Glasshouse of Amorose (pt. 4)

episode 4: Cherish

Prologue12 – 3

.

Aku akan membuatmu bahagia!

***

Jessica baru menanggalkan tudung malamnya separuh, menyapukan warna fajar di langit, tetapi kantuk enggan tinggal lebih lama di kelopak Lu Han. Mawar ungu itu menguap sebelum memekarkan diri, menyambut pagi dengan malas. Kemarin merupakan satu lagi hari latihan yang berat; serangan-serangan Lay masih terlalu cepat untuk ditangkis, jadi meskipun Lay ‘mengatakan’ mereka sudah lebih baik, Lu Han merasa ia, Kris, dan Chen terus berjalan di tempat. Sembari bercermin, Lu Han meraih cinta di balik berlapis-lapis mahkota bunganya, kemudian membandingkan ukuran perasaan berwujud kristal segienam itu dengan ukuran daunnya.

Bertambah sedikit, sepertinya, mungkin dua atau tiga milimeter.

Atau barangkali, cinta Lu Han tidak bertumbuh sama sekali, hanya ‘kesan’ yang—jangan-jangan—cuma khayalan si mawar. Lu Han mulai lelah menunggu cintanya berkembang. Sudah berapa bulan dia di Amorose, omong-omong? Cintanya masih segitu-segitu saja, padahal dia memiliki tugas besar membudidayakan cinta di Bumi yang pekat dosa.

Butuh berapa tahun bagi kami semua untuk mencapai jumlah cinta yang sama besar dengan luas Bumi ini?

Namun, karena pikiran pesimis itu semakin memberatkan, Lu Han mengenyahkannya dan mengembalikan cintanya ke tempat semula. Keraguan akan menghambat cinta berbunga, itu salah satu pelajaran mengenai budidaya cinta yang ia peroleh selama dikarantina dalam rumah kaca, maka berputus asa sebelum ada hasil akhir sebaiknya tidak dilakukan. Sekali lagi, Lu Han memekarkan mahkotanya yang cantik, melengkungkan batangnya ke kiri dan kanan untuk pemanasan, lantas melangkah keluar potnya. Hal pertama yang ia lakukan adalah memeluk tubuhnya sendiri, bergidik sejenak akibat embusan pelan angin dengan suhu menggigit.

Aneh. Apa sekarang sudah musim dingin?

Lu Han menggesek-gesekkan kedua belah daunnya, melawan hawa membekukan yang tampaknya berasal dari ruang tengah. Di ujung koridor menuju ruangan itu, ia mendapati rekannya, si hijau, sedang mengintip ke dalam. Mengapa tidak langsung masuk saja?

“Chen? Kau meli—”

“Ssh!” sahut Chen, mengangkat sebelah daunnya. “Jangan berisik. Kita tidak boleh mengagetkan dia.”

Kening Lu Han berkerut. “Hah?”

“Iya, tuh, dia,” tunjuk Chen ke sekitar perapian yang remang. Lu Han memicing, berusaha mempertajam penglihatan, dan menemukan setangkai mawar biru pucat yang dengan warnanya saja dapat membuat orang kedinginan. Mawar itu duduk mematung di depan perapian, memunggungi Lu Han dan Chen, memancing rasa penasaran keduanya. Mereka menunggu si biru berbalik dan menunjukkan rupanya, tetapi hal itu tidak terjadi bahkan setelah Lay datang dan ikut mengamati.

Kalian mengenalnya?

Menggunakan isyarat, Lay bertanya dan Chen menggeleng sebagai jawaban. “Tapi dia berdiang di situ dari tadi, mestinya sudah dapat izin dari Jessica,” bisik si mawar hijau. “Apa mungkin ia penghuni baru yang tidak sempat Jessica kenalkan?”

“Tidak mungkin.” Lu Han kontan menyanggah. “Kalau betulan mawar itu jadi penghuni baru, Jessica atau Luna pasti akan mengatakan sesuatu mengenainya pada kita. Ini? Dia malah lebih seperti penyusup.”

