Born Hater (pt.4)

fire-mad-clown-jinsil-hani-eyes

a Greek mythology fanfiction

Aphrodite/Ares, Aphrodite/Hephaestus

Romance, Marriage Life, Angst, Mature for sexual contents

Warning: no explicit sex scene, (((just))) vulgar words.

.

[4]

Kau mengharapkan terlalu banyak hal dariku. (Gilme ft. Outsider – Love is War)

***

Aphrodite bukan pelacur, walaupun kemolekan tubuhnya dinikmati hampir semua dewa di Olympus. Baginya, bercinta tidak hanya bermakna penyatuan raga, melainkan peleburan jiwa, suatu prosesi sakral yang membuat dua insan terikat. Karenanya, setiap belaian dan kata-kata mesti disampaikan selembut-lembutnya, barulah sepasang kekasih akan bisa saling menyembuhkan. Sepanjang ingatan Aphrodite, itulah yang ia lakukan dengan sekian banyak prianya, tetapi tidak ada satu pun yang sepedih hari ini, ketika dirinya dikoyak habis-habisan oleh Ares, dari kemaluan hingga ulu hati. Luka yang Ares timbulkan diperlebar oleh tatapan menyayat Hephaestus segera setelah sang dewa api memasuki kamar.

“Sudah selesai?”

… adalah dua kata yang membekukan Aphrodite sampai ke inti. Dengan dua kata itu saja, Hephaestus telah menyampaikan seluruh perasaannya—kekecewaanlah yang paling kentara—dan Aphrodite, meski dirinya adalah korban di sini, tidak hendak melakukan pembelaan. Ares menyetubuhinya di luar kemauannya, tetapi Hephaestus cuma tahu Ares kekasihnya, maka Hephaestus pasti berkesimpulan mereka bersanggama atas dasar suka sama suka. Pasti. Hephaestus bukan dewa pemarah, namun bukan mustahil kalbunya mengeras akibat kebencian Aphrodite pada kecacatannya.

Tak pernah tubuh abadi Aphrodite merasa begini lelah, jadi ia tutup kedua matanya sambil berharap dirinya tidak bangun kembali; tidak esok, tidak pula seterusnya. Namun, bagai kutukan, Aphrodite tersadar pada malam harinya dengan tubuh yang masih sama ternoda, sementara Hephaestus duduk memunggunginya di ujung ranjang. Benar bahwa bekas pergumulannya dengan Ares tidak bersisa—Hephaestuskah yang membersihkan?—tetapi entah bagaimana, permukaan kulit mulus sang dewi seakan masih berlumur lumpur.

Merasakan pergerakan lemah dari balik punggungnya, Hephaestus berpaling. Api dalam sepasang netranya redup tersiram emosi yang terlalu takut Aphrodite menerjemahkan.

“Kau memperlakukan ikatan kita bagai sampah.”

Bibir Aphrodite yang lecet akibat ulah Ares terus terkatup.

Ya, aku tahu—dan aku sangat menyesal.

“Zeus yang Agung bisa saja menggusurmu dari takhta utama Olympus dan menggantimu dengan Yang Mulia Hestia yang lebih bijaksana.”

Kendati itu mungkin saja menjanjikan akhir yang lebih baik untuk umat manusia, hati Aphrodite masih mencelus memikirkannya. Takhtanya, ritusnya, pengikut-pengikut dari mana ia memperoleh cinta yang tiada habisnya … akankah dilenyapkan oleh satu peristiwa yang bahkan ia sendiri tidak menghendaki?

“Tapi hukuman itu kurang berat untukmu, wahai dewi cinta.” Hephaestus bangkit, keriut kaki logamnya sama mengejek dengan frasa yang ia ucapkan di penghujung kalimat. “Aku tidak butuh Zeus yang Agung menurunkanmu dari takhta utama, jadi kebusukanmu ini tidak akan keluar dari dinding kamar. Biar begitu, perlu kauketahui sikap submisifmu telah membuat gila Ares. Lihat saja dunia manusia beberapa hari setelah ini; kau cuma akan menemukan darah di seluruh permukaannya.”

Tidak, Aphrodite tidak ingin tubuhnya basah lagi oleh darah seperti ketika ia tercipta dulu, tetapi Hephaestus mengesankan bahwa apa yang ia katakan akan benar-benar terjadi. Bukan mustahil. Hephaestus memiliki kewenangan dan kekuatan sebagai dewa, dia bisa melakukan apa pun yang dia mau pada dunia manusia, termasuk melampiaskan kekecewaannya pada Aphrodite dengan merusak ritus para pecinta. Kalaupun ujungnya Ares yang menimbulkan kerusakan di dunia manusia, Aphrodite yakin ‘kehendak’ Hephaestus-lah yang memicu kerusakan tersebut.

