Glasshouse of Amorose (pt. 3)

episode 3: Lose Control 

(reupload, full version)

Prologue12

Masih kehilangan kendali?

***

Jauh dalam hutan mati nan tak terjamah, berjajar rapi pohon-pohon tinggi berdahan gundul, senantiasa membisu meski angin mencoba menimbulkan bunyi dengan menggesek kulit mereka. Pada salah satu dahan gundul itu, tergantung sangkar hitam tempat setangkai mawar dipenjara; di dalamnya, sang mawar menjalani hukuman berat yang seakan tiada akhir. Pagi itu pun tak berbeda. Dari kolam kecil rasa bersalah di dasar sangkar, bermunculan tangan-tangan panjang yang menarik kasar sang mawar, menenggelamkannya beberapa lama untuk mencucinya dari dosa. Seperti sebelum-sebelumnya, pedih duka meresap ke seluruh permukaan batang sang mawar selagi rasa bersalah melunturkan sisa-sisa darah pada mahkota bunganya. Ia megap-megap saat kepalanya muncul kembali ke permukaan. Susah payah ia menyeret tubuhnya menuju tepi kolam sebelum kemudian duduk dan mengatur napas.

Kolam rasa bersalah memang tidak bening airnya, tetapi justru permukaan tenang berwarna hitam mengilap itu memudahkan sang mawar bercermin. Berbeda dengan saat pertama dijebloskan dalam sangkar, kini mawar itu tampak lebih ‘seperti seharusnya’. Merah menyala pada mahkotanya telah berganti menjadi salem lembut, pertanda proses pencucian menyakitkan yang ia jalani entah berapa lama dalam penjara membawa hasil signifikan. Senyum manis sang mawar terbit, secerah mentari yang baru akan meninggi, dan ia menyisir mahkotanya dengan teliti untuk mengecek seluruh bagian. Harusnya, ia masih akan menemukan bercak merah pucat di sana-sini buat dibersihkan esok hari, tetapi …

… hei.

Dia bersih! Bersih! Tidak ada darah melekati tubuhnya lagi! Masa hukumannya sungguhkah sudah berakhir?

“Mencari sesuatu di antara mahkotamu?”

Kupu-kupu yang barusan bicara merupakan satu-satunya teman sang mawar dalam hutan ini, walau sang mawar tahu daerah tanpa kehidupan bukan area yang lazim dikunjungi anggota kaum penebar kepala sari. Pengecualian buat kupu-kupu monarch teman sang mawar; mereka berdua sama-sama lebih mampu menikmati kedamaian dalam kesunyian ketimbang di tengah hiruk-pikuk kota. Hari ini, si kupu-kupu membawakan nektar lili segar sebagai camilan kawan mawarnya, pengganti tenaga sang mawar yang terkuras selama pencucian.

Menjawab pertanyaan temannya, sang mawar tersenyum, berdiri, dan berputar, menyibak satu persatu mahkotanya untuk menunjukkan betapa polos mahkotanya. Semula, si kupu-kupu tidak mengerti, tetapi setelah ia memicing dan mengamati lebih saksama, mulutnya langsung terbuka lebar kegirangan. Tangannya menyelusup di antara jeruji, meraih dan menangkup daun sang mawar.

“Kau bersih?! Jessica mengatakan kau akan dibebaskan tepat ketika mahkotamu tidak lagi berdarah, bukan?”

Sang mawar mengangguk berulang-ulang layaknya anak-anak dan sayap si kupu-kupu mengepak dua kali lebih cepat karena gembira, tetapi tak seberapa lama, kepak sayapnya melambat. Beberapa kata tertahan di balik kelopak mata si kupu-kupu, terbaca jelas kendati ia tengah menunduk. Sang mawar menelengkan kepala, lantas menaikkan dagu kawannya dan dalam diam bertanya mengapa.

“Ke mana kau akan pergi selepasnya dari sangkar ini? Apa kita akan bertemu lagi?”

Indah. Tatapan penuh perhatian kupu-kupu jelita itu indah benar, sejenis tatap yang membuat siapa pun tak sanggup bilang ‘tidak’. Biasanya, tatapan itu sukses meluluhkan sang mawar agar memenuhi permintaan si kupu-kupu, hari ini sayangnya tidak. Ada satu kondisi yang tidak memungkinkannya memastikan hubungan mereka sekeluarnya dia dari sangkar. Apakah Jessica akan membiarkannya pergi sesuka hati setelah dosa besar yang ia lakukan? Ataukah Jessica akan memaksanya tinggal di satu tempat? Bila ya, jauhkah tempat itu dari para kupu-kupu?

“Aku mengerti.” Si kupu-kupu menurunkan daun sang mawar dari dagunya. “Kau pun tak tahu apa keputusan Jessica atasmu setelah ini. Tidak masalah. Kalau begitu, selamat berpisah … dan sampai jumpa.”

