EXO-N #38: I Don’t Want A Drive

Hani_1464363661_2016052701001267700090833_99_20160527095004

Heeyoon adalah satu-satunya perempuan yang mau diantar Minseok pulang sambil jalan, tanpa pakai mobil.

“Duh, aslinya aku mau minta pertanggungjawaban sama yang punya online shop itu. Dia bikin rambut panjangku yang berharga rusak dan terpaksa kupotong! Alat sialan yang dia jual nggak bisa dikasih pelajaran, lagi!”

Nggak usah emosi, apalagi sampai dilampiaskan ke barang mati. Rambut pendek juga bagus kok di kamu.”

Bukan berarti Heeyoon tidak suka disopiri pacar sendiri, tentunya. Kalau kaki lagi pegal dan badan rasa diremat habis kuliah, pulang naik mobil bagaimana juga akan menjadi opsi yang sangat menggiurkan. Akan tetapi, biasanya, dalam keadaan itu, sisi feminin yang sentimentil dari Heeyoon sedang menumpul, sehingga dia tidak akan menuntut romantisme dari pemuda yang menyetir di sebelahnya. Heeyoon tidak bakal peduli mau Minseok terus fokus ke jalan dan jadi mengabaikannya atau tidak; gadis itu pasti lebih memilih mengistirahatkan diri.

Sebaliknya, dalam keadaan normal, perjalanan pulang dalam langkah-langkah santai lebih menyenangkan buat keduanya. Seperti misalnya hari ini, setelah mengunjungi Minseok dan orang tuanya (ehem, calon mertua, maksudnya) untuk sekadar beramah tamah, Heeyoon diantar sang kekasih sampai ke pemberhentian bus dengan jalan kaki sembari mengobrolkan banyak hal. Pelurus rambut murah(an) yang dibeli Heeyoon seminggu sebelumnya (dan masih disesali hingga saat itu) menjadi salah satu topiknya, tetapi pembicaraan mendadak dialihkan begitu Minseok melontarkan pujian untuk rambut pendek Heeyoon. Mana kuat dia menghadapi senyum tulus dan tatapan lembut Minseok barusan?

Tatapan lembut.

Omong-omong soal mata Minseok yang jujur, kalau dia sedang mengemudi, Heeyoon kan jadi tidak bisa menikmati binarnya seperti sekarang? Dan mata itu, setiap memandangnya, jarang memancarkan rasa selain kekaguman. Gadis mana sih yang tidak senang dipandang istimewa oleh orang tercinta? Sebagai tanda terima kasih, Heeyoon sebisa mungkin membalas tatapan itu dengan cara yang sama: tanpa dusta, tanpa cela, karena kekagumannya pada Minseok sama saja besarnya.

“Sudah tidak begitu panas, ya? Aku belakangan sudah tidak bergantung sama AC.”

“Mau musim gugur, sih. Jalan-jalan begini jadi lebih enak karena angin sorenya mulai sejuk. Sayangnya, itu juga berarti musim senang-senang sebentar lagi selesai.”

“Uh, kuliah habis libur panjang itu ngeselin.”

“Jelas lah. Masalahnya, kita nggak mungkin liburan terus, kan? Nanti nggak lulus-lulus.”

Receh dan agak menjengkelkan, candaan Minseok ini. Mentang-mentang sudah lulus duluan, Heeyoon meninju pemuda itu di lengan atas, tetapi tawa Minseok tidak mereda. Mau tidak mau, Heeyoon tertawa juga; lagi-lagi, Minseok mengalahkan gadisnya dengan apa yang ia lakukan. Sebagai pacar sekaligus sahabat sekaligus junior yang baik, Heeyoon mendampingi dan sesekali meminjamkan perangkat yang dia punya untuk membantu Minseok mengerjakan tugas akhir sarjana. Waktu satu setengah tahun itu terasa panjang sebab riset Minseok memang lebih advance dibanding kebanyakan rekannya; Heeyoon tidak tahu harus mengkambinghitamkan ketelitian dosen pengampu atau kemampuan Minseok yang di atas rata-rata untuk susahnya riset itu. Pokoknya, gara-gara itu, tenaga dan semangat Minseok jadi cepat habis, yang mana mempengaruhi kegembiraan dalam kencan-kencan mereka. Sekarang, makanya, Heeyoon pilih variabel yang gampang diteliti agar dia tidak semurung Minseok–tapi yang namanya tugas akhir, dari fakultas apa pun di universitas mana pun, memang ditakdirkan untuk bikin mahasiswa jadi uring-uringan seperti macan betina menjelang haid.

Namun, gurauan Minseok sore itu sesungguhnya memuat cambuk supaya Heeyoon cepat menyusulnya ke dunia kerja, juga mengingatkan gadis itu bahwa seberat apa pun rintangan yang dihadapinya, Minseok masih akan ada.

