Rough (pt.3)

LDS, 2017

Rough #3: Smiling Flower

1 – 2

GFriend Yuju (Choi Yuna), NCT Jaehyun (Jung Yoonoh), Seventeen DK (Lee Seokmin)

slight!iKON Junhoe

School Life, Friendship, slight!Fluff // Chaptered // Teen and Up

.

Berjalan menuju kelas bersama Seokmin bagaikan minum kopi untuk memulai hari: menghilangkan kantuk sekaligus mengisi energi yang cukup sampai bel pulang berbunyi. Tanpa itu, pagi Yuna menjadi agak hampa, meski ia punya beberapa orang selain Seokmin yang mau menemaninya menyusuri lorong panjang sekolah; Yoonoh salah satunya. Sayang sekali, bagi Yuna, jalan berdua dengan Yoonoh rasanya tidak (ralat: belum) semenyenangkan jalan dengan Seokmin karena mustahil Yoonoh muncul dari tikungan di koridor demi mengagetkan Yuna. Selain itu, Yoonoh tidak pernah menceritakan mimpi yang konyol-konyol—tentang ratusan kumbang yang merubung selimut, misalnya—seperti Seokmin.

“Yuna, apa Seokmin sedang sakit?”

Gadis yang Yoonoh tanyai ragu menjawab, mengingat-ingat bagaimana Seokmin beberapa hari belakangan. Yuna berusaha menciptakan gambaran ‘Seokmin yang biasanya’ dalam benak, tetapi gagal. Seokmin memang terlihat kurang baik lantaran akhir-akhir ini sering kedapatan melamun jika sedang sendirian, padahal bila tidak bersama Yuna, lazimnya Seokmin menghabiskan waktu dengan kawan-kawannya dari kelas 3-A atau kelas lain. Bukan sekali-dua kali Yuna mencari tahu apa Seokmin ada masalah, sayangnya sesering itu pula Seokmin mengalihkan isu dan membuat Yuna lupa.

“Dia terlihat sedikit capek … hm, tapi aku tidak yakin.” Ujungnya, Yuna mengangkat bahu. “Kalau dipikir-pikir lagi, dia juga tambah sering terlambat, sampai-sampai bekal yang kubawakan buatnya baru dia makan saat jam istirahat siang.”

Yoonoh tampak agak terkejut mendengar ini. “O, kamu bikin sarapan buat Seokmin setiap pagi?”

“Bukan bikin, sih, cuma beli dari minimarket, hehe. Kadang roti isi, kadang kimbab, apa pun untuk mengisi perutnya. Pagi-pagi kan Seokmin …” –Yuna menengok kanan dan kiri sebelum bicara, setengah berbisik, pada Yoonoh— “… bekerja, jadi dia tidak sempat sarapan sebelum berangkat ke sekolah.”

“Kerja?” ulang Yoonoh sama lirih, rautnya penuh tanya.

Yuna mengangguk. “Dia mengambil beberapa pekerjaan untuk menambah penghasilan ibunya. Dia anak yang hebat dan kakak yang sangat keren di mata adik-adiknya. Karena ingin terus seperti itu, makanya Seokmin tidak mau melepas pekerjaannya, sekalipun berat menyeimbangkan jam sekolah dengan semua tugas tambahan itu.”

“Adik-adik? ‘’Semua’ tugas tambahan?” –Dari kata-kata kunci ini saja, Yoonoh sudah memahami bagaimana repotnya seorang Seokmin di luar sekolah— “Pantas dia lelah. Kegiatan kita mulai padat, kan? Guru-guru mulai memberi tugas, kemudian pelajaran tambahan sampai sore, disambung bimbingan ujian ….”

“Aku setuju.  Seokmin saja yang kepala batu, padahal kalau soal keuangan, banyak orang yang bisa bantu, kok,” ujar Yuna sembari menggembungkan pipi sedikit. “Tapi karena dia tidak mau dengar, ya sudah. Biar pusing sendiri andai nilainya jeblok nanti.”

Yoonoh tersenyum tipis. “Jangan berdoa yang jelek buatnya, Yuna. Seokmin kan punya pertimbangan sendiri mengapa harus tetap bekerja. Lagi pula, kebanyakan anak laki-laki tidak suka menerima bantuan orang lain bila dia sendiri mampu menyelesaikan masalah.”

“Begitu.” Tanpa sadar, Yuna mengangguk-angguk. “Biar orangnya cuek, Seokmin punya harga diri yang tinggi juga.”

“Tidak kelihatan, ya? Dia orangnya ceria dan tampaknya tidak gampang gengsi, sih.”

“Benar, kan? Seokmin itu tidak cocok bersikap sok serius!” Nada Yuna meninggi, pandangnya terangkat dan langsung bersirobok dengan Yoonoh. “Apa semua anak laki-laki selalu menghindar kalau ada anak perempuan yang ingin membantu mereka, cuma karena mereka merasa kuat? Bahkan yang setipe Seokmin? Teman kan harusnya tidak saling menyimpan rahasia! Ih, aku—ng.”

Alis Yoonoh terangkat, meminta Yuna melanjutkan kalimat yang ia potong sendiri. Alih-alih meneruskan, si gadis berkuncir kuda menggeleng cepat dan meminta maaf.

“Aku jadi marah-marah padamu gara-gara Seokmin …. Maaf, ya, Yoonoh ….”

“Astaga, tidak apa-apa.” Yoonoh tertawa kecil. “Memang ada saatnya kita kesal akibat tidak bisa melakukan sesuatu untuk seseorang yang kita sayangi, benar?”

Dengan pikiran kosong, Yuna mengangguk, melewatkan detail penting dari kalimat Yoonoh barusan.

“Betulan sayang Seokmin, ya?”

“Aku—a-apa?” Kontan wajah Yuna terbakar. “Tidak! Bukan sayang yang seperti itu, tetapi sebagai sahabat! Teman akrab, teman akrab; Yoonoh mengerti, kan?”

“Ehem, ehem! Ada yang tidak mau mengaku, nih.”

“Yoonoh!”

“Ahahaha, mengerjai Yuna asyik, ya.” Bibir Yuna mengerucut, dengan perlahan memukul lengan atas Yoonoh. “Maaf, maaf. Iya, aku sungguhan mengerti perasaanmu. Padahal sudah dekat, tetapi tetap saja tidak berbagi rahasia, rasanya jadi tidak benar-benar ‘bersahabat’, kan?”

Mengiyakan ucapan Yoonoh, anak mata Yuna bergulir ke samping. Dia tidak boleh menyalahkan Seokmin yang enggan berbagi rahasia jika ia sendiri masih belum berkenan menumpahkan semuanya pada Seokmin—atau pada Yoonoh. Terbayang persahabatannya dengan Eunbi yang jauh lebih mudah ketimbang dengan dua cowok ini; mungkinkah karena laki-laki dan perempuan terlampau kontras hingga butuh kepercayaan sangat besar untuk saling terbuka? Karena laki-laki merasa kuat dan perempuan takut laki-laki tidak cukup peka buat memahami mereka?

