Glasshouse of Amorose (pt. 1)

glasshouse-of-amorose-copy

episode 1: Catch Me When I Fall

poster credit: ChocoYeppeo

Siapa yang akan menangkapku bila ku terjatuh?

***

Keinginan terbesar Lu Han sesungguhnya sangat sederhana: memiliki akar sendiri untuk makan dan menapak.

Selama bertahun-tahun, Lu Han meyakini Tuhan akan mendengar doa-doa yang dipanjatkannya, jadi siang dan malam, hari demi hari, ia menerbangkan permohonan yang sama ke langit hanya untuk kecewa pada hari berikutnya. Ketika pagi menjelang, ia membuka mata dan mendapati dirinya masih lekat dengan kembarannya yang bertubuh sempurna, Kris. Jika sudah begitu, pada akhirnya Lu Han hanya mampu sekali lagi mengagumi betapa kuat akar-akar Kris yang menancap di bawah aspal, betapa kokoh tangkai kayu Kris yang menyangga dua raga sekaligus, dan betapa indah mahkota-mahkota bunga putih Kris yang tanpa bercak. Tak pernah Lu Han menyadari bagaimana pujian-pujian tak terungkapkan ini berubah jadi bibit beracun dalam batangnya.

Padahal mereka kembar, sama-sama mawar, dan sama-sama tumbuh di tempat yang atmosfernya dipekati debu serta dosa, lalu bagaimana mungkin takdir Lu Han jauh lebih buruk dibandingkan Kris?

Genangan air hujan sore dekat akar Kris memantulkan sosok menyedihkan Lu Han dengan amat jelas. Si mawar kecil tertawa pahit kemudian. Benarkah ia yang terlahir sebagai parasit tanpa akar, dengan batang hijau tipis rapuh dan mahkota bunga ungu pucat, pernah satu benih dengan Kris dahulu? Apakah eksistensinya cuma lelucon bagi Tuhan, ataukah Dia menciptakan anomali sepertinya dan Kris semata karena bosan?

Aku akan tunjukkan pada Tuhan betapa tidak lucu lawakan-Nya ini.

Tindakan gegabah Lu Han memisahkan tubuh diam-diam dari Kris malam itu bukan tanpa alasan. Bagi Lu Han, selera humor-Nya yang secara absurd menjadikan tanah di sekelilingnya tandus sudah keterlaluan. Dalam keadaan biasa saja, akar Kris mesti bekerja keras mencari makanan untuk berdua; bayangkan bagaimana lelahnya mawar yang lebih besar jika harus menghidupi dua tubuh pada kondisi krisis macam sekarang. Jadi, tepat tengah malam, sembari menahan diri agar tidak berteriak kesakitan, Lu Han menghunjamkan durinya yang tertajam pada bagian terendah tubuhnya. Segera setelah batangnya putus, Lu Han menyeret tubuh menjauhi Kris menggunakan sepasang daun tipisnya, mumpung Kris masih terlelap. Luar biasa, Kris benar-benar tak terusik. Tak sia-sia Lu Han membelokkan jalur-jalur peraba yang rumit dalam batang mereka agar Kris tidak ikut merasa nyeri. Kini, si mawar ungu bisa pergi ke mana pun ia ingin, tidak lagi menjadi tukang sedot yang membebani tanaman inang.

Sampai jumpa, Kris.

Untung jalanan sedang sepi, jadi makhluk ganjil berbatang setengah seperti Lu Han tidak menarik perhatian siapa-siapa selain angin dan trotoar yang ia lalui. Karena tekad sang mawar sudah bulat, cemoohan encer yang dilontarkan angin dan trotoar pun tidak sanggup menggoyahkannya. Namun, pergerakan Lu Han melambat seiring waktu. Ia tersengal, daun-daunnya gemetar, dan tangkainya melunak. Pandangannya mulai kabur, tetapi itu tidak menghalanginya mengetahui takdir apa yang menantinya di depan. Ia sudah siap untuk itu; memangnya apa lagi yang mungkin terjadi pada benalu jika ia memaksa diri untuk tidak menumpang?

Aku akan mati.

Tapi Kris akan hidup lebih baik tanpaku, bukan begitu?

