EXO-N #40: Set It Off!

Set It Off!

LDS, 2017

starring my bias line

Slice of Life // Ficlet Mix // General

.

Orientasi adalah start-nya dan tiap jenjang mewakili garis penanda dalam lintasan.

***

Tujuh lima belas pagi. Seraya meninggikan volume suara demi melawan keriuhan dari bocah-bocah berseragam putih-hitam, Hankyung menerima panggilan beruntun dari sekretariat jurusan manajemen, kepala badan hibah riset, dan anggota tim lokakarya dosen. Kendati perkara yang dibicarakan berbeda, fokus mereka tidak jauh-jauh dari audit dan tidak seperti sebelumnya, laporan pertanggungjawaban pendanaan penelitian fakultas kali ini agak bermasalah. Bahkan ketika duduk di kursi khusus jajaran dekanat dan berbasa-basi dengan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa, Hankyung sebenarnya sedang mematri rencana untuk menelepon pengurus anyar pembiayaan riset yang agak lambat itu nanti.

Suasana unik di lokasi orientasi, lucunya, berhasil menyediakan spasi untuknya bernapas.

Koordinator lapangan membuka acara setelah mengondisikan para mahasiswa baru. Ketua pelaksana orientasi, yang wajahnya dikusutkan kantuk, lantas duduk di sebelah ketua eksekutif. Hankyung mafhum; orientasi mahasiswa tingkat satu bukan acara main-main, mempersiapkannya jelas makan tenaga. Apiknya penataan auditorium dan acara yang dimulai tepat waktu merupakan bukti kesungguhan pemuda berjas almamater yang menyiapkan ini, juga semua stafnya yang lebih kumal lagi di kursi-kursi dekat pintu auditorium.

“Hati-hati jalannya kalau mau memberi sambutan,” canda Hankyung pada si ketua pelaksana. Pemuda berkulit cerah di sisi ketua eksekutif meringis, teringat kabel melintang yang membuatnya nyaris terjerembab kala membungkuk hormat pada ketua-ketua jurusan.

Memijak mimbar pada pukul tujuh lima puluh, Hankyung akhirnya bisa melihat ratusan ekspresi khas orientasi. Tak perlu mesin waktu, pria dalam dekade kelima hidupnya itu menemukan masa silam dan masa depannya pada detik-detik ‘kini’. Muka-muka suntuk akibat tugas prakuliah, raut takut kena semprot senior, kebanggaan karena sudah lulus SMA, dan kuriositas akan jurusan masing-masing silang sengkarut membentuk lukisan menggelikan namun cantik yang memuat harapan di dalamnya. Hankyung dulu mirip seorang mahasiswa baru di baris pertama, terlongo menyaksikan pidato dekan sambil berjuang agar tidak terpejam, dan lihat ia sekarang. Tanpa bermaksud sombong, Fakultas Ekonomi yang terjaga mutu akademiknya—yah, kecuali cacat kecil pada program hibah riset, Hankyung bertekad akan mengurusnya segera—hingga saat ini merupakan hasil jerih payahnya pula, bukan?

Di penghujung sambutan, Hankyung mengungkapkan keyakinannya bahwa salah sekian dari muda-mudi bertanda pengenal besar di dada ini akan menelurkan pembaruan yang tak pernah terpikir oleh manusia lawas sepertinya. Tepuk tangan membahana mengantarkannya kembali ke kursi merah; bocah yang tadi membulatkan bibir tampaknya memberikan tepukan paling keras.


Di tengah-tengah menyajikan presentasi baca jurnal e-commerce, Jongdae merasakan ponselnya bergetar. Notifikasi pesan. Ia baru bisa mengecek kotak masuk sehabis kelas dan menemukan nama seorang junior yang agak samar dalam ingatan: Jung Jaehyun. Inti pesan sopan yang dikirim si Jung ini adalah permohonan agar Jongdae berkenan mengisi materi kewirausahaan dan ide kreatif pada orientasi mahasiswa Fakultas Ekonomi yang akan datang. Tidak masalah, sih, toh Jongdae sudah berulang-ulang diundang untuk tujuan serupa, tetapi ini Jung Jaehyun siapa?

“Bukannya itu mahasiswa baru yang magang di departemenmu waktu pekan lembaga tahun 2014?”

