Born Hater (pt. 5)

fire-mad-clown-jinsil-hani-eyes

a Greek mythology fanfiction

Aphrodite/Ares, Aphrodite/Hephaestus

Romance, Marriage Life, Angst, Mature for sexual contents

.

“Kau wanita yang terlalu baik dan rapuh, sehingga menyingkirkanmu menjadi sangat sulit.” (Gilme ft. Outsider – Love is War)

***

Gubuk yang berdiri canggung di tengah-tengah hutan Cythera itu tidak tampak berpenghuni, tidak pula menarik perhatian, sehingga tidak ada yang tahu bahwa tiap batang kayu di sana disusun oleh tangan dewa. Misalkan satu-dua pengembara penasaran dan menengok ke dalam, perisai yang dipasang pencipta gubuk itu menyamarkan isi gubuk dengan amat baik. Sejauh ini, tidak seorang pun mendapati seorang dara jelita beristirahat di situ, padahal Aphrodite—dalam wujud manusianya—mematung di atas dipan sederhana buatan Hephaestus sepanjang waktu. Tatapan kosong sang mantan dewi senantiasa jatuh ke atas pangkuan, tubuhnya seolah layu, sesekali ia terisak sembari menutup mata serta telinganya.

Mengapa tidak mau berhenti? Aku bukan dewi lagi, mengapa teriakan para pengikutku masih terus terdengar?! Jangan mohon pertolongan padaku. Aku tak mampu menyelamatkan kalian dari Ares! Selamanya tak akan mampu!

Bersama keabadian yang dilenyapkan Zeus, tercerabut pula sekian banyak nikmat dari kehidupan Aphrodite, dari yang masih punya bentuk hingga yang tak kasatmata. Yang terbesar tentu saja cinta Aphrodite pada dirinya sendiri, inti dari ritusnya. Kehancuran agama Aphrodite diperburuk dengan merebaknya ritus Ares; pemujaan kebencian melangit sampai mengguncang takhta-takhta Olympus. Betul kata Hephaestus, keberadaan Hestia untuk mengisi kursi penguasa cinta tidak berhasil membalikkan situasi. Sebagai tindak lanjut, Zeus meminta Hephaestus menahan Aphrodite di satu tempat, mengamankannya dari manusia yang mungkin menodainya, dan—saking terdesaknya Zeus—meminta Hephaestus si jenius untuk menciptakan cinta. Perintah itu amat mengganggu pikiran sang dewa pandai besi, terutama manakala ia berhadapan dengan sekian peralatan dan logam bahan dasar di tempat kerjanya.

Menciptakan cinta.

Hephaestus kerap membuat senjata-senjata hebat. Tak terhitung juga berapa perhiasan karyanya yang berhasil mempercantik para dewi. Bahkan ia sanggup menciptakan seorang wanita, Pandora Si Ingin Tahu, penyebab lepasnya berbagai keburukan di dunia manusia. Tapi cinta? Emosi ini apa bahannya? Timah? Baja? Emas? Seberapa besar Hephaestus harus menyalakan api untuk menempa sebuah perasaan? Si pandai besi tidak mengerti dan satu-satunya kunci menuju pemahaman akan perasaan ini hanya Aphrodite. Sayang, Aphrodite sekarang tidak ubahnya perempuan bisu-tuli-lumpuh dengan kemuraman yang menyusutkan pesonanya dari hari ke hari.

Sadar betul eksistensinya merupakan kesia-siaan yang dibendakan, Aphrodite heran mengapa ada seorang pincang berkaki logam yang masih terus datang merawatnya.

Ya, mengingat manusia akan langsung mati apabila melihat wujud dewa, maka Hephaestus menyelubungi keabadiannya dengan tubuh manusia di depan Aphrodite, namun kendati demikian, sosok Hephaestus kelewat mudah dikenali. Bagaimana tidak? Kecacatan jasmani menjadikan Hephaestus dewa yang paling mirip manusia; sekalipun menyamar, perbedaannya tidak begitu jauh. Bahkan sebelum Hephaestus membuka pintu gubuk, Aphrodite dapat memastikan ketibaan suaminya saat mendengar gesekan logam dengan kerikil dari luar.

Suami, katanya. Masihkah Hephaestus mencintai Aphrodite sebagaimana umumnya suami? Jika ya, mengapa tatapan bencinya waktu melempar pakaian Aphrodite yang bernoda begitu tajam menembus kalbu sang dewi?

Duduk bersila di samping ranjang, di atas lantai kayu, Hephaestus mulai memotong buah untuk Aphrodite menggunakan belati tipis. Pemotong dengan presisi tinggi, tetapi tidak kemudian memancing kekaguman Aphrodite. Malah dengan pisau, buah delima, dan cara bersilanya, Hephaestus tampak sangat tak sempurna, sangat manusia, tidak menarik sama sekali. Sang dewa api mengangsurkan potongan-potongan buah di atas piring pada Aphrodite, tetapi yang ditawari tidak sedikit pun melirik, jadi Hephaestus mengambil sepotong buah dan mendekatkannya ke bibir Aphrodite.