Kematian berdiri tegak di hadapan Lu Han, sosok samarnya menimbulkan ketenangan yang amat ganjil di hati, lalu sang mawar pucat berhenti menyeret tangkai, napasnya jarang dan makin jarang. Mata Lu Han tak mampu lagi membuka, Kematian berjalan mendekat, dan tangkai yang semula sedikit tegang sekarang sepenuhnya lemas.

***

“Dasar bodoh. Apa dia tidak tahu akibatnya jika melepaskan diri dariku?”

“Tapi alasan Tuan Lu Han melepaskan diri dari Anda, seperti Nona Jessica bilang, sangat kuat. Dia menyayangi Anda, maka dia tidak ingin Anda menderita karenanya.”

“Haruskah caranya seperti ini? Tidak pahamkah dia bahwa penderitaannya juga menjadi penderitaanku? Melihatnya tidak sadar begini membuatku ikut sakit.”

“Apa boleh buat? Segalanya sudah terjadi, mari kita berdoa saja agar Tuan Lu Han cepat siuman.”

“…Kau benar.”

Di antara kesadarannya yang naik dan turun membentuk gelombang, Lu Han menyimak percakapan ini dengan mata masih tertutup. Dalam percakapan itu, ia temukan suara yang seharusnya tidak ia dengar lagi—andai rencananya berjalan lancar. Lu Han sempat merasa terusik, tetapi segurat kekhawatiran dalam suara kembarannya seketika menukar rasa itu jadi sesal. Ya, dia mestinya mengerti bahwa kematiannya tidak selalu berarti keberlanjutan hidup Kris; bisa jadi kematiannya malah menimbulkan duka abadi pada batang berkayu yang ia tinggalkan. Memikirkan hal ini memaksanya bangun, meski tenaganya belum pulih benar dan ia belum siap menghadapi amarah Kris yang pasti nanti akan menghujaninya.

Di luar dugaan, Lu Han justru disambut sepasang manik biru Kris yang membulat lucu segera setelah sadar.

“Kau … sudah bangun?”

Lu Han belum mengucapkan sepatah kata pun ketika Kris bangkit dari duduknya dan memanggil seseorang yang tak pernah Lu Han dengar namanya; mungkin orang itu merupakan salah satu penolongnya. Kamar nyaman berdinding kaca ini pastilah milik orang itu juga—dan Lu Han heran akan kehangatan yang bersahabat dalam kamar di mana ia berbaring.

Ternyata, di tempat sekacau Bumi pun masih ada tempat sedamai ini. Dari mana kira-kira kedamaian yang membangun tempat ini berasal?

Lamunan Lu Han dibuyarkan oleh sentuhan asing nan tiba-tiba di bagian bawah tubuhnya. Refleks, ia menarik bagian itu ke atas, menjauhi rangsang, lantas ia menyadari adanya sesuatu yang ganjil. Cepat ia menyibak selimutnya …

… dan satu batang panjang sempurna telah menukar batang cacatnya dahulu, lengkap dengan akar menjuntai. Ujung dari tiap akar disatukan dan dibalut dengan segumpal tanah; bisa Lu Han rasakan nikmatnya zat-zat makanan dari sana mengalir masuk ke setiap pembuluh kayunya. Gumpalan tanah di situ kemudian ditambahkan lagi oleh satu tangan telaten yang amat lembut.

Lu Han mengangkat pandang. Sosok berseragam pelayan di ujung lain tempat tidur tersenyum sembari mengambil sedikit bagian tubuhnya untuk dibalurkan ke akar Lu Han.

Tanah?

“Maaf mengejutkan Anda. Sudah merasa lebih baik?”

“Uh … begitulah,” jawab Lu Han dengan kesadaran yang belum utuh. “Kau siapa? Dan … mengapa aku tiba-tiba punya akar?”

Usai menambah balutan tanah di akar Lu Han, sang pelayan berdiri.

“Saya Luna, tanah dari gunung yang dipekerjakan Nona Jessica di rumah kaca ini. Mengenai batang dan akar baru Anda, saya rasa Nona Jessica-lah yang lebih bisa menjelaskan.” Sang tanah kemudian undur diri. “Akan saya sampaikan pada Nona bahwa Anda sudah siuman.”

