! Aku sampai balik lagi ke asrama buat ambil rok dan kakiku sakit soalnya sepatu ini sempit!”

Rengekan Heeyoon malah membuat Lu Han dan Kris makin menjadi, dengan ponsel Lu Han sebagai alat kejahilan level berikutnya.

“Berdiri, Heeyoon, biar roknya kelihatan!”

“Buruan! Baterai ponselku tinggal segaris tipis, nih!”

“Apa, sih? Tidak mau, tidak mau!!!” Heeyoon menggeleng-geleng cepat, telapaknya tanggap menutup lensa kamera Lu Han. Iseng sekali, sih! Mentang-mentang Heeyoon cantik, terus ambil-ambil foto seenaknya!

Kalau mau fotoku, bayar dulu! Begini-begini, di masa depan, aku akan jadi model incaran agensi ternama, jadi muka ini mahal!

Set!

Dengan satu gerakan tak terantisipasi, Minseok merebut ponsel Lu Han yang berusaha menjepret sosok konyol gadisnya. Lu Han ternganga kaget, sedangkan Kris mengerjap-ngerjap bingung mendapati senyum lucu Minseok—yang memuat ancaman.

“Kalian masing-masing punya pacar, kan? Tidak usah ambil foto pacar orang.”

Pernyataan kepemilikan Minseok secara tersirat ini memaksa Lu Han dan Kris menjauh sedepa dari hadapan gadis target bully mereka yang barusan dilabeli. Lu Han buru-buru mengangkat tangannya defensif. “Santai, Bung. Kita bukan mau merebut pacarmu. Senang saja mengerjai Heeyoon, iya kan Kris? Kris? Oi!”

“Aku tidak ikutan.” jawab Kris—yang rupanya sudah sibuk dengan gadgetnya, pura-pura tak acuh. Lu Han yang jengkel memulai perdebatan tak pentingnya yang kesekian dengan Kris selagi Heeyoon mencuri pandang malu-malu pada kekasihnya yang—tumben—sok protektif. Akibat jarang diperlakukan demikian, Heeyoon jadi senang bukan main sekalinya Minseok bersikap begitu. Akhirnya, Minseok mengklaimnya setelah sekian lama!

Klik, klik, klik!

“Eh?”

Minseok meleletkan lidah merespon keterkejutan yang tergambar jelas di wajah Heeyoon, ponselnya masih teracung.

***

“Kapan lagi aku melihat Heeyoon-ku yang biasa peduli sama riasannya rela berpeluh-peluh cuma buat mengantarkan dokumen wisudaku? Harus diabadikan, dong.”

TAMAT


ditulis dgn sangat terburu2 krn senin kegiatan tulis menulis ini sementara harus dihentikan (komitmen pribadi sih :p krn senin udh pelatihan skill sblm rotasi klinik). sdgkan playlist utama exo blm kegarap semua alias TINGGAL LIGHTSABER DOANG YA ALLAH. (buat track ‘The First Snow akan diupload terjadwal besok)

segala komen kuapresiasi kok, balesnya kalo udah selesai nggarap lightsaber ya ^^ so sorry….

PS SEMANGAT YA BUAT ADIK2 YANG MAU SBMPTN MOGA DITERIMA DI FAKULTAS YANG DIHARAPKAN!!! XDD JGN NERVOUS, KALO UDAH BELAJAR PASTI BISA!

 

Advertisements

12 thoughts on “EXO-N #36: The Most Embarassing Sprint in Ahn Heeyoon’s Life

  1. Ya ampun Hani, diperiksa dua kali dulu dong biar ga panik
    Tapi sebenernya sweet sih, Hani rela lari-larian balik ke asrama demi ganti rok dan flat shoes hanya untuk *kopian* berkas wisuda Umin
    Lagian kalo Minseok ga teledor kenapa harus dekat tengat waktu sih daftar wisuda, kan kasian Hani
    Enggg, ga kasian banget sih, lumayan si Lu Han sama Kris jadi ada bahan ketawaan
    Etapi ya udah lah Hani, pakaian rapi sesekali kan menambah kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab (?)
    Endingnya Minseok minta dijorokin banget ke sungai

    Like

    1. sejujurnya itu plothole ya hahhaha, aslinya sih ini minseok sdh mau nggak telat tapi tukang fotonya krn suatu alasan telat nyetak *di paragraf awal disebutin* supaya gak plothole2 bgt, tapi ttp plothole ya abaikan. barangkali minseok kurang minum aqua sehingga tdk fokus
      makasih udah mampir.

      Like

    1. upil gajah rek plis. gpp mbok shipper gonna ship tsah, wong mas kyung yo sudah dimiliki mbak sojin scr diam2 *lho ya nggosip
      sampeyan njaluk spoiler e ‘views’ toh? sesuk ae entenono lak metu spoiler e *ancen sesuk publish hahaha
      nuwus komen e!

      Liked by 1 person

  2. begitu aq refresh Sixness di halaman tersimpanku (aq buka ini di hape),, aq langsung girang banget banget ada fic baru XiuHani.
    Demi apa kalo slice of life kayak gini sweet nya mereka kelihatan, intinya bisa bikin senyum2 gaje sndri,hhehe.
    uhh,, mas Umin yg msh trkesan kutu buku en ‘sobone’ neng perpus itu jadi ngingetin sm ficlet nya umin yg kmrin itu.
    Haha, kesian mbk hani,, jangan2 itu sepatu kekecilan pinjeman dr mbk chorong ya??

    Like

  3. HAHAHAHAHAHAHA LUCUNYAAAAA xD ih kebayang ih kalo udah detik-detik akhir ngumpulin deadline tuh yha berasa kaya dikejar apaan tau wkwk. mana jaraknya jauh kan (keinget dulu mau submit softcopy pra-desain pabrik kek apa riweuhnya) xD mana kadang-kadang petugasnya suka galak kan kzl (curhat). cubanget ih minseok ihhhhhhhh kugemash. luhan masih bisa-bisanya aja buset iseng wkwkwk. sukaaaaa ih. keep writing liii 😀

    Liked by 1 person

    1. iya benar kak petugas admin di tempatku juga gituuuuu apa salah satu kualifikasi mereka jgn2 adalah galak sama yg ga tepat deadline -.- *bawaannya suuzon Liana ini, ga baek tau.
      makasih kak udah mampir! XD

      Like

  4. NGAKAK SEMPURNA, pas baca ini tuh. soalnya yah, xiuminnya unyu banget strateginya, dan ngebayangin cewek pake setelan kaya gitu terus sprint tuh … ga banget gitu yha ahahahahahahah. utang banyak komen nih solanya kemaren bacanya pas off wkwk mau tak bayar dulu utang di fic lainnya yha. keep writing!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s