Ada rasa tak rela muncul dalam kalbu sang mawar hingga ia menahan si kupu-kupu di depan jerujinya lebih lama lagi, tetapi si kupu-kupu mendorong pelan kawannya sebelum terbang menjauh.

“Jessica tidak boleh tahu aku di sini, itu kan kesepakatan kita? Kau sedang diasingkan di sini olehnya, maka terlarang bagi siapa pun untuk menemanimu. Pagi semakin terang, dia bisa melihatku kalau aku berlama-lama.” Sedikit membuang muka dengan senyum pahit masih terulas, si kupu-kupu meneruskan. “Maafkan aku terlambat mengunjungimu justru di hari terakhir kita bertemu.”

Sang mawar menggeleng sunyi. Bukan salahmu.

“Yakinlah kita akan bertemu suatu saat.”

Yakin? Itu tidak akan mengurangi kerinduan yang lebih dulu hadir. Kupu-kupu monarch itu adalah sahabat pertama sang mawar, perempuan mana juga yang pernah ia taklukkan tidak pernah menimbulkan perasaan sedahsyat kupu-kupu itu, jadi keyakinan akan bertemu saja tidak bakal cukup mendampingi sang mawar sampai hari mereka bertemu lagi tiba.

Namun, langit memang kian benderang dan kupu-kupu itu harus terbang pulang. Mau tidak mau, sang mawar harus mengepak kenangan tentang sepasang sayap kuning-hitam itu dalam kopor, bercampur dengan kenangan akan malam merah, dan duduk menanti Jessica membuka sangkarnya.

***

“Tumben si cerewet itu tidak mengajak kita makan pagi bersama.”

… adalah kalimat pertama yang Lu Han lontarkan begitu sampai di ruang tengah dan hanya mendapati cahaya Jessica, bukan pemiliknya. Ia tancapkan akarnya pada tanah humus sajian Luna, menyerap sari makanan di sana seraya memanfaatkan sinar mentari untuk mengolah makanannya.

“Itu karena dia pergi menjemput penghuni baru di tempat yang agak jauh,” jawab Chen .

“O. Kupikir kita akan selalu diajak menjemput calon penghuni Amorose. Bukannya penting mengetahui mawar seperti apa yang akan jadi teman serumah kita?”

“Aku ragu kita akan diajak lagi sejak insiden Chen kemarin.”

Ucapan Kris membuat Lu Han dan Chen meringis. Siapa yang bisa lupa kekacauan di Padang Ilalang tempo hari? Jessica harusnya juga masih ingat—dan tidak mengajak Kris serta Lu Han merupakan keputusan bijaksana.

“Omong-omong, apa kau tahu mawar baru seperti apa yang akan datang kemari, Luna?”

“Detailnya terlarang untuk saya paparkan, Tuan Lu Han, tetapi intinya dia mawar istimewa yang akan mengajarkan hal baru pada Anda bertiga sebelum membudidayakan dan menyebar cinta keluar.” Luna tersenyum selagi membersihkan meja. “O iya, Nona Jessica bilang ini penting saya sampaikan sebelum Anda bertemu mawar itu: dia bisu. Ada baiknya tuan-tuan belajar bahasa isyarat mulai dari sekarang, tetapi seandainya tidak pun tak mengapa. Dia mawar yang bisa berkomunikasi dalam banyak bahasa, kok.”

“Bisu?” Chen kontan membelalak. “Apa dia menderita penyakit tertentu?”

Luna meletakkan telunjuknya di depan bibir. “Maaf, bocorannya cuma sampai di situ, Tuan Chen,” –ini meloloskan ‘ah’ panjang dan kecewa dari si mawar hijau—“Kalau sudah bertemu sendiri, Anda juga akan mengerti mawar seperti apa dia. Nah, melihat dari terangnya cahaya Nona, sepertinya Nona sudah dekat dengan Amorose. Sebentar lagi dia mungkin akan sampai, silakan dihabiskan makanannya sebelum ia memperkenalkan anggota baru kita.”

Berbeda dengan Chen yang informasinya Jessica sampaikan sendiri, mawar baru ini diselimuti lebih banyak misteri. Sebetulnya kalau Lu Han pikir, apa bahayanya membocorkan informasi tentang rekan mereka lebih awal? Toh pada akhirnya, ia tetap harus memahami rekan serumah kacanya agar bisa membudidayakan cinta dengan baik, bukan? Akan tetapi, Jessica selalu punya dasar dalam melakukan sesuatu, maka berarti, rahasia mawar itu mungkin bisa menjadi bahaya besar jika diberitahukan terlalu dini.

Wah, gawat.

***

“Semuanya, perkenalkan, ini teman baru kalian, Lay!”

