Pinkish

cats

© LDS, 2017

NCT Johnny and Seventeen Joshua

slight!SNSD Tiffany, mentioned!SMRookies Herin

Slice of Life, Comedy, Vignette, Teen and Up

.

Duh, aslinya Johnny ingin mengumpat karena adiknya, Herin Seo yang manis bukan main, memintanya melaksanakan misi mustahil. Baru datang dari Manchester sehari saja, si gadis sudah bikin masalah … tetapi ya itu. Betapapun inginnya Johnny melontarkan f-word atau s-word, dia tidak sanggup. Adiknya kan manis bukan main, tak layak menerima kata kasar, yang diucapkan sembunyi-sembunyi sekalipun. Lagi pula, Herin baru menyelesaikan perjalanan jauh dari sekolahnya di Inggris ke Amerika untuk menghabiskan liburan di rumah; kepulangannya harus disambut gembira, salah satunya dengan ini.

Gelisah, Johnny berdiri di depan rak sabun muka, berpura-pura fokus dengan beberapa merek pembersih, padahal ia beberapa kali melirik ke kanan. Belum-belum, telapak tangannya terasa geli.

Demi bulu ketiak Neptunus! Kalau kau tidak sedang sakit perut, aku akan menyuruhmu beli barang itu sendiri, Herin!

Dengan amat menyesal kukatakan, Johnny Seo, 21 tahun, mahasiswa semester enam jurusan linguistik Universitas Chicago yang punya banyak penggemar dari kalangan senior maupun junior, kini dihadapkan pada konflik terbesar saat berbelanja di minimarket: membeli pembalut wanita.

Iya, pembalut. Pembalut. Terlepas dari fungsinya, barang itu bukan barang tabu untuk dipegang laki-laki, tetapi ayolah, ini Johnny Seo si tinggi tampan yang gengsinya selangit. Sekarang, bayangkan jika seseorang melihatnya mengambil pembalut itu; orang-orang pasti akan langsung menaikkan alis, menertawakan belanjaannya yang tak lazim atau—lebih buruk lagi—mempertanyakan jenis kelaminnya. Ya Tuhan, tidak! Yang datang bulan adikku, sumpah! Tapi, pernyataan itu tidak bakal membantu kalau ia berhadapan dengan kasir iseng. Tiffany Hwang, si perempuan pinky bermata jeli yang bertugas siang ini akan menyadari betapa merona wajahnya, jadi pasang wajah cool saat meletakkan si bungkusan merah jambu keramat di meja kasir jelas percuma.

Masalahnya, Herin butuh ganti. Keadaan genting. Dia tak akan bisa mandi jika Johnny tidak membawakannya pembalut extra maxi wing.

Segera. Ambil segera.

Dua kata ini Johnny ulang terus dalam benak, sugesti supaya tangannya bergerak, tetapi jemarinya terus meragu. Terangkat sedikit, turun lagi. Naik sebentar, mengambang, urung lagi. Johnny mendesis; mengapa minimarket ini ramai di waktu yang tak tepat? Pemuda itu nyaris berhasil meraih sebungkus pembalut, tetapi gara-gara ada seorang wanita yang melintas di bagian perlengkapan mandi, Johnny langsung membelokkan telapaknya untuk mengambil sikat gigi. Gagal!

Akan tetapi, rasanya hina sekali kalau seorang Johnny Seo mengalah pada sebungkus pembalut, benar?

Maka dari itu, usai memantapkan hati menjelang percobaan keenamnya mengambil pembalut, Johnny menopengi kegugupan dengan raut hampa cenderung angkuh. Memastikan tak ada lagi yang hendak melewati bagian perlengkapan mandi, si pemuda jangkung maju selangkah, tangan besarnya sudah menyentuh satu kemasan barang feminin yang adiknya butuhkan. Yang mengejutkan, ada satu telapak lagi, lebih putih dan kecil dari telapak Johnny namun masih maskulin, mendarat pada permukaan kemasan tersebut. Johnny membelalak sebelum menoleh perlahan ke si empunya tangan.

Kerang ajaib!

“O? Johnny?”

Disuruh membeli pembalut sudah cukup buruk. Beberapa kali hampir kepergok membeli pembalut oleh pelanggan lain lebih buruk. Meletakkan telapak di sebungkus pembalut lebih buruk lagi. Tahu apa yang terburuk?

Ketika kau, seorang lelaki muda berparas rupawan dan berpostur sempurna, mengambil pembalut yang hendak dibeli juga oleh teman sekelasmu sendiri!

Refleks Johnny menarik tangannya dan terjajar mundur.

“Jo-Joshua?!”

