Born Hater (pt.2)

fire-mad-clown-jinsil-hani-eyes

a Greek mythology fanfiction

Aphrodite/Ares, Aphrodite/Hephaestus

Romance, Marriage Life, Angst, Mature for some implied sexual contents

.

Aku selalu menunggumu, berusaha menyamakan langkah denganmu, menahan keinginanku dan kupikir kehendakmulah yang lebih penting. (Gilme ft. Outsider – Love is War)

***

Sore kedua Aphrodite sebagai istri Hephaestus lebih menyala berkat kehadiran Ares di kamar pengantinnya. Tidak perlu lagi Aphrodite menanti dalam kehampaan; ia toh bisa tetap bersenang-senang secara sembunyi-sembunyi asalkan ia menutup tirai serapatnya buat menghalangi pandangan mentari yang serbatahu. Ares menghangatkannya bahkan sebelum ia berendam di kolam suci untuk membersihkan diri, berbeda dengan Hephaestus yang tak mampu menyulut bara kecil dalam hatinya sekalipun menjadi penguasa api. Jejak yang membakar itu bahkan masih tertinggal setelah tubuh Aphrodite terbenam sebatas leher; ketika sang dewi menelusuri kulitnya tepat di jalur yang diukir Ares tadi, ia menggigil dan tersenyum bahagia.

Gairah telah mengubur kegelapan yang sebelumnya sempat menodai benak Aphrodite, yang sesungguhnya adalah peringatan bagi sang pecinta untuk berhenti.

“Astaga.”

Aphrodite yang tengah menengadah untuk membasuh leher tidak terkejut mendengar suara pria dalam ruang pribadinya, apalagi itu cuma Hephaestus yang setengah telanjang, tampaknya juga bersiap mandi. Hephaestus buru-buru memalingkan muka dan meminta maaf, merasa tak patut sekaligus berdebar-debar menyaksikan Aphrodite dalam keadaan tanpa busana, tetapi kekehan Aphrodite mencairkan ketegangannya sedikit. Air kolam beriak ketika Aphrodite berbalik dan mengundang suaminya masuk kolam. Kali ini, Aphrodite tidak sepenuhnya berniat menjahili Hephaestus yang pemalu, melainkan juga menaruh sedikit ketertarikan pada tubuh Hephaestus yang sebelumnya tidak pernah sedemikian terekspos.

“Jangan sungkan-sungkan, ini kan tempat berendammu juga. Ayo, sini.”

“T-tidak, n-nanti airnya kotor. Sisa-sisa logam mungkin melekati tubuhku, wangi-wangian dari bunga yang kaumasukkan akan hilang.”

“Hephaestus ….” panggil Aphrodite manja; hah, lucu, ia kira ia tak akan sudi bermanja pada suaminya yang cacat itu, “Airnya lama-lama dingin …. Bisakah kauhangatkan dengan kekuatanmu?”

Menjaga pandangannya agar tidak jatuh pada tubuh polos Aphrodite, Hephaestus mendekati kolam dan menyentuh air menggunakan tangan. Dalam sekejap, air kolam menghangat, membuat Aphrodite mendesah nikmat seraya membasuhkan air lagi ke tubuhnya. “Terima kasih, Hephaestus. Ini sungguh nyaman, mengapa kau tak mau masuk?” Kembali sang dewi mengundang, “Selain itu, kau suamiku. Ragaku merupakan salah satu dari hakmu.”

“Ah … mm … Yah, itu … bisa dibahas nanti,” –Ganjil, sepertinya Hephaestus lebih sering tergagap dibanding sebelumnya, mungkinkah karena waktu dan tempat berbincang yang ‘salah’?— “S-sebenarnya, ada hal lain yang ingin kubicarakan.”

“Tentang?”

“Apakah belakangan, kau menemui Ares?”

Sontak Aphrodite bungkam. Lidahnya seakan lumpuh, beribu kosakata meninggalkannya entah ke mana. Bagaimana Hephaestus mengetahui hubungan rahasianya dengan Ares? Apakah ada pelayan-pelayannya yang ternyata menjadi informan Hephaestus selama ini? Jika benar, ini akan menjadi masalah besar; Hera pasti tak akan senang. Tunggu, kemurkaan Hera agaknya terlalu jauh untuk dikhawatirkan—bagaimana Hephaestus akan menanggapi ketidaksetiaannya, kira-kira? Hephaestus memang sangat baik, tetapi siapa tahu ia bisa sangat berbahaya bila amarahnya dipancing?

“Aku … paham kalau kau masih tidak bisa melupakannya,” Di luar dugaan, Hephaestus tertawa pahit, “jadi kurasa aku bisa mengerti mengapa kau mengundangnya masuk istana ini. Biar begitu, aku percaya kau tidak melakukan … um … apa pun yang kalian lakukan dulu. Kau bertahan dengan laki-laki yang tidak kauinginkan sampai sejauh ini, itu saja cukup sebagai bukti keteguhanmu menjaga janji yang kita ucap di depan Ibunda.”