***

Gawat?

Lay, si mawar salem yang barusan menyisihkan kopornya itu, membungkukkan tubuh dan mengulas senyum bersahabat. Lu Han, Kris, dan Chen memang jantan, tetapi mereka semua sepakat kawan baru mereka sangat rupawan. Dia juga ramah—tanpa ragu menyalami semua mawar dengan daun hangatnya—dan peka—alih-alih mengizinkan Luna membawa kopornya ke pot, ia membawa kopornya sendiri; Lu Han hampir bisa melihatnya berkata ‘ini terlalu berat untukmu’—dan selain dua yang menonjol itu, masih banyak lagi nilai tambahnya. Sesuai apa yang Luna katakan, Lay punya banyak cara berkomunikasi selain bahasa isyarat, sehingga di luar dugaan, sang mawar salem bisa ‘ngobrol’ akrab dengan tiga mawar lainnya tanpa sepatah kata pun terucap dari bibirnya.

“Oke, oke, ngobrol serunya silakan dilanjut. Hari ini, aku memberi Lay waktu istirahat, ajaklah dia keliling kota karena sudah lama dia tidak ke sini, sekalian mengenalkan Chen juga pada kota. Baru besok, aku akan menjelaskan sesuatu yang agak berat berkaitan dengan Lay dan kalian bertiga, jadi bersenang-senanglah selagi masih bisa.”

“Sebentar,” sahut Kris. “Sesuatu yang berat lebih baik dijelaskan dulu sebelum bersenang-senang. Mengapa tidak sekarang saja?”

“A, a.” Telunjuk Jessica bergerak ke kanan dan kiri. “Sebetulnya acara jalan-jalan kali ini punya tujuan tersendiri untuk Lay, maka jangan membantah, Kris.”

Aih, selalu saja ada saat-saat di mana perintah Jessica bersifat mutlak dan alasan di balik kemutlakan itu dirahasiakan. Kalau sudah begini, rasa penasaran apa juga mesti tertunda untuk dipuaskan. Ujungnya, ketiga mawar patuh pada ucapan Jessica, tetapi berhubung mereka tidak benar-benar memiliki tujuan tertentu pada acara jalan-jalan ini, mereka hanya berjalan tak tentu arah. Sebagai mawar yang dianggap paling lama hidup di kota, Lu Han dan Kris sesekali memperkenalkan satu-dua lanskap yang mereka lewati pada Chen dan Lay. Reaksi yang ditunjukkan mawar hijau dan mawar salem begitu kontras: Chen berkali-kali membulatkan bibir dan melontarkan pujian terhadap kemegahan kota, sementara Lay menanggapinya lebih kalem. Buat si mawar salem, tur kecil ini bagai memutar ingatan, berhubung dia dulu juga lama tinggal di kota sebelum diasingkan.

Namun, sekian lama Lay tinggalkan, ada sesuatu dari kota ini yang berubah lumayan signifikan.

Atmosfernya.

“Kau kenapa?” Lu Han menghentikan langkah begitu menemukan Chen terengah-engah,  daunnya bertumpu pada batang bagian bawah. Sang mawar hijau menggeleng, batuk beberapa kali, lantas tersenyum dengan susah payah.

“Aku baik, tetapi … hah … udara di sini—maaf—sedikit aneh. Tidak apa-apa, aku sudah baikan sekarang.”

“Tidak dengan bentuk seperti itu, Chen. Kita kembali ke Amorose,” putus Kris sebelum berpaling pada Lay yang menatap nanar langit ungu gelap. “Jessica mengatakan kau punya tujuan khusus; apa itu sudah terpenuhi? Kalau ya, kita bisa kembali.”

Lay mengangguk. Tujuannya memang hanya untuk sekilas menilik keadaan kota dan biar cuma sebentar, ia telah mampu menilai kadar dosa dalam udara kota ini. Jauh lebih pekat dari saat terakhir ia menginjakkan kaki. Lucu, padahal Jessica sudah memenjarakan salah satu penyumbang dosa terbesar, pengotor hawa kota, mawar merah darah yang amat kejam itu beberapa tahun lalu, tetapi udara kota malah makin terpolusi.

Dasar manusia.

Usai menggenggam sekepal udara, Lay membuka daunnya dan memandang debu violet tebal yang segera melayang ditiup angin. Luar biasa, bahkan kini partikel dosa yang mengambang di udara bisa ditangkup langsung saking besarnya. Helaan napas Lay berangsur memberat; sial. Dulu, ia terbiasa dengan kota yang tercemar ini, tetapi dikurung dalam hutan membuatnya jadi lupa cara bernapas di tengah udara kotor.