Apakah niat baik semata tidak cukup untuk mengeratkan ikatan persahabatan?

Namun, segala pemikiran acak Yuna mengenai persahabatan seketika lenyap dari benak setibanya di kelas. Maniknya melebar mendapati bangku kosong di samping bangkunya—milik Seokmin—telah dipenuhi coretan cemoohan dan bergeser tiga ubin dari tempat semula. Buru-buru si gadis menghampiri meja itu dengan wajah tegang, panas dari dasar hatinya membumbung sampai permukaan.

‘Anak miskin’. ‘Enyah’. ‘Bodoh’. ‘Sampah’.

“SIAPA YANG MELAKUKAN INI, CEPAT MENGAKU!!!”

Semua orang yang berada di kelas mematung, tidak menyangka sekretaris kelas mereka yang biasanya periang dan kalem tiba-tiba membentak demikian keras. Sebagian besar terdiam, satu-dua berbisik pada siapa yang duduk di sampingnya, tetapi seseorang bangkit dan melempar kaleng cat semprot kosong ke dekat kaki Yuna.

“Aku,” –Yuna tidak terkejut menyaksikan siapa yang kini dihadapinya— “yang mengotori mejanya, lalu kau mau apa?”

Getar ketakutan yang biasa menyelinap dalam hati Yuna kala berinteraksi dengan orang ini, ajaibnya, tidak muncul saat itu. Si gadis mengepalkan tangan di sisi sebelum berteriak sekuat tenaga hingga getar halus merambati sekujur tubuhnya.

“Mengapa kamu melakukannya?! Apa salah Seokmin?! Dia sedang tidak dalam keadaan baik dan kamu akan menambah buruk keadaannya, Junhoe!”

Disembur habis-habisan seperti itu oleh Yuna sepertinya tidak mengusik Goo Junhoe, si pemicu kekacauan. Dengan santai, ia duduk di kursi Seokmin, melipat lengan dan menyilangkan kaki. Senyum miringnya seakan meremehkan Yuna, menganggap kemarahan Yuna lelucon belaka.

“Kesalahannya? Si miskin itu bernapas di ruang ini saja sudah salah. Baguslah besok dia sudah angkat kaki dari sini.”

“Tidak ada yang angkat kaki dari kelas ini sebelum lulus, jadi sekarang bereskan semuanya sebelum Seokmin datang, lalu minta maaf!”

Menyaksikan ekspresi jengkel Yuna malah meloloskan gelak Junhoe.

“Apa ini? Kemarin kau masih mau menyapaku dengan ramah, sekarang meledak cuma gara-gara aku menghias meja Seokmin? Ini hadiah dariku, kenang-kenangan sebelum dia dikeluarkan dari 3-A; aku baik, kan?”

Rahang Yuna terkatup rapat, ingin mengumpat atau meludahi muka angkuh Junhoe, tetapi ia tahan sebisa-bisanya lantaran sadar betul itu perbuatan yang tak patut. Selain itu, Yuna merasa sikapnya  sudah kelewatan, bahkan jika yang dihadapinya adalah siswa paling menyebalkan satu sekolah. Barangkali Junhoe hanya sedang kurang kerjaan sampai-sampai ia mau masuk kelas dan mengacau, menyalahi kebiasaan membolosnya. Ucapannya tentang Seokmin yang akan ‘dikeluarkan’ pun pasti sekadar alat untuk memancing amarah Yuna, bukan sebuah kebenaran. Seokmin tidak akan dikeluarkan. Untuk apa? Dia siswa berprestasi dan tidak pernah merusuh macam Junhoe.

Omong-omong soal Junhoe, bukankah dia yang seharusnya dikeluarkan?

Di balik punggungnya, Yuna mendengar keriut kaki meja yang dipindah. Yoonoh mengembalikan meja Seokmin ke posisi semula sebelum menepuk bahu Yuna, menenangkan sang sekretaris. Ia lantas maju selangkah, mendekati Junhoe usai Yuna memberinya jalan.

“Apa untungnya bagimu melakukan ini? Kau senang melihat orang lain kesusahan karena sikapmu?”

“Ya,” sahut Junhoe cepat, senyum congkaknya melebar, “dan apa yang kulakukan bukan urusanmu.”

“Tentu jadi urusanku. Sikapmu yang begini mengganggu anggota kelas. Lagi pula, dua tahun keberadaan Seokmin di sekolah ini tidak pernah mengusikmu. Mengapa sekarang kau menghendakinya segera angkat kaki?” Sejenak Yoonoh memberi jeda. “Atau …”

Terusan kalimat Yoonoh tidak tertangkap rungu Yuna sebab pemuda Jung berkulit cerah itu agak menunduk ketika bicara, suaranya rendah dengan volume minimum pula. Yang Yuna tahu, detik berikutnya Junhoe melayangkan bogem mentah yang memberi warna keunguan di pipi putih Yoonoh. Biarpun tidak mengantisipasi serangan ini dan sangat syok dibuatnya, refleks Yuna menangkap Yoonoh yang terhuyung ke belakang sangat bagus.

“Lega rasanya menonjok wajah sok sucimu, Yoonoh. Terima kasih sudah memancingku melakukannya.”

Di antara desisnya menahan nyeri, Yoonoh masih bisa menyisipkan senyum—puas?

“Terima kasih kembali.”

“Goo Junhoe!” bentak Yuna lagi manakala Junhoe melajukan tungkainya menuju pintu. “Jaga sikap—“

“Yuna, sudahlah.”

Denyut hebat di pipi Yoonoh tidak terus membuatnya naik pitam. Ia mencegah Yuna berbuat lebih jauh seraya berdiri perlahan-lahan, masih memegangi pipinya yang nyeri. Pandangan Yoonoh tidak beranjak dari punggung Junhoe yang akhirnya menghilang ke balik pintu kelas. Dongkol dan gemas karena Yoonoh membiarkan Junhoe berlalu begitu saja, Yuna bertanya—dengan kegusaran di bawah suaranya—pada si ketua kelas.

“Apa tidak sebaiknya Junhoe ditahan sampai Guru Park datang? Wali kelas perlu tahu bagaimana liarnya dia selama tidak ada guru.”

“Menurutku tidak perlu. Biar diomeli seperti apa, dia tidak akan berhenti, jadi aku mencoba pendekatan baru.” Yoonoh terkekeh—dan memekik singkat begitu lecet di tepi bibirnya terasa perih. “Eh, malah kena tinju.”

“Apa yang kamu katakan?”

“Detailnya tidak penting. Intinya, berbuat kekanakan begini cuma menunjukkan bahwa ia sebetulnya ada di sisi yang lebih lemah dari Seokmin saat ini. Ia kalah, maka ia melampiaskan kekesalannya, tetapi ia tidak terima akan kenyataan itu dan malah menonjokku.” Kalah dalam apa, Yuna masih penasaran, tetapi usai menjelaskan, Yoonoh menghela napas dalam. “Cat semprot kalengan susah dihapus, apalagi kalau sebanyak ini. Kita benar-benar harus minta meja baru sebelum Seokmin tiba.”