Pandangan Aphrodite dikaburkan air mata.

“Ampuni aku, Hephaestus ….”

“Mengapa mohon ampun padaku?” Satu kain lembab Hephaestus lemparkan kasar ke arah Aphrodite. “Mohon ampun saja pada pakaianmu yang terperciki mani Ares ini.”

Hephaestus menyeret langkah, menutup pintu kamar dari luar, meninggalkan Aphrodite bersama pakaian kotornya yang terbakar separuh sisi—dibakar oleh sang suami. Jalinan serat gosong menguarkan bau pahit dan Aphrodite menumpahkan tangis ke atas sana sejadi-jadinya.

***

Tidak ada yang tahu berapa hari Ares tidak menampakkan batang hidung di Istana Olympus, yang jelas dunia manusia tercium kian anyir semenjak kepergiannya. Zeus tampaknya muak dengan kelakuan putranya sendiri, sehingga daripada meminta bocah itu muncul dan bertanggung jawab atas kekacauan yang ada, ia lebih memilih mengurus semua sendiri bersama para pemegang takhta utama Olympus—yang masih berfungsi baik, tentunya. Aphrodite tidak masuk hitungan sebab sang dewi juga tidak muncul berhari-hari di Istana.

Dalam satu pertemuan, Athena berpendapat.

Dunia sedang tak seimbang karena Aphrodite dan Ares, masalahnya mereka sama-sama tidak mudah kita kendalikan. Mereka merupakan perlambang jiwa para mortal yang tidak bisa seimbang jika tidak diseimbangkan sendiri oleh si empunya jiwa. Menurutku, jalan terbaik bukan mematikan langkah Ares yang membabi-buta, tetapi melakukan sesuatu pada Aphrodite agar ia mau membangun ritusnya dari awal lagi. Di luar itu, kita tidak bisa mengutak-atik perasaan yang mereka kuasai.

‘Melakukan sesuatu’. Sang Dewi Strategi pun tidak tahu apa ‘sesuatu’ yang krusial ini. Layaknya cinta, Aphrodite ternyata jauh lebih rumit dari perkiraan para dewa sampai-sampai si cerdas Athena angkat tangan, tidak sanggup memecahkan misterinya. Dunia kian berantakan hingga Zeus turun tangan langsung untuk mengalahkan putranya di setiap pertempuran, juga memerintahkan tiap dewa minor penjaga dunia manusia untuk mencari Aphrodite, tetapi dua jalan itu rupanya tak menyelesaikan masalah pokok. Ares, terlepas dari kelemahan taktiknya, menjadi berkali-kali lipat lebih kuat karena berpihaknya seluruh emosi negatif manusia padanya, sedangkan Aphrodite, yang harusnya menyeimbangkan, malah lenyap ditelan bumi. Para pemuja kasih sayang jelas terpengaruh: perasaan yang Ares kuasai mulai menguat dalam hati mereka masing-masing, memberi makan api dengan kayu, membakar dunia dengan perang-perang lain yang lebih besar.

Zeus tak punya pilihan. Cinta merupakan sesuatu yang mesti dipegang, dikendalikan, maka jika Aphrodite gagal menjalankan tugas, apa yang menjadi kuasanya terpaksa Zeus serahkan pada dewa lain.

Dan, meskipun tidak mendengar apa pun mengenai keputusan Zeus ini, Aphrodite mengerti jabatannya sebagai sang mahacinta akan segera dilucuti.

Ombak kecil-kecil di pantai Cythera tempatnya bersembunyi menggelitik kaki Aphrodite, tetapi sang dewi tidak tertawa ceria sebagaimana biasa. Air asin ini tidak menghibur, justru membenamkannya dalam masa lalu pahit. Anyir darah Uranus melekatinya hingga detik ini; lucu bagaimana ia dilantik sebagai dewi cinta ketika bau tidak enak itu (harusnya) masih di sana. Ya, lucu bagaimana tiap malam, para pria bergiliran menikmati raganya—yang bukan apa-apa kecuali kebusukan berbalut kecantikan. Yang lebih bodoh lagi, ia percaya bahwa selama ini, dialah satu-satunya penguasa cinta.

Apanya?