Denyutan ngilu dalam dada Aphrodite sekali lagi hadir tanpa peringatan.

“Aku hanya ingin kau berhati-hati, Aphrodite. Ares belum pernah mencederaimu, tetapi ia bisa melakukannya jika kau lengah. Keadaannya sedang tidak bagus sekarang, sampai-sampai segala tempat yang ia jejaki berbau darah. Beberapa tempat di istana ini pun demikian; kau pasti menyadarinya.”

Penciuman Aphrodite cukup baik untuk menemukan bau anyir yang kian tajam di permukaan kulit Ares setiap kali mereka bercinta, tetapi ia memilih mengabaikan bau itu seperti yang sudah-sudah. Rupanya, ada sesuatu di balik itu yang tidak ia ketahui? Biasanya, Aphrodite menghindari menanyakan apa penyebab kekesalan sang kekasih karena takut Ares jengkel dan melukainya. Sang dewi semata mengalihkan Ares dari kekecewaan (yang Aphrodite duga kerap berasal dari kekalahan beruntun melawan Athena, dewi perang yang bijaksana) dengan sebanyak-banyaknya cinta dan itu selalu bekerja. Mungkinkan masalah yang melanda Ares kali ini lebih besar dari sebelum-sebelumnya?

“Menurutku, dia memang sangat pantas bersanding denganmu.”

“Eh? Mengapa begitu?” Refleks Aphrodite berujar, mengira pendengarannya salah. Suaminya terdengar seolah-olah mendukung perselingkuhannya dan Aphrodite, entah untuk alasan apa, lebih menginginkan kecemburuan Hephaestus. Sementara itu, sang dewa api masih menyunggingkan senyum lemahnya ketika beranjak dari sisi kolam.

“Karena kau memiliki cinta yang tidak ditemukannya di mana pun. Kau penyeimbangnya, sesuatu yang tak bisa aku dan Athena lakukan sebagai saudara sedarahnya. Kau bisa memunculkan kasih dalam hatinya biar hanya serupa noktah.

“Dan, aku berterima kasih untuk itu.”

Seberlalunya Hephaestus, Aphrodite menenggelamkan tubuh sepenuhnya hingga ujung kepala. Kegelapan yang tadi hilang menyebar luas dalam pikirannya hingga membuatnya takut.

Sebegitu dalamkah Hephaestus memandang hubunganku dengan Ares? Sebesar itukah makna cintaku pada Ares bagi Hephaestus? Apa sanggup cintaku menembus lebih jauh ke bawah lapis kulit kami ketika Ares menyelimuti dirinya dengan kebencian?

Apa aku … betul-betul masih berkuasa atas kasih sayang?

Mendadak, sepotong demi sepotong adegan berdarah di dunia manusia menghampiri Aphrodite, memaksanya keluar dari air demi meraup udara sebanyak-banyaknya. Dua telapaknya mendarat di pelipis yang basah, ngeri dan kesakitan. Lagi-lagi begini; sejak kapan dirinya bisa melihat kebiadaban manusia, sementara ia mestinya hanya merangkul segala yang berkaitan tentang cinta?

Ares-kah yang meracuninya?

***

Membuka matanya siang itu, Aphrodite menemukan dirinya mengapung di sejumlah besar massa air. Hujan tertumpah padanya dalam tetes-tetes raksasa, menimbulkan buih setiap menumbuk air di sekeliling. Dapat Aphrodite rasakan buih-buih halus itu menyentuh kulitnya, membentuk raganya setahap demi setahap. Mengerjap pelan, Aphrodite mencoba mengenali sekitar, diawali dari langit yang entah mengapa berwarna kelewat gelap.

Tunggu.

Bau amis apa ini?

Dan … dan warna merah apa itu yang hadir bersama kelabu awan?

Seketika Aphrodite membeliak. Sadarlah ia bahwa tetes-tetes dari langit bukanlah tetesan air, melainkan darah. Jauh darinya, dua sosok kuat berbenturan, disusul teriakan menciutkan nyali dari salah satunya akibat dilukai yang lain, dan kembali hujan darah membasahi Aphrodite. Sang dewi tak mampu bernapas, tak mampu bergerak, hanya jantungnya yang berdegup tak keruan, mengiba, memohon pada dua sosok di atas sana untuk berhenti saling membenci. Suara hatinya tak sampai dan ia tenggelam dalam merah-hitam dendam.

“Ah!”