“Dia tidak terlihat membahayakan untuk ukuran penyusup.” Chen berpendapat dan Lay mengangguk tanda setuju. Ketiganya kembali bungkam di balik dinding, memata-matai si mawar asing tanpa sedikit pun bergerak …

… hingga mereka menyadari daun mawar biru itu mulai meleleh.

“Lho, tunggu—“

“ASTAGA, XIUMIN, MENJAUH DARI SITU!!!”

Lu Han, Chen, dan Lay terjungkal dengan sangat tidak elitnya begitu Kris menerobos masuk ruang tengah sambil berteriak kesetanan. Sang mawar putih buru-buru menjauhkan mawar biru asing dari perapian—tampaklah seperempat bagian tubuh depan si biru yang ternyata sudah duluan lumer. Hal ini mencengangkan Lu Han, Chen, dan Lay, tetapi mereka tidak bisa lama-lama tercengang lantaran Kris menatap galak mereka, membuat ketiganya segera menegakkan badan tegang. Dalam beberapa situasi genting, aura Kris bahkan bisa lebih menundukkan dari Jessica.

“Cari Jessica dan Luna, bilang Xiumin meleleh! Cepat!”

Tanpa banyak bicara lagi, tiga mawar menghambur ke arah berbeda. Lu Han ke tangga yang menuju atap, di mana pintu untuk pergi ke langit menemui Jessica berada, sementara Chen dan Lay sepikiran untuk mencari Luna di dapur. Di antara langkahnya yang tergesa meniti tangga langit, dalam benak Lu Han terselip satu-dua tanya mengenai si mawar biru; siapa namanya tadi, Xiumin? Baru sekarang ia mendengar nama itu, Jessica dan Luna sebelumnya tak pernah menyebut. Selain itu, setahu Lu Han api perapian tidak begitu panas, maka mustahil mawar normal dapat meleleh jika berada di dekatnya, tetapi mawar tadi? Genangan encer yang terbentuk di bawah akarnya sewarna dengan bagian tubuhnya—itu benar-benar badannya yang mencair! Bagaimana bisa?

“Jessica!”

Yang dipanggil menoleh lambat, matanya mengerjap-ngerjap untuk mengusir kantuk yang menggantung.

“Apa?”

“Xiumin, mawar biru yang tahu-tahu masuk ke sini, sekarang badannya meleleh gara-gara perapian!”

Kepanikan Lu Han mengubah kata-katanya bagai gerbong kereta yang terus bersambung, tetapi alih-alih langsung bangkit, Jessica menelungkupkan kepala di meja depan kursi besar yang ia duduki. Erangan frustrasinya sarat keengganan bergerak, tumben sekali. Sayangnya, Lu Han terlalu cemas sekarang ini hingga tidak melihat betapa kuyu sang matahari, betapa pucat sinarnya ketika ia melepas tudung malamnya dan menyeret langkah ke pintu. Sebelum pergi, segumpal gerutuan lolos dari bibir sang mentari ketika ia mengikat rambut apinya yang hari ini lebih berantakan.

“Hobi kok mencoba bunuh diri. Menyusahkan orang lain saja!”

***

Ketika Lu Han kembali bersama Jessica, Luna tengah memperbaiki bagian tubuh si mawar biru yang mencair selagi Kris menyemprotkan embun dingin buat membekukan hasil kerja Luna. Chen dan Lay duduk di sisi, memperhatikan, bersiaga kalau-kalau Kris pegal dan butuh pengganti. Berkacak pinggang, Jessica berdiri di depan Xiumin, memindai kerusakan dari ujung mahkota bunga sampai akar, setelahnya menggeleng-geleng. Wajah Jessica tidak pernah sejengkel itu, sejauh ingatan Lu Han.

“Dengar, aku sayang padamu, Xiumin.” Sang mentari membuka percakapan. “Kris pun begitu, dan mawar-mawar yang belum kaukenal ini juga kelak menyusul. Selain itu, kau punya bibit cinta yang sangat indah untuk dibudidayakan di rumah kacaku, maka belajarlah mencintai diri sendiri mulai sekarang. Jangan memancing kami untuk membencimu juga hanya karena percobaanmu merenggut nyawa sendiri. Kau mengerti, kan?”

