Rough (pt.2)

LDS, 2017

Rough #2: Limitless

1

NCT Jaehyun (Jung Yoonoh) x GFriend Yuju (Choi Yuna)

School Life, Friendship, slight!Fluff // Chaptered // Teen and Up

.

Empat hari pertama di kelas tiga berjalan cukup lancar. Kali ini pun, Yoonoh berhasil memperbanyak teman berkat sikap baiknya, meleburkan batas tak kasatmata—yaitu sebuah label ‘murid istimewa’—yang selama ini membentengi orang-orang dari mengenalnya lebih jauh. Memang ada segelintir siswa yang sejauh ini belum berhasil ia akrabi, tetapi ironis, Yuna—sekretaris kelas sekaligus rekan kerjanya—justru merupakan salah satu di antara mereka.

Padahal Yoonoh amat bersyukur dirinya ditunjuk menjadi ketua kelas dan Yuna menjadi sekretarisnya. Betul bahwa tanggung jawab pemimpin kelas tidak bisa dianggap remeh, tetapi fokus Yoonoh sementara teralih pada gadis tinggi itu, menganggap jabatan ketua kelas bisa memberinya peluang mendekati Yuna. Kenyataan berkata lain. Si gadis sangat canggung bila berada di sisinya, terlalu ragu-ragu bahkan untuk meminta tanda tangannya di lembar absensi, sehingga kadang-kadang membuat Yoonoh melewatkan pengecekan dokumen harian kelas kalau pikirannya sedang penuh oleh soal-soal latihan ujian. Materi apa yang sudah diajarkan hari itu oleh guru, siapa saja siswa yang tidak hadir, daftar tanggal jatuh tempo tugas, laporan inventaris kelas … semuanya penting diperiksa untuk keberlangsungan proses belajar-mengajar yang baik, bukan? Dan wajar bagi Yoonoh, sebagai pihak yang tidak bersentuhan langsung dengan dokumen harian, untuk melupakan satu-dua hal dari bagian dokumen itu.

Yuna, mestinya, tidak pernah lupa.

Seluruh rangkaian jadwal berakhir pukul lima sore dan kebanyakan penghuni kelas langsung meninggalkan ruangan, bermaksud memulihkan tenaga untuk menjejali kepala mereka dengan pelajaran lagi besok. Hari pelajar SMA penjelang ujian masuk universitas tidak pernah meringan, bukan? Dalam keadaan seperti itu, siapa saja jadi rawan menghilangkan hal penting dari ingatan, begitu pula Yoonoh. Ia hampir saja menyandang tas dan melangkah pulang andai sosok Yuna yang masih membolak-balik isi map hitam kelas tidak tertangkap netranya.

Yuna tampak bingung dan subyek yang membingungkannya, sepertinya, adalah Yoonoh, tampak dari caranya mencuri pandang pada Yoonoh kemudian. Gadis itu kaget ketika Yoonoh membalas tatapnya—dan ia meringis canggung. Lagi. Yoonoh menyunggingkan senyum tipis sebagai tanggapan, lalu menghampiri sang sekretaris.

“Aku belum tanda tangan lembar absensi, ya?”

“Iya.”

Seakan sudah dipersiapkan sebelumnya, Yuna membukakan lembar absensi dan menekankan ujung bolpoin untuk Yoonoh agar sang ketua kelas bisa langsung menandatangani lembar absensi. Manisnya ekspresi lega gadis itu saat Yoonoh akhirnya membubuhkan tanda tangan sungguh bernilai. Yuna pasti khawatir Yoonoh akan pulang tanpa menandatangani lembar absen untuk kedua kalinya, padahal Yuna seprinsip dengan Yoonoh: menunda tugas berarti menambah pikiran.

“Yang kemarin lusa juga belum.”

Kekeh kecil Yoonoh lolos tatkala menarikan ujung bolpoin Yuna di sudut bawah lembar absensi. “Aku ini agak pelupa, jadi beribu maaf kalau merepotkanmu,” ujarnya. “Kalau ingin meminta tanda tanganku sebelum pulang, bilang saja langsung.”

“Iya, maafkan aku ….”

“Tidak, tidak, untuk apa minta maaf? Kan aku yang salah.” Menggunakan telunjuknya, Yoonoh menelusuri lembar demi lembar isi map hitam. “Apa surat-surat izin sudah masuk semua?”