Sekeluarnya Luna dari ruangan, Kris buru-buru duduk di sisi ranjang Lu Han. Maniknya dengan teliti mencari luka-luka pada bagian batang Lu Han yang lama. Ia mengembuskan napas lega ketika tidak menemukan apa yang ia cari, lalu berucap lirih dengan senyum tipis mengiringi.

“Syukurlah kau baik-baik saja.”

Tanpa sadar, ruas-ruas daun Lu Han mencengkeram seprai. Ada kata-kata yang ingin sekali ia utarakan pada Kris, tetapi egonya yang kelewat tinggi tidak mengizinkannya membuka mulut. Lidahnya seakan terpuntir di dalam bibir, padahal satu sisi jiwanya yang mau cepat dilegakan meminta agar kata-kata itu segera diucapkan.

Anehnya, Kris tiba-tiba terkekeh. Lantaran sedang dalam fase iritabel, Lu Han tak sengaja membentak saudara kembarnya itu—yang untungnya tidak ditanggapi secara serius.

“A-apa yang lucu?!”

“Itu.”

Kontan Lu Han mengarahkan tatapannya ke lantai yang Kris tunjuk. Betapa malunya ia ketika kata-kata maaf, janji tidak akan membuat Kris cemas untuk kedua kali, dan kasih sayangnya yang bening berceceran di sana tanpa bisa dihentikan, membentuk genangan kecil di kaki ranjang.

“Kalau mau bilang maaf, tidak usah ditahan-tahan. Jadinya merembes, kan.”

Menanggapi kalimat Kris, Lu Han hanya bisa memalingkan muka, sementara si mawar putih beranjak turun, mengumpulkan cinta adiknya yang encer, dan mengembalikan cairan itu bersama seluruh kata yang urung Lu Han ucapkan ke bentuknya semula: kristal segi enam.

“Nih, jaga betul-betul.” Kris menangkupkan daun Lu Han pada sekepal cinta yang baru saja diperbaiki. “Tidak usah diungkapkan juga tidak apa-apa, yang penting benda itu tidak hilang.”

Lu Han menyugar satu demi satu helai mahkota ungu pucatnya, kemudian menyelipkan cintanya ke balik sana.

“Kau tidak marah padaku?”

“Tenagaku sudah habis setelah semalaman mencarimu. Sekarang, aku cuma ingin beristirahat dan menyampaikan sebanyak-banyaknya terima kasih pada Tuhan karena semuanya sudah selesai.” Kris berpaling pada Lu Han yang masih menunduk penuh sesal. “Termasuk masa lalu kita di jalanan, itu juga sudah berakhir.”

Lu Han tertegun.

“Apa?”

“Mawar kesayanganku sudah bangun? Bagus!”

Biar tidak melihat kedatangan sosok baru ini secara langsung, Lu Han spontan memicing begitu sosok itu masuk ke kamar. Cahaya yang menyelimuti sang nyonya rumah amat menyilaukan, tetapi Kris kelihatannya sudah terbiasa. Sosok itu mendekat, cahayanya makin intens memasuki sepasang netra Lu Han, tetapi nyatanya, Lu Han hanya perlu mengerjap beberapa kali supaya terbiasa dengan keberadaan si pemilik rumah kaca yang maha terang.

“Senang melihatmu bangun dalam keadaan segar-bugar, Lu Han.”

Dan sosok itu, selain terang, juga sangat cantik.

“Aku Jessica, tetapi orang-orang lebih mengenalku sebagai Matahari. Salam kenal, dan selamat datang di Glasshouse of Amorose.”

***

Rumah kaca yang kini menjadi tempat tinggal baru Lu Han dan Kris mempunyai nama sendiri, membedakannya dari rumah-rumah kaca lain. Jika sebagian besar rumah kaca diisi oleh tanaman-tanaman yang semata dirawat untuk kebutuhan jasmani manusia, Glasshouse of Amorose—singkatnya Amorose—mengembangbiakkan inti nurani murni yang sesungguhnya merupakan kebutuhan pokok pada zaman itu. Jessica, sang Matahari, adalah pengelola tempat itu. Menurut Luna pelayan setianya, Jessica masih dalam tahap mengumpulkan bunga-bunga indah berinti suci untuk mengisi Amorose, juga membangun koneksi dengan pihak-pihak pendukung, misalnya kaum kupu-kupu yang kelak akan membantu penyerbukan bunga-bunganya. Lu Han dan Kris merupakan salah dua terpilih untuk menghuni rumah kaca eksklusif ini, maka tampil seindah mungkin merupakan kewajiban mereka. Itulah mengapa Jessica memberikan batang dan akar baru secara cuma-cuma pada Lu Han: demi menyempurnakannya.