“Sudah, nggak usah galau gara-gara tugas akhir. Toh kamu sudah sampai Bab V, kan?”

“Ya, tapi Profesor Shin memberi revisi lagi! Progres tugasku lambat banget  kalau dibandingkan teman-teman!”

“Hm … apanya memang yang masih disalahkan? Analisis statistiknya keliru? Atau cuma kesalahan redaksional?”

Sambil manyun-manyun, Heeyoon menuturkan hasil konsultasinya kemarin lusa, dari kesalahan interpretasi uji variabel hingga typo mini. Minseok mendengarkan tanpa protes, sekali-dua kali memberi saran langsung atau berjanji menemani Heeyoon mengerjakan perbaikan. ‘Akan kuusahakan sebisaku untuk datang dan membantu’ dari Minseok sukses menghapus keluh Heeyoon, tepat ketika gadis itu sadar bahwa Minseok juga sibuk sebagai pegawai kantor baru.

Tapi daripada mengeluh sendiri, Minseok memilih menyimak keluhan pacarnya.

Wajar Heeyoon merasa bersalah kemudian.

“Kamu harus jaga kesehatan.”

“Mestinya aku yang bilang begitu ke cewek yang malamnya selalu ditemani bergelas-gelas kopi buat mengerjakan tugas. Jangan ditunda sampai mepet, dong, kalau mau membenahi draf skripsimu.”

Heeyoon cemberut.

Nggak usah cemberut. Jelek, tahu,” –tapi dasar bakpao hidup, muka sok seriusnya tidak bisa bertahan lama– “Iya, maaf. Kalau aku bilang ke kamu untuk nggak begadang, aku juga berusaha nggak begadang, kok. Makasih nasihatnya, Heeyoon-ah.”

3-0. Dengan perilaku Minseok yang ‘dingin’ dan cenderung menghindari konflik, patutlah Heeyoon senantiasa gagal kesal. Langkah-langkah Heeyoon makin pelan, tetapi bicaranya makin banyak; ia tidak mau cepat-cepat berpisah dan berhenti mengagumi segala kebaikan pada lawan bicaranya. Tanpa sadar, Minseok mengikuti irama langkah sang gadis, pelan dan santai, juga enggan lepas dari si cerewet berambut bob yang masih mengocehkan pergantian musim. Tak ayal lagi, perhentian bus mendadak jadi lokasi syuting drama mellow dalam pandangan keduanya. Heeyoon berpaling sedih pada Minseok saat busnya datang, mengutuki bus itu yang terlambat ketika diharapkan tepat waktu dan tepat waktu ketika Heeyoon ingin dia terlambat.

“Kapan-kapan, kita jalan kaki bareng lagi, yuk. Kita sudah jarang begini sejak kamu kerja.”

“Boleh.”

‘Boleh’? Cuma itu tanggapan Minseok? Heeyoon mengharapkan jawaban yang lebih panjang dan manis, sebetulnya, tetapi aih, ia lupa bahwa presensi Minseok saja sudah lebih dari cukup sebagai penawar letihnya seminggu ini. Gadis itu mencengkeram selempang tasnya, jijik oleh pikiran manjanya sendiri, sebelum tersenyum tipis.

“K-kalau begitu, aku pu–“

–lang.

Kalimat Heeyoon bisa tuntas andai Minseok tidak tiba-tiba mendaratkan kecupan di punggung jari tangannya, membuat pipinya merah padam macam kepiting, dan lidahnya sejenak lupa bagaimana cara bicara.

“Jangan pasang wajah sedih. Nanti tanganmu kucium lagi, lho. Minggu depan, kita jalan lagi, deh, jadi please, jangan muram.”

Entah Heeyoon mendadak paranoid atau bagaimana, ia merasakan berpasang-pasang mata penumpang bus terarah padanya.

“A-AKU PULANG!!! NGGAK USAH KANGEN AKU!!!”

Asli, Heeyoon bukannya mau mengucapkan itu tadi. Ia tahu kalau bilang begitu, perhatian orang-orang akan makin tercuri. Lihat saja, hingga beberapa jauh bus melaju dari halte, mata-mata penumpang masih sesekali terarah padanya. Sempat ia merutuki kebodohannya yang tidak membawa oversized bag saja supaya bisa menyembunyikan wajah ke baliknya, tetapi tak lama, rasa malunya berubah jadi bunga-bunga kecil yang mekar di hati. Bibir Minseok terasa hangat di punggung tangannya yang mungil. Kekehan Minseok waktu ia diam-diam mengacungkan jari tengah sebelum naik bus juga terlalu berharga untuk dibuang dari memori. Bayangan Minseok yang melambai padanya di halte menjadi penutup sempurna kunjungan sederhananya hari ini …

… dan sampai bisa berjalan bersama Minseok kembali, Heeyoon akan mengarungi hari-harinya yang padat jadwal dengan kenangan damai hadiah dari Minseok ini mendampingi.