“Sudah.”

“Ada tiga jadwal kelas yang harus diganti karena rapat guru kemarin sore. Fisika, biologi, dan … ini dia, Bahasa Korea, benar? Atau ada yang kurang? Tanda tangan pengajar ada yang ketinggalan?”

“Itu saja, kok. Semua guru sudah tanda tangan di lembar absensi.”

“Begitu. Inventaris … juga tidak ada masalah, semua dalam kondisi baik dan lengkap.”

“Mm-hm.”

“Besok Jumat, berarti kita harus menyerahkan mapnya ke Guru Park dan melaporkannya. Tolong ingatkan aku biar tidak langsung pulang, ya, Yuna.”

“Baiklah.”

Yoonoh mengalihkan pandangnya dari map hitam yang barusan ditutupnya ke Yuna, membuat si gadis kontan mengarahkan anak mata ke lain penjuru. Sikap itu agak ambigu, sebetulnya. Dulu, sih, banyak orang mengatakan alasan siswi-siswi memperlakukannya demikian adalah wajahnya yang terlalu berkilauan, tetapi ayolah, Yoonoh pikir dirinya tidak setampan idola-idola remaja yang sedang digandrungi tahun ini. Ia mulai memikirkan alasan yang kedua: mungkin Yuna tidak menyukainya karena sesuatu?

“Apa ada lagi yang mau kausampaikan?”

“Ah, a-ada!”

Nah, akhirnya Yuna menatap Yoonoh juga. Momen ketika mereka bertemu tatap sama-sama mendebarkan bagi keduanya, walaupun Yoonoh ragu Yuna seberdebar dirinya saat itu. O, anak mata Yuna bergeser lagi dan pipinya memerah, respons standar seorang gadis saat bertemu Yoonoh, tetapi dari sekian banyak wajah malu-malu, cuma ini yang membekas di pikiran pemuda itu.

“Yoonoh, begini …. Kita ini kan perangkat kelas, jadi tidakkah kita harusnya mengenal masing-masing teman kita? Aku mulai mencemaskan beberapa orang di kelas ini karena mereka tampaknya punya masalah pribadi. Junhoe, misalnya, ia tidak hadir tanpa keterangan pada beberapa kali jam pelajaran dan tidak mau mendengarkan peringatanku. Sujeong juga, anaknya sangat pemalu dan dia beberapa kali muncul dalam keadaan berantakan setelah pergi dari suatu tempat; aku takut dia jadi korban bullying atau apa. Masalahnya, aku tidak dekat dengan Junhoe maupun Sujeong. Aku tidak bakal bisa menegur atau bertanya macam-macam tanpa terkesan sok peduli …. Bagaimana caranya agar aku bisa mendekati mereka hingga mereka mau berbagi masalah denganku, seperti kamu?”

Ya ampun, serius sekali Yuna menyikapi jabatannya sebagai sekretaris kelas, batin Yoonoh. Ini bukan pertama kali Yoonoh jadi pemimpin di sebuah organisasi dan baginya, seorang pemimpin tidak perlu masuk ke urusan pribadi setiap anggotanya untuk menjamin kinerja organisasi itu baik. Apalagi ini ‘hanya’ sebuah kelas dengan cara kerja sederhana: mau belajar silakan, tidak mau ya siap-siap saja tidak lulus ujian masuk universitas. Ketua kelas, secara teknis, tidak diwajibkan memantau satu persatu siswa; latihan soal ujian jauh lebih penting daripada mengurusi remaja-remaja labil.

Kendati di satu sisi, Yuna kelihatan berlebihan, Yoonoh dapat membaca bahwa sekretarisnya menyayangi setiap kepala di kelas mereka dan ingin mereka bersama-sama lulus tepat waktu. Timbul setitik rasa bersalah dalam hati Yoonoh lantaran mengentengkan perkara ini di saat Yuna sungguh-sungguh ingin menyelesaikannya. Hei, bukankah seharusnya hal semacam ini lebih membebani Yoonoh sang ketua kelas?