“Ya sudah, kita pulang.” Lu Han membantu Chen berdiri, dongkol lantaran merasa jalan-jalan ke kota yang dipekati dosa hanya membuang waktu. “Mengapa pula Jessica menyuruh kita berkeliling kalau akhirnya begi—“

“HAN, AWAS!”

Set! Brak!

Refleks, Kris mendorong Lu Han hingga kembarannya itu tersungkur dan Chen terhuyung ke belakang. Sejenak, lapang pandang Lu Han terhalang tubuh Kris, tetapi ketika Kris bergeser, tampaklah Lay yang sedang menangkis serangan berduri dari …

… setangkai mawar hitam?

“Tawanan Matahari sudah kembali dari penjaranya? Menarik. Ia masih mengizinkanmu berbuat dosa?”

Kening Lay berkerut tak suka. Sok tahu dan sok kuat, dua sikap kurang menyenangkan yang kontan membuat Lay memberi cap ‘musuh’ pada sang mawar hitam.

“Mawar ungu pucat itu,” –Jantung Lu Han melompat begitu si mawar hitam menunjuknya—“adalah hak tanah kematian kami. Kembalikan nyawanya ke Pemakaman atau kau akan dikenai pasal pencurian, Lay.”

“Aku? Hak tanah kematian? Kau salah orang!” bentak Lu Han, jiwanya terguncang mendengar kalimat yang seakan menyatakan bahwa dia seharusnya tidak lagi bernapas. Mawar hitam menyeringai mendengar itu dan mengarahkan daunnya pada Kris yang mengatupkan bibir rapat-rapat, menahan kesal.

“Kembaranmu mencuri nyawamu dari Irene. Sebagai penjaga Pemakaman, aku tentu tidak bisa tinggal diam.”

Pangkal batang si mawar hitam tiba-tiba bercabang banyak, menakutkan orang-orang sekitar, dan setiap cabang berlomba untuk menggapai Lu Han. Kris berdecak; ia terpaksa harus menjaga dua tangkai mawar, Lu Han yang diburu dan Chen yang sedang sesak napas, padahal dia sendiri kewalahan menampik tatapan menusuk Lu Han saat itu yang menyerupai duri-duri si mawar hitam. Lay, tak disangka, dapat memutus setiap serangan itu dengan batangnya yang juga bisa bercabang dan menumbuhkan lebih banyak duri di sela pertarungan. Ke mana cabang-cabang berduri itu diliukkan seolah sudah diperhitungkan masak-masak biarpun ia berada dalam pertarungan impromptu; sejenak Lu Han terkesima oleh gerakan anggun nan mematikan dari Lay. Tak perlu menjadi brutal, lihat bagaimana Lay unggul usai mengempaskan mawar hitam itu ke tanah.

Tunggu.

“Kris, kau berutang penjelasan padaku!”

“Tidak ada waktu! Ayo kabur, mumpung mawar arang itu lengah!”

Gantian Lu Han yang berdecak. Mengapa Lay mengajak mereka segera pergi dari situ hingga Kris ikut-ikutan tak berkutik? Situasinya memang gawat, tetapi Lu Han merasa bisa mengatasinya. Ia toh dianggap sudah menguasai beberapa teknik dasar membudidayakan cinta di Amorose—yah, tetapi akan berguna dalam adu fisik atau tidak, itu lain soal.

Yang jelas, sekarang, empat mawar itu semuanya menjadi target serangan si mawar hitam. Tidak ada pilihan bagi mereka, termasuk Lay yang sebetulnya bisa melawan, selain melarikan diri. Si mawar hitam yang tidak kalah oleh rasa nyeri segera bangkit dan mengejar, tangkai kurus berdurinya rapat di belakang Lu Han, Kris, Chen, serta Lay. Setiap ada satu duri yang nyaris menyentuh Lu Han, secepat itu Lay mematahkannya, memancing decak kesal dari si mawar hitam.

“Dulu kau tidak segan merenggut nyawa Bulan, mengapa sekarang tidak membantu Kematian mencabut nyawa dengan benar?!”

***

Crash!!!

***

Lu Han terbelalak. Tadinya ia menengok untuk memastikan dirinya aman dari kegilaan mawar hitam ganas itu, tetapi yang ia temukan malah tangkai yang berlubang dan darah yang bermuncrat ke mana-mana. Lay bergeming kendati warna merah membasahi tiap jengkal tangkai berdurinya. Tanpa ampun, dia menarik senjatanya yang semula menancap pada tubuh si mawar hitam, memercikkan warna pekat sekali lagi ke bumi. Setelahnya, si mawar hitam tumbang, mengerang kesakitan beberapa kali sebelum hilang kesadaran.

“Lay …?”