“Makanlah.”

Bibir itu tetap terkatup.

“Aphrodite, kumohon.”

Dulu, suara Hephaestus tidak pernah mengandung perintah yang begini dingin. Aphrodite baru sadar bahwa dirinya merindukan nada malu-malu sang pandai besi yang, mungkin, tidak akan pernah ia dengar lagi. Salahnya sendiri, memang.

Perlahan, Aphrodite membuka mulut, membiarkan sepotong buah masuk untuk ia kunyah.

Namun, tidak sepenuhnya kelembutan Hephaestus hilang, terbukti dari segores kehangatan dalam manik matanya ketika Aphrodite akhirnya mau makan. Kendati tanpa senyuman, kehangatan itu mampu menutup sedikit luka di hati Aphrodite. Sayang sekali, yang ‘sedikit’ itu terlalu sedikit, masih kalah dengan banyaknya luka baru akibat beribu jerit memohon dari umat Aphrodite.

“Aku tidak bisa menjadi penguasa cinta lagi, Hephaestus. Tinggalkan aku.”

“Kau hanya butuh waktu,” Hephaestus menyibakkan sesisi anak rambut Aphrodite ke belakang telinga, “dan aku—kami—akan menunggu.”

Menunggu sampai kapan, Aphrodite tak sanggup memastikan. Ketika pintu gubuknya ditutup dari luar, Aphrodite selalu yakin Hephaestus tidak akan kembali esok dan hilanglah kesempatan keduanya. Dari situlah, ia menyambung penyesalan yang sempat terputus oleh kehadiran tamunya, melalui detik demi detik dengan melaknat diri, terbenam dalam kegagalan.

Lalu, pasti, di luar dugaan, Hephaestus akan datang lagi di hari berikutnya. Setelah membawa potongan buah, sang pandai besi mulai menyuguhkan sesuatu yang baru: senyuman. Tipis sekali serupa hiasan rambut logam hadiah pernikahan mereka.

“Kau sekarang manusia. Kalau tidak mandi, tubuhmu tidak akan bersih.”

Aphrodite tahu, tetapi untuk apa membersihkan diri? Untuk apa berhias? Itu memang penting—dulu. Lagi-lagi, dulu. Ada noda tak berwarna melekati sekujur tubuh Aphrodite, hasil kerja Ares, yang membuat seluruh pesonanya seolah tidak berbekas. Selain itu, kini dia hanya akan dipandang sebagai dewi tanpa tanggung jawab, direndahkan langit dan bumi,  lantas buat apa bersolek? Takdir telah menghinakannya dengan begitu kejam.

Hephaestus tidak menyerah. Tangan kapalannya meraih telapak mungil Aphrodite, membimbing si wanita menuju kolam khusus terlindung yang telah ia sediakan di belakang gubuk kecil itu. Jemari Hephaestus menyentuh permukaan air dan hangat kontan menyebar rata ke seluruh kolam.

“Kau sangat menyukai ini, bukan? Mandi air hangat?”

‘Suka’. Sukakah Aphrodite? Bisakah ia merasakan suka, sebuah cinta dalam bentuk lebih sederhana? Air itu memang nyaman, tetapi indra Aphrodite yang biasanya termanja sudah menumpul. Air hanya terasa seperti air, tidak membangkitkan kenangan atau emosi apa pun. Berbeda ketika dulu ia berendam: rasanya seluruh masalah terlarutkan usai bilasan terakhir.

“Aku akan pergi. Berendamlah.”

Begitulah kehidupan Aphrodite setelah kolam air hangat itu dibangun. Meski tak ada hal istimewa saat berendam di sana pertama kali, lambat laun ada pemandangan lain yang dipantulkan permukaan jernih tersebut. Warnanya merah, berbentuk noktah lalu melebar. Acapkali Aphrodite berteriak ketakutan, mengingat bibit-bibit kebencian yang pertama timbul ketika ia berendam setelah bercinta dengan Ares. Mengangkat tubuhnya dari air, ia meringkuk jauh-jauh dari kolam, membalut diri menggunakan kain seadanya hingga Hephaestus tiba buat menenangkannya. Lazimnya, Hephaestus hanya akan membantu mengeringkan badan Aphrodite, membiarkan gigil perempuan itu reda sendiri, tetapi satu hari, Hephaestus mendekapnya. Lembut dan sunyi. Dekapan itu tercium seperti tungku dan besi tempa, janggalnya Aphrodite tidak kuasa menolak. Hidungnya berangsur terbiasa dengan pengar logam panas sampai pada satu titik, telapaknya menahan Hephaestus agar tidak buru-buru melepaskan pelukan.

Hephaestus jarang menginap di gubuk; ia punya banyak pekerjaan dan menunggui seorang wanita muram, secantik apa pun wanita itu, cuma membuang waktu. Bukan berarti ia tidak ingin bermalam. Sang dewa api pernah melakukannya sekali saat Aphrodite sakit. Tidak parah, tetapi perempuan itu jadi enggan menyentuh makanan dan terlalu lemah untuk bergerak.