“Aku … tidak punya tips dan trik khusus untuk akrab dengan seseorang seperti yang kamu pikir,” mulai Yoonoh. “Setiap orang punya dunia sendiri-sendiri, kalau ditekuni satu persatu waktu kita akan habis terbuang. Biasanya, sih, kalau bertemu orang baru, aku mengawalinya dengan basa-basi singkat ditambah sedikit ‘suap’—kami anak laki-laki butuh banyak makan—lalu kalau aku kebetulan memahami apa yang mereka suka—sebagai contoh, kebanyakan teman kita hobi main game—maka baru percakapan antara kami mengalir. Biar kaubilang kau tidak terlalu pandai bergaul, buatku niat baikmu saja cukup untuk membantu teman-teman. Jika niat itu besar, dengan sendirinya ia akan mewujud dalam perbuatan, kok.

“Terus … sadar tidak, kamu adalah salah satu anak di kelas yang susah kudekati?”

Hm, entah mengapa Yoonoh merasa dirinya terlalu frontal di situ. Mestinya tidak usah dikatakan saja, sesalnya, berharap gadis itu tidak tersinggung …

“Ah, maaf. Kamu sadar, ya ….”

… dan memang tidak. Yuna seolah-olah siap andai Yoonoh mengungkapkan ketidaknyamanannya akan kecanggungan mereka. Barangkali Yuna juga terusik dengan hal itu sebesar Yoonoh?

“Tapi memangnya apa yang membuatmu tidak nyaman? Jangan-jangan, mulut dan ketiakku bau, lagi.”

“Tidak, tidak! Sungguhan tidak!” Yuna menggeleng-geleng cepat. “Itu … yah, sebenarnya … aku sungkan berada dekat denganmu karena kamu itu kan … eksklusif.

Baiklah, ini kasus klasik, tetapi mula-mula Yoonoh harus memastikan dulu apa definisi ‘eksklusif’ versi sekretarisnya.

“Kamu sangat ramah, berwawasan luas, hobi bercanda tapi bisa jaga sikap, cerdas, pokoknya semuanya. Kurasa sampai aku bisa memiliki kualitas yang hampir menyamaimu, aku tidak akan bisa dekat denganmu …. Ehe, alasan yang aneh, bukan?”

“Ya, tentu saja aneh. Kamu kan juga eksklusif, Yuna.”

Yoonoh berdoa dalam hati agar ucapannya barusan tidak terdengar seperti rayuan. Sumpah, dia tidak berniat merayu, tetapi ‘kualitas’ yang Yuna bilang tadi sesungguhnya merefleksikan orang yang menyebutkan.

“Aku eksklusif? Hahaha, apa itu sebuah sindiran?”

“Kau cerdas, tekun, teliti, perhatian, dan cantik.” Oke, Yoonoh keceplosan mengatakan yang terakhir dan pipi Yuna berubah sewarna tomat; semoga saja telinga Yoonoh tidak ikut-ikutan merah. “Semua orang di kelas kita istimewa dengan cara masing-masing, jadi tidak boleh ada batas eksklusif dan tidak eksklusif lagi sekarang. Label seperti itu bisa menimbulkan kesombongan bagi yang dilabeli dan rasa minder bagi yang melabeli. Aku yakin kita sama-sama tidak ingin sombong ataupun minder, kan?”

Yuna mengangguk kuat dua kali untuk yang terakhir itu; semangat yang bagus.

“Kalau begitu, Yuna, kau sekarang temanku, benar? Teman harus saling menyapa, tidak boleh ada malu atau sungkan, benar?”

Yuna mengangguk lagi, tampaknya masih ragu, tetapi cukuplah buat Yoonoh.

“Oke, mulai besok, kalau jalan di belakangku langsung saja sapa aku.”

Glek!

“Ka-kamu tahu aku sering jalan di belakangmu sambil bingung akan menyapamu atau ti—hmp!” Tanpa sadar, Yuna membocorkan rahasia paginya sendiri. “Ha-habisnya kadang-kadang kamu pakai earphone, kan malu kalau aku memanggil tapi kamu tidak menggubris. Aku jadi terlihat seperti penggemar-penggemarmu dari kalangan adik kelas, tahu!”

Astaga, ‘penggemar’? Anak-anak perempuan kelas satu dan dua yang berebutan memperhatikannya setiap jam istirahat itu bisa dibilang penggemar?

“Aku tidak akan pakai earphone, janji. Panggil aku yang keras dan aku pasti akan membalas sapaanmu, jadi kau tidak lagi tampak seperti penggemar—duh, sebentar, aku tidak punya penggemar, aku bukan artis, Yuna.”