Sama-sama anak linguistik, semester ini Joshua Hong sering sekelas dengan Johnny, walaupun kredit yang mereka kejar tidak persis sama. Mereka tidak terlalu dekat sebab Johnny menganggap pemuda itu kelewat membosankan; kerjanya kalau tidak baca buku, ya menggarap tulisan ilmiah, dua kegiatan yang sangat tidak ‘Johnny’. Anehnya, Joshua juga punya fans berjibun di kampus, mungkinkah karena citra pemuda-baik-baik-calon-suami-idaman yang ia pancarkan?

“Hai.” Joshua tersenyum kikuk. “Tugas belanja?”

“Y-ya. Haha,” Apa-apaan situasi canggung ini?!, keluh Johnny, “dan adikku titip … itu. Begitulah. Bukan aku yang pakai, sungguhan.”

“Tentu saja,” kekeh Joshua, merasa ralat Johnny tidak diperlukan. “Menstruasi bukan bagian siklus reproduksi kita. Ini kakakku yang pesan, tetapi kalau kau ambil ini, aku akan ambil yang lain. Jadi?”

“Ah, tidak, tidak. Bawa saja.”

“Begitu? Baiklah.”

Enteng sekali Joshua memasukkan barang itu ke sana, batin Johnny. Lihat, alangkah mencoloknya bungkusan pink itu dengan krim cukur, sampo, parfum aqua, dan dua kaleng soda dalam keranjang Joshua. Johnny melirik keranjangnya sendiri. Apa jadinya jika pembalut Herin bercampur dengan kripik kentang, susu, deodoran, dan deterjen di sana?

“Tidak ambil?”

“Ini? Mengambil ini? Di tempat terbuka?” Menggunakan ibu jarinya, Johnny menunjuk pembalut malam isi tiga puluh lembar. “Kau tahu, tekanan mental dari membeli benda ini setara dengan ujian lisan di hadapan Profesor Mulliken!”

Joshua tersedak sebelum tertawa pelan, terbayang kepala botak licin si profesor galak yang ‘rambutnya berkumpul di belakang saja’, mengutip lelucon Johnny tempo hari yang tak sengaja ia curi dengar. Oke, kalau sampai pembalut itu dan Profesor Mulliken bisa disejajarkan, berarti memang perkara ini menyusahkan Johnny, yang mana dapat Joshua maklumi. Johnny sangat ‘laki’—Joshua juga ‘laki’, tetapi tidak terlalu ekstrem sampai pegang pembalut saja enggan—dan Joshua mengenal beberapa orang lagi sejenis Johnny yang kerepotan waktu diminta tolong membeli barang-barang kaum Hawa ini. Sebagai orang yang lebih fleksibel, Joshua ingin membantu, tetapi bagaimana?

Tunggu.

“Hei, merek ini sedang promo, ternyata.” Joshua membaca label di rak, kelihatan santai, sementara Johnny cuma ingin pergi dari sana. “Beli satu gratis satu.”

Apa?

Zaman sekarang, potongan harga bisa lebih memikat pria dibanding wanita seksi, jadi wajar kalau mata elang Johnny langsung mengarah pada tulisan yang Joshua baca. Benar, beli satu bisa dapat dua. Roda gigi dalam kepala Johnny seketika berputar cepat, mengaitkan fakta dari label dan membuat garis yang menghubungkan fakta itu dengan masalah yang ia hadapi …

“Brilian!”

… dan tercetuslah idenya.

***

“Uuuh. Sudah lama sekali tidak ada pria yang membeli ini!”

Bagaimana Tiffany memanjangkan ‘uh’-nya dan memainkan nadanya membuat Johnny mual. Joshua yang antre di depannya meringis, dengan pasrah menunggu harga belanjaannya ditotal.

“Kau beruntung! Produk ini sedang promo, jadi selamat, kau mendapat satu pak lagi isi dua puluh!” Tiffany mengambil satu kemasan dari rak di belakangnya dan memasukkannya dalam kantung kertas Joshua. “Totalnya 21 dolar, Cowok Manis.”

“Ingat umurmu, Pinky,” tegur Johnny yang sudah sering belanja di minimarket itu hingga cukup akrab dengan Tiffany. “Maafkan dia, Josh. Dia begitu karena tidak menikah-menikah juga. Hei, Tiff, minta Khun cepat melamarmu, sana.”

Sikap imut Tiffany pada Joshua kontan berubah begitu ia berpaling ke Johnny.

“Jangan mencerewetiku, Long John. Mana belanjaanmu?”

Joshua menutup mulut, ekspresi menahan tawa yang muncul spontan mencerminkan isi pikirannya. Johnny membaca itu dengan baik.

