Glasshouse of Amorose (pt. 2)

episode 2: Years

poster credit: Vladimir Kush, Ocean Sprouts

Tahun-tahun yang bersimbah cahaya akan segera datang!

***

Fajar belum lagi menjelang, tetapi para warga Padang Ilalang tampak sibuk sekali. Tiap helai rumput, yang pendek maupun yang tinggi, bersemangat menyambut hari setelah membersihkan diri mereka dengan beberapa tetes embun. Beberapa dari mereka kemudian memasang kincir-kincir berbulu yang sudah diperindah dengan keceriaan di depan rumah masing-masing, menyemarakkan pemandangan padang. Spanduk selamat datang yang terbuat dari selembar keramahan dan cat ala kadarnya dipasang sepanjang jalan utama. Dapur-dapur mengepulkan asap harum, sementara ilalang-ilalang ramping mondar-mandir di dalamnya untuk meracik santapan terbaik berbahan dasar humus dan cahaya kunang-kunang muda.

Tamu istimewa akan datang ke Padang Ilalang!

Dan, sesuai dugaan, yang membuat tamu istimewa datang ke padang sederhana ini adalah sesuatu yang istimewa pula. Sesuatu itu sekarang tengah bersembunyi di belakang rumahnya, menggosok setiap bagian batang dan mahkota bunganya sekuat tenaga.

Tidak bisa bersih. Tidak bisa bersih!

Warna hitam bagai arang yang begitu lekat di tubuh membuatnya panik. Dari mana asalnya noda bandel ini, yang bahkan tidak bisa dihilangkan dengan embun awal pagi? Dengan warna arang itu menutup dirinya, ia tidak yakin lagi akan cukup bernilai di mata Matahari, tamu istimewa yang akan berkunjung ke padang hari ini. Matahari tidak akan sudi memindahkan setangkai mawar berlumur noda ke rumah kaca eksklusifnya—dan akhirnya, kebanggaan yang sebelumnya menyala di Padang Ilalang akan padam tak bersisa, berganti kecewa.

Tidak. Tidak. Bagaimana pun, aku harus menghilangkan noda ini sebelum Matahari tiba!

“Nak?”

Deg!

Sang mawar refleks berbalik ke belakang tatkala ibunya, ilalang tua cantik dengan bulu di kepala yang masih halus, memanggil. Nyonya ilalang menatap putranya, mawar hijau yang kini berubah hitam itu, dari ujung mahkota bunga hingga akar. Bibir sang mawar terkatup rapat, rigi-rigi daunnya mengerat di sekeliling butir embun yang digunakannya membersihkan diri.

“A-apa yang terjadi padamu?”

***

“Jadi, kau akan memindahkan setangkai ilalang ke Amorose?”

Pagi itu, Lu Han dan Kris dibangunkan Luna lebih dini karena Jessica menjemput mereka langsung di Amorose, meminta mereka bersiap-siap. Ditanya mengapa harus sudah rapi sepagi ini, Jessica bilang mereka bertiga akan pergi ke Padang Ilalang selagi Luna mempersiapkan pot untuk penghuni baru rumah kaca. Meski Jessica sudah menjelaskan seperti apa rupa teman baru mawar-mawarnya nanti, Lu Han yang butuh waktu lama untuk memulihkan kesadarannya salah tangkap, sehingga muncullah pertanyaan sarat kantuk ini—yang membuat Kris menyikutnya pelan.

“Bukan, Bodoh. Jessica akan membawa setangkai mawar hijau dari sana untuk menjadi teman serumah kita.”

Lu Han menatap kembarannya, mengerjap-ngerjap demi menghilangkan beban di kelopak mata. “Mengapa ada mawar yang tumbuh di satu padang penuh ilalang?”

“Itu aku juga belum tahu. Bisa jadi salah satu orang tuanya dulu mawar yang mencintai ilalang dan membuahkan dirinya. Bisa jadi juga dia tertiup angin waktu masih benih dan ‘menetas’ di padang tersebut,” jawab Jessica sembari tersenyum geli, tangannya mengisyaratkan Lu Han dan Kris agar meniti anak tangga menuju pintu kayu putih tepat di tengah langit. “Yang jelas, ia indah dan mempunyai benih kasih sayang sebesar kalian. Aku senang dia dibesarkan di lingkungan yang baik, walau sebenarnya dia itu mawar salah tempat.”

“Salah tempat?” Lu Han memutar bola matanya. “Tidak ada mawar yang lebih ‘salah tempat’ dibanding kami berdua. Untung saja akar tebal Kris bisa bertahan di bawah panasnya aspal.”

Kris meringis. “Setidaknya, itu sudah jadi masa lalu kita sekarang,” ujarnya sebelum berpaling kembali pada sang mentari. “Tapi Jessica, tadi kau bilang dia ‘dibesarkan’, berarti dia punya keluarga di padang itu, kan? Apa kau sudah memperoleh izin mereka untuk membawanya ke Amorose?”

“Begitulah. Jangankan orang tuanya, seluruh desa saja setuju aku membawanya. Kata mereka, merupakan sebuah kehormatan mengirim seorang warga mereka ke kota untuk menyuburkan cinta dan menyembuhkan Bumi.” Jessica memutar kenop pintu kayunya dan membuka pintu tersebut, menampakkan lanskap murni bebas dosa—sebuah tempat yang jelas berada jauh dari Amorose. Pintu Jessica membua tempat itu jadi terlihat dekat saja. Para mawar tinggal melangkah melewati pintu dan kesegaran udara Padang Ilalang seketika membersihkan paru-paru mereka.

“Omong-omong, Kris, mengapa kau menanyakan hal itu?” tanya Jessica.