Menjadi mandiri adalah kunci kebeningan kasih sayangmu. Sampai cintamu siap dipanen, aku mesti menjaganya agar tetap bersih. Setelah punya akar dan mampu berjalan sendiri, kau tidak lagi takut membebani Kris, kan? Lihat, cintamu bening begini karena kau sudah merasa setara dengannya.

Penjelasan Jessica membekas begitu kuat dalam benak Lu Han hingga tak peduli berapa kali pun ia terjatuh saat latihan berjalan, ia pasti akan bangkit kembali. Berpegang pada kayu panjang kerangka rumah kaca, Lu Han melanjutkan latihan penguatan batang dan akarnya seorang diri. Ia tidak mau bergantung pada siapa-siapa sebab, seperti yang Jessica katakan, merasa jadi beban akan membuat cintanya kotor.

“Tinggal setengah jalan,” gumam Lu Han seraya menyeka peluh, berat tubuhnya ditumpukan pada daun sebelah kanan yang berpegang pada gagang kayu. “Akan kucoba tanpa berpegangan.”

Mau Lu Han sih begitu, tetapi sayang, baru selangkah saja batangnya sudah tidak stabil. Lu Han terhuyung, daunnya berusaha meraih gagang kayu namun gagal. Ia akan terjerembab ke lantai andai Kris tidak membantu menyangga tubuhnya dari belakang.

“Kau tidak bilang dulu padaku kalau mau latihan. Aku kan bisa menemani.”

“Tidak usah.” Setelah berpegang pada gagang kayu, Lu Han cepat menurunkan daun Kris dari batangnya. “Aku bisa sendiri, kok.”

Alih-alih langsung menanggapi Lu Han, Kris mengawasi kembarannya berlatih lagi. Ia mengambil kursi dan duduk, sesekali bergerak gelisah ketika Lu Han tampak akan jatuh. Sepasang matanya tidak beralih dari Lu Han sampai saudaranya yang baru punya batang itu berhasil mencapai akhir dari pegangan kayu. Lu Han kemudian menoleh ke belakang, membuat Kris menaikkan alis, bertanya ‘ada apa?’ tanpa kata.

“Kau bisa pergi, Kris.”

“Mengapa aku harus pergi?”

“Kau tidak harus mengawasiku setiap saat.”

“Benar, tetapi setelah tubuh kita berpisah, aku kesepian karena kau sering mengabaikanku. Apa kalau kau kita berpisah, aku sama sekali tidak boleh bersikap seperti dulu lagi?”

Cara bicara Kris terdengar seperti anak kecil yang meminta sesuatu dari orang tuanya, yang dalam keadaan biasa akan memuakkan Lu Han, tetapi setelah dipikirkan lagi, mereka memang makin jarang bersama akibat berbagai usaha Lu Han untuk mendorong Kris menjauh. Lu Han masih merasa Kris mengikutinya atas dasar sikap overprotektif yang tak perlu, padahal itu tidak sepenuhnya benar. Meski raganya sudah sempurna, dalam hatinya Lu Han masih merasa dirinya tak lengkap dan itu mendorongnya melindungi diri dari ‘kecemasan berlebihan’ Kris—yang sebenarnya tidak ada.

Mereka berdua mesti belajar bersikap sebagaimana sepasang kembar normal, tampaknya.

Lu Han berbalik, batangnya kembali terhuyung. Kris tidak bisa menahan diri untuk tidak berdiri dari kursinya, tetapi ia tidak bertindak lebih jauh. Si mawar putih membiarkan sang adik berjalan tanpa pertolongan sesuai kemauannya dan saat Lu Han mengulurkan daun sebagai isyarat minta bantuan, barulah ia bergerak. Manik Lu Han yang sewarna ametis tidak bertemu dengan Kris, karenanya Kris tidak benar-benar tahu apa yang Lu Han rasakan ketika Lu Han berkata:

“Terima kasih … untuk selalu menangkapku saat aku akan jatuh.”