Namamu Johnny dan kau tinggi, tetapi kalau dipanggil begitu, namamu kok jadi mirip baju dalam untuk musim dingin?

“Sembilan belas dolar 28 sen. Enyahlah, aku sakit mata kalau kau kelamaan di sini! Dan, Josh, silakan datang kembali di hari shiftku, ya!”

“Jijik. Ayo, kita pergi sebelum Pinky menerkammu.”

Sekeluarnya dari minimarket, Johnny dan Joshua berjalan cepat beriringan, menuju sudut belokan untuk menjalankan ide yang tercetus dalam minimarket tadi. Dari dompetnya, Johnny mengeluarkan tiga lembar dolar, membuat Joshua tidak jadi mengambil pembalut gratisan dari kantung kertasnya.

“Kau tidak perlu membayar itu.”

“Tidak, aku berutang harga diri padamu dan sebetulnya tiga dolar kurang untuk menebusnya,” ujar Johnny, yang ditanggapi Joshua dengan ‘tidak, itu berlebihan; aku tidak melakukan sesuatu yang besar, kok!’. “Terimalah.”

“O-oke.”

Karena lembar-lembar dolar tadi disurukkan Johnny dalam genggaman, Joshua jadi tidak bisa menolak. Tergesa, pemuda yang lebih tinggi memindahkan pembalut bonus dari kantung kertas Joshua ke kantungnya sendiri dan mengembuskan napas lega setelahnya.

“Rasanya seperti baru saja dinyatakan lulus oleh Profesor Mulliken.”

“Ya ampun …. Ada-ada saja kau, Johnny. Kau harus mulai membiasakan diri dengan pembalut, tahu. Di masa depan, kan kau bakal punya istri juga. ”

“Masa depan yang saaangat jauh, maksudmu? Tenang saja, aku akan mempersiapkan diri, tetapi nanti kalau aku sudah dapat pacar, oke? Yang jelas, hari ini aku sangat tertolong.” Johnny menepuk-nepuk bahu Joshua; ganjil bagaimana ia sekarang tidak terpengaruh aura pelajar teladan pemuda itu dan bersikap lebih rileks di dekatnya. “Terima kasih, Bung.”

Segelombang dengan Johnny, Joshua pun merasa mereka lebih nyaman berinteraksi saat ini dibanding di kampus … berkat pembalut. Ya, itu berkat pembalut, lucunya. Senyum Joshua terulas di bibir, tetapi Johnny menemukan senyum serupa pada lengkung mata si Hong.

“Sama-sama.”

***

Arah pulang Joshua dan Johnny berlawanan, maka keduanya berpisah jalan, lantas pada detik Johnny membalikkan tubuh itulah, ia mendapati sesuatu yang janggal. Di bawah tanda pemberhentian bus beberapa langkah darinya, seorang pria kekar menatapnya lurus-lurus, awalnya ke kantung kertasnya, lalu ke wajahnya. Johnny mencoba mengabaikan tatapan itu sebelum ia menyadari bahwa barangkali …

… orang itu menyaksikan barternya dengan Joshua.

Dan, sial, sial, pria itu bersiul ke arahnya.

Tidak, jangan. Ketahuan membeli pembalut oleh teman sekampus sudah lumayan menghancurkan, digodai pria lantaran dikira ‘menyimpang’ adalah yang terparah dari semuanya! Tanpa pikir panjang, Johnny melajukan tungkai panjangnya menjauhi pemberhentian bus.

Pulang, pulang, pulang, PULANG!!! Herin Seo, kau mesti bertanggung jawab untuk ini!!!

TAMAT


.

.

.

tulisan akhir bulan pertama bercast american-hyung 95line! ncteen sedang membahana dalam pikiranku. taeyong-seungcheol oke, jun-kun masuk, minghao-sicheng bisa, jae-deka kemana-mana! dan, jika menyingkirkan kesamaan line, vernon-mark pun aku cinta~

#tolongseretsayabalikkefandomEXOplis

Advertisements

15 thoughts on “Pinkish

      1. Gapapa liiii, ini aku juga belom jadi bacaaa semalem langsung tepar, nanti pas jaga malem aja sekalian, semoga sampel sepi (krik) padahal udah baca sampai ada nama mb tiff disebut kemariiiin ;_;