“Yah, kupikir … setangkai mawar yang punya keluarga pasti akan lebih terikat dengan rumahnya, tetapi karena kau bilang kau sudah memperoleh izin keluarganya, berarti kau tidak asal cabut dan pindah tanam, kan? Apalagi daerah asalnya senyaman ini; pindah ke kota yang sesak adalah pengorbanan besar buatnya.”

Lu Han sependapat. Padang Ilalang memang jauh lebih menyenangkan untuk ditinggali ketimbang tepian jalan tempatnya tumbuh dulu bersama Kris. Seraya menuruni tangga langit menuju padang luas di bawah, Lu Han menduga-duga, seperti apa mawar hijau ini yang rela melepas kebahagiaannya demi membantu Jessica memekarkan cinta di muka Bumi. Lu Han masih bisa menerima andai mawar itu hanya meninggalkan rumahnya yang nyaman, tetapi meninggalkan keluarga? Ia sendiri merasa tidak akan mampu menikmati segala fasilitas di Amorose andai Kris tidak ada di sisinya. Memalukan, tetapi ia tak lagi enggan mengakui bahwa ia masih sangat bergantung pada mawar yang lebih besar agar bisa merawat cintanya dengan benar.

Setibanya di padang, Lu Han merasakan memberatnya udara secara mendadak, kontras dengan pemandangan berhias senyum yang para ilalang suguhkan kepadanya.

“Selamat datang, Nona Jessica dan para mawar dari kota!”

Gelisah. Senyum para ilalang tidak setulus kelihatannya. Inikah sebabnya udara jadi demikian berat?, batin Lu Han. Ia dan Kris—yang kebetulan sepikiran—bertukar pandang, mencoba menerka apa yang disembunyikan rumput-rumput panjang ini dari mereka, sementara Jessica beramah-tamah dengan Ilalang Tertinggi tanpa sedikit pun menyinggung hawa aneh yang menggelayuti padang. Tak lama kemudian, Ilalang Tertinggi mengajak tamu-tamu spesialnya ke rumah untuk ‘jamuan kecil’—Lu Han tak yakin itu ‘kecil’ lantaran kunjungan Matahari bukan sesuatu yang remeh—dan Jessica berbisik pada Kris yang paling dekat dengannya sebelum kembali menyamai langkah Ilalang Tertinggi.

“Jangan tunjukkan kecurigaanmu, walaupun kau merasa ada rahasia di balik semuanya’,” ulang Kris pada Lu Han, susunan katanya persis seperti Jessica. “Kita harus menjaga perasaan ilalang-ilalang ini yang tampaknya sedang bergejolak.”

“Gejolak?”

“Mereka sedang cemas, tetapi Jessica tidak ingin membeberkan mengapa. ‘Pasang saja wajah ramah dan kita lihat nanti’, katanya.”

Patuh, Lu Han melaksanakan apa yang Jessica minta melalui Kris. Ia duduk di ruang tamu Ilalang Tertinggi dengan canggung, menahan risih akibat pandangan-pandangan kagum yang tak pernah sebanyak ini ia dapat. Sepesat itukah cintanya dikembangkan di Amorose hingga dapat memengaruhi makhluk lain pula? Ataukah itu semata-mata akibat perawatan dirinya yang lebih baik sejak masuk rumah kaca? Di saat Lu Han mati-matian memasang wajah gembira demi melawan kegugupan, anehnya Kris tampak setenang Jessica dan melibatkan diri dengan baik dalam percakapan.

Aku sudah benar-benar berada di luar lingkaran mereka.

“Ah, maaf, apakah Anda bisa menunjukkan pada kami di mana kamar mandinya?”

Alangkah terkejutnya Lu Han begitu daunnya ditarik oleh Kris sampai ia berdiri dari kursi tamu. Manik Lu Han membola, menatap Kris seolah protes (‘Buat apa kau menarikku kalau hanya mau ke toilet? Pakai alasan yang lebih bagus, kek, kalau mau pergi sebentar!’), dan Jessica yang segelombang dengan Lu Han menaikkan sebelah alis.

“Haruskah kau membawa serta Lu Han setiap kali ke kamar mandi?”

Kris meringis.

“Insting sepasang kembar saling bertautan, kau tahu.”

Ilalang Tertinggi tertawa lagi, kali ini tawanya lebih jujur, dan memberitahu kedua mawar ke mana mereka harus berjalan. “Anda berjalan lurus saja dari lorong ini, lalu berbelok ke kiri, pintu paling ujung. Perlukah saya antarkan?”

“Kami sangat menghargai bantuan Anda, tetapi Tuan Ilalang Tertinggi tidak perlu repot-repot beranjak hanya untuk menunjukkan kami kamar mandi. Kami permisi.”

Ilalang Tertinggi mengangguk sama dalam dengan Kris yang baru saja mohon izin, lalu setelah Ilalang Tertinggi duduk kembali, Kris segera menarik Lu Han keluar ruang tamu. Benar saja, keduanya tidak benar-benar pergi ke kamar mandi. Mereka berhenti di bawah tangga terdekat dan Kris serta-merta mengeluarkan setitik embun di antara helaian mahkota bunganya.

“Mengapa kau makin lama makin gugup?”

Lu Han tercengang. “Kau tahu?”

Mendesis pelan, Kris lantas membalikkan tubuh Lu Han dan menyeka pangkal kelopak sang adik dengan embun. Dalam sekejap, tetes embun jernih dalam genggaman Kris berubah keruh. Lu Han jadi malu sendiri begitu menyadari ‘penyakitnya’ kambuh tanpa disadari.

“Noda kegugupanmu sudah merembes keluar sebanyak ini, hampir saja tadi kelihatan Ilalang Tertinggi. Ada apa?”

“Eh ….” Lu Han, yang sekarang berbalik menghadap Kris kembali, mengusap kelopaknya bingung. “Apa mungkin karena aku merasa sendirian? Habisnya tadi kau dan Jessica asyik sekali berbincang dengan Ilalang Tertinggi, sedangkan aku masih sulit melibatkan diri di antara kalian. Hahaha, tapi ini bukan masalah besar, kok.”