Mawar yang Lu Han panggil tidak menoleh. Orang-orang di sekitar sama terdiam. Kengerian menyesaki ruang terbuka di mana mereka berada, tetapi hanya sejenak sebab sebagaimana harusnya orang kota, mereka mengabaikan sesuatu yang bukan urusan mereka atau menguntungkan mereka. Hanya Lu Han, Kris, dan Chen yang terpengaruh oleh peristiwa tak terduga ini; fungsi nurani mereka masih berjalan cukup baik, sehingga mereka paham bahwa pembunuhan ini tidak seharusnya terjadi.

Baru sekarang Lu Han sadar betapa berbahaya mawar salem teman serumah kacanya.

“Dia tidak mati.”

Jessica turun dari langit, kali ini mengenakan jubah awan mendung. Angkasa seketika menggelap, tak lama kemudian hujan turun membasuh tanah merah. Dari balik tudung mendung, Jessica menatap nanar Lay yang tengah memejam, menikmati saat-saat air hujan melunturkan darah pada tubuhnya. Lay lantas membuka mata, membalas tatapan Jessica, paham betul apa yang sang mentari ingin lakukan terhadapnya.

“Biar hujan yang menjaga mawar hitam itu sampai ada yang menjemputnya. Kita harus kembali secepatnya ke Amorose.”

***

Jessica dan keempat mawarnya tiba di rumah kaca tepat ketika Luna baru selesai menyiapkan pakaian kering hangat.

“Sambil mengeringkan tubuh kalian, aku ingin bicara sesuatu tentang Lay, juga tugas-tugas yang menanti kalian di depan. Chen, masih sesak?”

Si mawar hijau menggeleng, walau wajahnya masih menampakkan raut terkejut gara-gara aksi Lay sebelum ini.

“Baiklah.” Jessica menghela napas. “Jadi, kalian sudah lihat sendiri betapa pekatnya dosa dalam udara kota, bukan? Itulah sebabnya kalian aku tarik ke sini: karena kalian memiliki potensi untuk menghapus dosa-dosa itu dengan cinta yang kalian tebarkan. Benih milik kalian masing-masingnya sangat istimewa, tetapi menjadi istimewa saja tidak cukup. Orang-orang seperti mawar hitam barusan mengancam kalian sepanjang jalan, bagusnya ia tidak terlalu kuat dan ia bukan anak buah Iblis, musuh kita semua.”

“Tidak terlalu kuat, kaubilang? Dia hampir membunuhku!” protes Lu Han.

“Karena kau yang sekarang masih lemah.” Jessica menukas, mengagetkan sekaligus melukai harga diri Lu Han. “Kau memiliki duri, tetapi takut menggunakannya karena kau tidak mau menyakiti orang lain. Aku berharap kalian tidak menyebarkan kasih sayang dengan kecemasan berlebihan begitu. Kalian punya musuh, maka kalian mesti pandai-pandai memanfaatkan senjata yang melekati kalian sejak lahir. Duri-duri itulah sebetulnya alasan mengapa hanya mawar yang aku terima di rumah kaca ini. Aku tidak butuh yang indah saja, melainkan juga yang penyayang dan bisa kejam.”

Anak mata Jessica bergeser pada Lay.

“Mawar salem di sana itu tidak sebaik kelihatannya.” –Lay tidak menyangkal, daunnya bergerak terus dalam sunyi, mengeringkan diri dengan handuk— “Kalau bukan karena hukumanku, ia pasti akan mendatangi kalian dengan bau anyir di setiap helai mahkotanya. Dan warna darah. Dia pembunuh, anak buah Iblis yang paling berbahaya,” –Potongan ini entah bagaimana tidak terlalu mengejutkan para mawar; serangan brutalnya sedikit banyak memberikan gambaran—“tetapi aku sudah mencucinya cukup lama dalam pengasingan, jadi kalian tidak perlu khawatir. Dialah yang akan mengajari kalian, bagaimana caranya menjadi kejam tanpa menambah dosa.

“Sebagai tambahan, serangan sembrononya tadi adalah perkecualian. Lay, kau ikut aku setelah ini. Sisanya istirahat saja dulu, terutama kau, Chen.”

Lay bangkit dari duduknya, berpaling sejenak pada tiga pasang mata yang memandangnya ngeri bercampur penasaran, kemudian tersenyum tulus, seolah mengatakan ‘tidak ada yang perlu kalian takutkan’. Ia menghilang di balik pintu ruang utama bersama Jessica …

… dan tubuh Lu Han menegang. Netranya terkunci pada duri-durinya yang pendek tumpul lantaran tidak pernah dipakai.

Itukah guna tangkai ini sebenarnya? Menghabisi mereka yang dianggap musuh cinta? Aku tidak pernah membunuh dan tidak akan pernah! Tapi mawar hitam tadi … andai dia berhasil membunuhku, maka benih kasih sayang dalam tubuhku juga akan mati dan rencana Jessica untuk membudidayakan cinta tidak akan berhasil. Kematianku mungkin akan membuat dosa makin merajalela.