Pantulan raut Aphrodite dari permukaan jernih lautan menyembunyikan pilu. O, betapa buruk rupa ia sekarang ini, muram seakan-akan seluruh cahaya abadinya telah terambil, padahal Zeus belum melaksanakan keputusannya. Jangankan orang lain, Aphrodite sendiri muak melihat wajahnya. Wajah pendosa. Aphrodite mengertakkan gigi, memekik keras, dan memukulkan dua kepalan tangannya sekaligus ke air, memecah bayangannya. Untuk yang kesekian kali, air mata Aphrodite tumpah, tetapi air mata itu susut seiring kian teredamnya gelombang yang Aphrodite ciptakan tadi. Cermin yang ini tidak bisa Aphrodite remukkan; lihat saja bagaimana refleksi dirinya kembali utuh di atas air.

Aphrodite jatuh terduduk. Tatapnya nanar. Dapat ia dengar sayup-sayup doa para pemujanya yang masih sehat akal dan nurani, mohon keselamatan dari deraan wabah gila perang.

Ah, untuk apa memohon padaku? Apa yang mereka minta dariku? Sisa-sisa kasih sayang buat membentengi diri dari nafsu membunuh?

Tapi, apa kasih yang dulu dirajai Aphrodite masih bersisa? Serangkaian kejadian setelah Aphrodite menjadi istri Hephaestus bukankah hanya disesaki kebencian? Aphrodite membenci kecacatan Hephaestus, karenanya ia lari pada Ares. Sayang, sifat haus darah Ares bertentangan dengan sifat pengasih Aphrodite, maka Aphrodite jadi membenci Ares pula. Ucapan Ares ketika menggagahinya malam itu membuktikan bahwa Aphrodite selama ini dijadikan pelampiasan belaka oleh sang dewa perang yang tidak pernah menang atas Athena, akhirnya Aphrodite pun membenci Athena. Zeus yang memahami betapa berbahaya kondisi Aphrodite bagi umat manusia akan menanggalkan jabatan penguasa cinta dari Aphrodite dan andai keputusan itu telah dijalankan, Aphrodite pasti akan membenci Zeus.

Lalu, sebagai penutup yang sempurna, Aphrodite berkaca dan membenci apa yang ia temukan di sana.

Aku terlahir untuk membenci dan dibenci.

Kalimat tersebut menggaung dalam benak Aphrodite, meruntuhkan keyakinan manusia akan kasih. Tanah Cythera, bagian dunia terdamai tempat penyembah Aphrodite berdiam, ujungnya juga terlahap badai amarah. Orang-orangnya mulai bersikap di luar kewajaran. Mengayunkan senjata untuk merenggut nyawa terasa mudah saja. Jeritan-jeritan mereka keras memenuhi rungu Aphrodite, tetapi entah bagaimana sang dewi tidak terusik dengan penderitaan para anggota ritusnya. Aphrodite terus berjalan hingga tubuhnya terendam, seperempat, separuh, tiga perempat …

… kemudian senyap. Sesak, namun senyap. Sebagai dewi, mestinya Aphrodite masih sanggup bernapas dalam air, apalagi ia memang tercipta dari lautan, tetapi jika ia tidak bisa, berarti satu: ia tidak lagi abadi.

Zeus telah menjalankan hukumnya.

Kesenyapan yang Aphrodite temukan ketika ia melayang pelan dalam sejumlah besar massa air terasa menenangkan sekaligus menyiksa. Ya, buat apa memikirkan Hephaestus atau Ares, juga umat manusia? Perasaan ini hancur berkeping-keping, mereka juga tidak mungkin bisa menatanya.

Tapi … jauh dalam batin Aphrodite, ada satu tempat yang isinya tidak boleh diganti. Satu rongga kosong yang sementara isinya tetap cinta. Rasa iba. Kepedulian.

“… dite!”

Eh?

“Aphrodite!”

Siapa?

Dalam keadaan setengah sadar, Aphrodite merasakan satu tangan hangat menyentuhnya dan menariknya ke atas. Sang dewi tidak melawan, sebenarnya tidak ingin pula ditolong, tetapi tahu-tahu saja, kepalanya sudah menyembul ke permukaan. Tubuhnya lagi-lagi ditarik ke arah yang tidak ia kehendaki: pesisir, tetapi ia masih tidak melawan.

“Apa yang kaulakukan? Lupa kalau sekarang kau manusia? Kau tidak bisa bernapas dalam air lagi mulai saat ini.”

Sebagai dewi, mata yang terkena air tidak menjadi masalah saat melihat; Aphrodite sempat bingung mengapa pandangannya mendadak kabur sebelum ia ingat dirinya yang sudah kehilangan kekuatan. Membersihkan matanya dari titik-titik air, ia akhirnya mampu menangkap jelas sosok di hadapannya.

“Hephaestus ….”