“Akan jadi masalah besar jika kau tidak bisa mengendalikan itu,” –Namun, Kris kontan meralat kalimatnya tatkala menyadari bahwa efek kalimatnya justru memperburuk keadaan; kegugupan Lu Han kembali keluar, nyaris menitiki lantai jika tidak Kris seka lagi—“Dengar, pokoknya kau tidak usah khawatir lagi. Aku akan memastikan kau terlibat dalam percakapan, jadi jangan gugup. Kau mengerti?”

Lu Han mengangguk, tetapi ia masih tampak ragu hingga Kris menyampirkan daunnya di samping kelopak adiknya. Lucu bagaimana tindakan kecil Kris sama efektifnya dengan tetes embun dalam menghapus kegugupan Lu Han, menukarnya dengan ketenangan. Sisa-sisa ikatan yang terbangun saat mereka masih kembar siam rupanya belum hilang dan Lu Han, biar semula terganggu, akhirnya maklum. Sebagai makhluk yang baru mandiri, adaptasinya harus dilakukan bertahap, bukan? Termasuk soal membuka diri, itu pun mesti dipelajari pelan-pelan.

“Whoa!”

Bruk!

Akibat melintasi lantai licin dengan kurang hati-hati, Lu Han terpeleset dan jatuh tertelungkup, mengejutkan Kris yang juga jadi kehilangan keseimbangan. Sang mawar putih, untungnya, lebih cepat mengendalikan diri hingga ia dapat menegakkan tubuh lebih dulu, kemudian membantu Lu Han berdiri seraya terkekeh geli. Mawar ungu pucat yang belum bangkit dari lantai cemberut.

“Ya begitu, menertawakan adik sendiri yang baru jatuh. Teruskan saja.”

“Mau bagaimana lagi, cara jatuhmu konyol, sih. Lagipula … hei, kamu gugup lagi?”

Kontan tatapan Lu Han beralih ke lantai di mana ia jatuh dan menemukan genangan yang cirinya mendekati kegugupan: hitam, encer, dan berbau khas, tetapi yang ini lebih lengket. Masuk akal bila Kris mengira itu kegugupannya, namun kali ini, bukan Lu Han biang keroknya. Rigi daun Lu Han terarah pada lubang sempit di tembok bagian bawah.

“Dari sini cairannya berasal.”

Mahkota bunga Kris mengerut heran. “Dinding? Ini lelehan emosi, mana mungkin berasal dari benda mati?” Sang mawar putih mengetuk-ngetuk jalinan bata di hadapannya. “Atau kau sebetulnya hidup juga, Tuan Dinding?”

“SIAPA ITU?!”

Wow! Lu Han dan Kris sampai terjajar mundur karena kagetnya. Dinding di depan mereka sungguhan bisa bicara?

Tidak. Ada seseorang yang terdengar panik di balik dinding, yang Kris yakini merupakan sumber dari kegugupan pekat penyebab terpelesetnya Lu Han. Tanpa basa-basi, Kris mengambil jalan memutar menuju ke belakang dinding bersama Lu Han mengekori, tetapi si mawar ungu pucat tidak mengantisipasi kembarannya yang tahu-tahu berhenti, sehingga tubuhnya bertumbukan dengan Kris agak keras. Ia mengaduh sebelum berjinjit agar dapat melihat apa yang membuat Kris menyetop langkah …

… dan Lu Han membelalak.

“Sayamohonmawar-mawarNonaJessicayangbaikjanganlaporkansayanodainiakanhilangdalamsekejapsayajanji!”

Dalam satu helaan napas, mawar hijau yang tampak seperti baru disiram aspal basah itu meminta pada Lu Han dan Kris agar merahasiakan apa yang mereka lihat dari sang mentari. Ketika menyampaikan permohonannya, dari kepala si mawar hijau menyembur lagi cairan hitam kental, bau kecemasannya lebih tajam. Jelas sudah, pasti mawar ini yang membuat lantai licin … tetapi bagaimana bisa kegugupannya segelap, selengket, dan sebanyak itu, bahkan sampai bermuncratan ke mana-mana?

Lu Han mendadak menyadari sesuatu.

“Kau … calon penghuni baru Amorose?”

Si mawar hijau mengangguk cepat, daun-daunnya sibuk membasuhkan embun ke tubuh, berharap noda kegugupannya bisa segera hilang.

“Saya Chen, satu-satunya mawar yang tumbuh di Padang Ilalang.” –Bibir Lu Han membulat; ternyata mawar yang Jessica ceritakan itu betulan dapat tumbuh di tempat tak semestinya— “Kedatangan Nona Jessica ke tempat kami merupakan sebuah kehormatan besar, karenanya ketika beliau menunjuk saya untuk membantunya membudidayakan cinta, seluruh padang menaruh harapan besar pada saya. Mungkin itu yang membuat saya gugup setengah mati seperti sekarang ini, tetapi saya akan lekas membersihkan ini. Tolong, jangan sampai Nona Jessica membatalkan pengiriman saya ke Amorose ….”

“Tidak masalah, sih, tetapi …” Kris membantu Chen mengambil beberapa tetes embun lagi, “… kegugupanmu sedikit berbeda, ya? Sepertinya tidak larut dalam air.”

“Itulah, saya juga tidak mengerti,” ujar Chen beriring desahan putus asa, masih terus tertunduk malu sambil mengusap batangnya. “Andai ini kegugupan biasa, harusnya bisa dibasuh dengan rasa percaya diri. Saya akui saya memang sempat minder menjelang bertemu Anda-Anda semua, tetapi Ilalang Tertinggi memotivasi saya dan saya kira itu cukup. Bukannya hilang, kegugupan saya malah makin menjadi. Saya sudah mencoba berbagai macam pembersih, dari larutan sabun hingga kata-kata penyemangat dari beberapa ilalang yang mengunjungi saya pagi ini, nihil hasilnya.”

