Glasshouse of Amorose (Prologue)

lilac-rose-tile

episode 0: There is A Place

Sebuah tempat di mana hanya kita yang tahu.

***

Suatu waktu, para manusia dan dosa-dosa mereka yang makin besar nyaris menghancurkan Bumi. Ledakan kemarahan, perpecahan di sana-sini, dan hilangnya cinta manusia pada tempat tinggal mereka sendiri telah melukai Bumi sedemikian dahsyatnya. Sang Bumi menangis keras-keras dengan harapan para penghuninya akan berhenti berbuat kerusakan, tetapi manusia sudah kepalang tuli. Telinga mereka tersumpal pembicaraan tanpa arti, musik-musik terkini yang hampa makna, dan syair-syair kosong rasa, maka alih-alih sampai pada penghuninya, tangis Bumi terlebih dahulu mengetuk hati kawannya, Matahari. Dengan setia, Matahari mengantarkan doa-doanya ke hadapan singgasana Tuhan, meminta agar Bumi diselamatkan, lalu satu hari, doanya dijawab.

Tahu-tahu, Matahari mengumpulkan potongan-potongan kaca lebar, tiang-tiang baja, dan ketulusan kasihnya di atas Bumi.

Untuk apa ini semua?, tanya Bumi di sela isakan.

Matahari menyuguhkan senyum dan menjawab penuh semangat.

Aku akan membangun rumah kaca untuk membudidayakan cinta!

… sebab sesungguhnya, yang menjauhkan manusia dari murninya perasaan adalah kian mekarnya nafsu dan kian membosankannya cinta di muka Bumi. Matahari hanya perlu membuat mereka sekali lagi tertarik pada kasih sayang dengan cara memunculkan tren mencinta, tetapi ia butuh beberapa pihak untuk mewujudkan gebrakan tersebut. Memanfaatkan jangkauan penglihatannya yang luar biasa, Matahari mulai menyisir tiap inci kulit Bumi. Ucapan syukur langsung terlontar darinya ketika mendapati beberapa benih cinta yang cukup besar tersebar di bawah langitnya, salah satu dari mereka berada amat dekat dengan tempatnya berdiri.

Salah satu … atau salah dua?

Karena rasanya kurang tepat jika sepasang mawar kembar siam dikatakan sebagai satu makhluk. Tangkai mereka boleh bersatu di bawah, tetapi jiwa mereka terpisah dan, sayang sekali, cinta yang dipendam mawar ungu muda lebih keruh warnanya dari milik kembarannya yang bermahkota putih. Matahari mesti menunggu dulu agar cinta si mawar ungu jernih kembali, tetapi ternyata mawar ungu memiliki rencana lain yang ia jalankan malam-malam, ketika Matahari tengah memejam. Bingunglah sang Matahari begitu pada pagi berikutnya, ia menemukan mawar kembar siamnya tinggal tersisa setangkai.

***

“Maaf, apa kau melihat adikku? Dia mawar ungu pucat dengan tangkai hijau yang panjangnya hanya separuh dari mawar kebanyakan.”

***

GLASSHOUSE OF AMOROSE

“Culturing love in the age of sins.”

[]


.

.

.

.

.

I’M BAAAACK!

sebelumnya aku minta maaf yang sebesar2nya karena aku bisa buka wp tapi cuman ngelike2 komen yg masuk tanpa membalas, aku ga tau kenapa tapi wpku error belakangan, komen lama gak keload lagi ;-;

dan ya, ini surrealisme multichap. org baca oneshot surealisme aja pusing apalagi yg berchapter. masalahnya feelku sangat kuat untuk ini oh gosh biarkanlah ia bertahan sampai akhir dan tidak terbengkalai seperti karya berchapterku yg lain. (sejauh ini, karya berchapter yg masih ingin kutuntaskan adalah Dim Lights dan Dodekatheon Retold universe, jadi utk yg menunggu kelanjutan ceritanya harap tidak berputus asa ya ^^) kalau ada yang pernah baca Redstained, Cryophilism, atau Voidoplasty pasti sudah gak asing sama mawar2an ini kan? aku menghidupkan mereka dalam universe yang berbeda sekarang dengan plot berbeda pula. chap pertama cerita ini sudah jadi btw, tapi masih butuh diedit lagi. ditunggu ya!

see you next chap!

Advertisements

5 thoughts on “Glasshouse of Amorose (Prologue)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s