Jongdae berterima kasih pada kawannya yang memunculkan angka spesifik ini dan memperjelas asosiasinya dengan Jung Jaehyun. Tahun 2014, meski sudah jadi mantan ketua Departemen Kewirausahaan untuk menuntaskan skripsi, Jongdae rela memfasilitasi mahasiswa-mahasiswa baru yang ‘magang’ di Badan Eksekutif Mahasiswa. Jung Jaehyun merupakan mahasiswa tingkat satu yang bekerja sebagai ‘anggota bayangan’ Departemen Kewirausahaan di bawah bimbingannya selama seminggu; makanya nomornya tersimpan dengan nama di daftar kontak.

“Kau staf Pengembangan Sumber Daya Manusia sekarang? Keren!”

Sebagaimana ia takjub dengan wibawa baru Jaehyun, Jongdae pun terkagum akan bergulirnya waktu yang membawa banyak pengalaman berharga. Kalau dihitung, ini kali keempat belas Jongdae berkontribusi dalam program pemekaran proyek kreativitas mahasiswa di kampusnya semenjak hengkang dari Badan Eksekutif Mahasiswa. Di setiap kegiatan, selalu ada benih berpotensi yang Jongdae bina, salah satunya pemuda rupawan yang tengah memaparkan term of reference ini, dan Jongdae tidak sabar menemukan benih lain, meskipun di saat bersamaan, ia mesti bergelut dengan beragam literatur untuk meraih gelar magister secepatnya.

Jadi, terlepas dari skala acaranya, Jongdae berdandan serapi mungkin supaya tampil bonafide di mata tunas-tunas kecambah Fakultas Ekonomi tahun ini. Berbekal slide pemicuan kreativitas mahasiswa edisi paling gres, pria itu melangkah ke sayap kiri auditorium, membaur dengan para narasumber. Bisik-bisik tentang Kim Jongdae yang kemarin masuk televisi, Kim Jongdae yang mencetuskan inovasi pendidikan kewirausahaan, Kim Jongdae yang dapat penghargaan atas temuannya di bidang e-commerce sebelum lulus strata satu, bahkan sampai Kim Jongdae ‘kakak kelasku di SMA’ tak dilewatkan sedikit pun oleh orang yang jadi topik perbincangan.

“Selamat pagi, semuanya!”

Kecambah-kecambah putih hitam mengimbangi semangat Jongdae dengan salam yang sama berapi-api.


Bangun pukul empat pagi, Jaehyun menjalankan ritual awal hari dalam mode militer: cepat, tertib, teliti. Setengah tahun ini, ia telah beradaptasi dengan kehidupan multitugas, jadi mengunyah roti sambil mengancingkan kemeja, mengetik pesan pada tiap kepala seksi dalam kepanitiaannya, dan memasukkan kebutuhan orientasi mahasiswa ke bagasi bukan masalah baginya. Hukum kesehatannya yang anti kopi pagi dan menyetir dengan kesadaran tidak penuh pun ia terabas demi memperkenalkan adik-adik culun pada fakultas tercinta. Jaehyun memarkir mobilnya dengan selamat sebelum matahari terbit, kemudian staf perlengkapan membantunya menurunkan barang-barang.

“Mekanisme pengumpulan tugas tidak jadi diganti.” Sambil memijat puncak hidungnya, Jaehyun mengklarifikasi pada seorang staf komisi disiplin mahasiswa baru. “Penilaian tugas ilmiah menggunakan kriteria khusus dari seksi ilmiah. Hukumannyalah yang mengikuti peraturan komisi disiplin.”

Masih saja ada konflik kecil mengenai job description beberapa menit sebelum pembukaan, padahal Jaehyun sudah bolak-balik mengumpulkan seluruh staf untuk mempertegas batas wewenang setiap seksi. Penjelasan secuil-secuil ini tidak signifikan mempengaruhi jalannya acara, tetapi tetap saja menyebalkan. Masa iya Jaehyun harus mengulang komandonya untuk telinga-telinga angkuh?

Tidak apa. Jaehyun tidak mau melanggar satu lagi kaidah kesejahteraannya—anti marah-marah—di hari orientasi ini, di mana cuma mahasiswa baru yang semestinya dimarah-marahi.

Duh, tidak! Misi pribadi Jaehyun pada pengenalan kehidupan kampus bukan pelampiasan dendam turun-temurun dari kakak tingkat. Orientasi wajib bernilai guna bagi mahasiswa tingkat satu dalam kehidupan kampus, makanya tugas nonilmiah berbau perpeloncoan Jaehyun hapuskan dari proposal. Yah, bukannya tidak ada sama sekali, sih; bagaimana pun, naluri senior adalah untuk mengerjai junior, tetapi orientasi rancangan Jaehyun dan staf-stafnya tidak kental kesia-siaan layaknya beberapa periode sebelumnya. Desain acara Jaehyun sempat ditentang oknum-oknum senior, mengatakan tantangannya ‘kurang terasa’, tetapi Jaehyun bersikukuh dengan senjata surat persetujuan dari wakil dekan bagian kemahasiswaan.