Bagaimana Yuna mengerjap-ngerjap setelah itu, juga pertanyaan yang diajukannya kemudian, merupakan ujian pengendalian diri yang dahsyat bagi Yoonoh.

***

“Janji tidak pakai earphone? Kamu harus menoleh betulan kalau kupanggil, ya?”

***

Imut sekali!

Jelas dua kata ini tidak sampai meluncur dari bibir Yoonoh.

“Pasti. Kamu juga, menolehlah kalau kupanggil walau aku bukan Seokmin.”

Yuna tak dapat menahan gelaknya. “Kok Seokmin?”

“Memangnya cowok di kelas yang dekat denganmu siapa lagi?” Tidak, Yoonoh tidak cemburu. Tapi bohong. Nadanya tidak terlalu kentara, kan? Lagi pula, tawa Yuna menutupinya dengan sempurna.

“Baik, aku mengerti. Menyapamu dan berbasa-basi setelahnya, itu yang kamu mau?”

“Agar kita akrab, ya, aku ingin kamu melakukan itu. Tidak usah basa-basi tak masalah, yang penting sapa aku. Bagus juga kalau kau melakukannya pada yang lain, siapa tahu orang sekeras Junhoe bakal luluh.”

“Ide bagus! Yoonoh memang hebat—tapi tunggu, Junhoe itu bukan tipe orang yang bersahabat ….”

“Aku akan membantumu melakukan pendekatan, deh, jadi jangan terlalu dipikirkan.”

Ucapan Yoonoh pasti begitu meyakinkan hingga Yuna merasa tenang dan melengkungkan segaris kegembiraan yang tidak dibuat-buat pada bibirnya. ‘Terima kasih banyak, Yoonoh’ yang diucapkannya mencerahkan senja si lawan bicara, menyeret pemuda itu untuk kesekian kali dalam keadaan nyaris salah tingkah. Luar biasa, ini permainan jantung namanya. Yuna mungkin bidadari, tetapi tersenyum seperti manusia saja, bisa? Supaya darah Yoonoh tidak terus-menerus berdesir?

Tatkala matahari terbenam, dinding antara Yoonoh dan Yuna telah roboh sebagian. Yoonoh tidak sabar menyambut hari esok untuk merobohkan sisanya.

***

“Yuna itu bodoh, ya? Dalam rangka apa dia mencoba mengakrabi semua anak di kelas? Bahkan Junhoe, Yibo, Sujeong, dan Mina disapanya juga pagi ini, mana dibalas?”

Ada belati di balik suara lembut itu, Yoonoh tahu, tetapi ia tidak mau repot-repot berhenti mengiris daging asap di piringnya cuma untuk memperhatikan ocehan gadis yang baru masuk ini. Paling-paling mau memancing amarahku lagi seperti biasa; apa lagi yang akan dia lakukan?, batin Yoonoh sebelum menelan suapannya.

Gadis berkulit pucat dengan rambut hitam bergelombang indah duduk di seberang Yoonoh, di sisi lain meja makan besar Keluarga Jung. ‘Tuan dan Nyonya Besar’ lagi-lagi meninggalkan putra-putri mereka untuk urusan bisnis, jadilah Yoonoh dan gadis itu terjebak dalam atmosfer dingin yang menyebalkan. Makan berdua dengan cewek sarkas ini tidak pernah menyenangkan.

“Kau yang mengajari dia begitu, hai Ketua Kelas Teladan?” Si gadis menyibakkan rambutnya yang tergerai ke belakang bahu sebelum meraih pisau dan garpu.

“Tolong jangan bicara denganku, Chaeyeon, apalagi hanya untuk menjelek-jelekkan Yuna.”

“Manisnya. Ada cowok yang marah karena pacarnya diejek orang.” Jung Chaeyeon, model terkenal dari Seoul Global High yang dikagumi seantero sekolah, tidak pernah menampakkan wajah sesinis itu pada orang selain Yoonoh. “Menyerahlah. Lee Seokmin yang akan mendapatkan Yuna dan pada akhirnya, kau akan sendiri.”

“Lucu. Kenyataannya, kaulah yang selalu sendiri, Nona.” Yoonoh menaikkan alisnya seakan menertawakan Chaeyeon.