Si mawar biru mengangguk dalam diam. Jessica membuang napas kasar, lalu berbalik pada mawar ungu, hijau, dan salem yang memandangnya intens mohon penjelasan.

“Kalian pernah dengar titik balik matahari? Itulah saat-saat aku harus berkunjung ke langit yang menaungi kutub Bumi. Aku harus singgah di sana agak lama untuk membagi cahayaku sebelum pulang ke sini lagi. Nah, Xiumin adalah satu-satunya mawar yang dapat bertahan hidup dalam cuaca ekstremnya kutub. Berhubung aku sudah mengenalnya bertahun-tahun dan sudah melihat bibit cintanya pula, aku berpikir untuk membawanya ke Amorose tahun ini, eh … tidak tahunya belakangan dia jadi sering melakukan percobaan bunuh diri. Sebagai informasi, dia ini persilangan langka, ayahnya salju dan ibunya mawar, jadilah ia mewarisi separuh sifat salju yang salah satunya adalah mencair jika dekat api. Jeleknya, ia memanfaatkan kelemahan itu untuk mengakhiri hidup.”

Chen membulatkan bibir, Lay mengangguk-angguk mengerti, sedangkan Lu Han terus mengamati si mawar biru dari ujung mahkota bunga hingga akar. Tak lama kemudian, ia buka suara.

“Kau masih muda, jalanmu masih panjang, jangan diakhiri sekarang.”

Bersikap sok tua sedikit out-of-character buat Lu Han, tetapi ia tidak tahan. Baginya, mawar biru itu masih ingusan, paling-paling yang mendorongnya ingin bunuh diri hanya masalah remeh-temeh.

Jessica meringis sebelum menyikut Lu Han dari belakang.

“Umur Xiumin itu sebetulnya 1.876.902 tahun. Dia sama tua dengan salju pertama yang aku temukan di daerah kutub, lho; jaga bicaramu.”

Di samping Lu Han, Chen dan Lay mati-matian menahan tawa, ekspresi mereka merupakan campuran dari kegelian—yang diakibatkan ulah Lu Han—dan rasa terkejut mengetahui umur asli Xiumin. Sementara itu, Kris menepuk dahi di belakang si biru, ingin meniadakan label ‘saudara kandung’ dari Lu Han yang sayangnya mustahil dilakukan. Lu Han sendiri rasanya ingin menyurukkan kepala ke dalam tanah, malu akan kata-katanya barusan.

“L-Lagi pula, mengapa Xiumin mau bunuh diri?” alih Chen untuk menghindari canggung. “Mencoba bunuh diri apakah tidak sakit? Tidak takut? Padahal, kalau kau hidup, kau masih bisa menikmati banyak hal—“

“Dan, apa tepatnya itu?”

Bagaimana nada dingin membekukan itu diselipkan Xiumin dalam kalimat penegasannya mengagetkan para mawar, lantas jadi membingungkan. Xiumin cukup tua untuk melihat yang busuk-busuk biarpun tempat tinggalnya terselubungi salju tebal nan terlindung dari dosa. Seiring waktu, dunia tidak bertambah indah lantaran Iblis menebar benih di mana-mana, membuat Bumi seolah digerogoti belatung tiada habisnya. Jika mengingat betapa tebal debu kejahatan di kota, niat Xiumin menamatkan kisahnya jadi tidak tampak terlalu salah …

… tapi tidak. Bukan begitu cara kerjanya, Lu Han yakin. Di balik bertumpuk-tumpuk noda di muka Bumi, ada satu kesucian yang menunggu bantuan untuk mekar. Xiumin pastinya merupakan salah satu yang terpilih buat menjalankan tugas itu, maka kematiannya mesti ditunda dulu.

“Kita cari saja bersama, kebahagiaan yang Chen maksud itu. Andaikata kau tidak berminat ikut, kami tetap akan membawamu paksa, Xiumin.”

Sekalinya dikeluarkan, kalimat mengintimidasi Kris bekerja cukup efektif—atau setidaknya mendekati ‘cukup efektif’. Itulah yang kawan-kawan Kris pikirkan hingga Xiumin bangkit dan memandang Jessica kosong.