TAMAT


done 22:53. writing is my drug, apalagi di jaman-jaman ujian kyk gini, tapi kalo terlalu merhatiin eyd jadinya malah bikin penyakit, sehingga karangan ini lepas pas dari segala aturan. Jul, nih ff hani aku udah bikin. 

maap ya reader, ini kasar bgt, lain kali akan kubetulkan.

summary dari lirik lagu Xiumin – You Are The One x EXID – Will You Take Me?

Advertisements

13 thoughts on “EXO-N #38: I Don’t Want A Drive

  1. Aku baca ini malem-malem trus ngikik sendiri baca endingnya hihihi sukaaa banget. Manisnya minseok itu loh…, ga niat gitu tapi bikin melting:(
    Gakuat huhuhu. btw mereka ini pasangan yang logis dan realistis sekali yha. yg ga bisa ketemu tiap hari, ga so sweet2an tiap saat, jadi sekalinya bisa jalan lama tuh rasanya ga pengen pisah dulu. feeling-nya dapet banget, ga masalah dg dialog yg ga baku. keep up the gpod work!

    Like

    1. ga niat ahaaha
      aku
      kaget waktu kamu bilang ini tulisanku realistis *elap air mata* akhirnya tulisanku bisa realistis ya Allah
      makasih ya udah baca ini walaupun ya aku tau preference mu adalah tulisan yg lebih rapi but still makasih sdh baca ini!

      Like

  2. aku salah apa baca minseok di jam seperti ini, kak li? heuheuuu.
    setuju sama kak liana, writing is my drug di masa2 ujian kaya gini, kak. yang pengen nulis tanpa merhatiin eyd dkk, aku setujuuu sekali hahaha

    mudah-mudahan aku engga salah, kak li, tp kayanya ini fluff pertama yang aku baca dari kak liana seingatku. dan, /ehem/ CIYEEEEEEE, hatiku seperti bertabur bunga-bunga sakura setelah baca ini hahahaha. minseok boyfriend material banget sih, kak.
    ‘Mana kuat dia menghadapi senyum tulus dan tatapan lembut Minseok barusan?’ ((siapa pun gaada yang tahan kalau diberi tatapan lembut nan memabukkan dari kak minseok, kak li))haha
    terus, adegan cium tangan, yaampun manisnyaa. memang kadang harus saling merindukan dulu supaya pas ketemuan waktu yang ada digunakan sebaik mungkin /aku engga curhat kok, kak/ 😀

    keep writing kak lianaaa. semangat terus yha, kak ❤

    Like

  3. I spotted “bakpao hidup” there ya ampun minseok kenapa sih nista2 gemash gitu kan aku jadi ga kuat :”
    Haduh kak trust me im bad at reviewing, pokoknya mah ini sukses banget bikin napas tertahan at some scenes sambil bayangin kira2 ke-sweet-an apa lagi yang bakal muncul. Youve got the hang on it kak! ❤

    Like

  4. Awawawaw jalan-jalan bareng cihuy emang kadang-kadang lebih ngena jalan yang beneran jalan pake kaki daripada yang pake mobil mengarungi hari (duh bahasa fika) lucuuuuu ih minseoknya ya allah kamu kucubit dulu sini mas :’) dan tangannya dicium doooooong!!! Btw ga akan ada yang bisa tahan disenyumin minseok, ga ada kok. Hahahahaha. Yosh keep writing yah liii!!

    Like

  5. Wasek. Tak bukak blogmu moro ketok foto seng kyok e tak kirim nang dirimu. Ehmmmm…. aku moco komen onok seng ngocak kalau tulisanmu realistis. Amazoon!!! Akhirnya Liiiii…..
    Mlaku2 bareng Minseok trus curhat sana-sini iku mwantep puolll. Berasa gurih-gurih gimana gitu.

    Like

    1. gurih rek gak tak kek i micin padahal
      terus maksude dirimu setuju lek tulisanku gak realistis ngono?
      ….
      yo ancene seh hahaha dunia nyata terlalu menyakitkan *wenak* tapi lek onok minseok ambek jongdae yo ga patio lara sih hahaha
      nuwus komene paling tak enteni dhewe kok

      Liked by 1 person

  6. sempet pause baca pas bagian kalimat

    Tatapan lembut

    trus pause nya agak lama karena bayangin tatapan lembut mas umin dan gulung2 sndri akunya,,
    ga kuat Li ditatap gitu sama mas umin,, *ambil napas banyak2*

    mbak hani cantik banget potongan rambutnya pendek gitu.

    mas umin sukanya gitu ya, bikin mbk hani salting. mana itu di tempat umum mas. DI HALTE!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s