Tunggu, dia bilang Kris mencuriku dari tanah kematian? Apakah kalau begitu seharusnya aku mati? Berarti mawar hitam itu bertindak benar! Melarikan diri dari takdir, tidakkah itu sebuah dosa juga? Menjauhi kematian, juga menghindari tugas untuk membabat musuh-musuh cinta, itu adalah sebuah kesalahan, bukan?

“Penghuni Amorose tidak ada yang ditakdirkan mati lebih dulu, Han. Jangan terlalu dipikirkan.”

Lu Han mendongak. Kris berdiri di hadapannya, keyakinan tergambar jelas di mata sang mawar putih.

“Kita ditugaskan untuk menghapus dosa, tetapi kita sendiri membuat dosa dengan menyalahi aturan main dunia ini. Tidak ada satu nyawa pun yang boleh diambil kembali setelah memasuki kuasa Kematian. Membunuh juga terlarang bagi seluruh penghuni Bumi, lalu mengapa—“

“Kutub-kutub pemikiranmu tidak bisa diterapkan dalam beberapa kasus,” sahut Kris tegas, membungkam Lu Han seketika. “Kan sudah kubilang, jangan terlalu dipikirkan. Dalam dunia seperti ini, kita tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari jalan Iblis, Han.”

Menyaksikan kawan ungu pucatnya termenung, Chen menyunggingkan senyum biarpun dirinya ragu mampu mengemban tugas (setengah) mulia ini.

“Apa yang akan kita perbuat mungkin diperbuat pula oleh bawahan-bawahan Iblis, tetapi kita melakukannya dengan niat berbeda, maka kita tetap akan berbeda dari mereka. Bahkan Lay, yang ternyata dulunya anak buah Iblis, kini tidak lagi bertindak di bawah nama kejahatan. Selain itu, Nona Jessica adalah penghukum para penjahat, mustahil dia membelokkan kita ke jalur yang salah.”

Chen benar, Kris pun tidak keliru, hanya Lu Han yang butuh waktu memantapkan tekad. Memenuhi rongga dadanya dengan harum hujan, sang mawar ungu mengalihkan perhatian pada hujan yang makin deras di luar rumah kaca.

Semoga hujan membasuh luka mawar hitam itu sekalian ….

***

Di salah satu ruang remang dalam Amorose, Lay tenggelam. Ia menggapai-gapai Jessica yang berdiri tak jauh dari kolam hitam rasa bersalah, namun sang mentari tak peduli. Menyilangkan kaki jenjangnya, Jessica duduk di sofa, menyesap teh sembari mengawasi jalannya ‘pencucian’ Lay yang kesekian. Menyerang mawar hitam tadi, rupanya, menimbulkan rasa bersalah Lay yang cukup besar untuk membuat kolam hitam baru di luar sangkar. Tangan-tangan gelap menarik Lay, membenamkan seluruh tubuh mawar salem itu dan mengelupas noda darah pada tangkai berdurinya. Pencucian kali ini lebih singkat dari saat di pengasingan, sehingga Lay cepat mengemuka dari dasar kolam. Disambarnya handuk yang tergantung dekat jangkauan, lalu mengeringkan tangkai serta daunnya, sementara kolam rasa bersalah di balik punggungnya menciut sampai lenyap.

“Mawar hitam itu menyinggung masa lalumu, tetapi itu tidak berarti kau dapat melayangkan serangan fatal untuknya. Kuharap kau paham mengapa hukumanmu berlanjut di luar masanya.”

Lay berganti pakaian, memunggungi Jessica hingga sang ratu langit tidak bisa membaca rautnya. Jessica tidak perlu membaca raut Lay, sebetulnya, karena apa yang Lay ingin katakan langsung muncul dalam wadah gulanya. Merasa tehnya kurang manis, Jessica membuka wadah keramik kecil itu dan menemukan kalimat ‘kau tidak mengerti betapa menyakitkan bagiku ketika dia menyebut Bulan’ di sana.

Jessica menyendok kalimat Lay, lantas mengaduknya bersama teh. Larutan itu terasa lebih pas dengan selera Jessica sekarang; memang tidak ada yang lebih manis dari kata-kata Lay, sekalipun kata-katanya saat ini bukanlah rayuan. Untung Jessica menyita kata-kata itu sebagai salah satu bagian dari hukuman Lay bertahun-tahun silam, membisukan Lay secara permanen agar tidak ada lagi yang jatuh pada pesona palsunya.

“Kau pasti akan lebih terluka kalau dia menyebut Krystal, bukan Bulan.”

Sang mawar salem mengatupkan rahang.

Jangan sebut nama itu! Kau akan melukai dirimu sendiri pada akhirnya, Jessica!