***

Semula, Hephaestus tidak memedulikan absennya Aphrodite di Istana Olympus. Hatinya masih terluka setiap kali mengingat pergumulan istrinya dengan Ares di ranjang mereka. Kendati ikatan pernikahannya telah rusak, Hephaestus bungkam, menjaga bibirnya tetap terkunci terutama di depan Hera. Sang ratu yang bertanggung jawab atas pernikahan ini mulai uring-uringan, menganggap salah satu sebab kepergian Aphrodite adalah penolakannya terhadap Hephaestus. Hera sesungguhnya sudah menyiapkan hukuman, tetapi Zeus memanggil Hephaestus pada suatu hari dan mendahului sang dewi pernikahan.

“Aku tahu kau dan dia tidak terlalu dekat bahkan setelah menikah, tetapi kau pasti tahu keadaan terakhirnya sebelum pergi. Menurutmu, apakah dia masih mampu mengemban tugas di Istana Olympus ini sebagai penguasa cinta? Kurasa, dia tidak sedang berada dalam keadaan baik belakangan.”

Harus menjawab apa? Hephaestus bilang ia tidak terlalu tahu, tetapi satu dorongan kuat dari dalam diri memaksanya menambahkan ‘ia tidak lagi sanggup menjalankan tugas terhormat itu’. Kalimatnya mengesankan ada duri yang tersembunyi di balik pintu kamar mereka, sehingga Hera bertanya—tanpa tedeng aling-aling—apakah Aphrodite menyelingkuhinya.

Ya.

Tapi bibir Hephaestus meluncurkan jawaban sebaliknya.

“Baik, Hephaestus. Terima kasih. Sebentar lagi bersiaplah untuk pertemuan di ruang takhta; ada sesuatu yang harus kubicarakan mengenai Aphrodite bersama yang lain juga.”

Yang Hephaestus tidak ketahui, jawaban jujurnya menentukan keputusan yang Zeus sampaikan di ruang takhta itu. Bila ia mengungkapkan masalah yang sebenarnya, mungkin Zeus hanya akan memerintahkan Hera memperbaiki ikatannya dengan Aphrodite, tetapi berhubung Hephaestus menghindar, Zeus jadi tidak bisa membaca masalah sang dewi cinta. Satu langkah cepat Zeus ambil—dan Hephaestus terbelalak di takhtanya.

“Atas pelanggaran berat mengabaikan ritus, aku hendak menghukum Aphrodite dengan menghilangkan kekuasaannya dan mengubahnya menjadi manusia. Takhtanya akan diisi oleh Hestia sebagai penguasa cinta yang baru agar keseimbangan tetap tercipta. Ada yang keberatan?”

Walau sering ragu mengajukan pendapat di pertemuan, kali ini Hephaestus langsung menyatakan keberatannya. Berucap hati-hati agar tidak menyinggung Zeus, Hephaestus menyampaikan bahwa menurutnya, Aphrodite tidak bisa diganti, begitu pula para pemegang takhta utama di ruangan. Ada sifat tertentu yang menyebabkan satu dewa mendapat tugasnya alih-alih memperoleh tugas dewa lain. Termasuk Hestia yang Lembut, biarpun ia perawan yang pasti mampu menjaga cintanya, ada satu poin yang kontan menggugurkannya dari kandidat pemegang takhta penguasa cinta.

‘Api’ itu. Hasrat. Egoisme. Karena Aphrodite-lah, cinta menjadi unik.

Zeus memandang Hephaestus tajam.

“Itu bukan sebuah alasan. Aku akan tetap mencabut keabadiannya, tetapi dia akan kukembalikan ke takhta kalau kau bisa memaksanya menjalankan tanggung jawabnya kembali.”

Biar turunnya Aphrodite dari takhta tidak memengaruhinya secara langsung, entah mengapa Hephaestus bersikeras memulangkan Aphrodite ke Olympus dan menyanggupi syarat dari Zeus. Itulah mengapa ia menginjakkan kaki di pantai ini, menghancurkan penghalang yang menyembunyikan aura Aphrodite dari semua pihak yang mencarinya, hanya demi mendapati Aphrodite membenamkan diri ke laut Cythera.

Pedih menghunjam Hephaestus tanpa ia ketahui dari mana berasal. Tahu-tahu saja, telapak mungil Aphrodite berada dalam genggamnya.

“Apa yang kaulakukan? Lupa kalau sekarang kau manusia? Kau tidak bisa bernapas dalam air lagi mulai saat ini.” []

bersambung.


.

.

akhirnya ada yg up. aish telat seminggu. chapnya rough belum ditulis sama sekali lagi hiks.

Advertisements

3 thoughts on “Born Hater (pt.4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s