“Tidak usah, Yoonoh.”

Sepasang perangkat kelas yang baru akan menukar meja Seokmin spontan berpaling ke belakang. Yuna membelalak kecewa lantaran Seokmin datang lebih cepat dari bayangannya, sehingga ia tidak sempat menutupi perbuatan Junhoe. Pemuda berkacamata di ambang pintu menatap nanar mejanya yang tercoret-coret, sejemang kemudian beralih pada lebam di pipi Yoonoh. Rasa bersalah jelas tergambar di permukaan obsidiannya, cukup gamblang tanpa ia mengungkapkan.

“Aku akan ambil meja di ruang musik.”

“Tunggu! Kami akan bantu!” Kaki jenjang Yuna segera memangkas jarak antaranya dan Seokmin, sementara Yoonoh mengikuti mereka tanpa suara. Ketiganya berjalan beriringan menuju ruang musik dalam hening. Meskipun ingin sekali membuka konversasi, suasana hati Yuna masih kacau. Dampaknya, otak si gadis belum sanggup merangkai kata dengan rapi. Level kemuraman Seokmin sangat berbahaya; Yuna takut kalau ia salah ucap, Seokmin akan meledak atau hancur. Belum pernah Seokmin dinaungi mendung setebal ini dan Yuna tidak mau memicu badai menggunakan susunan aksara yang keliru.

“Terima kasih, Yuna, Yoonoh. Maaf sudah menyusahkan kalian, tetapi apa yang Junhoe bilang,” –Tanpa memandang lawan bicaranya, Seokmin membuka  pintu ruang musik—“itu benar.”

Kata-kata Seokmin menimbulkan gambaran yang begitu nyata di kepala Yuna, mendenyutkan nyeri dalam dadanya.

“Bohong.” Si gadis jangkung menyangkal; kedua tangannya memegang dua sudut dari salah satu meja, siap membantu Seokmin mengangkatnya keluar. “Kamu tidak punya alasan untuk keluar.”

“Yuna, biar aku. Tolong bukakan saja pintunya,” komando Yoonoh, mengambil alih sisi lain meja. Dalam hitungan ketiga, ia dan Seokmin menggotong meja keluar ruangan. Yuna menutupkan pintu ruang musik untuk mereka, hendak bertanya lagi andai Yoonoh tidak mendahuluinya.

“Apa kamu bisa menjelaskan situasinya dari awal, Seokmin? Tentunya jika kau tidak keberatan. Siapa tahu kami berdua dapat membantu?”

Namun, bahkan Yoonoh yang telah menata ucapannya tidak menggoyahkan Seokmin untuk mengunci rahasianya.

“Maaf, aku tidak bisa.”

Gesekan kaki meja dan ubin menutup percakapan. Sehabis menukar meja, Yuna berdiri agak lama di samping bangku, berharap Seokmin mau bertutur barang sedikit, sayangnya bibir Seokmin tetap terkunci hingga bel masuk berbunyi tidak lama kemudian. Terpaksa Yuna duduk, mengikuti jadwal demi jadwal sampai tuntas dengan fokus tak penuh. Jam istirahat, Seokmin berlalu dari kelas secepat angin dan menghilang; langkah yang bagus untuk tidak ‘diinterogasi’. Begitu pula saat pulang, tanpa menghiraukan Yuna yang memintanya menunggu, Seokmin langsung menyandang tas dan pergi. Yuna mengejarnya ke tempat parkir sepeda, tetapi sepeda Seokmin tidak lagi ada di sana.

“Dia … hosh … sudah pulang, ya?”

Yuna mengangguk lesu pada Yoonoh yang tengah mengatur napas; ketua kelasnya itu ternyata juga mengejar Seokmin.

“Menurutmu, apa keingintahuan kita mengganggunya?” tanya Yuna pelan. “Masalahnya, kalau kita tidak menggali, kita tidak bisa membantu, padahal ini baru Seokmin. Bagaimana dengan teman-teman lain yang sama membutuhkan solusi?”

“Yah …” Yoonoh meringis. “Turut campur tidak selamanya menyelesaikan masalah, sih, tetapi untuk kali ini, aku juga ingin tahu.”

“Kalau begitu besok,” celetuk si gadis kuncir kuda, embusan napasnya berat. “Besok, kita akan coba cari tahu lagi.”

Yang menyebalkan, besoknya Seokmin tidak masuk sekolah. Surat yang Yuna terima tidak menuliskan alasan absennya dengan terang; ‘urusan keluarga’ bagaimana maksudnya? Bangku tak berpenghuni di sebelah kiri menimbulkan rasa cemas melebihi yang sudah-sudah. Pesan yang Yuna kirim tak dibaca, telepon tak diangkat, tidak ada pula orang yang tahu Seokmin ke mana, dan Yuna jadi gemas sendiri.

“Rumah Seokmin tidak terlalu jauh dari sekolah. Aku akan langsung menemuinya besok pagi mumpung libur.”

“Kita pergi bersama-sama.” Antusias, tanpa sadar Yoonoh membubuhkan tanda tangan di lembar absensi lebih cepat. “Di mana alamatnya?”

“Aku tahu. Tidak makan banyak waktu untuk ke sana dengan berjalan kaki atau naik sepeda. Berangkat lebih pagi kurasa lebih bagus.”

Memastikan semua bukunya lengkap, Yoonoh lantas menutup tasnya. “Jam delapan di sekolah?” Dan anggukan berulang Yuna berikan sebagai jawaban. Respon cepat ini mengembangkan kurva tipis di bibir Yoonoh.

“Perkara ini membuatmu sangat gelisah, kan?”

Entah bagaimana, dari ungkapan sederhana multimakna ini, Yuna hanya dapat menarik satu kesimpulan. Raut tegangnya berubah takut, bimbang, dan ia mundur selangkah. Jemarinya melingkar pada pegangan tas lebih erat.

“Itu mengganggumu, ya?”

“Tidak, tidak, bukan itu maksudku!” Terdengar panik, Yoonoh meralat kalimatnya. “Aku cuma mau bilang … Seokmin beruntung memiliki sahabat yang memperhatikannya.”

“Katakan saja kalau menurutmu aku berlebihan dan merepotkan, Yoonoh.” Sebisa mungkin, Yuna mengatur intonasinya, berusaha tidak kelewat emosional. “Kelak, kita pasti akan menghadapi kasus-kasus seperti ini lagi dan aku tidak terlalu tahu bagaimana menanggapinya sebagaimana seorang perangkat kelas. Kapan harus terlibat jauh dan kapan tidak, aku tak mengerti batasnya. Yang kutahu, aku harus menolong mereka supaya mereka dapat belajar dengan baik untuk ujian akhir.”