“Ancaman itu tidak mempan untukku.” Jessica mengulas senyum miring, memasukkan sesendok lagi kalimat Lay ke tehnya dan mencicip. “Hm, kau marah pun rasanya masih manis. Luar biasa kata-kata seorang perayu, benar?”

Alis Lay nyaris menyatu saat dia menoleh ke belakang, sayangnya Jessica tidak gentar.

“Padahal aku berusaha untuk tidak mengungkit masa lalu kita, ternyata susah, ya.” Mengangkat cangkirnya agak tinggi, yang terlihat dari Jessica hanya sepasang manik sewarna topaz yang berkilat sinis. “Aku masih ingat setiap detik di mana kau mengukir senyum di wajah Krystal sebelum menghancurkannya. Kau membunuh adikku yang malang sebelum ia sempat bersinar lebih terang seperti cita-citanya, mengubah malam berbulan merah dengan malam hitam tak berbulan. Dosamu sangat besar sampai sanggup mengukir sejarah, mana bisa kulupakan?”

Kata-kata dalam wadah gula Jessica terpatah-patah, tetapi jumlahnya amat banyak hingga meluber mengotori meja. Sebagian besar kata-kata cair itu merupakan potongan dari ‘hentikan!’, ‘itu salah Iblis yang mengendalikanku!’, ‘aku sangat mencintainya!’, dan rangkaian alfabet lain yang senada. Jessica diam-diam merasa jahat; ia tahu hukuman yang Lay jalani sebagai mantan tangan kanan Iblis sudah berat, masa masih menambahi penderitaannya dengan kenangan tentang kisah kasih tak sampai?

Sang mentari melempar sekepal tanah berhumus pada Lay. Si mawar salem dengan sigap menangkap.

“Coba masakan Luna. Barangkali mampu menenangkanmu,” tawarnya. “Maaf, aku menyalahi kesepakatan kita dengan lancang menyebut-nyebut tragedi itu. Mari kita mulai dari awal. Kris, Lu Han, dan Chen teman-teman yang menyenangkan, sembuhkan luka hatimu dengan kasih sayang mereka sebelum belajar mencinta lagi.”

Lay mengangguk, membalurkan zat semipadat tadi ke akarnya seraya mendesah pelan.

Dan sebagai gantinya, aku akan mengajari mereka bertarung.

“Tepat. Keberatan dengan pertukaran ini?”

Mengapa harus keberatan? Detik-detik yang dihabiskannya bersama Lu Han, Kris, dan Chen hari ini amat membahagiakan sampai-sampai ia dapat sejenak melupakan ‘tragedi Bulan merah’. Ikatan persahabatan barunya terasa lumayan mirip ikatannya dengan satu kupu-kupu monarch di pengasingan; ia harap persahabatan yang baru ini bertahan lebih lama. Ia harap pula, ingatan-ingatan baru yang mereka jalin bersama sanggup menyenggol pergi memori tentang Krystal dari kopornya.

Sekarang memang belum. Hanya masalah waktu, Lay percaya.

***

Langit pagi masih gelap sebab Jessica belum menanggalkan tudung malamnya, jadi wajar kalau Lu Han enggan beranjak dari alam mimpi, kendati rungunya terusik oleh bunyi-bunyi asing. Potnya kan terkunci, mana mungkin ada penyusup?

Namun, Lu Han terpaksa bangun ketika bahunya diketuk oleh seseorang.

“Ngh,” erangnya dengan kelopak mata membuka separuh. “Siapa yang—“

Kalimat Lu Han tak tuntas. Kantuk buru-buru angkat kaki dari matanya begitu ia menemukan ujung lancip tangkai berduri yang pas menghadapnya …

“HUWAAA!!!”

… dan tidak memberinya kesempatan bicara. Tanpa peringatan, tangkai berduri itu menghunjam lurus ke ranjang, barangkali menembus mata Lu Han andai si mawar ungu pucat tidak bagus refleksnya. Ia berguling ke sisi, tetapi tangkai yang entah siapa pemiliknya itu mengejar hingga Lu Han terpaksa turun dari tempat tidur.

“Oi, whoa!” Lu Han cepat menangkis serangan yang nyaris mengenai punggungnya, duri-durinya menajam secara naluriah akibat pancingan bahaya. “Apa-apaan ini? Seseorang, tolong jelaskan apa salahku!”

Pintu pot Lu Han terbuka, tetapi tidak rusak. Pemilik tangkai panjang berduri ini pasti punya kunci untuk membuka potnya. Benar saja, ketika Lu Han keluar, ia menemukan dua pot lain yang bersebelahan—milik Kris dan Chen—terbuka lebar pintunya. Penghuni dua pot tersebut sama-sama kerepotan menghadapi serangan fajar dari tangkai berduri serupa.