‘Dari larutan sabun hingga kata-kata penyemangat’, ya. Lu Han mengernyit bingung; sejauh pengetahuannya, bahan-bahan yang Chen sebut lebih mampu membersihkan noda ketimbang embun murni.

“Mengapa tidak mengaduk semua jenis pembersih itu jadi satu dan mandi dengannya? Embun tidak benar-benar punya kandungan pembersih, kan?”

“Ibu saya yang memberi saran itu. Menurut beliau, tidak ada yang lebih poten dari air jernih dalam membilas kotoran, jadi saya laksanakanlah nasihatnya. Biasanya, apa yang beliau katakan terbukti benar.”

Sekelebat bau yang baru menyambangi penciuman Lu Han, asalnya masih dari noda di tubuh Chen. Buru-buru ia menghirup napas dalam, berharap bau itu mampir kembali, dan tidak ada yang terjadi.

“Buat apa kau menyedot ingus, Han? Teman kita butuh bantuan membersihkan diri, nih!”

Baik Lu Han dan Chen sama-sama terkejut mendengar celetukan Kris. Pasti Lu Han menyedot udara terlalu dalam hingga menimbulkan ‘sroot’ yang aneh, sementara Chen seketika mundur, merasa terancam oleh bagian ‘bantuan membersihkan diri’. Dia cukup dewasa untuk mandi sendiri, selain itu … dipegang oleh orang asing tidak bakal terasa nyaman.

“Aku tidak menyedot ingus—hei! Jangan lempar tetes embun sembara—Kris!”

Mahkota bunga Lu Han memerah sampai puncaknya menyaksikan saudaranya mengejar Chen gila-gilaan sambil menggenggam setetes embun, bernafsu sekali untuk ‘mencuci’ Chen. Adegan itu kan menimbulkan pemikiran yang tidak-tidak.

“Kau membasuhnya kurang kuat, aku jadi tidak sabar! Sini, kugosok batangmu!”

“M-maaf, saya tidak tahu kalau di kota, tetapi k-kami tidak saling menggosok badan di Padang Ilalang!”

“Jangan lari, nanti ketahuan Jessica!”

“Tapi tolong berhentilah mengejar saya!”

“APA YANG KALIAN LAKUKAN?! HENTIKAN! KRIS, KAU KEDENGARAN MESUM!”

Crat! Sebutir embun pecah di wajah Lu Han, Kris yang melempar.

“PIKIRANMU ITU YANG JOROK!”

Serangan tiba-tiba Kris membuat seluruh tubuh Lu Han basah kuyup. Mawar pucat itu gelagapan kena air, jengkel sekaligus geli, kemudian balik melemparkan embun ke arah kembarannya, tetapi Kris tidak menggubris dan terus mengejar Chen yang makin ketakutan.

“Tolong!”

“Dapat!” –Crash! Giliran Kris yang basah akibat ulah sang adik— “Han, nanti saja balas dendamnya, bantu aku menahannya dulu, kek!”

“Eh?” Nada serius Kris refleks menjadikan kata-katanya sebagai komando untuk Lu Han, sehingga embun dalam genggaman mawar yang lebih pendek sementara tersisihkan.

“Pegangi akarnya!”

“Tidak! Tidak! Tolong lepaskan saya!”

“B-Begini, Kris?”

“Ya, begitu, pegangi. Aku akan usap batang dan daunnya!”

“Tidak, ti-TIDAHAHAHAK, SAYA MOHON BERHENTAHAHAHAHA!”

Kalimat Chen melebur dalam gelak lantaran Kris berusaha menghapus noda kegugupannya sekuat tenaga. Bukannya bersih, Chen malah kegelian luar biasa sampai ingin pingsan. Air matanya keluar dan batangnya terpuntir di beberapa bagian saking gelinya, tetapi Kris belum berhenti menggosok dan Lu Han belum mau melepaskannya. Parah, noda ini bandel sekali!

“Apa tidak apa-apa kita beginikan dia, Kris? Nanti kedengaran Jessica dan Ilalang Tertinggi di dalam, mereka akan curiga,” cemas Lu Han.

Kris mengedikkan bahu. “Yang jelas aku sekarang tidak tahan dengan penampilan kotornya. Kita lakukan secepat mungkin, lalu ….”

“N-NONA JESSICA!!!”

Glek! Sepasang kembar seketika terkesiap begitu seruan Chen tertangkap rungu mereka.

Terlambat.

***

“Uuuh, mesra betul. Untung Ilalang Tertinggi sudah kuminta tidak ke sini; dia bisa salah paham. Sangat salah paham.”

***

Chen, masih dengan seluruh tubuh bernoda, didudukkan di ruang tengah rumah Ilalang Tertinggi. Lu Han dan Kris duduk di samping kanannya, Jessica di hadapannya, dan Ilalang Tertinggi di sebelah kirinya. Ibu Chen yang baru saja datang duduk bersebelahan dengan Ilalang Tertinggi—dan dua ilalang tua itu terus menunduk, merasa bersalah. Sang pemimpin menjelaskan bahwa ia beserta seluruh penduduk padang tidak bermaksud menipu Jessica dengan menyembunyikan keadaan Chen yang seperti ini. Mereka hanya khawatir Jessica tidak jadi membawa Chen keluar, yang juga berarti Padang Ilalang akan kehilangan kebanggaan. Karena itu, semua warga padang bermaksud memanjakan Jessica dan dua mawarnya terlebih dahulu sembari diam-diam mencari cara untuk membersihkan Chen.