“Apa kau mencuci otak mereka sampai-sampai mereka percaya rencanamu akan berhasil suatu saat? Kekuasaan Iblis di atas Bumi hampir mutlak. Sia-sia saja membangun rumah kaca ini. Sebanyak apa pun kau membudidayakan cinta, tidak cukup untuk memusnahkan pengaruh Iblis dalam hati manusia. Tinggal masalah waktu hingga Bumi ini rusak dan mati, mau berupaya seperti apa lagi?”

Pernyataan Xiumin dapat mengikis harapan dari jiwa-jiwa yang rapuh, untungnya mawar-mawar Amorose—juga pemiliknya—cukup kuat untuk menampik pernyataan tersebut. Jessica mengulas senyum percaya diri, lantas mengangkat telapak dan menunjuk ‘senior-senior’ Xiumin.

“Silakan berpegang pada keputusasaanmu, tetapi kau bisa lihat, kami semua lebih memilih jalan kegembiraan. Tuhan kadang menyembunyikan apa yang sebenarnya ingin ia tunjukkan dan kita diminta tekun untuk mencarinya. Jarum di tumpukan jerami, tipis kecil tapi ada; seperti itu pulalah kebahagiaan yang Tuhan simpan buat hamba-Nya di Bumi. Aku dan mawar-mawarku akan terus membudidayakan cinta sampai kabar gembira datang pada kami. Sebaiknya, kau pun turut serta dalam prosesnya, Xiu.”

Tentu saja Xiumin tidak tergiur oleh tawaran demikian bila kematian lebih menggoda menurut persepsinya. Usai Jessica bicara, Xiumin bangkit, tanpa ba-bi-bu meraih segenggam api perapian yang nyaris seketika melelehkan daunnya. Kris berdiri, rasa cemasnya cukup buat memicu sebuah aksi.

“Xiumin, sudah kubilang hen—“

Wush!

Sisi tangkai Kris terbakar begitu Xiumin, dengan sangat tidak terduga, melemparkan segumpal api ke arah si mawar putih, sengaja mencelakai Kris supaya tidak ada yang mencegahnya. Tindakan Xiumin ini menuai berbagai reaksi, yang terekstrem dari Lu Han: menyaksikan lengan kembarannya gosong membuat duri-duri pada tangkainya meruncing. Tanpa buang tempo, tangkainya bercabang, memanjang, dan melesat lurus ke bagian tengah tubuh Xiumin dengan amarah menyala di ujung masing-masing cabang.

“Cukup, Han!”

Padahal tinggal sekian milimeter lagi, Lu Han dapat menjebol jantung si mawar biru. Namun, peringatan Kris ada benarnya: jika Lu Han membunuh, maka Xiumin akan memperoleh apa yang ia inginkan, yakni kematian yang susah payah dihindarkan seluruh Amorose darinya. Emosi Lu Han akan membawa kesia-siaan bagi Jessica, jadi tindakannya menahan duri tepat di balik punggung Xiumin sudah tepat. Menarik tangkainya kembali, Lu Han baru menyadari rasa ingin melindungi mampu berubah menjadi senjata berbahaya.

Xiumin berpaling, membalas tatapan Lu Han dengan sama tajam.

“Dalam rumah kaca yang katanya bebas pengaruh Iblis, ternyata masih ada rasa benci juga. Menyedihkan.”

***

Beberapa hari bergulir tanpa kemajuan bermakna. Tahu-tahu, hari telah menjadi minggu dan alasan Jessica mempertahankan Xiumin di rumah kaca mulai dipertanyakan mawar-mawarnya yang datang duluan. Mungkinkah mawar sepertinya memiliki benih cinta? Dia bahkan tidak mencintai diri sendiri! Kalau dia ada, justru bibit kebencianlah yang akan menyebar di antara kita. Dia berbahaya! Begitulah para mawar berdalih, tetapi Jessica tidak goyah. Meminta mawar-mawar selain Xiumin menengok ke dalam hati masing-masing, Jessica memukul telak mereka dengan sebuah fakta. Pagi itu, Lu Han meletakkan cintanya, kristal segienam yang semula selebar daunnya, di atas meja. Kini, diameter perasaan itu bahkan tidak sampai sekeping koin, menunjukkan penyusutan yang signifikan ketika si cinta semestinya dikembangbiakkan.