Aku ngomong apa, sih?, batin Yuna malu; kadang, jujur menimbulkan efek samping seperti ini, tetapi Yuna merasa telah menyampaikan apa-apa yang perlu sebelum terlambat. Semula ia mengira orang berpikiran sepraktis Yoonoh akan menertawakannya …

… nyatanya tidak.

“Yuna benar-benar baik hati, ya.  Memperhatikan teman bukan sesuatu yang berlebihan, kok,” ujar Yoonoh kalem. “Aku tidak dapat memastikan ‘batas’ yang kamu sebut itu, tetapi andai kamu mulai mengkhawatirkan sesuatu sampai kelimpungan sendiri, saat itu aku pasti akan mencegahmu.”

Mengapa Yoonoh kerap dipilih untuk memimpin sebuah kelompok di masa lalu, rahasianya mungkin ada pada tatapannya yang meyakinkan. Sangkalan-sangkalan yang menggantung di ujung lidah Yuna tertelan kembali ke tenggorokan. Terima kasih ia sampaikan setulusnya pada Yoonoh, berbalas senyum, dan langkahnya terasa ringan ketika Yoonoh berjalan di sampingnya hingga mereka berpisah di gerbang.

***

“Mereka sudah pindah.”

Minggu, pukul delapan tepat, Yoonoh menjemput Yuna di depan sekolah dengan sepeda. Mengejutkan bagaimana kendaraan seseorang dapat mengubah auranya; Yoonoh yang sedang mengayuh terkesan lebih ‘terjangkau’ dibanding Yoonoh yang diantar-jemput dengan mobil. Sekonyong-konyong, Yuna teringat Seokmin yang pulang-pergi dari sekolah menggunakan kendaraan roda dua tersebut dan betapa ia kehilangan sosok ceria itu biar hanya sehari.

Sesampainya di rumah yang harusnya rumah Seokmin, Yuna disambut seorang perempuan tambun bertampang jahat yang dengan garang mengatakan keluarga Seokmin tidak meninggali rumah itu lagi.

“Pindah? Ke mana, Bi?”

“Mana kutahu, pokoknya mereka tidak bayar sewa, ya kuusir. Terserah mau tinggal di mana.”

Bibir Yuna berkerut, begitu pula keningnya. Jahat!

“Jadi, Bibi benar-benar tidak ta—“

“Tidak, Cantik. Apa kau tuli? Aku bilang tidak tahu dan aku tidak peduli juga!” tukas wanita pemilik rumah sewa. Apa-apaan?

“Baiklah, kalau begitu kami permisi. Maaf mengganggu Bibi.”

Senyum Yuna yang dibuat-buat langsung menguap begitu ia menemui Yoonoh yang menunggu di luar gerbang kalau-kalau mereka salah alamat.

“Seokmin sungguhan pindah dan bibi itu tidak tahu ke mana pindahnya,” dengus Yuna, marah dan sedih bercampur ganjil pada rautnya.

“Berarti dugaanmu benar. Sepeda Seokmin tidak terparkir di halaman seperti katamu karena memang dibawa pemiliknya pergi. Kira-kira ke mana—sudah, jangan cemberut terus. Jangan dendam sama bibi-bibi jelek, rugi kalau kau ikutan jelek.”

Kaget tiba-tiba ditegur Yoonoh, Yuna nyengir lebar, tangannya melambai-lambai. “A-ah, tidak. Buat apa aku dendam sama bibi-bibi tua?” tanyanya retoris, dengan hati-hati duduk di jok belakang. “Setelah ini, sebaiknya kita mengecek ke mana, ya?”

“Mencari rumah sewa yang Seokmin tinggali di antara sekian banyak rumah sewa akan memakan waktu,” gumam Yoonoh. “Yuna, kau punya kontak teman-teman Seokmin yang tidak berasal dari kelas 3-A?”

“Siapa? Teman Seokmin di luar kelas 3-A tidak terlalu akrab, aku ragu mereka tahu di mana Seokmin tinggal. Omong-omong, Bibi itu kelihatannya mau melempar kita—“

“SIAPA YANG KALIAN BILANG BIBI-BIBI TUA?! HAH! CEPAT PERGI!”

“Wow, wow! Baiklah, Bi, tidak usah marah-marah!” Yoonoh buru-buru mengayuh menjauhi rumah sewa yang pemiliknya seram itu, menghindari talenan yang—untungnya—membentur pagar. Yuna refleks mengeratkan genggaman pada sisi pakaian Yoonoh, pandangnya belum berpindah dari talenan yang tergeletak di muka rumah.

“Ada apa, sih, dengannya?”

“Paling-paling sakit gigi,” jawab Yoonoh asal. “Bisa susah kalau sehari-harinya Seokmin menghadapi pemilik rumah sewa model begitu.”

“Benar. Terlambat bayar sewa sehari-dua hari mungkin akan langsung ditendang keluar oleh bibi tadi. Katanya ia mengusir keluarga Seokmin gara-gara mereka tidak bayar uang sewa …. Aku yakin mereka tidak sungguh-sungguh ‘tidak membayar’.”

“Bisa jadi cuma terlambat, ya.” Yoonoh menanggapi. “Aku benci mengatakan ini, tetapi andai Seokmin betulan dikeluarkan dari sekolah, besar kemungkinan alasannya mirip dengan alasan ia diusir dari rumah sewa.”

“Tidak membayar biaya bulanan?”

Sepeda Yoonoh berbelok ke kanan. “Begitulah.”

“Masa, sih? Aku pernah kelupaan membayarkan uangnya sampai bulan berikut dan baik-baik saja, tuh.”

“Kau pernah melakukannya?” tanya Yoonoh sembari menahan kekehan, memerahkan pipi Yuna. “Oke, oke, kembali ke topik. Satu-dua bulan mungkin tidak masalah bagi pihak sekolah, kalau lebih?”

Kalau lebih? Yuna tidak tahu. Penghasilan keluarganya berada di atas rata-rata, maka ia tidak pernah merasakan kesulitan teman-temannya yang menunggak. Mustahil sekolah tinggal diam pada siswa-siswa ini; mereka kan sudah dianggap melanggar peraturan, padahal mereka sendiri pasti ingin selalu membayar tepat waktu. Membayangkan Seokmin ‘diburu’ pihak sekolah dalam keadaan uang sewa rumah yang belum terlunasi memuramkan Yuna seketika. Bila Yuna murung hanya dengan memikirkan itu, apalagi Seokmin yang mengalaminya langsung.

“—na? Yuna, ponselmu bunyi.”

“Ah! I-iya, sebentar.”

Yuna tergopoh melonggarkan tali pada tas mungilnya agar bisa mengambil ponsel di dalam. Ia ketikkan kata kunci secepat kilat untuk mengaktifkan si ponsel—dan notifikasi pesan singkat kontan terpampang di monitornya.

Xu Yiyang: Yuna, hari ini jadi mencari tempat tinggal Lee Seokmin?