“Lay! Kami tahu kau akan melatih kami, tapi beri aba-aba dulu, dong!”

Lengking suara Chen kontan membuat anak mata Lu Han beredar ke segala penjuru, mencari keberadaan nama yang Chen panggil. Ah, itu dia: Lay duduk santai di kursi kayu di ujung lorong, membiarkan tangkai berdurinya terus bercabang, memanjang, dan menyerang kawan-kawannya sendiri. Di sebelahnya, Jessica duduk sambil tergelak gembira, tudung malam menyelubungi sinarnya dengan sempurna. Sial. Pantas saja ketiganya tidak mengira Jessica sudah bangun!

“Ayolah, kalian bisa lebih baik, teman-teman! Jangan menghindar terus, serang balik!”

“Cerewet, Jessica!” teriak Lu Han. “Kesadaran kami bahkan belum pulih benar!”

“Sayangnya, syarat sarapan hari ini adalah satu serangan pada Lay, jadi semangat, ya!”

“APA?!” pekik tiga mawar bersamaan. Kris kemudian mencoba bernegosiasi.

“Lay, kau mengerti seberapa kemampuanmu dan kemampuan kami, bukan? Kami tidak mungkin mengalahkanmu, jadi hentikan ini!”

Dua belah daun Lay tertangkup di depan wajah, ekspresi bersalahnya imut bagi siapa pun yang tidak sedang diserangnya. Setelah meminta maaf dengan sunyi begitu, Lay menyilangkan daunnya, mengisyaratkan penolakan, dan ketiga mawar mengerang kecewa. Erangan itu segera berubah menjadi teriakan kembali karena serangan Lay yang masih terus berlanjut.

“Hati-hati durimu.”

Bisikan Jessica Lay tanggapi dengan anggukan singkat. Kendalinya sudah lebih baik dibanding dulu ketika masih menjadi anak buah Iblis. Lagi pula, ini kan teman-temannya, ia tak akan melukai mereka sebagaimana dulu melukai korban-korbannya, pihak-pihak yang ingin Iblis bunuh, termasuk kekasihnya sendiri. Lantaran telah memiliki kendali penuh atas raganya, Lay akan lebih pilih-pilih, menahan durinya untuk tidak menyentuh nyawa-nyawa yang berharga.

“Hentikan saja seranganmu jika cukup lama tidak ada yang mampu menyerangmu. ‘Hampir kena’ saja cukup, kok. Ini kan cuma pendahuluan.”

Daun Lay terangkat.

Aku mengerti, suruh saja Luna bikin sarapan. Aku juga tidak mau lama-lama kelaparan gara-gara latihan pendahuluan ini.

Demikian isi wadah gula Jessica terbaca.

“Oke, semuanya, aku ke langit dulu. Pagi tak bisa datang tanpaku, kalian tahu,” ujar Jessica sembari menurunkan tudungnya di bagian kepala, memancarkan semburat jingga di atas tudung malamnya. “Luna, masakkan mereka sarapan yang lezat dan bergizi, ya!”

“Jess, t-tunggu dulu!!!”

Yang dipanggil tidak menggubris, naik ke langit sambil terkikik, sedangkan tiga mawarnya dibuat jungkir balik oleh setangkai mawar salem yang menemukan kebahagiaan baru dalam sesi latihan dadakan ini.

Kawan-kawan, kalian pasti bisa!

bersambung.


.

.

.

reupload full ver, baru bisa ngerjain sekarang. susah membangkitkan feel exo ketika diri ini mulai keseret ke nct, sampai-sampai aku nggak tahu mas suho dan mas chen ada photoshoot solonya T.T

Advertisements

2 thoughts on “Glasshouse of Amorose (pt. 3)

  1. wauuu kak lianaa ini panjang sekali, hahaha. untung tulisan kakak enak dibaca, jadi ga bosen-bosen banget deh hehe. aku jarang baca (dan nulis) fiksi yang panjaaaaang (iya a-nya harus sebanyak itu) soalnya takut bosen, but this is an exception.

    kak liana tuh macem-macem aja sih idenya, ampun deh :” ada kolam rasa bersalah, partikel dosa, sampe kalimat manis yang bisa jadi gula buat minum teh, kepikiran aja sih kaaak atuhlah :” hats off buat fiksi-fiksi surealismenya kak liana, no doubt.

    maaf ya kak li komen aku pendek 😦 semangat nulis dan real lifenya kaaakk ❤

    Liked by 1 person

    1. Makin ke sini makin panjang kurasa ku tak tau harus bagaimana menghentikan adegan2 surreal yg bermunculan di kepalaku. Baguslah masih ada yg baca Krn kurasa aku ga bisa berhenti nulis ini walau ga ada yg baca juga…
      Makasih bgt nad udah mau menyerahkan matamu dgn ini!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s