Yah, buat Kris, mengungkapkan itu butuh keberanian yang besar dan ia sendiri tidak menyangka akan menerima ucapan macam begitu dari kembarannya, sehingga ia jadi amat tersentuh. Tahu-tahu saja, daunnya mendarat di puncak mahkota bunga Lu Han, seperti pada hari-hari sebelum mereka jadi dua tangkai mawar berbeda.  Kris akan memastikan tidak ada yang berubah antara dirinya dan Lu Han, bahkan setelah mereka tidak lagi jadi satu entitas secara fisik. Toh, kristal bening dalam mahkota bunga mereka masih berdenyut seirama, dari benih hingga saat ini membisikkan kasih yang sama untuk satu sama lain.

“Jangan berterima kasih. Itu kan sudah tugasku.”

***

Dari luar, sang mentari menyaksikan bagaimana cinta di balik tiap mahkota Lu Han dan Kris mengembang cantik. Cinta dalam ikatan persaudaraan memang yang terbaik sebab tidak ada celah bagi nafsu untuk menyelip masuk. Teringat ia akan kisahnya sendiri di suatu waktu yang jauh, di mana ia menikmati kasih itu dengan seseorang yang kini telah direnggut darinya.

Ah. Masa lalu. Jessica memutar tubuhnya, menghindari Lu Han dan Kris seakan menghindari kenangan indahnya yang kini terlanjur hangus. []


.

.

.

.

.

kalo kalian merasa pusing setelah baca satu chap ini, gapapa. karena surealisme itu memang ditakdirkan bikin orang pusing, terutama mreka yang bacaannnya kebanyakan realis/? haha. maklum authornya juga agak sint*ng jadi karyanya pun gak masuk akal :p

tapi ternyata menulis karya yg bikin aku nyaman lebih menyenangkan daripada bikin karya yg banyak disukai genrenya tapi akunya sendiri ga nyaman nulisnya huhu. but still aku butuh feedback dari pembaca2 budiman, kuakui blog ini kayak kuburan blkgan karena kesibukanku padahal aslinya ide udah bertebaran. sekalinya update pun aku ga yakin yg baca byk haha *ketawa getir.

last, mind to RnR?

Advertisements

6 thoughts on “Glasshouse of Amorose (pt. 1)

  1. Dokter Li. Sepertinya saya punya keluhan kesehatan berupa kebaperan (Ampun, padahal emang orangnya gampang baper)

    Dan yuhuu… Luhan jadi sok cuek2 begono padahal sayang sama abangnya, N Kris yang hmmm Lovey dovey yh? Tapi ngena banget walaupun surealisme. Eh tapi what happen with Jessica? Ono opo? Ada apa gerangan dengan masa lalunya?

    Like

  2. KAK LI MAHH GITU ORANGNYA. AKU BOLAK BALIK NGINTIP PAPA ZEUS KAPAN KAMBEK. INI MALAH DIKASIH MAWAR KEMBAR DEMPET UNYU UNYU.

    tapi engga papah, emang dasarnya udah kangen banget sama abang abang ganteng ini. IYA BTW EMANG SEBELUM BACA INI SEMPET LIAT MVNYA “TANGKEP GUE KALO GUE JATOH” YAHH KUDU PIYE ALHASIL ULTRA BAPER DENGG.

    TAPI KANGEN DODEKATHEON NYA KAKK. MASA GADA IDE SIHH. ITU IDENYA MELAYANG LAYANG DI DEKET KEPALA KAK LI. KELIATAN TUHH. MACEM MACEM ANEKA WARNA.

    iya aku gagal sureal. bodo

    Like

  3. Whoaaa, kakli kakli ini wokeh sekali. Yaa meskipun harus muter otak sih hehe .-. Aku kalau gak salah pernah baca cerita kakli yang Universe nya ini juga, tapi karena namanya beda jadi kakli tidak kenal, wohoho 😚😚 ku senang akhirnya AU ini muncul lagi~

    Keep writing ya kak 😘😘

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s