“Ya ampun, kalian tidak perlu secemas itu!” Jessica tertawa ringan. “Kalian tahu, dua mawar yang menurut kalian berkilauan ini dulu juga kumal, tetapi aku tetap merawat mereka di Amorose karena bibit cinta mereka bagus, sama seperti punya Chen. Tidak ada alasan bagiku untuk menolak Chen ke Amorose.”

Pernyataan Jessica melegakan Chen, ibunya, dan Ilalang Tertinggi, sedangkan Lu Han dan Kris spontan menatap galak sang mentari.

Harus ya kau bilang kita kumal?

“Tapi … tentu saja, kalau masih seperti ini, aku belum bisa membawanya.” Jessica mencolek sedikit noda Chen, menggesekkannya di antara jemari, lantas membauinya, mencoba mengenali sifat fisik noda tersebut. “Ah, aku tahu apa ini. Tuan Ilalang Tertinggi dan ibunya Chen, tolong tinggal sejenak di sini. Ada yang harus saya bicarakan terkait pembersihan Chen. Dan kau …”

Jessica mengalihkan pandang pada Chen. Yang dipandang langsung menegakkan badan.

“Ya, Nona Jessica?”

Mengulas senyum bersahabat, Jessica menunjuk sepasang mawar kembarnya menggunakan ibu jari.

“Main sama mereka dulu, oke? Aku akan memanggilmu jika persiapan untuk memandikanmu sudah beres.”

***

Sebagai bunga-bunga yang mekar di atas jalanan aspal, baik Lu Han dan Kris tidak pernah merasakan alam yang masih murni. Perjalanan berkeliling Padang Ilalang—tentunya menggunakan jalur-jalur tersembunyi agar Chen dapat menyembunyikan wajahnya dari penghuni lain padang—menjadi sebuah hiburan menenangkan. Bisa Lu Han rasakan pori-pori daunnya membuka dan menutup penuh semangat untuk menyerap oksigen bersih; ia yakin Kris demikian pula. Bau noda Chen tidak terlalu mengusik mereka sebab kesegaran atmosfer padang ini lebih mendominasi.

“Nah, kita sampai di Air Terjun Sejarah.” Chen mulai menjelaskan destinasi terakhir mereka di Padang Ilalang. “Jika tidak ingin ingatan Anda tentang sesuatu yang berharga lenyap, Anda bisa menitipkan ingatan itu di sini. Kalau dimasukkan ke air, ingatan Anda akan berubah menjadi satu dari ikan-ikan yang hidup abadi di sini.”

“Sungguh?” Mata Lu Han berbinar. “Kedengarannya keren. Aku mau coba, ah! Bagaimana caranya?”

“Pertama, ambil ingatan yang paling Anda suka,” ucap Chen sembari membuka helai demi helai mahkota bunganya, kemudian menarik segumpal ingatan lunak dari sana. “Ini ingatan mengenai perjalanan Anda berdua bersama Nona Jessica kemari. Jangan takut Anda akan melupakan ini; pengambilan ingatan bukan berarti menghapusnya, kok.”

“Hei, kebetulan, ingatanku juga tentang perjalanan kecil ini. Kris …”

“Aku tidak ikutan main. Seperti anak kecil saja—OI!”

Tanpa izin, Lu Han menyibak mahkota bunga Kris dan menggenggam ingatannya hari ini. Ingatan yang mirip lilin mainan anak-anak itu Lu Han tambahkan ke ingatannya sendiri, membuatnya tambah besar.

“Tidak usah sok cool, deh, aku tahu kau mau juga.” Lu Han mengangkat bola ingatannya dan Kris di hadapan Chen. “Terus bagaimana?”

“Masukkanlah ke air. Bisa dilemparkan, bisa juga dimasukkan perlahan-lahan, tetapi saya lebih suka melemparkannya karena ia akan berenang lebih cepat setelah jadi ikan. Waktu kecil, saya dan teman-teman ilalang di sini sering mengadu kecepatan ikan kenangan kami. Bagaimana, mau berlomba dengan saya?”

“Boleh, siapa takut? Kris, beri aba-aba untukku dan Chen!”

Kris mendesis keras, tetapi Lu Han menyalak.

“Cepat!”

“Dasar bocah,” dengus Kris. “Baiklah, satu, dua, lempar ….”

Plung, plung! Dua kenangan dilempar bersamaan dan keduanya langsung berubah wujud menjadi ikan-ikan bercorak unik. Kenangan Chen berwarna hijau dengan sirip bertotol-totol hitam, sedangkan gabungan kenangan Lu Han dan Kris tampak unik dengan separuh tubuh atasnya berwarna merah jambu dan yang bawah berwarna biru langit. Lu Han membulatkan bibir ketika ikan merah-birunya melesat gesit hingga ikan totol-totol Chen kesusahan menyusul.

“Wow, wow, ke mana mereka pergi?”

“Kita kejar saja untuk mengetahuinya!”

Tanpa buang waktu, Chen mengambil langkah seribu, diikuti Lu Han, manik mereka lekat pada ikan masing-masing. Sayang sekali, lama-kelamaan mereka kesusahan mengikuti ikan-ikan ini karena dalam air terjun besar itu, banyak juga ikan lain dengan beragam motif dan warna. Berbaurnya ribuan warna serta bentuk membuat mereka pusing sendiri, sehingga perlombaan ini ujungnya tidak memiliki pemenang yang jelas.

“Memang sering begini, tetapi setidaknya karena melombakan ikan kami, saya dan teman-teman punya alasan untuk berlari,” tawa Chen. “Saya harap Anda bisa memahami kesenangannya.”

“Tentu saja! Aku tidak pernah tahu ada tempat di mana kenangan bisa berubah jadi ikan! Oh ya, dan aku juga suka berlari,” jawab Lu Han kegirangan. “Omong-omong, aku penasaran kenangan seperti apa saja yang disimpan di sini.”