“Seorang Jung terlalu berbakat untuk disandingkan dengan orang kebanyakan; penyandang marga Jung tidak butuh teman. Ah, atau jangan-jangan darah yang mengalir di darahmu itu memang bukan darah Jung, ya?”

“Kau sendirian, Chaeyeon, itu intinya.” Yoonoh menskak Chaeyeon dan gadis itu sedikit bergerak tak nyaman di kursinya. “Pathetic. Kalau aku sih, selama bisa punya teman, mengapa tidak? Keangkuhanmu tidak akan berharga selepasnya kau dari keluarga ini, tahu. Bangun koneksi. Ciptakan lingkaran pergaulan seluas-luasnya, baru kau akan sukses sebagaimana harusnya seorang Jung.”

“Omong kosong. Seorang kawan akan menghancurkanmu, lihat saja.”

Yoonoh membuang bahu, lantas menyilangkan peralatan makannya di atas piringnya yang telah kosong.

“Aku tidak sabar untuk itu.”

***

Label eksklusif bisa menimbulkan kesombongan bagi yang dilabeli dan rasa minder bagi yang melabeli. Kalimat itu tidak asal saja Yoonoh lontarkan. Dalam Kediaman Jung yang berdinding tinggi, ada banyak cerita yang mengantarkan Yoonoh pada satu pelajaran ini—perdebatan tiada akhirnya dengan Jung Chaeyeon merupakan salah satu dari sekian cerita itu. Yoonoh menyayangi Yuna dan ia tahu kesendirian bukan kunci kebahagiaan, maka ia tidak akan membiarkan Yuna berubah seperti saudara seayahnya yang beda rahim, si gadis kesepian bertopeng senyum yang percaya bahwa teman adalah kelemahan.

“Chaeyeon, selamat pagi.”

“Selamat pagi, Yuna. Sudah kerjakan PR?”

Dari bangku belakang, Yoonoh mengamati dua gadis yang baru saja saling menyapa di depan kelas itu.

Senyum dari hati dan senyum dari tipuan perbedaannya samar, ya. []


.

.

.

SO! udah kereveal beberapa tokoh yg nantinya bakal muncul di depan, juga beberapa bocoran kepribadiannya. daaan ya ini crack saya tahu, jaehyuju ga ada yg ngeship ga kayak dokju makanya saya mohon ampun dulu ke mas dokyeom. yg ga rela tahan aja ya, berhubung ini lead malenya jae dan lead femalenya yuna so yeah :p ntar dokju ada saatnya :p

Advertisements

9 thoughts on “Rough (pt.2)

  1. LOOOH aku ga tau kalo ini bakal jadi series huhuhu :” well, aku mau minta maaf dulu ke kak li karena udah baca yang pertama dari kapan tau tapi baru komen sekarang di fic yang ini hehe maapkeun kak 😀

    aku baru tau ternyata yuna itu yuju, terus yoonoh itu jaehyun :”) ga ngikutin gfriend sama nct akunya ehe ehe. cast sisanya malah aku ga kenal sama sekali, cuma tau june doang :”))) tapi ini lucuuu ih, konfliknya anak sekolahan banget, berasa nonton drama jadinya 😀 refreshing banget kalo katakuuu hehe.

    kak liana keep writiiiing :3

    Liked by 1 person

    1. Iya awalnya mau dibikin series oneshot bukan chap tapi ternyata kalo dibikin berseries juga terlalu susah dipisahkan satu sama lain, jadilah saya chapterkan sekalian 🙂
      Gapapa lah saya juga ga ngikutin boyband girlband kekinian banyak2 haha, tapi dua org ini aku ngefeel bgt biar bkn sebagai satu ship huhu. Makasih ttp mampir walaupun ga kenal castnya ya :”’

      Like

  2. Kak liana aku beneran gemes sumpah pas Yuna bolak-balik map kelas dan takut negur Yoonoh padahal cuma tinggal minta tanda tangan aja astagaaa kirain ada masalah apa gitu kan tapi taunya… xD

    Terus lagi-lagi kak liana bisa bikin Yoonoh yang Yoonoh sekaliii huhu kebayang banget dan di part ini ketahuan cie cie kamu udah menyimpan perasaan terpendam sejak awal tah ternyata, Hyun, Jaehyun, wkwkwk dan imutnya lagi segitu pinginnya dia disapa Yuna itu yaaa ampun polos banget kamu, nak.