“Kris, cintamu sekarang sebesar apa?”

Sebutir kelereng biru Kris taruh tepat di samping kristal segienam Lu Han, membelalakkan sepasang netra kembarannya; seingatnya, cinta Kris dulu berbentuk kristal biru muda yang panjangnya mencapai separuh tangkai mereka. Selama ini, Lu Han mengira Kris cukup sabar menghadapi kekeraskepalaan Xiumin, nyatanya sebagai pihak yang paling sering bersinggungan dengan si biru, cinta Kris terkikis lebih banyak dari teman-temannya. Lu Han mengembuskan napas lelah, lalu mendongak.

“Aku mulai merasa Xiumin dihadirkan di Amorose sebagai ujian buat kita.”

“Sangat mungkin.” Kris duduk bersilang lengan, memandangi cinta mereka berdua yang keterlaluan mengerutnya. “Aku tidak suka mengatakan ini, tetapi kita kalah. Harusnya, kita tidak boleh menyertakan kebencian setiap kali mencegah Xiumin bunuh diri. Kita mestinya lebih mencintai dia, masalahnya itu sulit sekali.” Si mawar putih mengangkat pandang. “Bayangkan jika nanti kita menghadapi situasi yang lebih menyebalkan di kota. Bukan mustahil waktu yang dibutuhkan cinta kita untuk menyusut lebih singkat dibanding waktu untuk menumbuhkannya.”

Mengkhayalkan hasil jerih payahnya lenyap ditelan pendosa cukup mengganggu Lu Han. Ia menggelosor ke meja sembari mendesah keras, mahkota bunganya yang mencuat tak rapi ia sugar dengan rigi daunnya. Pasti ada celah untuk menerobos kalbu Xiumin yang terdalam, yang menyimpan rahasia tergelapnya, latar belakang obsesinya terhadap kematian.

“Jessica waktu itu mengajakmu pergi lebih awal dari rumah kaca karena kau yang duluan terjaga, ya kan? Itulah alasannya kau jadi yang pertama mengenal Xiumin.” Pernyataan ini disambut anggukan oleh Kris. “Kau harusnya tahu lebih banyak dari kami bertiga.”

“Sayangnya tidak. Yang aku tahu hanya soal asal-usulnya: bahwa ayahnya salju dan ibunya mawar salah tempat, keduanya jatuh cinta dan membuahkan dirinya, tetapi mereka lenyap setelah Xiumin terlahir. Salju yang turun di kutub sekarang bukan lagi ayah Xiumin, melainkan kristal es lain yang lebih dingin. Xiumin memahami kasih sayang dari perasaan yang ditinggalkan ayah dan ibunya dalam tubuhnya, maka ia mulai mencintai segala hal di sekitarnya, tidak peduli mereka hidup atau mati. Dari situlah, benih cintanya mekar hingga cukup kentara di mata Jessica.”

“’Segala yang hidup atau mati’, kau bilang,” ulang Lu Han bingung. “Aku mengerti kalau salju dapat hidup di kutub karena memang cuma di sana ia sanggup bertahan, tetapi bagaimana dengan yang lain? Bukankah tidak ada makhluk yang mampu beradaptasi dalam iklim seekstrem itu? Jika benar demikian, maka berarti tinggal Xiumin dan si salju yang menghuni dataran kutub, kan?”

Kris menggeleng. “Untuk itu, aku tidak bisa memastikan. Barangkali ada makhluk hidup di bagian kutub yang tidak kudatangi dengan Jessica?”

“Kau tidak datang ke sana, tetapi melayang di langitnya, jadinya tidak tahu dia betulan sendirian atau tidak.” Lu Han mengingatkan. “Kesepian menggerogoti seseorang dan dia menjalaninya selama satu juta tahun lebih. Menurutku, dia bisa bertahan hidup sampai sekarang saja sudah melampaui ekspektasi.”

“Dengan kata lain, ia punya cukup banyak cinta untuk membentenginya dari pahit kesepian selama sekian juta tahun …. Ah, kurasa kita memang terlalu terpaku pada percobaan bunuh dirinya, sehingga tidak melihat bagaimana ia mencinta tanpa balas di masa lalu.”