Aphrodite terlonjak bangun—dalam kamarnya, di atas tempat tidurnya. Sedikit cahaya masuk ke ruangan melalui pori-pori tirai yang lebar, membantu Aphrodite mengenali kamarnya sendiri, dan menenangkan batinnya yang bergejolak akibat mimpi barusan. Buru-buru ia rabai tubuh atasnya yang tak terbalut apa pun, mencari jejak-jejak darah. Ia tak menemukan cairan merah pekat itu, anehnya ruangan yang biasa beraroma ambrosia ini tiba-tiba terkotori bau darah yang tipis; tampaknya bau itulah pemicu mimpi lama Aphrodite untuk kembali menapaki panggungnya.

Dari mana asalnya bau mengganggu ini?

“Aphrodite? Ada apa?”

Astaga, tentu saja. Baru Aphrodite ingat setelah rapat pagi ini, ia langsung menghabiskan waktu dengan Ares lantaran Hephaestus, seperti biasa, meninggalkannya ke bengkel. Ares masih terbaring di sisi Aphrodite—terjaga karena pekikan terkejut Aphrodite tadi—dengan rambut hitam kelamnya yang berantakan dan tubuh kekarnya yang masih lembab oleh peluh sisa percintaan sebelum ini. Peluh itu, sayangnya, tidak melarutkan setitik saja aroma kematian yang bandel melekati Ares, bahkan sehabis darah bekas pembantaian harian Ares dibasuh bersih-bersih.

Namun, Aphrodite sangat pandai berbohong, termasuk pada Ares dan dirinya sendiri. Ia menopengi kengeriannya dengan senyum penuh rayu, lantas menyandarkan kepala ke dada sang kekasih. Dibelainya tubuh Ares dengan sentuhan berhias puja yang memabukkan hampir semua pria—tetapi kali ini, sang dewa kebrutalan tidak terpengaruh sebesar sebelumnya. Keinginan yang biasa mengiringi usapan Ares pada rambut Aphrodite tidak muncul saat itu, mengecewakan sang dewi sedikit.

Dalam pelukan Ares, tidak Aphrodite dapati lagi kenyamanan yang dulunya selalu ada.

“Aku …” Aphrodite menarik napas, “… ingin memohon satu hal padamu. Boleh?”

“Katakanlah.”

Memejam perlahan dengan kepala makin tenggelam dalam ceruk leher Ares, Aphrodite meminta.

“Bisakah kau tidak berperang sehari saja di dunia manusia? Menahan kekuatanmu agar amarah tidak terus-terusan menyebar di tanah kekuasaan kita?”

Hening. Aphrodite menunggu jawabannya, namun yang terlontar dari Ares adalah sebuah kekeh meremehkan yang kurang lebih bermakna: kau cantik, sayang tololnya luar biasa.

“Itu sama saja seperti menyuruhmu berhenti menebar cinta, Dewiku. Permintaanmu konyol sekali.”

Tersinggung, Aphrodite mengangkat kepalanya dan menatap Ares lamat-lamat dengan segurat keputusasaan pada matanya.

“Belakangan, kerusakan di dunia manusia makin luas, Ares, dan bukannya menciptakan sesuatu dengan itu, mereka malah saling menghancurkan. Ini menggelisahkanku dan satu-satunya jalan untuk mengembangkan perdamaian adalah dengan menghentikan aksimu. Kebencian akan terhapus jika kau, setidaknya, mengurangi sikap agresifmu.”

“Maka gunakanlah kekuatanmu, Gadis Pintar,” cemooh Ares, “Kau pengendali cinta, jadi gerakkanlah jiwa-jiwa di bawah untuk menghindari pengaruhku. Kalau kau bisa melakukan itu, mengapa kau masih memintaku untuk duduk diam dan menyaksikan pergerakan Athena beserta para kesatria sucinya?

“Oh, atau kau lagi-lagi lupa,” Ares menanam telunjuknya tepat pada denyutan di tengah dada Aphrodite, “bahwa kekacauan di dunia manusia sesungguhnya berasal dari dirimu yang sudah tidak bisa mencinta lagi?”

Tidak bisa mencinta?

“Hentikan!” Cepat Aphrodite menepis telunjuk Ares, “Aku masih bisa mengasihi manusia dan dewa serupa. Kaukira apa yang saat ini kulakukan denganmu?”

Membenci Hephaestus. Apa lagi?” –Aphrodite terperanjat mendengar jawaban pasangannya, yang baru disadarinya merupakan bentuk lain dari mencintai seseorang di luar ikatan pernikahannya— “Kau sudah tahu bahwa hal yang kita kuasai sangat kabur batasnya, Aphrodite, dan kau baru saja melangkahi batas itu. Mengapa tidak sekalian saja kau melepas sepenuhnya cinta dalam hatimu dan pergi bersamaku?”

Tak berdaya Aphrodite melawan tatkala Ares menaikkan dagunya kasar, mempertemukan biru lavender dengan merah gelap yang ganas.