“Jika Anda penasaran, Anda bisa menangkap salah satu ikan dan mengangkatnya dari air. Dia akan berubah kembali menjadi kenangan yang bisa dibaca.”

“Ikan-ikan itu licin.” Kris yang dari tadi bungkam akhirnya buka suara. Chen mengangkat sudut-sudut bibirnya tinggi.

“Justru di situlah tantangannya.”

“Baiklah, aku akan coba menangkap satu!” Lu Han menyiapkan daunnya supaya lebih kesat, lalu melangkah ke tepi sungai di bawah air terjun, bersiap menangkap ikan yang berenang di tepi. Chen ikut berlutut, walau tidak ikut menangkap, dan ia tergelak tatkala satu ikan berwarna hitam polos tanpa motif meluncur dari daun Lu Han.

“Aish, gagal! Coba lagi!”

Kali ini, yang lolos adalah ikan abu-abu dengan garis merah tipis di punggungnya. Kemudian ikan berkepala biru tua berbadan biru-hijau. Kemudian ikan yang separuh tubuh kanannya kuning dan separuh sisanya berkelir oranye. Semakin sering Lu Han gagal, semakin keras pula Chen tertawa.

“Sialan, tidak usah tertawa! Aku yakin kau juga tidak bisa menangkap ini!”

“Sebagai informasi, saat kecil saya dikenal sebagai ‘Nelayan Kenangan Ulung’.” Chen menggosok-gosok kedua belah daunnya. “Menangkap  begini mudah saja buat saya.”

Ucapan Chen terbukti bukan omong kosong. Ia menggunakan sehelai daunnya saja—sehelai!—dan dalam kurang dari tiga detik, ia telah mendapatkan seekor ikan, berwarna putih dengan bercak hijau muda luas di punggung.

“Kita lihat apa yang kita punya di sini. Untuk membuat kenangannya terbaca, kita harus melemparnya cepat ke udara agar bisa langsung terputar. Kalau diangkat pelan-pelan, dia akan berwujud padat lunak seperti milik kita tadi.”

Chen dengan sigap melayangkan si ikan ke udara, membuat air dari sungai terpercik sebagian ke wajahnya dan Chen, kemudian ikan itu menghilang ke dalam angin. Sebagai gantinya, potongan-potongan kenangan mengambang di hadapan Lu Han, Chen, dan Kris.

Sebentar.

“Ini … kenangan siapa? Bukankah kuncup mawar hijau itu kau, Chen?”

Yang ditanya tak dapat menjawab, lidahnya mendadak kelu. Ia tak pernah membaca kenangan ini, tetapi entah bagaimana ia tahu milik siapa kenangan itu. Rumah yang familier, kehangatan yang lembut, dan dirinya versi mini dalam pot bunga kecil ….

Itu ingatan ibu Chen.

Pada ingatan itu, terdapat potongan-potongan mulai dari tertiupnya benih mawar ke Padang Ilalang hingga momen Chen yang berhasil memekarkan kuncupnya untuk pertama kali. Cinta dalam kenangan itu tumpah-ruah, yang mana cukup masuk akal sebab Chen merupakan anak tunggal ibunya meskipun bukan anak kandung, sehingga cinta sang ibu tidak terbagi-bagi. Setiap doa dan canda, tawa dan amarah, belaian sayang dan pukulan peringatan yang berhati-hati, semuanya bermakna besar bagi Chen hingga Chen membisu. Noda dari tubuhnya meleleh lagi keluar, aromanya kini berbeda. Wangi, tetapi lebih menyengat dari sebelumnya.

Kris menyikut Lu Han perlahan.

“Sekarang kita tahu itu noda apa.”

Lu Han mengangguk setuju. Cairan pekat itu meluber membentuk genangan di sekitar akar Chen, baunya kini cukup kuat untuk diterjemahkan sang mawar.

Setiap orang yang jatuh cinta akan ketakutan meninggalkan apa yang dia cinta, begitu pula Chen. Padang Ilalang, keluarganya, udara bersih, dan atmosfer tanpa dosa merupakan tempat di mana ia menemukan bibit kasihnya, maka tak heran jika ia merasa berat meninggalkan tempat itu, sebaik apa pun tujuan kepergiannya. Perasaan yang menguasainya setelah didaulat menjadi seorang pembudidaya cinta oleh Jessica mungkin benar kegugupan, tetapi konsekuensi yang menyertai status barunya setelah itu adalah rasa cemas, berlatar belakang rindu. Kekeluargaan di Padang Ilalang sangat kental dan dibesarkan di lingkungan seperti itu membuat kebanyakan penghuni padang takut beranjak. Chen adalah yang pertama keluar dari padang; tak ada yang mengajarinya cara menanggulangi serangan rasa kangen yang sudah tiba bahkan sebelum ia pergi.

Kenangan ibu Chen berenang lagi mengikuti arus, menjauhi tiga tangkai mawar di tepi sungai.

“Jessica tidak pernah memaksakan kehendak.” Kris menghampiri Chen yang masih memunggunginya. “Andai seberat itu bagimu pergi, mengapa kau tidak menolak? Aku tahu, Ilalang Tertinggi dan ibumu menganggap tawaran Jessica itu sangat hebat, tetapi bibit kasihmu tidak akan berguna jika kau tidak tulus.”

Chen menggeleng lambat, gamang. “Saya akan mengecewakan banyak orang bila menolak Nona Jessica, Tuan Kris.”

“Apakah penduduk Padang Ilalang sehaus itu terhadap pengakuan orang kota?” Lu Han mengernyitkan kening.

“Tidak, tentu tidak,” tukas Chen. “Kehidupan yang sederhana sudah cukup bagi kami semua, tetapi … tugas mulia ini tidak bisa diabaikan begitu saja oleh para ilalang. Bukan berarti mereka mewajibkan saya mengabdi di Amorose. Saya hanya ingin membahagiakan mereka dengan cara yang saya sanggup mengerjakannya.”