Yuna tidak percaya ini. Yiyang salah satu siswi 3-A yang belakangan mulai dekat dengannya, tetapi kedekatan mereka dibatasi oleh pintu kelas; keluar dari sana, jarang sekali mereka mengirim pesan di luar kepentingan sekolah. Rencana menemui Seokmin sudah Yuna bagi dengan Yiyang, tetapi Yuna tidak percaya ia mendapat pesan mengenai Seokmin dari gadis Cina berambut sepinggang itu.

Choi Yuna: Iya, sekarang sedang bersama Yoonoh. Kami harus berkeliling mencari rumah-rumah yang disewakan karena Seokmin ternyata pindah.

Xu Yiyang: Aku melihat Seokmin.

Pesan ini masuk tepat setelah Yuna selesai menekan ‘kirim’. Belum sempat terkejut, ia mendapat pesan susulan yang mencantumkan alamat lengkap dengan nomor rumah.

Xu Yiyang: Dia sedang menyapu di halaman, sedikit-sedikit tengok kanan-kiri seperti takut ketahuan orang, jadi aku tidak berani menyapanya T.T Jangan bilang tadi aku melihatnya, ya.

Senyum Yuna terkembang ketika membalas pesan manis Yiyang dengan ‘terima kasih’ panjang disertai tiga emotikan pelukan. Apakah omelan si bibi galak menjadi titik balik nasib sialnya dan Yoonoh seharian ini?

“Yoonoh, bisa menepi sebentar? Yiyang mengirimiku sesuatu yang kau harus baca.”

“Yiyang?” Sesuai perintah penumpangnya, Yoonoh menghentikan sepedanya di pinggir jalan dan meraih ponsel yang Yuna sodorkan. Ia terbelalak begitu membaca isi pesan Yiyang, wajahnya cerah. “Hebat! Sicheng membawanya kencan ke mana, sih, kok bisa ketemu Seokmin? Baiklah, melaju!”

“T-tunggu, aku belum pegangan, jangan kencang-ken—KYAA!!!”

***

Memarkir sepedanya agak jauh dari tujuan, Yuna dan Yoonoh mengendap-endap ke rumah kecil bercat putih yang Yiyang sebut dalam pesannya. Seokmin tidak kelihatan di depan, tetapi Yuna mengenali dua orang yang kini membersihkan halaman.

“Chan! Gahyun!” Berseru tertahan, nama-nama adik Seokmin meluncur ringan dari mulut Yuna. “Mereka ada di sini, berarti benar ini rumah baru Seokmin! Terima kasih, Tuhan, terima kasih, Yiyang!”

Ungkapan gembira Yuna menular, memunculkan kelegaan Yoonoh hingga di pipinya tercetak lesung manis untuk kesekian kali.

“Fiuh, ketemu juga! Tenang, Yuna, tenang; kalau tidak tenang, kau bisa menerkam Seokmin nanti saking girangnya.”

“Tidak bakalan!”

Berusaha terlihat rileks, nyatanya Yuna tetap berjalan tergesa lantaran terpicu keinginan segera menemui Seokmin. Adik lelaki Seokmin, Chan, lebih dulu menyadari seseorang melangkah ke arah rumahnya. Si bocah SMP teralihkan dari pekerjaannya menjemur karpet; mulutnya ternganga setelah mengingat identitas sang tamu.

“Kakak!!! Kak Seokmin, ada Kak Yunaaa!!!” Diam sebentar. “Sama temannya yang ganteng, aku lupa namanya, pokoknya idolamuuu!!!”

Yuna tertawa, sementara Yoonoh kegelian mendengar bagaimana adik Seokmin mendeskripsikan dirinya.

“Cempreng seperti biasa. Kapan besar, sih, Chan?”

“Adiknya bersemangat betul persis kakaknya, ya.”

Demi mendengar teriakan Chan, pemuda yang Yuna nanti-nanti berlari ke halaman, lalu menarik sang adik masuk. Di dalam terjadi keributan kecil, grasak-grusuk yang disempili suara Seokmin (‘jangan bicara aneh-aneh, bikin malu di depan Yoonoh!’) dan Chan (‘jadi namanya Kak Yoonoh, ya—cie, cie, yang senang disambangi idolanya!’), tetapi tak lama kemudian berhenti. Sosok sumringah Seokmin muncul dari dalam rumah, sebelah tangannya mengusap-usap belakang kepala.

“Aku tidak menyangka kalian bisa menemukanku. Masuk, masuk, dan maaf soal Chan.”

“Aih, buat apa? Anak SMP sudah semestinya berisik,” seloroh Yuna, memancing tawa lepas ketiganya, dan usai meredakan tawanya, Yuna memandang Seokmin. Senyumnya melembut tanpa ia menyadari.

Kelihatannya sudah baikan, syukurlah ….

Mempersilakan tamu-tamunya masuk, Seokmin sekalian memohon maaf ‘karena rumah ini tidak senyaman rumahku sebelumnya’ dan meminta tolong adik perempuannya—Gahyun—untuk menyiapkan suguhan. “Seadanya, ya. Aku cuma punya biskuit keju dan minuman jeruk instan,” cengirnya.

“Tidak masalah. Kami tidak ke rumahmu cuma buat makan, kok; yang penting kan ada kamu. Yuna kelimpungan gara-gara tidak ketemu kau 1 x 24 jam, tahu,” –Siapa yang begitu?!, sangkal Yuna sembari memukul pelan lengan atas Yoonoh— “apalagi kamu pindah rumah tanpa memberitahunya.”

Tampaknya, Yoonoh cukup pandai menyelipkan tanya dalam kalimat tanpa terdengar ingin tahu. Sebagai bukti, Seokmin kini menghela napas, mengerti bahwa ini saatnya ia menjelaskan semua pada Yuna dan Yoonoh. Ketiganya duduk bersila di atas lantai beralas tikar, mengelilingi suguhan yang baru saja Gahyun letakkan, dan memulai konversasi. Sempat Yuna mengedarkan pandang ke sekeliling sebelum Seokmin bercerita; dari pengamatannya, dapat disimpulkan rumah baru Seokmin ini substandar. Apakah seburuk itu keadaan keuangan Keluarga Lee sampai Seokmin harus tinggal di rumah yang bahkan tak punya kursi di ruang tamunya?

“Bibi Lee pergi ke mana?”

“Kerja. Beliau jadi salah satu pegawai di usaha kerajinan rumahan kalau hari Minggu, Yoonoh.”

Mendapatkan jawabannya, Yoonoh membulatkan bibir, kemudian manggut-manggut paham, sementara Yuna mengerutkan kening. Seingatnya, dulu ibu Seokmin tidak bekerja di hari Minggu.

“Bagaimana dengan lebammu? Apa sudah membaik?” tanya Seokmin balik, lirih.

Lawan bicara Seokmin terkekeh sambil mengusap-usap kasa berplester di pipinya. “Tenang, lebamnya sudah berkurang. Penutup ini kupakai biar aku tidak kelihatan seram saja dengan bekas luka sebesar itu, hehe.”

Muka bersinar begitu memang bisa kelihatan seram?

Benak Yuna dan Seokmin menyerukan pertanyaan yang sama.