“Untuk apa kauacuhkan aturan yang Ibunda dan Ayahanda buat, juga nasib si pincang setelah kautinggalkan? Denganku, kau akan bebas sebebas-bebasnya, Sayang,” –tapi yang tertangkap dari panggilan Ares pada Aphrodite ini hanyalah ancaman—“Ada api hasrat dalam dirimu. Kau tahu apa lagi yang bisa dinyalakan hasrat selain cinta? Dendam, Aphrodite. Rasa haus darah. Kerinduan akan jeritan-jeritan ngilu di medan tempur. Mekarkanlah hasrat itu sebelum ia mati.

“Jika kau tidak bisa menjadi pelindung cinta, jadilah dewi perangku yang bermandi penderitaan manusia, Aphrodite.”

“Tidak. Tidak akan!” Dengan kasar, sang dewi cinta menepis tangan Ares dan menarik diri. Tak pernah Aphrodite merasa begitu tak berdaya dan ketakutan seperti saat ini, ketika ia dihadapkan pada kenyataan baru bahwa gejolak gairah yang selama ini ia banggakan di depan para dewa ternyata dapat menyulut sesuatu yang demikian mengerikan. Selain itu, Aphrodite sepertinya telah salah pula memahami Ares sebab saat ini, Ares tidak seperti prajurit bodoh yang menyerang membabi-buta seperti biasanya. Ia tampak jauh lebih licik dan memiliki sejuta pikiran tak terduga yang mungkin akan membahayakan Aphrodite nanti, sebagaimana Hera ibu Ares mengatur rencana untuk menterpurukkan kekasih-kekasih gelap suaminya dari singgasana Olympus. Bila tidak hati-hati, jati diri Aphrodite sebagai perwujudan cinta itu sendiri dapat larut dalam sifat haus darah Ares sebelum Aphrodite sempat menyadarinya—dan itu sangat membahayakan.

Namun, dalam keadaan tersebut, Aphrodite masih mampu berjuang mengalihkan kegelisahannya. Ia menyambar pakaiannya dari meja terdekat dan melangkah menuju pemandian tanpa menoleh sedikit pun pada Ares. Napasnya yang memburu berangsur teratur dan akhirnya, ia cukup tenang untuk mengusir sang dewa perang.

“Pergilah sebelum Hephaestus pulang, Ares. Dia sudah mengetahui keberadaanmu, asal kau tahu.”

“Dan, asal kau tahu juga, mengusirku seperti itu tidak akan menghilangkan bibit kebencian yang sudah kutanam jauh di dalammu,” ejek Ares, mengulang tiga kata terakhir Aphrodite dengan nada miring.

Pergi, aku bilang.”

Ares meninggalkan tempat, sayang sekali ucapannya membekas kuat dalam benak Aphrodite hingga sang dewi tidak merasa bersih sekalipun sudah membasuh diri berulang kali di pemandian.

Dunia manusia baik-baik saja. Mereka masih mencinta. Mereka masih mencinta. Besok aku akan turun ke Bumi dan merasakan betul-betul apa yang ada di sana, lalu aku akan membuktikan pada Ares bahwa kalimatnya hanya omong kosong.

Sampai Aphrodite memejam pada malam harinya untuk menikmati mimpi-mimpi ukiran Morpheus, Hephaestus belum kembali dari bengkel. Yang lebih parah, malam itu karya Morpheus seluruhnya dipekati darah dan kebencian. Presensi Hephaestus yang biasanya tak bermakna menjadi amat penting bagi Aphrodite setelah ia sadar kehangatan yang lembut dan sunyi dari tubuh Hephaestus sanggup mengusir dingin mimpi-mimpi buruknya.

bersambung.


.

.

hyaaa akhirnya born hater update! ada yang nungguin gak sih?

Advertisements

3 thoughts on “Born Hater (pt.2)

  1. aku aku! Aku nungguin ini kakli, yey akhirnya update /sebar konfeti/

    Ini keren kak keren, meskipun pas baca diriku masih kebayang sama Universe nya PJO sih😂😂 maafkan diriku

    Kakli ditunggu loh karya selanjutnya~ ^^

    Liked by 1 person

  2. Sebenernya aku agak ga paham sama percakapan ares-aphrodite, agak ngeblur
    Dan setelah dipikir-pikir, aphrodite sama ares memang terlalu beda ya, kalau mereka bareng ga akan baik untuk yunani
    Ahhh sayang cuma di series ini ada kemungkinan hephaestus-aphrodite *masih tetep ship hepthena ares-aphrodite kalo versi asli*
    TAPI YA AMPUN HEPHAESTUS BAIK BANGET SIH, KAN JADI MAKIN SUKA *mulai melupakan Dionysus*
    Ditunggu kelanjutannaa ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s