“Raga manusia sungguh rentan.”

Aphrodite sudah terpejam, tetapi kesadarannya masih lumayan utuh untuk menyadari keluh dalam gumaman Hephaestus. Tidak mengapa. Keberadaan Hephaestus di sisi lain ranjang sempit itu cukup bagi Aphrodite biar diselipi sedikit ketidakrelaan.

“Kau yang sekarang apakah sama dengan sosok yang pernah mencampakkanku?”

Sama, Hephaestus. Akulah si angkuh Aphrodite yang kini berada di titik terendah.

Napas Aphrodite mencepat, demamnya naik lagi. Hephaestus menepuk-nepuk perlahan wajah dan leher Aphrodite dengan kain lembab dingin.

“Benarkah kebencian sudah menelanmu? Buat aku membencimu karena itulah yang seharusnya kulakukan.”

Kalimat Hephaestus menyayat Aphrodite di dalam sekaligus menyembuhkan luka itu seketika. Betul, pengkhianatan yang Aphrodite lakukan mestinya membuat Hephaestus membencinya. Akan tetapi, ‘seharusnya membenci’ menyiratkan bahwa kekecewaan Hephaestus tidak lagi bersisa. Mengapa bisa?

Sensasi kain setengah basah di permukaan kulit Aphrodite digantikan kasar dan panasnya telapak Hephaestus.

“Kau bukan penguasa cinta saat ini, jadi perasaan apa yang kautimbulkan dalam diriku, Aphrodite?”

Memangnya bagaimana perasaan itu, apakah mirip rasa jijik?

Kantuk mengaburkan kesadaran Aphrodite yang masih percaya bahwa Hephaestus tidak punya alasan mencintainya. Terlanjur tertidur, ia melewatkan desah berat Hephaestus dan ungkapan kasih yang menyangkut di ujung lidah sang dewa api. Akal pikir Hephaestus menolak melindungi Aphrodite, namun getaran di dada Hephaestus tidak sejalan. Ia malah terus jatuh hati pada perempuan yang menyalahi janji setia mereka.

Pagi berikut, Aphrodite terbangun beriring kehampaan. Tempat tidur di mana Hephaestus sebelumnya berbaring cekung, kosong. Sesiangan itu, Aphrodite mulai punya kegiatan lain selain memasang wajah murung, yaitu menanti. Menanti keriut kaki logam Hephaestus di depan pintu. Menanti senyum Hephaestus yang setengah tulus itu. Menanti kemunculan Hephaestus di sampingnya—dan penantian membuat Aphrodite mendamba Hephaestus beserta segala cacatnya yang secara bertahap berubah jadi nilai tambah.

“Zeus memintaku menciptakan cinta. Aku tidak bisa menolak perintah itu, tetapi aku juga tidak mampu menjalankannya.”

Salah besar jika Aphrodite mengira hari itu Hephaestus datang semata untuk membawakan hadiah. Kalung berbandul zamrud buah tangan Hephaestus hanya pembuka dari serangkaian bujukan.

“Kami semua di Olympus tidak cukup memahami cinta, termasuk aku. Cinta ibarat barang yang memiliki banyak duplikat; serupa tapi tak sama, salah racikan beda pula keluarannya. Aku kenal satu pencipta yang mahir meramu perasaan ini dan kami sangat membutuhkan kerjasamanya. Oleh karena itu, bisakah  ajarkan aku bagaimana merayunya?” []

bersambung.


Advertisements

2 thoughts on “Born Hater (pt. 5)

  1. KAK LIANAAAAA HALOOOO!!!! MASIH INGATKAH PADAKUU?

    JADIII, sebenernya aku udh baca dr chapter 1-4 (kecuali chapter 3 karena di lock) dari beberapa minggu yang lalu. Tapi aku belum komen maaafff. Aku hari ini berkunjung dan udh ada chapter 5 nya yaampun aku bahagia sekaliiii :”) aku suka banget ceritanya yaampun beneran! ❤

    Ini greget banget asli!! Aku selalu bisa bayangin kalo hani jd aphrodite. Dia cantik banget dan menggoda banget banget. Terus gatau kenapa jd demen xiumin-hani abis baca iniii (PADAHAL INI KAN CERITANYA TENTANG APRHODITE-HEPHAESTUS) hehehehe. Aku suka banget sama gaya bahasanya gatau kenapa yaampun. Gatau kenapa sukaaaaa banget! ❤

    Aku nunggu banget lanjutannya kak lianaaa! Semangat teruss { }

    P. s. huang zitao kenapa ya kalo jadi Ares itu cocok banget parah

    Liked by 1 person

    1. MASIH HIDUP TERNYATA HAHAHAHALOOOO
      *Bear hug
      Real life hectic bgt ya waaah sdh lama sekali, makasih udh mau balik lagi hahai
      Udh comeback blm nih Evelyn?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s