“Aku sungguh menyesal soal lukamu, Yoonoh. Junhoe senang merendahkan anak-anak yang berkekurangan sepertiku dan tidak suka jika ada orang yang berpikir sebaliknya. Membelaku malah membuatmu susah nantinya karena Junhoe itu kuat dan tidak terhentikan oleh seberat apa pun hukuman.”

“Bagaimana, ya? Kalau dibilang membelamu, sebenarnya Yuna, nih, yang lebih berani. Ia membentak Junhoe tepat di depan wajahnya, keren sekali! Kalau aku sih cuma mengungkapkan fakta yang ia tidak suka.”

Kontan kepala Seokmin berputar ke arah Yuna, maniknya melebar. “Kau apa?”

Yuna mundur sedikit.  “Yah, itu … karena melihat mejamu dicoret-coret, aku langsung berteriak di depan kelas, bertanya siapa yang melakukannya. Junhoe yang maju dan sumpah waktu itu aku takut, tetapi tidak tahu, deh, tiba-tiba aku sudah membentaknya, menyuruhnya membereskan kekacauan dan minta maaf padamu.” Tatapan Yuna teralih pada Yoonoh, penuh kecurigaan. “Justru Yoonoh yang menyulut kemarahan Junhoe. Kamu mengatainya apa?”

“Nanti aku jelaskan.” Yoonoh menegakkan punggungnya. “Sekarang, mari kita dengarkan dulu Seokmin. Apa yang terjadi belakangan, mengapa kemarin sampai tidak masuk kelas, pindah tanpa seorang pun tahu, ayo ceritakan.”

Mengenal Seokmin sebagai pribadi supel nan kocak, Yuna tidak menyangka ada sisi Seokmin yang sangat mudah minder. Ada beberapa waktu di mana Seokmin terlalu merendah saat membandingkan diri dengan orang lain, tetapi Yuna kira itu wajar lantaran si ‘pembanding’ ini memang sangat sempurna; salah satunya Yoonoh. Kali ini lain. Sekolah tidak berkenan menoleransi tunggakan tiga bulan Seokmin dan telah menulis surat untuk menghentikan langkahnya di kelas tiga. Hal tersebut membuat Seokmin, yang sebenarnya masih tak percaya dirinya masuk sekolah ‘seelit’ Seoul Global High, meragu lagi. Sejak lama, Seokmin sudah dipandang sebelah mata oleh banyak siswa Seoul Global High yang bergelimang harta, tidak peduli setinggi apa prestasinya. Dengan badai finansial yang tengah melanda keluarganya, hati kecil Seokmin makin gencar membenarkan bahwa Seokmin tidak seharusnya berada di sekolahnya sekarang. Ia harus keluar. Tindakan Junhoe memukulnya amat keras, tetap terasa sakit biar sudah diantisipasi olehnya, tetapi bagaimana Yuna dan Yoonoh menyikapi itu mengaduknya dalam haru.

Ibu Seokmin, menyadari betapa cintanya si sulung pada kehidupan sekolahnya, akhirnya memutuskan menyerahkan sekian won terakhir—yang semestinya dibayarkan kepada pemilik rumah sewa—untuk melunasi tunggakan biaya pendidikan Seokmin. Pemilik rumah sewa, yang sama tidak tolerannya dengan sekolah sang putra, menyentil Keluarga Lee keluar—dan ke rumah kecil inilah, keluarga Seokmin berakhir.

“Aku tidak masuk kemarin karena harus membantu Ibu, Chan, dan Gahyun mengangkut barang-barang kami, selanjutnya menata rumah baru ini. Untung saja kami tidak punya perabot, jadi tidak susah membawa barang-barang kami tanpa jasa pindahan.”

“Kamu tidak perlu mengalami hal ini andai kamu memberitahu kami lebih awal.” Yuna yang tampak sedih mencondongkan tubuh mendekati Seokmin. “Kamu kan bisa bilang kalau kesusahan membayar uang sekolah. Aku yakin orangtuaku tidak bakal keberatan membantu, jadi ibumu tidak perlu menyerahkan uang yang seharusnya buat melunasi sewa rumah.”

“Ibu tidak suka anaknya mengemis pada orang lain, walaupun hidup kami sulit,” potong Seokmin. “Lagi pula, aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian dengan urusan yang harusnya kuselesaikan sendiri.”

“Jika ‘urusan’ yang kaumaksud itu Junhoe, tidak, itu urusan bersama. Perilakunya memang butuh diluruskan,” sangkal Yoonoh, “tapi dari tingkah lakunya yang demikian itu, aku melihat sedikit kebaikan untukmu darinya. Percayalah, dia mencoret-coret bangkumu malah karena kelebihanmu, bukan kekuranganmu.”

“Eh? Bagaimana mungkin?”

“Buktinya,” Yoonoh menunjuk kasa berplesternya, “dia menyerangku setelah aku menyinggung nilai latihan ujiannya—pelajaran fisika, tepatnya—yang kalah satu angka darimu. Sekadar info, Junhoe tidak pernah tergeser dari peringkat satu paralel sekolah dalam pelajaran fisika. Ini pertama kali ada yang sanggup mengalahkan dia, makanya dia kesal.

“Dan Yuna, pertanyaanmu tadi sudah terjawab, kan?”

Mulut Yuna dan Seokmin terbuka lebar, rahang mereka seakan bergeser engselnya.

“Aku cuma melihat peringkat nilai rata-rata seluruh mata pelajaran, tetapi aku tidak melihat peringkat latihan ujian berdasarkan mata pelajaran!” Buru-buru Yuna membuka tautan pengumuman hasil latihan ujian dan mengeklik bagian khusus fisika. “Hebat! Ini sungguhan! Seokmin, kau keren!”

“T-tidak, daripada itu,” –Tersipu, Seokmin mengalihkan pembicaraan— “Junhoe selalu memperoleh peringkat satu di pelajaran fisika?”

“Sejak kelas satu. Kesan pertama bisa menipu,” ujar Yoonoh sebelum mencomot sekeping biskuit keju. “Ingat, kelas kita bukan kelas biasa; peringkat paralel menengah dan bawah bisa terpilih selama mereka istimewa. Di sini, tidak berlaku hukum ‘yang kuat dan kaya berkuasa’. Kita disiapkan secara khusus untuk mengisi peringkat akademik tertinggi dan lahan kompetisi kita jauh lebih luas dari sekolah. Menjadi yang terbaik di antara 186 siswa kelas tiga Seoul Global High tidak cukup; sekolah berharap lebih pada kita. Pemikiran picik yang dianut mayoritas siswa di luar 3-A tidak bakal berlaku di tempat kita, Seokmin; jangan samakan kami dengan mereka yang mungkin pernah merendahkanmu di kelas satu atau dua.

“Hm, biskuit ini merek baru? Enak. Terima kasih, ya, Seokmin.”