Susah kalau sudah begini. Benih yang tertanam dalam kalbu Chen berbuah dua, di satu sisi menimbulkan keengganan untuk berangkat ke kota, di sisi lain memaksanya angkat kaki untuk melaksanakan tugas besar yang membanggakan padang. Lu Han dan Kris sama-sama tidak bisa berpendapat lagi, hanya mampu bersimpati. Daun Lu Han mendarat di bahu Chen, bergerak sedikit-sedikit untuk membersihkan noda di sana, dan ketiganya terkunci dalam keheningan hingga senja turun.

***

“Apa ini, Nona Jessica?”

Angin menerbangkan kalimat Jessica pada Chen, Lu Han, dan Kris, meminta ketiga mawar untuk menyusulnya ke sebuah lapangan dekat kediaman Ilalang Tertinggi. Paham bahwa saat pembersihan telah datang, mereka tergesa-gesa menuju lapangan yang dimaksud demi mendapati kolam besar di tengah-tengah lapangan, sebelumnya tidak pernah ada. Jessica, mengenakan tudung malam yang menyembunyikan sinarnya, berdiri di pinggir kolam itu bersama para penduduk padang, senyumnya menenangkan seperti biasa.

“Ini bukan kolam biasa. Kami membuatnya khusus untukmu. Tadinya, aku berencana menampung cairan pembersihmu dalam bak mandi, tetapi ternyata tidak cukup. Ya sudah, kami galikan saja kolam untuk menampungnya.”

“Memangnya kau pakai pembersih apa, Jessica?” Lu Han spontan bertanya, terheran-heran.

Sebagai jawaban, Jessica meletakan telunjuk di depan bibir. “Chen akan memberi tahu kalian setelah ia merendam seluruh tubuhnya di dalam sini. Nah, Chen, selamat mandi.”

Maju dengan ragu-ragu, Chen akhirnya masuk ke air, ujung akar sampai mahkota bunganya terendam penuh. Warna hitam menguar, terangkat dengan amat mudah dari tubuh Chen, amat mengejutkan. Airnya pasti bukan sembarang air. Zat apa yang Jessica campurkan di kolam hingga tubuh Chen menjadi bersih kembali?

Kerumunan orang di tepi kolam tidak bersuara sama sekali. Lu Han merasa itu agak ganjil, tetapi kemudian, ia mendengar satu suara. Diawali dengan sebuah ‘semoga’ yang diikuti puluhan—tidak, ratusan? ribuan?—‘semoga’ lain pernyataan harapan baik.

Untuk Chen.

“Kau dengar itu, Kris?”

“Aku dengar.” Anak mata Kris turun, pandangannya lurus ke permukaan kolam yang mulai keruh. “Asalnya dari sana.” Senyumnya terkembang puas. “Begitu rupanya. Jessica memang cerdik.”

“Hah?”

“Dengarkan baik-baik suara-suara itu, kau akan mengerti maksudku. Berlututlah dekat kolam kalau perlu.”

Patuh, Lu Han berjongkok dekat kolam, menyimak saksama berbagai ‘semoga’ yang terdengar dari kolam itu. ‘Semoga Chen berhasil menumbuhkan cinta yang akan menyelamatkan Bumi’, ‘semoga Chen dibalas Tuhan dengan kebahagiaan besar’, ‘semoga Chen tidak ternodai oleh dosa di kota’, dan lain sebagainya memasuki telinga Lu Han bertubi-tubi. Iseng, Lu Han menciduk air kolam dan mendekatkannya ke telinga, memastikan dugaannya.

Ah.

Ini adalah kolam doa, dikumpulkan dari seluruh penjuru desa, masuk akal jika satu bak tak cukup menampungnya.

Selama ini, Chen tahu para penduduk padang meletakkan harapan besar di pundaknya, tetapi ia tidak pernah mendengar betapa tulus dan antusias tiap kata yang menyusun doa-doa itu jika ia tidak benar-benar meresapi maknanya, larut di dalamnya. Sebagian besar penduduk padang mungkin sudah muak dengan tangis Bumi yang diterbangkan angin, tetapi tidak ada yang memiliki benih cinta semurni milik Chen, sehingga Jessica tidak memilih mereka. Oleh karena itu, mereka meletakkan harapan yang besar, motivasi yang kuat di bahu Chen agar mau mewakili mereka menyucikan Bumi yang bobrok ini. Amorose adalah sebuah kesempatan langka yang tidak boleh disia-siakan—dan setelah jiwanya terbasuh dari keterikatan berlebihan pada keluarganya, api semangat menyala-nyala dalam diri Chen. Sang mawar hijau muncul ke permukaan dengan raut lega menghias wajah.

Tanpa noda, Chen berkali-kali lipat lebih mempesona.

“Aku akan pergi.”

Ibu Chen, si ilalang cantik berbulu halus, maju selangkah dari kerumunan dan merangkul putra angkatnya. Bulir-bulir air mata sang ilalang turun tak henti-henti, suaranya sengau.

“Tuhan memberkatimu, Nak. Kau boleh rindu kami, kau boleh rindu rumahmu, tetapi utamakanlah pengabdianmu di rumah kaca Nona Jessica. Belajarlah banyak-banyak pada Tuan Lu Han dan Tuan Kris, bagaimana cara memekarkan cintamu. Jangan lupakan pelajaran-pelajaran kecil yang pernah kaudapat di sini, ya? Siapa tahu berguna untukmu.”

“Baik, Bu.”