Benar. Kekakuan Xiumin, pandangan monokromnya terhadap kehidupan, pesimismenya mengenai Iblis … ada lara terpendam yang memunculkan segala hal buruk tersebut dalam diri Xiumin. Ada luka yang mesti para mawar Amorose sembuhkan, baru mereka bisa menilai bibit cinta Xiumin tanpa bias; kesan pertama terkadang menipu, memang. Sekali lagi, anak mata Lu Han terfokus pada dua cinta di atas meja—sekilas, benda-benda itu tampak sedikit membesar.

“Obsesi Xiumin pada kematian sebanding dengan obsesinya pada api, betul kan?”

Kris menaikkan alis tatkala menemukan senyum tipis di wajah adik kembarnya.

“Aku punya rencana.”

***

“Andai rencana kita gagal, kau punya cara membatalkannya?”

Sebelum menjalankan idenya, Lu Han mengumpulkan Kris, Chen, dan Lay tanpa sepengetahuan Jessica untuk menjelaskan langkah demi langkah ‘mematikan keputusasaan Xiumin’. Ide Lu Han memancing lebih banyak kebimbangan pada mulanya lantaran risiko dari rencana itu kelewat besar, yaitu hilangnya nyawa Xiumin, tetapi jika lancar akan membawa hasil yang gilang-gemilang. Mengantisipasi hal tersebut, Lu Han menambahkan analisisnya mengenai Xiumin di masa silam, meresapkan perihnya kehampaan yang mungkin Xiumin rasakan supaya cinta Chen dan Lay pada Xiumin membesar biar tak seberapa. Dengan begitu, Lu Han telah memperkecil peluang gagal—dan di sinilah keempat tangkai mawar, bersembunyi di bawah meja bertaplak panjang dekat perapian, menunggu umpan mereka ‘dimakan’ Xiumin.

“Ada. Aku dan Lay menyiapkan bola air raksasa kalau apinya melelehkan Xiumin, tetapi karena api yang ini sudah kita ‘ramu’ dengan hati-hati, aku yakin efeknya tidak akan membahayakan. Jangan khawatir, Chen.”

“Tetap saja aku cemas,” tukas si hijau. “Api itu besar sekali. Selain itu, kalau gagal, kita tidak akan punya cinta lagi; semuanya sudah kita cemplungkan ke sana.”

Inilah namanya pertaruhan: semua atau tidak sama sekali, Lay mendukung Lu Han dengan ungkapan percaya dirinya. Ia menjadi pihak yang pertama menghilangkan keraguan; Lu Han perlu berterima kasih padanya sebab dialah yang menarik Kris dan Chen untuk terlibat dalam rencana.

“Kita lihat saja nanti,” ujar Kris, menyibak sedikit bagian taplak yang menutup lapang visinya.  Di ujung penglihatan si mawar putih, Xiumin—seperti biasa—mengambil sebongkah api di daunnya. Berbeda dengan api yang sebelum-sebelumnya, api yang ini tidak mencairkan tubuhnya. Menyaksikan ekspresi terkejut Xiumin, Lu Han tersenyum menahan geli.

Itu api istimewa, tidak akan membunuhmu, Bodoh. Ayo, selanjutnya apa yang akan kaulakukan?

Lantaran gagal membakar diri, Xiumin mengembalikan cuilan api ke asalnya dan Lu Han hampir kecewa. Ia berharap Xiumin mengambil lebih banyak api lagi agar bisa meleleh, tetapi di luar dugaan mereka berempat, alih-alih mengambil api, Xiumin justru melemparkan tubuhnya langsung ke dalam api. Hal ini meloloskan jeritan melengking Chen dan membuat si hijau keluar dari persembunyian.

“Xiumin!”

“Oi, jangan kelu—aish!” Lu Han merangkak keluar meja menuju perapian, disusul Kris dan Lay yang buru-buru mencari Xiumin dalam nyala api. Tidak ada sedikit pun jejak mawar biru di sana, tetapi leburan tubuh Xiumin juga tidak menggenang di dasar perapian.