Seraya mengunyah, Yoonoh memberi jeda agar Yuna dan Seokmin dapat mencerna kalimatnya. Sampai sebelum Yoonoh mengungkapkan fakta tentang keahlian Junhoe di bidang fisika, Yuna masih menganggap Junhoe—dan beberapa siswa yang tampak kacau di kelasnya—sebagai berandal salah tempat. Rupanya, selain butuh ‘diluruskan’ sebagaimana yang Yoonoh katakan, mereka juga butuh bantuan untuk memaksimalkan potensi. Junhoe bisa tampil sebrilian Yoonoh andai frekuensi membolosnya dikurangi. Seokmin pun dapat bersinar kalau dia tidak dibayang-bayangi puluhan tatapan meremehkan dari masa silam. Yuna sendiri merasa ia kurang menggali—di balik konsistensinya menempati peringkat lima besar paralel sekolah, pasti ada kehebatan lain yang menunggu untuk mengemuka. Kasus Seokmin punya nilai penting: bahwa orang luar dapat membantu menyingkap tabir yang menutupi kelebihan seseorang. Tiap individu 3-A yang sejauh ini belum terlihat ‘wah’ mungkin membutuhkan ‘orang luar’ untuk menyingkapkan tabir mereka dan untuk mewujudkan itu, harus terjalin kerja sama yang baik.

“Selain itu,” Yuna mendongak, “kelas 3-A tidak bisa hanya menjadi ‘sekumpulan orang spesial’. Kita harus menjadi ‘orang-orang spesial yang bersahabat’. Kalau ekspektasi sekolah terhadap kita dipikul masing-masing orang, akan berat jadinya, bukan? Dan membangun ikatan itu bisa dimulai dari saat ini.

“Seokmin, tanpa bermaksud menganggap keluargamu tidak mampu mengatasi masalah ini sendiri, apa kamu mau menerima bantuan dariku dan Yoonoh? Sebagai seorang sahabat?”

Mengucapkan ini lumayan berat buat Yuna. Ia bingung menyusun tawaran yang tepat agar Seokmin mau menerimanya tanpa merasa diremehkan; ketulusan bisa diartikan berbeda oleh orang yang dicederai harga dirinya. Menanti respons Seokmin jadi mendebarkan, terlebih Seokmin terdiam lama dengan ekspresi yang sukar dibaca.

Si pemuda Lee tertunduk.

“Haha, makanya kemarin aku menghindari kalian. Aku … sangat benci situasi seperti ini.”

Yuna menempelkan ujung-ujung jarinya di depan bibir. Apa aku salah bicara?

“Wah, Kakak mau menangis lagi seperti kemarin lusa, Gahyun-a.”

Glek! Seokmin spontan menoleh ke ruang tengah, di mana Chan tengah cekikikan bersama Gahyun. Adik perempuan Seokmin itu malah sudah mencebikkan bibirnya menirukan sang kakak.

“’Mengapa mereka sangat baik? Mengapa mereka terus-menerus menolongku? Hiks, hiks ….’”

“HEI, MASUK SANA!!!”

“Waaa, takuuut!!!” Chan dan Gahyun berlari, terpingkal-pingkal dan sesekali menjerit lantaran kaki panjang Seokmin terus memangkas jarak. Terdengar keributan yang ditimbulkan kakak-beradik Lee di ruang tengah; ketika ribut-ributnya reda, Seokmin muncul kembali di ruang tamu, gagal muram.

“Duh, adik-adikku …. Aku tidak sesenggukan dan mengatakan sesuatu mirip dialog drama begitu, sumpah.”

Sayang, kejahilan adik-adik Seokmin terlanjur memancing Yuna untuk ikutan iseng.

“Tapi kau sungguhan menangis gara-gara kita?”

“Hm …. Sudahlah, tidak penting dibahas.”

“Aw.” Senyum Yoonoh melebar. “Dia mengaku.”

“Ya ampun, Yoonoh juga … aish! Chan, Gahyun, lihat saja nanti!” Seokmin mengacungkan kepalan tangan ke arah kamar Chan dan Gahyun. “Baiklah, aku … aku memang meneteskan air mata, tetapi itu beda dengan menangis. Beda! Habisnya, waktu itu aku sangat yakin akan dikeluarkan. Kukira, Ibu masih tidak sanggup membayar iuran bulanan sampai jatuh tempo. Memikirkan aku akan berpisah dengan kalian terasa begitu menyesakkan … waktu itu. Sekarang karena semuanya sudah selesai, ya sudah. Maksudku, ya, aku terharu lagi gara-gara kalian bilang mau membantuku, tetapi aku tidak akan menangis dua kali.”

“Apa itu artinya kamu menolak bantuan dari kami?”

Meski tidak terlalu yakin apa itu aegyo, Yuna melakukannya cukup baik saat bertanya, melemahkan Seokmin seketika.

“B-bukan begitu, Yuna …. Aku kan harus mendiskusikan hal ini dengan Ibu dulu ….”

“Bagus!” Yuna menangkup telapak Seokmin menggunakan kedua tangan. “Tolong sampaikan pada Bibi Lee, ya! Katakan juga bahwa kami berdua sudah berdiskusi dengan orang tua kami!”

“Dan jangan malu-malu. Kami tidak ingin berada dalam situasi nyaris berpisah seperti ini lagi, Seokmin, jadi kami mohon kerjasamanya,” tambah Yoonoh.

Di penghujung konversasi, cara Seokmin memandang Yuna dan Yoonoh telah berubah, melegakan Yuna. Berhubung di kelas satu dan dua tidak selalu mendampingi Seokmin, Yuna tidak tahu seburuk apa teman-teman sekelas Seokmin memperlakukannya. Cukuplah kisah pahit itu tersegel di masa lampau; Yuna dan Yoonoh siap membangunkan jalan baru bagi mereka-mereka yang hendak bergerak maju. Seokmin menjadi yang pertama. Berikutnya, harus lebih banyak orang lagi yang menjadi cemerlang dengan bantuan keduanya.

“Terima kasih. Terima kasih. Aku sangat gembira sampai tidak tahu mau bilang apa.”

Cowok yang perasa. Getar tersembunyi dalam suara Seokmin menyentuh Yuna hingga dia sendiri tidak sanggup berkata-kata. Padahal beberapa hari lalu, Seokmin masih kehilangan seluruh warnanya, tetapi hari ini, Yuna, dengan bantuan besar dari Yoonoh, telah mengembalikan seluruh warna itu ke kanvasnya. Menit-menit berikutnya begitu akrab; Seokmin bersikap, bertutur, bercanda seperti seharusnya dia dan Yuna diam-diam berharap senja Minggu ini tidak cepat datang.

***

“Yoonoh.”

“Ya?”

Menyibakkan sesisi poni yang ditiup angin sore, Yuna mengutarakan tujuan terbesar yang ingin ia gapai sebelum masa SMA-nya berakhir.

“Apa terlalu berlebihan kalau aku ingin semua anggota kelas 3-A lulus bersama dan memperoleh peringkat setinggi-tingginya, di sekolah maupun di luar sekolah?”

“Mengapa berlebihan?”