Bahkan Lu Han pun terpesona dengan cara Chen meredam tangis ibunya. Setitik ketegaran yang tampak insignifikan ternyata sanggup membuat perbedaan begitu besar, apalagi ketika satu persatu, Ilalang Tertinggi dan teman-teman terdekat Chen menyampaikan salam perpisahan. Banyak dari mereka yang masih tidak rela Chen pergi, tetapi Chen lebih mampu menghadapi perasaannya sekarang, sehingga alih-alih mengeluh balik, ia menuturkan kata-kata yang meneduhkan atau memeluk hangat mereka.

“Iri? Aku sih iya.”

Lu Han terkekeh menanggapi ujaran kakaknya. “Pasti enak punya keluarga dan sahabat sebanyak itu, benar, Kris? Apalah kita yang tumbuh di pinggir jalan dan diabaikan para pejalan kaki.”

Tahu-tahu, sepasang lengan ramping melingkari kelopak Lu Han dan Kris, menarik keduanya ke belakang.

“Kalian kan punya aku?” Jessica berucap riang. “Jarang-jarang, lho, ada orang yang bisa seakrab ini dengan Matahari!”

Astaga, Lu Han dan Kris hampir lupa soal Jessica dan cintanya yang cerah.

“Baiklah, kami tidak jadi iri pada Chen, tetapi bisa tidak … lepaskan lenganmu? Aku tercekik, Jess.”

Sang mentari cemberut gara-gara Kris dan Lu Han menertawakannya.

“Aku baru mau bilang.”

***

Usai semalaman menghabiskan waktu dengan sang ibu, Chen berangkat pagi-pagi buta, puluhan orang terdekatnya mengantarkannya ke depan tangga langit. Jessica, Lu Han, dan Kris menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas sambutan baik Padang Ilalang. Keempatnya lantas berbalik, menjejakkan langkah bergantian meniti tangga langit menuju pintu ke rumah kaca.

“Mulai hari ini, Chen, jangan panggil aku dan Lu Han dengan sebutan ‘Tuan’. Kita resmi menjadi rekan kerja, bukan tuan rumah dan tamu, jadi hilangkan sebutan itu biar tidak canggung.”

Sambil menapaki tangga langit, Kris mengajukan syarat pertama untuk Chen sebagai ‘teman sekantornya’ yang baru.

“Baik, Tu—eh, maksud saya, Kris.” Chen meringis menerima tatapan tajam sang mawar putih. “Masih terasa aneh di mulut saya, maaf.”

“Jangan pakai ‘saya’, dong. Kedengaran kelewat formal,” tambah Lu Han.

“Um, saya—aku minta maaf.”

“Jangan kebanyakan minta maaf juga. Kami bukannya tiran yang hobi memenggal kepala orang gara-gara orang itu keseleo lidah.” Kris menimpali.

“Eh ….”

“Hentikan perploncoan ini sekarang juga, kalian berdua.” Jessica tergelak. “Maafkan mereka, Chen, mereka memang suka usil. Aku akan meluruskan perilaku mereka nanti di rumah kaca.”

“Uh, takut.” Lu Han dan Kris kompak mengejek, memancing perdebatan kecil dengan sang mentari yang lucunya malah membuat Chen lebih santai. Sosok-sosok yang semula ia anggap istimewa tidak terasa terlalu jauh dari jangkauannya kini; beradaptasi dengan mereka ia harapkan juga akan lebih mudah.

Kris yang memimpin jalan telah sampai di hadapan pintu langit. Daunnya melingkari kenop dan dengan wajah sok dramatis bertanya pada Chen.

“Siap menyambut masa depanmu?”

Chen tersenyum.

Tahun-tahun yang bersimbah cahaya akan segera datang!

“Pasti siap!” Lu Han mendorong Chen maju. “Amorose, ini dia mawar barumu!” []


.

.

.

unbeta’d and it’s very long, ya maafkan saya T.T inilah the power of kepepet.

otw kerja project lain, well, deadline2 real life dan blogging membuatku sedikit kewalahan. terima kasih jika sudah membaca sampai akhir, syukur2 kasih review, kalo gak ya… kasih lah. *maksa amat* 

Advertisements

11 thoughts on “Glasshouse of Amorose (pt. 2)

  1. Kakli~ wah diriku senang ada fic baru~ entah kenapa dari awal baca ini aku udah senyum-senyum sendiri, habisnya kan penasaran mawar barunya siapa.. dan ternyata chenchen! Yey /lempar confeti/

    Terus entah kenapa pas bagian “mawar yang mencintai ilalang” kedengeran kayak judul buku Tere Liye ya 😂 aku ngakak pas baca bagian itu. Dan awalnya kukira Jessica gak seramah itu .-. tapi ternyata diriku salah, mwehehe

    Kakli diksinya keren ya .-. Kadang diriku merasa kecil hati 😓 hehe
    Keep writing ya kakli, aku menunggu fic kakak selanjutnya 😗

    Like

    1. jangan kecil hati hauraaaa this is actualy so miskin vocab dan diulang2 kalo kamu baca lagi T.T anyway, makasih sdh datang lagi dan menikmati ffku ^^

      Like

  2. Poh ini panjang sekali dan fantasinya berasa kayak baca petualangan alice kak li :3 apalagi pas jessica bukain pintu ke padang terus pas balik ke langit naik tangga dan pas trio mawar denger suara jess lewat perantara angin padahal jauh dan kolam doa dan ikan kenangan dan semuanya wow kok bisa aja kepikiran 😂
    Setelah kedatangan Chen kupenasaran petualangan apa lagi yang bakal ada di amorose wkwkwk swemangat kak li!!!
    (Ini belum ending kan ya?)

    Liked by 1 person

  3. Lianaaaaaa, aaaaa aku suka surealisme yang kamu banguuun ❤

    aku emang g baca part 1, tapi pas baca paragraf pertama fic ini semacam, wah, aku kudu baca ini! dan ini baguuusss, entah kenapa aku jadi inget yg surealisme mawar yoojung sungmin jaman dulu /_\

    Tetap berkarya yaaa

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s