Setengah tahun. Jaehyun bahkan menomorduakan skripsinya yang haus belaian untuk ini.

“Selamat datang untuk mahasiswa baru Fakultas Ekonomi. Mari berteman! Jangan khawatir, senior tidak menggigit, cuma sedikit berteriak biar kalian tidak ketiduran.”

Adik-adik imut berseragam putih hitam tertawa malu-malu dan Jaehyun merasa itu setimpal untuk membayar rapat-rapat malamnya.


Seminggu sebelum orientasi, mahasiswa baru telah mulai berseliweran di universitas, tidak terkecuali Renjun. Ayahnya bilang kalau Renjun pernah diajak jalan-jalan di kawasan kampus waktu masih anak-anak, tetapi gedung-gedung tinggi, taman berhias pepohonan rimbun, gerbang bertatahkan nama fakultas, dan kakak-kakak bermuka serius berteman laptop serta tumpukan tinggi buku tampak sangat baru buat si remaja gingsul. Ia bahkan tidak tahu di mana letak fakultasnya, apalagi pusat informasi orientasinya. Untung saja teman SMA Renjun yang kebetulan sejurusan membagi lokasi, jadi ia tidak didamprat senior gara-gara terlambat.

Pada hari orientasi, universitas belum kehilangan pesonanya. Gelegar suara koordinator lapangan memang mendebarkan, tetapi efeknya kalah hebat dengan antisipasi Renjun. Adrenalin membanjiri darahnya saat rangkaian acara dibuka, bibirnya tanpa sadar membentuk lingkaran menyaksikan sosok-sosok berbalut jas almamater menyampaikan sambutan, kulitnya mendingin akibat motivasi yang ditimbulkan para alumni pilihan sepanjang jam materi.

Wow, Renjun benar-benar sudah mahasiswa! Mahasiswa!

“Berikutnya adalah orientasi jurusan. Mahasiswa baru dari jurusan yang disebutkan silakan keluar barisan kelompok dan membentuk barisan baru di depan. Harap mengikuti arahan dari koordinator lapangan. Pertama, jurusan ekonomi perbankan.”

Jurusan Renjun ternyata jadi yang pertama meninggalkan auditorium ke gedung C. Orientasi mahasiswa ekonomi perbankan diadakan di kelas 2-1. Tatkala memasuki ruangan, Renjun melihat seorang senior wanita berkutat dengan kabel proyektor, berusaha menyambungkan LCD dengan komputer jinjingnya. Sang kakak cantik kontan salah tingkah begitu layar menampilkan diagram-diagram statistik pada jendela pengolah kata alih-alih curriculum vitae pemateri pertama.

“Oi, tidak usah pamer skripsimu ke mahasiswa baru! Masih banyak revisi juga.”

Wah, jadi itu yang namanya skripsi?, tanya Renjun dalam hati, terkesima oleh sederet teks ilmiah dan angka-angka hasil uji hipotesis biar hanya sekelebatan. Sebelumnya, skripsi, jurnal, dan penelitian merupakan kosakata yang seolah tak tersentuh, tetapi berkat tugas ilmiah orientasi dan insiden salah tayang senior barusan, setidaknya Renjun sudah menghirup sebagian dari atmosfer universitas. Benar kata ayah Renjun dalam sambutannya tadi: ibarat adu kecepatan, orientasi adalah start-nya dan tiap jenjang mewakili garis penanda dalam lintasan. Pejabat-pejabat fakultas, alumni berprestasi, serta para senior bukan atlet yang memacu tungkai lebih cepat dari mahasiswa baru; mereka semata memulai lebih dulu.

Renjun cuma perlu menghela napas, kemudian melesat hingga kelak mampu melampaui ketua pelaksana orientasi, lulusan peraih penghargaan, dan barangkali ayahnya sendiri jika ia berlari cukup kencang.

TAMAT


ide ini datang ketika ELF pendampingku yg sekarang jadi CARAT mengurut biasnya dari jaman SMA hingga detik ini. She got Donghae-Kyungsoo-Sungjin (DAY6)-Seungcheol. Saya dapetnya Han Geng-Jongdae-Jaehyun-Renjun. dan kita membuat imagine hierarki/? mereka dalam sebuah kampus, beginilah hasilnya :p

merasa nggak sih guys kalo hangeng sama njun itu mirip?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s