“Apakah dia tidak meleleh? Atau suhu api ini kelewat tinggi, sehingga lelehannya menguap cepat?” Kris memeriksa sekeliling perapian. “Han, kau bisa menjelaskan?”

“Ya. Minggir dulu. Apa pun yang terjadi, jangan padamkan apinya. Percayalah padaku.”

Mengangguk dan bergeser selangkah menyamping, Kris memberi jalan adiknya—untuk masuk ke dalam api menyusul Xiumin.

“HEI!!! LU HAN!!!”

Tidak menggubris teriakan sang kakak, Lu Han lenyap dalam sekali lompat. Ketika ia membuka mata kembali, sesuai perhitungan, bentangan luas salju menyambutnya. Rambut putih panjang sang salju membingkai wajah tirus yang senantiasa mengulas senyum menghangatkan. Pada dekapan sang salju, Lu Han menemukan tangkai ramping bermahkota biru safir, cantik nan muda: sebatang mawar. Bunga itu tidak menatap siapa pun selain pemilik lengan yang merengkuhnya, intens penuh makna. Di antara mereka, terbaring kuncup kecil biru pucat berselimut kasih orang tuanya—sekali lihat saja, Lu Han dapat menebak siapa sosok mungil itu, tetapi ketika hendak mendekatinya, angin bertiup sangat kencang, menerbangkan kristal es yang mengaburkan pandang hingga Lu Han mesti menutup mata untuk kedua kali. Secepat itu pula, sekeliling Lu Han berubah. Akarnya kini menancap pada kristal segienam yang kira-kira seukuran dengan potnya di Amorose. Kristal itu mengapung di atas air dari mana ribuan kupu-kupu muncul dan terbang di awang-awang. Jauh di atas kepalanya, langit digantikan kristal biru superlebar.

Sempurna. Ada tempat seperti ini terbentuk di dalam api yang kami ciptakan. Cintaku sebagai dasarnya, cinta Kris sebagai atapnya, cinta Chen jadi sungainya, dan cinta Lay memperindah lanskap mirip mimpi ini. Dengan jumlah cinta sebanyak ini, apakah Xiumin masih bersikeras ingin mati?

“Kau.”

Berpaling pada si empunya suara, Lu Han tidak kaget mendapati Xiumin di balik punggungnya. Tak jelas raut apa yang dipasang mawar biru itu; bukan kebiasaannya memalingkan muka seperti saat ini.

“Yang barusan adalah masa lalumu.”

“Tidak semestinya kenangan itu terputar sembarangan,” sahut Xiumin. “Sudah satu juta tahun lebih cinta mereka hilang, tidak mudah memunculkannya kembali.”

“Akuilah, kami berhasil memunculkannya dalam api yang kausangka akan membunuhmu. Bukankah cinta kami cukup kuat untuk memutar memorimu yang terindah?” Lu Han tersenyum bangga. “Jadi, bagaimana perasaanmu?”

Jawaban yang Lu Han nanti-nanti tidak begitu saja meluncur dari bibir Xiumin.

“Apa maumu sebenarnya?”

“Sederhana: agar kau berhenti jadi pengecut yang melarikan diri dari dunia ini cuma karena kepungan kesepian dan pengaruh Iblis. Jessica bilang kau punya salah satu dari benih cinta terindah; pasti ada alasannya Tuhan menanamkan benih itu di dalammu. Masa kau tidak ingin memanfaatkannya buat keselamatan Bumi?”

Ingin, tentu ingin. Xiumin tidak pernah bertemu orang tuanya, tetapi kasih sayang mereka tanpa batas, menembus ruang-waktu hingga Xiumin masih bisa merasakan itu sepeninggal keduanya. Dari merasakan, keingintahuan Xiumin pun berkembanglah, jadi ia—dalam matinya lingkungan kutub—mencoba untuk menumbuhkan emosi yang sama indah. Ia membagi cintanya untuk mereka yang tak bisa membalas: kepada angkasa, kepada pepohonan tanpa daun, kepada bintang-bintang yang terlalu jauh untuk ia dengar suaranya. Semula ia bahagia, lambat laun kehampaan menggerogotinya, menggerus cintanya, dan sejuta tahun kemudian, nyaris tidak ada yang tersisa dari perasaannya.