        Liked by 1 person

  1. YAMPUN, DEMI APA NI KOPLAK BGT!! Aku pengin banget ngakak bacanya, cuman lagi di tempat umum (read: warung nasgor :v) jadi ya akhirnya senyum2 aja.
    Emang ya mbeliin ‘itu’ topik yg rada sensitif buat kalangan cowok. Kakak kelasku pernah disuruh gitu juga, cuman wadahnya kresek bening. Mana dia bawanya nyante gitu ke uks XD
    Johnny malah kek disuruh ngambil bom atom aja XD Untung mas josh gengsinya ga selangit
    Nice fic dibaca otw tengah malem heheu. Keep writing kak! Kutunggu tae-seung nya :))))

    Like

    1. NOVIIII kamu ke warung nasgor ga ajak2~
      btw aku sempat agak ragu mau pake tema ini berhubung skrg jaman modern dan kupikir cowok2 juga sdh berpikiran terbuka, tapi nyatanya masih ada ya? hahaha syukur deh kalo gitu :p
      makasih udah baca ya!

      Like

  2. Hahahhahaa ini kayak bayangin short film tentang pembalut gitu, sumpah, apalagi pas ada tiffany sama mas kekar yang di halte jadi makin ‘real’ 😂 kalo dari sudut pandang Joshua bisa dibikin iklan “sekarang gak jaman laki takut beli pembalut. Laki idaman wanita itu yang fleksibel dan berani dong. Makanya, beli pembalut, itu baru namanya laki.” Asik banget kak li, semangat terus nulisnyaa!❤️

    Like

  3. Haii Li… woaah johnny ketemu joshua!!! demi apa ya emang tabu bgt ngeliat cowok beli gituan hahahaha kayaknya susah deh nyari yang sesantai dan selegowo joshua pas diminta beli itu wkwkwkwk
    dan seru ih pas johnny debat sama mb tiff 😀 suka aja dan malah pengin nikahin mereka berdua (ditendang)

    oke, terus endingnyaaaa HAHAHAHA kasiiian kamu johnnnn… nasib joshua lebih baik darimu. ini ucul liii… entar2 bikin lagi yaa dengan cast yg udah kamu sebutin di note. anw, kenapa kamu tak melirik hoshi siih?? haha atau kalau mau kuseret balik ke fandom exo. bikin baekhyun x seungkwan wuuuih keren pasti lii nemuin dua cowok rempong kek mereka. pokoknya ditunggu yaa li kisah para gebetanmu yang lain 😉

    keep writing, Li…!!!

    Like

  4. what the hell, Jojon,,
    beruntung banget ya bisa ketemu mas josh, klo nggak bisa berabad-abad lu berdiri lumutan di depan rak.
    wkwk, itu scene terakhir bikin ngakak. parnonya jojon apa banget,,

    wah, baru smpet mampir sini tau2 udah ada bbrp tulisan baru. belakangan aq kena webe brkepanjangan, draf banyak yg ngangkrak,pdhal bntar lagi wendy ulang tahun, huhuhu *lah malah curhat*

    oke Li, ini menghibur banget. itu seo sibling kurang mbak seo juhyeon, wkwk. ntah, aq malah kepikiran sebuah plot di mana johnny di’evil’-in kyuhyun selagi menjabat kakak iparnya #kode keras minta dibuatin
    #ditendang Liana

    Like

  5. Lianaaaa maap baru bisa bacaaaaa wkwkwkw (dan ini akhirnya juga bisa baru pas shift malam lagi uhuk) aaaaaaa, suka, kocak XD bikin svtxnct yang banyak li, nanti aku jatah baca wkwkwk dan plis itu calon2 line up-nya kenapa menggoda semua ;_;

    Liked by 1 person

  6. hahahahaha herin emang cocok jadi adiknya Johnny XD
    kenapa sih minoritas orang selalu menganggap lelaki beli pembalut itu tabu wkwkwk mauuuuu punya kakak kaya Johnny, Tiffany juga rese banget di sini
    paling setuju kalo Joshua emang tipe pria idaman, sangat cocok untuk dijadikan imam :3

    Like

    1. ‘Sangat cocok untuk dijadikan imam’
      .
      .
      .
      WHY LELY WHY SO UNREAL/?
      Btw halo Lel, maafkan aku krn dari semua komenmu yg masuk ke ffku hanya ini yg kubalas, nanti aku keliling lagi ke blog2 di mana aku post which ia banyak bgt tapi Heung merasa bertanggung jawab mbales komen juga bikos komen kyk oksigen
      Makasih bgt lely sdh mampir! Btw Lely pasti ikut nct trilogy kan? Aku nunggu kamu bikin creepy story ehe ehe

      Liked by 1 person

      1. Sampe linglung ya kak udah post di mana aja saking banyaknya 😂😂
        Iya kak ikut, kita dapet kota yang sama huuhuu aku juga menunggu FF creepy kakak :3

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s