“Karena tampaknya kelas ini tidak hanya spesial dalam hal yang baik-baik saja.”

“Begitu?” Yoonoh berbelok. “Kamu takut teman-teman terlibat dalam masalah seserius Seokmin sampai sekolah memaksa mereka berhenti.”

Yuna mengangguk dan Yoonoh mengetahuinya, walaupun sepasang matanya tidak berpaling dari jalanan.

“Tapi bukankah kelas 3-A memiliki ketua kelas dan sekretaris yang tangguh?”

Si pemuda Jung mengerem kendaraannya tepat di depan sekolah. Gerbang Seoul Global High menjulang tinggi di hadapan mereka; sebelum berangkat, Yuna memang minta diantar ke sana saja saat pulang supaya tidak merepotkan Yoonoh. Setengah melompat, Yuna turun dari kursi belakang, menengadah seakan menentang si gerbang.

“Aku tangguh?”

“Kalau bukan tangguh,” Lengan Yoonoh bersilang di atas setang, “aku tidak tahu bagaimana harus menyebutmu, Choi Yuna yang berani membentak berandal sekolah demi membela sahabatnya.”

Jantung Yuna berdegup tak normal, pipinya memanas. Mengapa setiap pujian yang Yoonoh layangkan selalu begini melambungkan?

“T-terima kasih untuk hari ini,” ucap Yuna, malu-malu menumpukan dua telapak di depan paha sebelum membungkuk berkali-kali. “Maaf kalau bikin sepedamu oleng beberapa kali. Lain kali, kalau dibonceng lagi, aku pasti sudah kurusan! Um, dan terima kasih untuk membuat keyakinanku kembali—lagi.”

Tawa Yoonoh kian berkilau dihias jingga senja.

“Terima kasih kembali. Kuharap seterusnya aku bisa menjadi sahabat yang kauandalkan.”

bersambung.


.

.

.

minim edit mian T.T aku pun tak tahu mengapa chapter ini menjadi sangat panjaaang . kayaknya feel jaehyuju menghajar di saat yang tidak tepat T.T

anggaplah penebusan dosa krn rough ga update bulan kmrn.

Advertisements

7 thoughts on “Rough (pt.3)

  1. Waaaaa… ini kalo didramain bagus kali Li,, aq suka school life yg penuh nilai2 kayak gini. Sejauh ini drama school life favoritku itu Cheer Up: Sassy Go go nya Eunji.
    Well, bingung mau komenin apa nih chapter,, tapi aq mau bilang ini dulu,, sempet salfok sama Yiyang-Sicheng yg nyempil. Elah, mereka udh pacaran wae,,
    JaeYuju keren bgt lah di sini, suka sama peran mrk jd perangkat kelas. Semoga ke depannya mrk bs mewujudkan impian yuju itu yak,, lulus bareng dan kondisi pertemanan mrk bs membaik.
    Aih,, jadi kangen masa sekolah klo gini.
    Cara kmu mengambil mslh lalu memaparkannya secara komplek itu aq suka, biar paragraf panjang2 gtu aku tetep enjoy bacanya, di samping belajar juga sih, soalnya aq msh belum bisa bikin paragraf panjang/ deskripsi detail macem gtu.
    Agak geli pas di rumah seokmin, masih aja si duo seokju ini ngefangirl-fanboy ke jaehyun. Wkwk. Emng jae kaya pnya lampu gtu ya, bersinar mulu??

    Liked by 1 person

    1. Betewe skrg ultimate biasku di RV jadi Joy gegara dramanya menyilaukanku,, #curhatgapenting #abaikan

      TRUS GIRLS DAY COMEBACK YA ALLAH, AMBYAR DAKU,, NUNGGUIN LAMA AKHIRNYA KELUAR JUGA,, SOLONYA SOJIN ASEK GILA, SOLONYA MINAH JUGA,, HYERI SAMA YURA JUGA CANTIK BADDAS LAH,,
      *sori Li, aq gatau mau jejingkrakan ke siapa dan sama siapa, dan karena kutahu kamu sempet notice girlsday,, jadi aq mau meluapkan kegiranganku di sini*
      *kalo ganggu en ga sedap dipandang mata hapus aja gpp*

      Like

      1. AAAA KAK FAFA
        Iya lah mereka berdua masih fangirlingan fanboyingan ke jae daaaan tidakkah kakak merasa jaehyujunya greget XD *pindah ship yuk pindah ship
        Aku ga nonton Joy ;-;
        Btw iyaaaaaa girls day comeback namun apa daya kuota yg setipisjarum membuatku tak berkutik
        Aku juga masih bljr kok kak, dialognya payah bgt masa byk kata yg diulang dan kyknya ini juga byk kata yg boros sih ;_;
        Anyways, makasih udh mampir dan ninggal komen!

        Liked by 1 person

  2. halo salam kenal. 🙂
    maaf baru sempet komen padahal udah baca 2 chapter sebelumnya.
    aku suka banget sama ff ini, bikin nostalgia ke jaman2 masih sekolah dulu. dan diksinya juga bagus, referensi buat aku belajar. 😀
    Jaehyun-Yuju’nya juga manis & lembut(?) banget.
    pokoknya suka banget deh, ff ini kadang juga entah kenapa ngingetin aku sama film atau anime jepang, mungkin karna gaya penceritaannya?
    gitu aja deh, semangat nulis ff’nya. 🙂

    Like

  3. TAHU TIDAK SENPAI, AKU BACA INI DI SEKOLAH, PAGI-PAGI, BERASA CAPEK PIPI INI AKIBAT SENYUM DARI AWAL SAMPE AKHIR *lebay oke, tapi serius nih XD *
    Aku nggak tega, mas dekaa, aku nggak relaa. bayangin deka yang sok kuat, padahal doi kaya tulang punggung keluarga gitu, kok sakit ya kak li :’) *lebay part 2* entah kenapa kalo baca semua fiksi ber-cast anak 17, itu bapernya berlebihan elahh.
    Kadang kalo school-life murni tanpa banyak campur tangan romens, seru juga ya 🙂 masalah sepele-nya anak sma ngga melulu percintaan. kadang yang gini bisa bikin nyesek tapi tetep ngena konfliknya 🙂 apalagi bentar lagi udah mau angkat kaki/? dari sma HUHU bakal kangen kali yaa :’)
    Anyway aku baru sadar kalo udah baca part 2 tapi belum komen setelah sampe disini XD maapkeun aku kak HEHE
    Keep writing~

    Liked by 1 person

  4. hi kak, aku ijin mampir ya hoho (?)
    sumpah ini keren banget, mengingatkan sama drama2 yg mengangkat isu anak2 di sekolah (?) justru yg bukan cinta-cintaan doang gini seru banget menurut aku ><
    tulisannya bagus dan rapih banget kak, aku jadi malu liat tulisan sendiri yang masih ece ece.
    ini ga akan dilanjutin lagi kak? i'll patiently wait, sambil liat2 tulisan yang lain hehe. okay then that's all~ keep on writing kak!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s