Kesempatan kedua datang justru ketika Bumi di ambang kehancuran dan Jessica, sesuai jadwal buatan Tuhan, mengunjunginya pada titik balik matahari.

Baru hari ini, Xiumin dapat merasakan lagi hangat pelukan kedua orang tuanya saat ia memejam. Terima kasih pada Lu Han, Kris, Chen, dan Lay yang telah membagi potongan cinta terakhir mereka, serpihan berharga yang makin berkobar usai dilempar ke dalam api.

Ternyata, begini nikmatnya cinta yang dirasakan bersama makhluk bernyawa lainnya.

Lu Han meraih daun Xiumin tanpa canggung. Xiumin menggenggamnya balik. Senyum gembira Lu Han tersungging, senyum persahabatan pertama yang sangat tulus untuk Xiumin.

“Selamat datang di Amorose!”

***

Dini hari. Tidur Jessica terusik oleh keriuhan yang tertangkap samar-samar dari rumah kaca. Meski enggan beranjak, sang mentari ujungnya meraih tudung malamnya dan menuruni tangga langit, sekadar memastikan mawar-mawarnya tidak melakukan hal bodoh. Ia tidak mengantisipasi pemandangan spektakuler nan penuh gelora di Amorose yang kontan mengusir kantuknya.

“WOW!!!” Saking girangnya, Jessica melompat masuk langsung dari atap tanpa menggunakan tangga untuk turun. “Ada perayaan apa, nih? Tumben kalian memasang cinta kalian untuk menghias rumah kaca! Indah sekali!”

Ya, Amorose sudah indah sejak pertama dibangun, tetapi ratusan kristal biru dan kristal jernih segienam yang menggantungi langit-langitnya sekarang menambah semarak suasana: itu cinta Lu Han dan Kris. Kupu-kupu kecil berbagai warna mengepakkan sayap, ramai tanpa mengganggu penghuni rumah kaca, tenang serupa pemiliknya, Lay. Lantai yang dingin digantikan aliran air sungai hangat, sumbangan kasih dari Chen. Sebagai pemanis yang tidak boleh dilewatkan …

“Perayaan apa? Sambut Xiumin yang sudah kehilangan nafsu bunuh dirinya! Teman-teman, angkat dia!”

… tirai-tirai di Amorose digantikan oleh lambaian cahaya kutub, Aurora Borealis, cinta Xiumin yang baru mewujud paripurna.

Sekali-sekali, para mawar ingin berpesta gila-gilaan seperti manusia, jadi dengan rela hati, mereka menjalankan perintah Lu Han. Xiumin tak sanggup menahan pekikan kaget bercampur tawa riang—yang baru kali ini Jessica dengar—ketika tangkainya terangkat dari lantai dan diterbangkan oleh empat mawar di bawahnya.

“Hentikan! Jangan lempar-lempar aku, hahahaha!”

Xiumin yang begini membuat Jessica lupa pada fakta bahwa ia mawar tertua di Amorose. Betapa dahsyat cinta berefek pada penampilan pemiliknya; jangankan mereka yang berjiwa, rumah kaca tanpa nyawa pun tampak hidup dengan gelimang hiasan cinta. Menakjubkan bagaimana cadangan perasaan yang kritis bertambah sangat pesat dalam hitungan jam. Harapan Jessica terhadap mawar-mawarnya segera pulih dan dia bergabung, menerbangkan tangkai ringan Xiumin ke udara bersama yang lain.

Budidaya kasih sayang  baru saja mencapai kesuksesan pertama. Masih banyak anak tangga yang harus dititi untuk meraih tujuan yang utama.

Terima kasih, Lu Han, Kris, Chen, Lay, dan tak lupa teman lamaku, Xiumin. Tetaplah berbahagia seperti saat ini.

“XIUMIN! XIUMIN! XIUMIN!”

Mereka yang tidak tidur malam itu dapat menyaksikan bintang gemintang berkelap-kelip lebih bersemangat; cinta Jessica bertabur menaungi Bumi ketika pemiliknya bersenang-senang dengan cinta para mawarnya.

bersambung.


.

.

how i wish to reread this. semua chapternya, sesungguhnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s