    “Label eksklusif bisa menimbulkan kesombongan bagi yang dilabeli dan rasa minder bagi yang melabeli.” Mantap jaya, Jung Yoonoh! Tapi aku menolak ngefans biar nggak sama kayak adik-adik kelas itu juga dong hahaha.

    Terus lho lho lho ada Chaeyeon dan kak li, aku sangat mengakui auranya dia cocok sekali dibikin peran kayak gini apalagi pas di akhir-akhir dia interaksi sama Yuna aku jadi kayak, “Hah. Liat aja gimana kamu ntar, Chae.” Hahahaha jadi kebawa drama abis akunya xD

    Nah, nah, habis ini siapa lagi ya yang bakal keluar? Semangaaat kak liana ada yang menunggu Rough pt.3 di sini yehey!❤

    Liked by 1 person

    1. haihai~
      ngepens yoonoh juga dong ngepens biar aku ada temennya hahahaha dan aku senang bahwa biarpun yuna-yoonoh ga semembahana dk-yuju tapi feel mereka lumayan ada di sini. terus chaeyeon di sini ga kelihatan maksa kan munculnya bikos dia sedikit porsinya tapi sesungguhnya berperan penting uhuuu
      makasih udah baca anyway XD

      Like

  3. kak lianaaaaaaaaa! haluuuu!

    dulu aku gemes gemes sama rough yang pertama terus sekarang makin gemes sama rough yang kedua dongggg ❤ seneng banget deh bisa nemu lanjutannya hahaha. dan gemesiiiin, kak liana ini lucu sekaliiii interaksinya antara yuna sama yoonoh. apalagi di awal-awal gitu, gimana cara yoonoh ngatasin malu-malunya yuna (plus campur dikit-dikit modus dan cemburu, which is pengen kuuyel-uyeeeeel). dan yuna-nya yang masih canggung gegara minder, padahal mah dia disukain sama ybs yaa. hehehe. yeokshi kak liana mah bisa bikin aku gegulingan sendiri.

    dan aku suka banget juga sih karakter yoonoh semacam makin ++++ sebab dia oh-so-down-to-earth sekali. aku suka pria-pria yang rendah hati begini, hehehe. semoga nanti kamu bisa beneran deket terus jadian sama yuna, ya, nak. doaku besertamu hehehe

    terus di segment kedua, akhirnya aku menemukan kelemahannya yoonoh dan aku suka. jadi dia punya family issue gitu kan. keluarganya kaya, tapi nggak harmonis dan dia punya sodara yang super ngeselin macam chaeyeon gitu. DAN DIA UDAH TAU DULUAN DONG KALO YOONOH NAKSIR YUNA hehe. terus di akhir, yang dia merhatiin chaeyeon sama yuna ngobrol dan menilai itu, aku sedikit dapet "wah, yeon, awas ya kamu ngapa-ngapain yuna" jadi dalem hati si yoonoh udah bakalan jadi protector buat ceweknya gitu.

    semangat kak lianaa! keep writing yaa! ❤

    Liked by 1 person

    1. TOLONG JGN PANGGIL YOONOH PRIA dia itu masih dua line dibawah aku~ XD sial memang dedek2 jaman skrg rasa oppa semua huhu jadi susah buat balik ke oppa yg beneran
      anyway, aku tdk menyangka evin baca beginian juga hahaha kupikir kamu bukan tipe pembaca cerita ringan :p aku senang kalo citra cowok populer di sini berhasil aku ubah, maksudku di kebanyaka cerita school life cowok idola pasti dingin dan susah didekati dan aku pingin bikin yoonoh tampak mendekati normal walau masih bersinar2 hehe.
      makasih udah ngikutin ya evin you’re so precious *pelukcium

      Like

  4. SEOKMIN..!! gercep buruan tembak yuna!! *apasih*

    heol,, chae jadi sodara sebapaknya yoonoh,wkwk.
    apa kabar mbak sejeong? eh, ini sejeongnya gugudan kan li? aq juga suka sama lead vokal satu itu gegara introvert squad, hahay.

    klo dibikin chapter, semoga masalahnya complicated ya, hhehe
    semangat Li!!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s